Label

Rabu, 22 Juli 2015

Ciputat Menolak Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh



PERNYATAAN SIKAP
Berkenaan dengan terbit dan beredarnya buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014) susunan Tim 8 yang terdiri dari Jamal D. Rahman (Ketua), Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S. Mahayana, Nenden Lilis Aisyah (anggota), kami atas nama sastrawan, kritikus sastra, guru bahasa dan sastra, pecinta sastra, musisi, dosen dan mahasiswa yang tergabung dalam #CIPUTAT MENOLAK PEMBODOHAN mengajukan gugatan dan penolakan atas peredaran buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH dan pencantuman nama Denny JA dalam buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH karena alasan-alasan sebagai berikut:

[1] Tim 8 tidak merumuskan konsep “pengaruh” dalam buku tersebut secara definitif. Apakah pengaruh yang dimaksud adalah “pengaruh” (influence), “efek/akibat” (effect) atau “dampak” (impact)―ketiga istilah ini memiliki makna dan konotasi yang berbeda. Jika yang dimaksud adalah “pengaruh” (influence), maka terdapat beberapa persoalan konseptual sebagaimana diajukan oleh Katrin Bandel—yang dalam hal ini tidak dijabarkan oleh Tim 8—sebagai berikut: Pertama, “pengaruh” adalah hal yang sangat abstrak dan tidak mudah diukur; Kedua, secara sekilas “pengaruh” mungkin berhubungkan dengan “mutu”. Namun pada dasarnya, kedua hal itu terpisah satu sama lain; Ketiga, pantas dipertanyakan mengapa persoalan “pengaruh” dibicarakan dengan fokus pada “tokoh”. Bukankah di dunia sastra yang memiliki pengaruh itu terutama sekali adalah tulisan?; Keempat, kata “berpengaruh” tanpa ada lanjutannya, dalam arti tanpa ada keterangan tentang apa atau siapa yang dipengaruhi, terkesan sangat umum dan tanpa fokus yang jelas. [1]

Sebagai perbandingan, Daniel S. Burt menulis buku berjudul THE LITERATURE 100: A RANKING OF THE MOST INFLUENTIAL NOVELISTS, PLAYWRIGHTS, AND POETS OF ALL TIME (New York: Infobase Publishing, 2008). Dalam buku tersebut, Burt mengakui bahwa “Influence, in particular, is a tricky concept…” [2] Namun demikian, sambil mengakui keterbatasan kerangka konseptual dari istilah “pengaruh” yang digunakan dalam buku tersebut, Burt berupaya menempuh langkah metodologis dengan cara melakukan semacam penjajakan atau survey “kecil-kecilan” sebelum merilis nama-nama sastrawan yang (dianggapnya) paling berpengaruh dalam buku tersebut. Burt menulis:

“I posed this problem to a number of my academic colleagues and student to test my own choice and to learn from theirs, with revealing result… consensus among all whom I queried was impossible, but the majority of the authors in the final selection consistently appeared on everyone’s list.” [3]

Terlepas dari itu, daftar tokoh-tokoh sastra—jika kita mau menyebutkanya dengan istilah ini—yang disodorkan oleh Burt dalam bukunya adalah tokoh-tokoh yang kontribusinya terhadap dunia sastra tidak dapat diragukan, seperti William Shakespeare, Dante Alighieri, Homer, Leo Tolstoy, T.S. Eliot, Anton Chekhov, Samuel Beckett, Albert Camus dan sebagainya.

[2] Tim 8 tidak menjelaskan kriteria “berpengaruh” dari masing-masing kategori tokoh sastra―sastrawan, kritikus sastra, penulis esai―yang dimasukkan ke dalam daftar 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut, padahal masing-masing kategori tersebut—meskipun bermukim dalam rumah identitas yang sama, yakni sastra—memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Kriteria “berpengaruh” dari masing-masing kategori seharusnya dijabarkan secara definitif. Lantaran tidak menjelaskan kriteria “berpengaruh” dari masing-masing kategori tokoh sastra tersebut―bahkan buku tersebut sama sekali tidak menyodorkan batasan atau definisi sastrawan, kritikus sastra dan penulis esai secara clear and distinct―maka buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH cenderung terjebak pada apa yang disebut sebagai “category mistake”. [4]

[3] Pencantuman nama Denny JA ke dalam buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH cenderung mengecilkan dan meremehkan posisi dan kontribusi sastrawan-sastrawan lain (baik yang telah wafat maupun masih hidup, baik yang tercantum atau tidak tercantum dalam buku tersebut) yang telah mendedikasikan segenap atau sebagian besar hidupnya untuk berproses dan berkarya di wilayah sastra. Denny JA sendiri selama ini lebih dikenal sebagai konsultan politik dan pengusaha. Sejak 3 tahun belakangan ini ia mulai merambah dunia sastra melalui karyanya Atas Nama Cinta, sebuah ‘genre sastra baru’ yang ia sebut dengan istilah “puisi esai”. Pertanyaannya, bagaimana mengukur pengaruh Denny JA dan karyanya yang satu-satunya itu, sementara dia sendiri ‘makhluk’ baru di jagat sastra? Terhadap apa dan siapa pengaruh tersebut? Sejauh mana pengaruh tersebut? Apa tolok ukur yang digunakan untuk mengidentifikasi pengaruh tersebut? Apa pula kriteria dan parameter yang digunakan untuk menjustifikasi bahwa puisi esai merupakan sebuah genre puisi baru? Lalu, apabila puisi esai belum dapat dikatakan sebagai genre baru dalam puisi, bagaimana mungkin Denny JA dapat dinobatkan sebagai tokoh sastra yang melakukan pembaruan dalam puisi sebagaimana dikemukakan oleh Tim 8? Lebih jauh lagi, esai yang ditulis Denny JA dan disebut sebagai puisi itu bahkan belum genap dapat dianggap sebagai sastra. Dengan demikian, bagaimana mungkin seorang yang membuat sesuatu yang kategorinya belum dapat dimasukkan sebagai sastra dapat dianggap sebagai sastrawan atau tokoh sastra? Apalagi masuk dalam kategori tokoh sastra paling berpengaruh.

[4] Penilaian untuk memasukkan nama Denny JA sebagai salah satu dari 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH didasarkan pada indikator-indikator yang validitasnya patut diragukan. Indikator-indikator dimaksud adalah sebagai berikut: [5]

Dalam tempo satu bulan setelah dipublikasikan di website, buku Atas Nama Cinta karya Denny JA telah berhasil mencatat lebih dari 1 juta hits dari pengguna internet. Mengukur pengaruh seorang tokoh atau suatu karya berdasarkan jumlah pengunjung website secara metodologis cenderung problematis, karena sangat dimungkinkan terjadi rekayasa dan manipulasi dengan cara menggunakan pelbagai strategi instan untuk meningkatkan jumlah pengunjung website. Saat ini, banyak cara dan strategi yang dapat ditempuh untuk meningkatkan trafik blog/website baik dengan cara gratis seperti melalui blog walking, situs social bookmarking, situs social media, situs forum, guest posting di blog lain maupun dengan cara berbayar seperti memasang iklan di situs media sosial, iklan PPC, iklan di situs iklan baris online, menggunakan jasa alexatrafik.com, linkcollider.com dan sebagainya.

Menyusul terbitnya buku puisi esai Denny JA, sejumlah buku puisi esai pun terbit dengan penulis dari beragam latar belakang. Ahmad Gaus, pembaptis Denny JA sebagai tokoh sastra berpengaruh dalam buku tersebut, mencatat 9 (sembilan) buku puisi esai yang telah terbit sepanjang tahun 2013. Menariknya, buku-buku puisi esai tersebut diterbitkan oleh Jurnal Sajak, kecuali buku Imaji Cinta Halima karya Novriantoni Kahar yang diterbitkan oleh Penerbit Renebook. Pertanyaannya, siapa pemilik Jurnal Sajak? Dari mana kesembilan karya puisi esai itu bisa mencuat ke publik sastra Indonesia? Faktanya, Jurnal Sajak adalah sebuah media sastra yang disponsori oleh Yayasan Denny JA dan kesembilan buku puisi esai tersebut merupakan hasil dari sayembara sastra—dengan iming-iming hadiah yang lumayan aduhai—yang juga diinisiasi oleh Yayasan Denny JA. Alhasil, meminjam ungkapan Katrin Bandel, Denny JA sesungguhnya “menciptakan pengaruhnya sendiri lewat marketing cerdas dan sayembara yang diadakan atas inisiatif sendiri, dan, yang paling penting, dengan pendanaan yang sangat luar biasa.” [6]

[5] Berdasarkan pertimbangan yang tercantum dalam poin 3 dan 4 di atas, pencantuman nama Denny JA dalam buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH berpotensi mendistorsi dan mencederai keagungan sastra, sastrawan dan sejarah sastra Indonesia.
 
[6] Maman S. Mahayana, salah seorang anggota Tim 8, menyatakan bahwa penaja buku ini adalah Denny JA, sosok yang dalam kenyataannya dimasukkan sebagai salah seorang tokoh sastra paling berpengaruh dalam buku tersebut. Fakta ini mengindikasikan adanya intensi-intensi subjektif dan pesan-pesan terselubung dari sang penaja, yakni Denny JA, agar namanya dimasukkan―baik secara langsung maupun tidak langsung―ke dalam jajaran 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut. Alhasil, objektivitas, netralitas dan independensi Tim 8 ketika memasukkan nama Denny JA ke dalam jajaran 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut patut dipersoalkan.
 
[7] Disamping alasan-alasan di atas, terdapat alasan-alasan lain sebagaimana telah dikumandangkan oleh gerakan yang mengajukan PETISI TERHADAP BUKU 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH SUSUNAN JAMAL D. RAHMAN, DKK sebagai berikut: (a) Buku ini berpotensi menyesatkan publik, karena: (1) Klaim assersif; (2) Definisi dan kriteria yang tak definitif; dan (3) Konflik kepentingan yang membawa pada potensi kecurangan; (b) Buku ini mencederai integritas dan moral ahli sastra dan sastrawan, serta masyarakat Indonesia; (c) Buku ini dapat menjadi preseden buruk.[7]
 
Berdasarkan alasan-alasan di atas, kami atas nama #CIPUTAT MENOLAK PEMBODOHAN menyatakan:

[1] Menuntut Tim 8 untuk memberikan pertanggungjawaban ilmiah―baik secara ontologis, epistemologis dan aksiologis―dan pertanggungjawaban moral kepada publik atas pencantuman nama Denny JA dalam buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut.
 
[2] Mendesak Tim 8 untuk mengkaji, memverifikasi dan mengevaluasi ulang pencantuman nama Denny JA dalam buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut.
 
[3] Mendesak Tim 8 untuk membatalkan, mengeluarkan dan/atau menghapuskan nama Denny JA dalam buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut.
 
[4] Mendesak Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia untuk menghentikan sementara waktu peredaran buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut dari pasar Nasional dan Internasional.
 
[5] Mendesak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional untuk tidak menjadikan buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut sebagai bahan ajar dan/atau buku resmi dalam kurikulum nasional apabila nama Denny JA masih dicantumkan dalam buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH tersebut dan/atau apabila poin 1, 2, 3, dan 4 di atas tidak dilaksanakan oleh pihak-pihak terkait sebagaimana telah disebutkan. Pernyataan sikap ini dibuat bukan atas dasar kebencian personal dan pemasungan hak berpikir, berpendapat, dan berekspresi atau sebagai upaya meminjam tangan kekuasaan untuk memberangus hak individu dan warga negara, melainkan sebagai tuntutan untuk meminta pertanggungjawaban akademis dan ilmiah atas buku 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH.

Demikianlah pernyataan sikap ini kami susun dan kami sampaikan ke publik luas dengan cara-cara yang demokratis sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan kami terhadap sastra Indonesia.
 
Ciputat, 3 Februari 2014.

Catatan:  
[1] Lihat Katrin Bandel, “Beberapa Catatan Atas Judul “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”, dalam http://boemipoetra.wordpress.com/2014/01/06/beberapa-catatan-atas-judul-33-tokoh-sastra-indonesia-paling-berpengaruh/.
[2] Daniel S. Burt, The Literature 100: A Ranking of the Most Influential Novelists, Playwrights, and Poets of All Time (New York: Infobase Publishing, 2008), hlm. xv.
[3] Daniel S. Burt, The Literature 100…, hlm. xvi.
[4] Perihal konsep “category mistake”, lihat Gilbert Ryle, The Concept of Mind (New York: Taylor & Francis e-Library, 2009).
[5] Lihat Jamal D. Rahman dkk., 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014), hlm. 647-663.
[6] Lihat Katrin Bandel, “Beberapa Catatan Atas Judul “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”, dalam http://boemipoetra.wordpress.com/2014/01/06/beberapa-catatan-atas-judul-33-tokoh-sastra-indonesia-paling-berpengaruh/.
[7] Lebih lengkap lihat naskah PETISI TERHADAP BUKU 33 TOKOH SASTRA INDONESIA PALING BERPENGARUH SUSUNAN JAMAL D. RAHMAN, DKK.
.
CIPUTAT MENOLAK PEMBODOHAN
1. Dr. Rahmat Hidayatullah, M.Ag (Dosen UMJ).
2. Dr. Makyun Subuki, M.Hum (Dosen Fak. Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Jakarta)
3. Ahmad Zakky, M.Hum (Dosen Fak. Adab dan Humaniora UIN Jakarta)
4. Risfana Faisal, SH (Sutradara Teater)
5. Badrul Munir, SH (Pengacara)
6. Purwo Sasmito, SS (Pengusaha)
7. Hendri Yetus Siswono (Penyair)
8. Irvan Nawawi (Penyiar)
9. Dede Supriyatna, S. Fil (Wartawan)
10. M. S, Wibowo, S. Fil (Wartawan)
11. M. Sholeh, S. Sos.i (pengrajin)
12. Imam Bukhori (Mahasiswa)
13. Irsyad Zulfahmi (Mahasiswa UIN Jakarta)
14. Daniel Adepi (Mahasiswa UIN Jakarta)
15. M. Gimbar Alam (Mahasiswa UIN Jakarta)
16. Fajar, S. U (Mahasiswa UIN Jakarta)
17. Sigit (Mahasiswa UIN Jakarta)
18. Efri Aditya (Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Jakarta)
19. Faliq Ayken (Mahasiswa STF Driyarkara Jakarta)
20. Hijrah Ahmad, S. Hum (Editor)
21. Iwan Buana Fr (Pemerhati Seni)
22. Abdullah Wong (Novelis)
23. Danang Hidayatullah (Guru)
24. R. Basri (Pekerja Manajemen)
25. Ulil Abshar, M. Hum (Dosen Fak. Adab dan Humaniora UIN Jakarta)
26. Maulana Achmad (Penikmat Karya Sastra)
27. Ridwan Darmawan, S.H, (Pengacara Publik)
28. Andikey Kristianto, S. Pd.i (Guru SMK Bidang Keahlian Multimedia)
29. Saiful Anwar, S.P.i (Instruktur Silat Tapak Suci)
30. Zaky Mubarak, S.S (Guru Bahasa Indonesia)
31. Edy A Effendi (Jurnalis dan Penyair)
32. Pandi Nurdiansyah (CEO Radio Tangga)
33. Taufik A. Adam (Musisi)
34. Zainal Arifin (Mahasiswa Pasca sarjana UIN Jakarta)
35. Roy Haris Chandra (Musisi)
36. M. Zubed (Direktur Sanjoboys)
37. Rosida Erawati, M.Hum. (Dosen Tarbiyah UIN Jakarta)
38. Juma Khatib, M.Hum (Dosen Univ. Ibnu Chaldun Jakarta)
39. Tri Wibowo (Mahasiswa UIN Jakarta)
40. Bambang Suwito (Penikmat Karya Sastra)
41. Ilham Khairul Anam (Guru)
42. Abdullah Alawi (Penikmat Sastra)
43. Bambang Prihadi (Sutradara Teater)
44. Lina Suhartini, S.Pd (Guru Preschool)
45. Danny Tirtana (Musisi)
46. Muzbi Wujdi, M.Hum. (staff bidang kemasyarakatan)
47. Nizar Maulana Akbar Sidiq, S.pd. (Guru dan pelatih Teater)
48. Akhmad Muzambik (Humas UMJ)
49. Fathan A. Rahman (Pekerja Sosial)
50. Adriansyah (Editor)
51. Nadia (Karyawan BUMN)
52. Zaim Rofiqi (Sastrawan)
53. Muslihin (Designer Buku dan Majalah)
54. Laily Nihayati (Wartawati dan Penulis Buku)
55. Nur Mursidi (Cerpenis)
56. Idris Muhammad (Santri)
57. Wahyu Micorazon, S.E. (Percusionis)
58. Din Saja (Pembaca Puisi)
59. Darmujihanto (Tukang Kayu)
60. Sahlul Fuad (Penulis)
61. Parulian (Penata Cahaya)
62. Ahmad Fasoni (Hacker)
63. M. Ramdhan (Guru Musik, Aktor)
64. Abner Paulus Raya Midara Sanga (Mahasiswa S2 London School of PR Jakarta)
65. Hartanto Kebo Utomo (Perancang Sampul Komunitas Bambu)
66. Alan Sumanjaya (Penikmat Seni)
67. Dodi Miller (Penyair)
66. Ucok Virgo (Guru SMP)
67. Rini Clara (Wartawan)
68. Dea Malyda Atmitha Akbar (Pegawai Bank)
69. Lukman Dardiri (Guru)
70. Lulu Sahrela (Penyiar dan Reporter Radio)
71. Hendra Wijaya Putra -Paman Kwek kwek' (Pendongeng Anak)
72. Iyus bin Hasan (Olahragawan)
73. Djuhadi (Pengusaha)
74 Rizki Ahmad Ghazali (Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Jakarta)
75. Nanda Muammarsyah (Pegawai)
76. R.H. Radjendra. (Penyair)
77. Tedi Kriyanto (Photografer Freelance)

Salam santun, doa rimbun
Hendri Yetus Siswono-Rahmat Radjedra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar