Label

Tampilkan postingan dengan label Book Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book Review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2015

Pahlawan Zaman Kita



Oleh Astri Aziz Ayuningtyas

Novel ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang perwira muda bernama Grigorii Aleksandrovich Pechorin yang diceritakan oleh sahabatnya bernama Maksim Maksimich dan juga oleh catatan yang ditulis oleh Grigorii Aleksandrovich Pechorin sendiri.

Maksim Maksimich bertemu dengan Pechorin pada saat mereka bertugas di benteng yang sama. Sejak saat itu mereka bersahabat. Pada suatu hari mereka berdua diundang oleh seorang raja untuk menghadiri pesta perkawinan putri pertamanya. Di pesta itu Pechorin jatuh cinta pada seorang gadis bernama Bela yang juga merupakan putri dari raja tersebut. Pechorin bertekad untuk mendapatkan Bela. Kebetulan Pechorin juga bersahabat dekat dengan adik laki-lakinya Bela bernama Azamat.

Pada waktu itu Azamat sangat menginginkan kuda milik seorang perampok keji bernama Kazbich. Kuda milik Kazbich itu sungguh istimewa. Kelincahan dan ketangguhannya sangat terkenal di seluruh Kabarda. Pechorin melihat ini sebagai peluang. Dia berjanji pada Azamat bahwa dia akan mendapatkan kuda milik Kazbich dengan syarat Azamat harus menculik Bela dan menyerahkan Bela padanya.

Akhirnya Pechorin bisa mendapatkan kuda tersebut dari tangan Kazbich dan Azamat pun menukar kuda tersebut dengan kakaknya. Bela sungguh merasa terpukul. Dia selalu tampak murung. Pechorin berusaha merayunya dengan hadiah-hadiah mewah. Mulanya Bela menolak tetapi seiring berjalannya waktu hati, Bela mulai terbuka untuk Pechorin. Namun saat Bela mulai mencintainya, Pechorin sudah merasa jenuh dengan Bela. Bela sungguh merasa kecewa dan dia melarikan diri dari rumahnya Pechorin menuju ke sebuah tanggul, tapi malangnya Bela bertemu dengan Kazbich yang ingin balas dendam terhadap Pechorin. Akhirnya Kazbich pun menembak Bela. Pechorin yang baru saja pulang dari berburu langsung mengetahui hal tersebut dari suara tembakan dan dia pun berusaha menolong Bela. Bela pun dibawa ke rumah seorang tabib. Tetapi terlambat bagi Pechorin karena Bela pun akhirnya meninggal. Dengan penyesalan yang begitu dalam akhirnya Pechorin pergi meninggalkan Maksim Maksimich.

Pernah suatu hari Maksim Maksimich bertemu kembali dengan Pechorin setelah beberapa tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu. Tetapi sayangnya Maksimich harus merasa kecewa dengan perubahan sikapnya Pechorin yang seolah-olah lupa dengannya. Saat Pechorin hendak pergi lagi, Maksimich ingin mengembalikan buku catatan milik Pechorin yang pernah ditinggalkan olehnya. Tetapi Pechorin menolaknya.

Dalam buku catatannya itu diceritakan tentang kisah cintanya dengan seorang nona pangeran bernama Mary. Awalnya Pechorin tidak menaruh perhatian terhadap Mary. Sahabat Pechorin-lah yang bernama Grushnitskii yang mencintai Mary. Namun tiba-tiba Pechorin mempunyai niat jahat untuk merebut cintanya Mary dan secara perlahan Pechorin berusaha mendekati Mary.

Grushnitskii yang mengetahui kedekatan Pechorin dengan Mary benar-benar marah dan dia mengganggap Pechorin musuhnya. Tetapi saat itu datanglah Vera, seorang wanita yang sangat dicintai oleh Pechorin. Tetapi sayangnya Vera sudah menikah dengan salah seorang kerabatnya Mary. Pechorin benar-benar bimbang. Tetapi kemudian dia memutuskan untuk meninggalkan Mary dan menjalin hubungan kembali dengan Vera tanpa sepengetahuan suaminya dan juga Mary.


Mary yang merasa cintanya diabaikan, akhirnya jatuh sakit. Mengetahui hal ini Grushnitskii semakin membenci Pechorin dan dia mengajak Pechorin berduel. Tetapi dalam duel tersebut Pechorin berhasil membunuh Grushnitskii. Tanpa diduga suami Vera mengetahui penyebab terjadinya pertengkaran antara Pechorin dengan Grushnitskii yang membuat Grushnitskii mati terbunuh dan juga perselingkuhan antara Vera dengan Pechorin. Suami Vera pun sangat marah terhadap istrinya itu lalu dia membawa Vera pergi agar tidak bertemu lagi dengan Pechorin. Dengan sangat terpaksa Vera pun meninggalkan Pechorin. 


Selasa, 21 Juli 2015

Suara Lain dari Seberang


Oleh  Bagja Hidayat (Sumber:  Ruang Baca Koran Tempo, 28 Mei 2006)

Sekumpulan tulisan yang menyerang sanjung-puji para kritikus terhadap para penulis perempuan Indonesia mutakhir. Argumentasinya mantap.

Dalam beberapa tahun terakhir ladang sastra kita ramai oleh gunjingan telah terjadi krisis kritik sastra. Mutu kritik dituding tak bisa mengimbangi membanjirnya karya sastra sebagai objek kritik dengan tumbuhnya media massa dan penerbitan. Pendeknya, kritik sastra kita, sebagai sebuah ranah sastra tersendiri, sudah mati.

Ada yang menuding krisis itu berpangkal karena adanya “politik sastra”. “Politik” itu berupa kuatnya jaringan personal antara komunitas-komunitas sastra terkemuka (yang di dalamnya ada kritikus terkemuka juga) dengan para penulis. Penulis yang bisa masuk ke dalam jaringan-jaringan kritikus arus utama itu akan mendapat tempat dalam ranah sastra kita.

Aktivis sastra siber, Saut Situmorang, gencar menyuarakan tudingan dan asumsi ini. Bukan tanpa kebetulan jika istrinya, Katrin Bandel, penulis buku ini, juga punya asumsi yang sama. “Buku ini lahir dari rasa kecewa terhadap permainan politik sastra semacam itu,” tulis Katrin. Penulis asal Jerman ini menuding para kritikus dalam jaringan itu telah tidak adil dalam menilai sebuah karya.

Katrin menunjukkan pilih kasih para kritikus itu. Karya yang mendapat tempat dan sanjungpuji itu secara kualitas, dalam penilaian Katrin, ternyata biasa-biasa saja. Sementara itu, banyak karya lain yang punya kualitas lebih terlewat dari gunjingan para kritikus di media massa hanya karena dia tak punya kontak ke jaringan kritikus arus utama itu.

Dan sepanjang delapan tahun ini, sastra kita (terutama novel dan cerita pendek) ramai oleh tema seputar seks yang ditulis perempuan. Para kritikus arus utama menilai hadirnya perempuan mengangkat dan membongkar seks dari kotak tabu selama ini sebagai bentuk pemberontakan perempuan terhadap budaya patriarki—sebuah budaya yang makin kentara dalam gunjingan yang riuh itu bahwa perempuan memang baru dihargai karena dia perempuan.

Sebab, belum pernah terdengar ada penulis laki-laki dipuji karena dia terlahir sebagai laki-laki. Inilah fokus yang mengambil sebagian besar sorotan Katrin terhadap karya sastra kita dewasa ini. Dia, misalnya, menyoroti dua novel Ayu Utami, Saman dan Larung, yang dianggap “novel terbaik sependek sejarah sastra Indonesia modern”.

Lalu kemunculan tiba-tiba Djenar Maesa Ayu, Dinar Rahayu, dan penulis perempuan lainnya yang menggarap tema tak jauh-jauh dari selangkangan secara telanjang. Para penulis yang dipuji-puji telah mengenalkan teknik bercerita yang baru ini, di mata Katrin, tak lebih hanya merumitkan narasi belaka.

Ia menyiapkan argumentasi, merujuk teori, membongkar kelemahan sorotan atas karyakarya mereka, lalu ia sendiri menunjukkan fakta lain yang mendukung ulasannya. Ada terasa argumentasi yang mantap, memang, sehingga segala bangunan kritik puja-puji itu goyah bahkan ambruk.

Yang tampak segera dari tulisan-tulisannya ini adalah usaha menyampaikan argumentasi sendiri dengan meminimalkan kutipan pemikir-pemikir sebelumnya yang seringkali dipakai bermegah diri oleh para kritikus lokal generasi terbaru. Penilaian Katrin semacam ini sah dan wajar saja.

Sebuah karya sastra serupa raksasa tak akan habis sungguh pun dicincang dari pelbagai sudut. Karya yang berhasil malah akan terus merangsang daya kritis para pembaca. Tetralogi Bumi Manusia yang ditulis Pramoedya Ananta Toer sudah banyak diulas dari pelbagai segi: politik, nasionalisme, teori komunisme, kejiwaan, sejarah, cerita yang biasa saja, dan seterusnya.

Alih-alih habis, tetralogi makin mengukuhkan kepengarangan Pramoedya. Ini juga menunjukkan bahwa baik-buruk mutu sebuah karya ditentukan oleh lompatan waktu, bukan oleh kritikus yang memuji atau mencacinya. Seorang kritikus adalah seorang pembaca yang bertanya. Ia mengungkap segala aspek yang tak terlihat oleh penikmat sastra biasa.

Ia menyampaikan perspektif dengan, kalau perlu, mencari pijakan teorinya. Menurut Budi Darma, kritik yang baik adalah kritik yang memberi wawasan. Kritik yang baik adalah kritik yang bisa membangkitkan siklus mencipta: karya sastra bisa melahirkan kritik, dan kritik bisa merangsang sebuah karya baru. Dalam perkembangan sastra Indonesia yang belum menunjukkan keunikannya ini, rangsangan semacam itu sangat perlu.

Budi Darma sendiri sudah mempraktekannya ketika menulis novel Olenka (dan mungkin cerita-cerita Orang-orang Bloomington). Secara jujur ia mengaku terinspirasi oleh satu kritik sastra yang ditulis pengarang Inggris, EM Forster. Kita tidak tahu bagaimana Budi Darma mendapat ilham menulis cerita sepulang dari Amerika.

Cerita-cerita mutakhirnya lebih tertib dan terarah, tak ada lanturan dan tokoh-tokoh yang kesurupan lagi. Karena berangkat dari “rasa kecewa” itu, tulisan-tulisan Katrin yang menyerang kritik sebelumnya terasa garang dan berapi-api, lalu melupakan sorotan terhadap nilai sebuah karya sebagai suatu kesatuan.

Sebaliknya, tulisan lepas yang membahas novel atau fenomena jauh lebih subtil dan memberikan perspektif baru. Karena itu, tulisan yang paling menarik dari buku ini adalah ulasannya soal dukun dan obat dalam sastra Indonesia, tema-tema pascakolonial, dan sastra siber. Soal dukun dan obat agaknya ringkasan dari disertasi Katrin di jurusan sastra Indonesia Universitas Hamburg, Jerman.

Menarik karena sorotan semacam ini jarang disentuh oleh kritikus lokal. Lagipula, perdebatan kritik sudah terjadi sejak zaman kuda bertukar tanduk dengan rusa. Persoalan rendahnya mutu kritik dan kewibawaan kritik selalu berulang dari generasi ke generasi. Perulangan debat semacam ini, bukankah menunjukkan bahwa memang ada fenomena dan tren tertentu dalam sastra Indonesia?

Barangkali karena buku ini bukan sekumpulan tulisan dengan kepaduan tema. Katrin telah meniru tabiat “intelektual publik” Indonesia yang membuat buku dengan mengumpulkan serpihan-serpihan ide lewat tulisan yang terserak dalam pelbagai berkala. Karena itu setiap ulasan tentang sebuah tema dalam buku ini terasa tak bebas ruang geraknya karena terbatas oleh jumlah halaman dan karakter di media massa tempat asalnya.

Seandainya Katrin mau menambah jelas tiap argumentasi, menyelipkan teori yang lebih ajeg untuk mendukungnya, atau memperluas tema sorotan sebelum dibukukan, ke-11 tulisannya ini bisa jauh lebih berbobot. Kemungkinan lain, sebuah tulisan dalam buku ini ditulis untuk sebuah tema pada suatu waktu tertentu dengan mempertimbangkan aktualitas.

Meski begitu, buku ini tetap menarik sebagai sebuah bahan otokritik terhadap arus utama kritik sastra mutakhir kita, semacam suara lain dalam menimbang sebuah karya. Sebuah otokritik dari seberang, yang mengingatkan, memberi tempat pada karya yang luput dari pengamatan para kritikus arus utama itu.

Sabtu, 28 Februari 2015

Alice di Negeri Ajaib


Oleh Alikta Hasnah Safitri

Judul Buku: Petualangan Alice (Alice di Negeri Ajaib dan Alice Menembus Cermin). Penulis: Lewis Carroll. Penerjemah: Agustina Reni Eta Sitepoe. Penerbit: PT Elex Media Komputindo. Tahun Terbit: 2010. Jumlah Halaman: 282 halaman.

Charles Lutwidge Dodgson atau lebih dikenal dengan nama samarannya: Lewis Carroll, selain sebagai penulis sebenarnya dikenal juga pada zamannya sebagai dosen matematika di Universitas Oxford. Karya monumentalnya sebagai pengarang adalah kisah klasik anak-anak Alice’s Adventures in Wonderland, Through the Looking Glass, serta puisi Hunting of the Shark and Jabberwocky.

Cerita Petualangan Alice di Negeri Ajaib dibuat spontan olehnya ketika menemani anak-anak keluarga Henry Liddell, Dekan Gereja Kristus Oxford, berperahu ria di sungai Thames dalam perjalanan piknik menuju Godstow. Atas permintaan Alice Liddell, Lewis Carroll menuliskan dongengnya tentang Alice dalam sebuah buku yang pada awalnya berjudul Alice’s Adventures Under Ground. Judul ini kemudian berubah lagi menjadi Alice Among the Fairies, lalu Alice’s Golden Hour, dan terakhir Alice’s Adventures in Wonderland yang kita kenal hingga kini

Buku Petualangan Alice terbitan PT Elex Media Komputindo ini memuat dua cerita sekaligus, yakni Alice di Negeri Ajaib dan Alice Menembus Cermin. Namun kali ini, peresensi hanya akan membahas kisah pertama tentang Petualangan Alice di Negeri Ajaib.

Petualangan Alice di negeri ajaib dimulai ketika seekor kelinci putih berjas panjang dengan mata merah muda berlari di dekatnya ketika ia sedang duduk di tepi sungai bersama kakak perempuannya. Alice pun mengejar kelinci itu hingga masuk ke dalam sebuah lubang besar.

Setelah terjatuh jauh turun ke bawah, ia menyadari bahwa kini ia tengah berada dalam sebuah ruangan dengan banyak pintu yang terkunci. Di atas meja, ia melihat sebuah kunci untuk pintu yang sangat kecil dan sebuah botol minuman berlabel “Minum Aku”. Alice meminumnya dan tubuhnya mengecil seketika, sementara kunci untuk pintu kecil itu masih berada dia atas meja yang tinggi.

Tak lama, ia menemukan kue dengan label “Makan Aku”, Alice memakannya dan tubuhnya pun membesar hingga membentur langit-langit ruangan. Segera setelahnya ia mengambil kunci dan menuju pintu, namun karena ukuran tubuhnya, ia hanya bisa berbaring miring sambil terus menangis hingga membentuk kolam air mata.

Di negeri Ajaib, Alice bertemu dengan sekelompok hewan yang bermusyawarah mengadakan sayembara untuk mengeringkan tubuh mereka setelah terjatuh di kolam air mata. Ia juga bertemu seekor ulat bulu yang duduk di atas jamur sambil menghisap hookah. Ulat bulu itu menanyakan jati diri Alice dan memberikan beberapa petuah padanya.

Alice melanjutkan perjalanannya dan masuk ke dalam sebuah rumah. Di rumah itu, ia bertemu pelayan berkepala ikan, sang putri dengan bayi berbentuk bintang laut, juga kucing Chessire yang selalu menyeringai. Alice juga menghadiri upacara minum teh yang aneh dengan Pembuat Topi, Terwelu Maret, serta Tikus Muscardinus. Walau meja perjamuan sangat luas, namun ketiga peserta jamuan berdesak-desakan di satu sudut meja.

Setelahnya, ia masuk ke dalam pintu yang membawanya menuju lapangan kriket. Disana ia mendapati para tukang kebun berbentuk bujur dan pipih dengan tangan dan kaki di kedua sudutnya sedang mengecat mawar putih menjadi merah.

Karena menentang perintah Ratu, ia mendapat tantangan untuk bertanding kriket, bolanya adalah para landak, pemukulnya adalah burung flamingo, dan para prajurit harus melengkungkan diri masing-masing dan berdiri di atas kaki dan tangan mereka sehingga membentuk busur.

Sepanjang permainan, Ratu selalu berkata “Penggal kepalanya!”, sehingga Alice merasa tidak nyaman. Setelah beradu pendapat, Ratu pun menghentikan permainan dan menyuruh seekor Gryphon membawa Alice bertemu kura-kura tiruan.

Di akhir kisah, Alice dituduh mencuri kue tarcis Sang Ratu, namun Alice mengelak dari tuduhan itu karena tak adanya bukti. Saat kemarahannya meledak, ia terbangun di pangkuan kakaknya dan menceritakan mimpi aneh yang baru saja dialaminya. Tak lama kemudian, sang kakak pun bermimpi hal serupa, meski ia tahu bahwa bila matanya dibuka, negeri ajaib itu akan hilang dan berubah menjadi kenyataan yang membosankan.

Buku ini sangat cocok dibaca oleh siswa sekolah dasar. Selain menghibur dan membangkitkan imajinasi anak-anak yang tak terbatas, sosok Alice yang jujur, polos, dan berani patut menjadi teladan bagi anak-anak seumurannya. Alice juga tak pernah menunjukkan sikap jijik pada setiap karakter aneh yang ditemuinya.

Lewis, secara implisit mengajak para pembacanya untuk tak menilai seseorang dari tampilan luar semata, bersikap terbuka terhadap perbedaan, serta menjunjung tinggi kesopan-santunan.

Sayangnya, logika fantasi dalam permainan kata dan bahasa yang sudah tertata apik dalam buku ini tak bisa ditangkap oleh pembaca karena buku ini merupakan karya terjemahan. Akan lebih baik setelah membaca karya ini, pembaca juga membaca karya aslinya yang berbahasa Inggris.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Para Pelacur Intelektual


Kekerasan lewat kebudayaan jauh lebih mengerikan ketimbang tindakan fisik. Sebagaimana telah dilakukan para seniman maupun budayawan Indonesia yang secara tidak langsung melacurkan diri untuk kepentingan Amerika Serikat.  Pasca pembantaian 1965-1966, kebudayaan menjadi produk yang efektif untuk melanggengkan ideologi anti-komunis. Itu sebabnya bagi sebagian masyarakat, membunuh orang komunis merupakan suatu kewajaran bahkan telah menjadi keharusan. Karena anggapan itu pula, masyarakat kini mengidap penyakit ketakutan yang parah soal komunisme.

Inilah bukti bahwa kekerasan lewat kebudayaan jauh lebih mengerikan ketimbang tindakan fisik. Karena telah membekas hingga berpuluh tahun dan tidak tahu kapan akan berakhir. Seperti yang dilakukan sekelompok orang yang mengatasnamakan Manifesto Kebudayaan.
Melalui buku Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang, kita bisa mengetahui sesungguhnya pendirian Manifesto Kebudayaan  tidaklah murni untuk kebudayaan, melainkan dibentuk untuk memberangus paham komunisme di Indonesia. Tanpa disadari hadirnya Manifesto Kebudayaan pun telah menjadi bagian politik Amerika Serikat. 

Dalam bukunya, Wijaya menunjukkan keberadaan suatu lembaga bernama Congress for Cultural Freedom (CCF) yang merupakan hasil bentukan CIA pada tahun 1950 dengan maksud sebagai aksi rahasia untuk menciptakan dasar filosofis bagi para intelektual untuk mempromosikan kapitalisme Barat dan anti-komunisme.
CCF sendiri sebenarnya ditempatkan di bawah kendali Office of Policy Coordination (OPC) yang diketuai oleh Frank Wisner, seorang pejabat CIA yang terlibat dalam perencaaan pemberontakan Perdjoeangan Rakjat Semesta  tahun 1957-1958. Dari CCF itulah dibentuk yayasan Obor internasional yang diketuai Ivan Kats, seorang perwakilan CCF untuk Program Asia. 

Yayasan Obor internasional (Obor Incorporated) yang berkedudukan di New York inilah yang menjadi induk dari yayasan Obor Indonesia yang diketuai Mochtar Lubis. Melalui yayasan tersebut, ide-ide yang ‘secara filosofis’ mempromosikan kapitalisme Barat dan sikap anti-komunisme pun disemai.
Lewat Ivan Kats juga, Mochtar Lubis memperoleh banyak karya yang disponsori CCF dengan gagasan liberalisme seperti majalah, pamflet, dan karya sastra. Misalnya karya-karya penulis anti-komunis seperti Albert Camus dan Miguel de Unamuno. 

Bahkan, Wijaya menuturkan, kedekatan hubungan tersebut berlanjut hingga generasi setelahnya, yakni ‘Goenawan Mohamad’ yang  pada saa itu kelak menjadi salah seorang tokoh paling berpengaruh dalam mengokohkan liberalisme barat dalam kebudayaan kontemporer Indonesia. Penulis Catatan Pinggir Majalah Tempo tersebut mengakui bahwa pada masa itu mereka sangat antusias untuk mencari, mengumpulkan dan membaca buku-buku CCF dan juga menjualnya ke kalangan yang lebih luas.


Wijaya juga memaparkan hasil penelitiannya bahwa tak dapat diragukan CCF melalui program kebudayaan dan pandangan Ideologinya berperan penting dalam membangun dan mensponsori pandangan anti-komunisme di arena kebudayaan Indonesia. CCF menawarkan program beasiswa kepada para Intelektual muda seperti Goenawan Muhammad dan Arief Budiman, untuk belajar di Eropa. 


Menariknya, program ini secara kebetulan dilaksanakan ditengah-tengah kemelut politik yang memuncak pada saat tragedi pembantaian komunis di Indonesia tahun 1965-1966. Program beasiswa tersebut menurut Arief Budiman adalah bagian dari upaya CCF untuk mengasosiasikan intelektual muda dengan organisasi anti-komunis. Sedangkan Goenawan Mohamad alasan dirinya pergi belajar ke Eropa karena mengungsi dari situasi politik di Indonesia di tahun 1965.


Dengan demikian, ada catatan penting untuk diingat bahwa deklarasi Manifesto Kebudayaan 1963 merupakan hasil konspirasi antara para penulis sayap kanan dengan para pendukung asing yakni CCF yang didukung oleh CIA. 


Hasilnya bisa kita lihat pasca dihancurkannya PKI beserta organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Goenawan Mohamad hingga hari ini tidak pernah merubah pandangan kebudayaannya. Ia juga sukses dalam memelihara pandangan liberalism Baratnya dengan cara memperkuat jaringan jaringan kebudayaan dan filantrofinya dengan institusi-institusi Barat. 


Aktivis boemipoetra Saut Situmorang dkk dan Taufiq Ismail menganggap Goenawan Mohammad dan Komunitas Utan Kayu sebagai satu ‘broker’ imperialisme kebudayaan Barat yang paling berpengaruh di Indonesia. Pada saat yang sama, boemipoetra juga menjadikan sosok Taufiq Ismail sebagai sasaran kritiknya, karena seperti halnya Goenawan Mohamad, Taufiq Ismail juga adalah salah satu penerima bantuan keuangan terbesar dari barat dan salah satu agen kebudayaan terpenting dalam Orde Baru. Selaindari Ford Foundation, Taufiq Ismail juga menerima dukungan dana dari pemerintah Orde Baru bagi kegiatan kebudayaannya di Horison.


Karya Wijaya Herlambang ini sangat menarik dibaca untuk menambah pengetahuan kita tentang kekerasan budaya yang terjadi pasca 1965. Buku berdasarkan tesis doktoral di Universitas Quensland Australia ini memaparkan bagaimana kebudayaan dijadikan sebagai alat untuk membenarkan pembantaian kemanusiaan yang digagas orang-orang yang menamakan diri pendukung humanisme universal. 


Kita bisa banyak belajar dari buku ini, bagaimana kekerasan tak melulu soal fisik dan pembunuhan. Kekerasan bisa lebih mengerikan lewat kebudayaan karena membenarkan pembantaian berjuta umat manusia menjadi lumrah dan lazim.  


Buku ini menganalisis upaya pemerintahan Orde Baru beserta agen-agen kebudayaannya dalam memanfaatkan produk-produk budaya untuk melegitimasi pembantaian 1965-1966. Dengan bukti-bukti empiris ditujukkan bahwa intervensi langsung CIA kepada para penulis dan budayawan liberal Indonesia untuk membentuk ideologi anti-komunisme bukanlah isapan jempol belaka.


Buku ini juga memuat kritik kepada para pegiat seni dan sastra soal kekerasan kebudayaan itu. Apakah mereka yang mengaku seniman atau sastrawan tersebut melakukan perlawanan untuk menghapus ideologi anti-komunis yang sudah ditanamkan penguasa Orde Baru berpuluh tahun itu atau malah sebaliknya?


[Judul Buku: Kekerasan Budaya Pasca 1965 –Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Penulis: Wijaya Herlambang. Penerbit: Marjin Kiri. Tahun Terbit: November 2013. Tebal: 334 halaman].

Rabu, 10 September 2014

Coca Cola, Mazmur Musim Sunyi, Walt Disney


Oleh Heri Maja Kelana*

Banyak manusia yang telah tersakiti oleh apa yang dikatakan dengan “cinta” –namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa masih banyak orang yang membutuhkan “cinta”? Apa mereka tidak bosan-bosannya tersakiti? Hal serupa juga terlihat ketika ada seseorang yang memakai behel (kawat gigi). Fenomena behel memang bukan hal yang baru terjadi dalam dunia kesehatan –terlebih banyak orang yang ingin terlihat modis atau terlihat cantik dan tampan tanpa gigi tonggos. Belakangan, behel menjadi life style di kalangan remaja, sekalipun gigi mereka sudah bagus dan rapi –mereka hanya ingin mendapatkan predikat “anak gaul” semata.

Pada tahun 1955, tepatnya 17 Juli di Anaheim, California, dibangun sebuah sarana hiburan yang diberi nama Disneyland. Pendiri Disneyland tersebut adalah Walt Disney. Penting saya sampaikan hal ini kepada pembaca, karena dengan adanya Disneyland telah muncul satu ideologi baru, impian baru, realitas baru dan hal-hal baru lainnya yang selanjutnya saya katakan dengan meme. Zaman baru, bebas dari intervensi. Meme dari Disneyland begitu terasa sampai pada setiap individu manusia di seluruh dunia. Ideologi yang muncul adalah kapitalis. Pemodal lebih merasa menjadi seorang manusia ketimbang manusia yang biasa-biasa saja. Mereka berkuasa, oleh karena itu sangat mudah mewujudkan impian menjadi sesuatu hal yang nyata.

Cinta dan meme dalam kehidupan tidak bisa dipisahkan dan akan terus mengalir hingga suatu saat berhenti dengan sendirinya. Cinta muncul dari banyak pandangan –dan meme muncul dari berbagai sudut kepala yang memiliki ide cemerlang. Begitu pula dengan karya (puisi) –perubahan satu tema, bentuk dan isi dari puisi tidak lepas dari realitas yang sedang terjadi –namun bukan berarti seorang penyair menjadi pemotret yang ulung atau menjadi follower generasi. Lebih dari itu, seorang penyair menjadi bagian dari realitas tersebut dan mewariskan ide untuk realitas selanjutnya.

Suatu ketika saya pernah berkesempatan meminum coca-cola, rasanya memang enak. Namun saya tidak suka dengan minuman berkarbonisasi, mungkin karena alasan kesehatan, ideologi, dll. Akan tetapi banyak orang yang justru sangat menyukai coca-cola. Demikian juga dengan puisi yang terhimpun dalam “Mazmur Musim Sunyi” ini. Sulaiman Djaya saya samakan dengan Walt Disney –dalam urusan membangun “dinasti imaji”. Walt punya Disneyland sedangkan Sulaiman Djaya (selanjutnya disebut SD) punya arena imaji dalam antologi puisi “Mazmur Musim Sunyi”. Kedua orang ini, awalnya mungkin berniat ketika membuka ‘ruang’ adalah untuk kebaikan, mudah-mudahan tercapai. SD dengan MMS-nya telah berani menawarkan satu produk ide untuk pembaca –itu yang membuat saya terpacu untuk terus mendalami puisi-puisinya.

Run on Run

Seorang penyair memiliki satu ruang yang sepertinya tidak dimiliki oleh manusia biasa –yaitu ruang “antara”. Ruang antara ini yang membuat puisi-puisi menjadi dahsyat, bernyawa, dan magis. Apakah dalam puisi-puisi SD juga demikian? Saya kira, ya. Namun tidak semua. Penyampaian ide yang dilakukan oleh SD adalah dengan dua cara. Pertama dengan dua, tiga sampai lima kata. Kemudian yang kedua dengan bentuk naratif yang panjang. Hal itu adalah keterampilan retorika seorang penyair. Keberhasilan SD adalah memainkan personifikasi dan hiperbola dalam setiap puisi-puisinya. Material dihidupkan oleh teknik seorang penyair, bukan alami. Ini salah satu gaya yang dimiliki oleh SD. Lihat puisi “Tak Ada Mawar dalam Sajak-sajakku”, “Kotak Cinta Bulan April”, "Nyayian Cahaya”, “Sajak yang Kutulis Saat Bosan”, “Sebelum November Berakhir”.

Permainan run on run juga terjadi pada puisi-puisi “Rima Bulan Juni”, “Musim Untuk Ibuku”, “Fragmen Gerimis”, “Serafin Januari”, “Serafin Bulan Mei”, “Kasidah Barzanzi”, dan bentuk puisi yang serupa lainnya. Keberhasilan SD dalam memainkan bentuk tentunya bukan keberhasilan mutlak dalam sebuah capaian estetika, sebab masih banyak yang harus dilihat dari puisi-puisinya. Puisi-puisi SD seperti yang saya katakan di atas memiliki ruang imaji personal yang sulit untuk diakses oleh saya sebagai pembaca.

Coca-Cola dan Mazmur Musim Sunyi




Kita kembalikan dulu bahasa pada hakikatnya –yaitu sebagai sarana komunikasi. Kode masyarakat adalah kode yang sudah sering ditemui atau sudah diketahui oleh masyarakat. Sedangkan kode personal adalah kode yang diciptakan oleh penutur-penutur tertentu untuk kalangan-kalangan tertentu saja, termasuk puisi. Apabila penutur dalam hal ini penyair tidak dapat menjalin komunikasi dengan penerima atau pembaca, maka akan terjadi kegagalan komunikasi, yang terjadi hanya ada ide utopis pada kedua belah pihak. Saya tidak mengharapkan hal ini terjadi pada puisi-puisi SD. Narasi-narasi besar yang berada di sekitar kita secara disadari atau tidak telah memberikan efek sugesti kepada kita. Apakah SD tersugesti? Ya tentu saja.  

Begitu pun aku sesat dalam buku-buku dan kata-kata yang membuatku semakin lupa pada apa yang mesti kulakukan, hingga sebuah suara berteriak entah dari mana: “berhentilah dan dengarkan nyayianmu sendiri kala malam semakin dalam dan dalam, meresap pada ubun-ubun dan samudera matamu nun mengiba di antara derai-derai keyakinan dan ketakpastian, yakni kata-kata yang tak bersayap yang meminta ingin terbang dan menjelajah semesta doa dan harapan, keinginan dan keputusasaan tak menemu lembar-lembar baru manakala kau hendak menuliskannya sepenuh cinta

Penggalan puisi yang berjudul “Tak Ada Mawar dalam Sajak-sajakku” di atas memberikan deskripsi kode yang coba digali oleh penyair dalam berkomunikasi dengan penerima. “Seringkali saat pagihari, kutemui kelengangan, di antara para unggas yang sibuk menancapkan paruh mereka pada air dan lumpur. Bermain-main cahaya yang memantul di mata mereka. Dan jika pun ingin bertanya tentang hidup, kuyakin aku tak punya jawabnya. Sebab seringkali apa pun yang kupikirkan, seringkali aku pun lupa menyaksikan sesuatu yang berharga pada yang biasa saja”. Penggalan puisi yang berjudul “Kiasan Menulis” di atas memberikan juga deskripsi kode dari penyair untuk penerima.

Pendeskripsian-pendeskripsian yang dilakukan SD adalah pendeskripsian utopis. Adapun sesuatu yang sifatnya realis telah dikacaukan oleh hal-hal yang utopis. Dan saya kira puisi-puisi ini sebenarnya ditujukan bukan hanya kepada manusia saja, lebih dari itu kepada Sang Maha Gaib. Oleh karena itu, sangat wajar seorang penyair mengungkapkannya dengan berbagai cara tanpa dibatasi teori, materi, dan golongan.  

Meme: Disneyland, coca-cola, dan Mazmur Musim Sunyi adalah sebuah ruang "antara" yang dibangkitkan oleh ekspresionisme dari para penciptanya. Spirit itu yang kemudian muncul dan menggairahkan pembaca, sehingga pembaca ikut bertamasya. Itulah kehebatan dari puisi. Terakhir, saya juga ingin menyampaikan apa yang telah disampaikan oleh Slavoj Zizek tentang sesuatu hal tidak dapat terlihat atau dapat dikatakan gelap. Seperti alam semesta. Maksud saya hal yang tidak semua dapat diterjemahkan dengan harfiah, yang kemudian muncul hanya beberapa fragmen-fragmen tertentu saja. Tidak ada fakta dalam alam semesta, yang ada hanya kekosongan yang luar biasa. Begitu pula dengan puisi.

*Penyair dan pecinta sepeda