Label

Senin, 19 September 2016

Gelandangan



oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Kabar Banten, 07 Juni 2010)

Saat saya pertamakali melihatnya, ia selalu tersenyum pada setiap orang yang turun dari angkutan umum yang saya tumpangi ketika saya berangkat menuju studio tempat saya biasa On Air setiap malam Rabu untuk materi Seni dan Gaya Hidup yang pemandunya tak lain adalah teman saya sendiri.


Semula, saya menganggapnya sebagai pengalaman yang biasa saja. Katakanlah pengalaman dan kenyataan hidup yang seringkali terjadi ketika saya hidup di kota-kota di Indonesia. 

Saat itu, ia sebenarnya tak hanya tersenyum-senyum sendiri yang adakalanya diselingi tawanya yang samar. Ia juga bergerak-gerak atau lebih tepatnya bergoyang-goyang ke samping kiri dan kanan mirip seorang bocah perempuan yang sedang belajar bernyanyi dengan malu-malu. Hanya saja saya tak lagi memikirkannya ketika angkutan umum yang saya tumpangi kembali melaju. Sebab yang sebenarnya adalah karena pikiran saya sibuk mematangkan materi seputar Minat Baca dan Gaya Hidup Remaja Kota, sebuah materi yang sebenarnya membuat saya cukup terbebani dan menguras pikiran, terlebih karena sejauh pengalaman saya remaja-remaja di kota kecil tidak mencerminkan remaja-remaja yang mau menyisihkan uang jajan mereka untuk membeli buku-buku bacaan di luar buku wajib mereka di sekolah. 

Sesampainya di studio tempat biasa saya On Air, saya berdiskusi terlebih dahulu dengan teman saya yang sekaligus pemandu saya seputar tema yang akan kami udarakan malam itu. Tak saya sangka, teman saya berpendapat bahwa alangkah lebih baiknya bila tema yang akan diangkat disisipi dengan muatan yang dapat membangkitkan minat remaja pada kenyataan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya sering mereka jumpai. Kontan saja pikiran saya tertuju pada perempuan gelandangan yang saya lihat dalam perjalanan menuju studio yang telah saya katakan itu. 

Setelah obrolan singkat kami itu kami pun memasuki studio dan langsung melenturkan tema dan materinya menjadi “Menjumpai Keseharian”. Kami tak menyangka, selama kami On Air malam itu, ada puluhan pemirsa yang menelepon untuk bertanya dan menyumbangkan pendapat mereka. Maka jadilah On Air malam itu sebagai On Air yang menempati rating paling tinggi dibanding sebelum-sebelumnya. Dan tentu saja kami pun merasa bahagia dan senang. 

Di hari Selasa sore minggu berikutnya saya kembali berangkat untuk kembali On Air dengan materi yang berbeda. Dalam perjalanan saya di hari Selasa yang untuk kesekian kalinya itu saya tak melihat perempuan gelandangan yang telah saya lihat sebelumnya. 

Saya pun mulai bertanya-tanya ke mana gerangan si perempuan gelandangan itu sekarang? Di dalam angkutan umum yang saya tumpangi hari itu saya mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan ia berada. Tapi sepanjang perjalanan itu saya tak melihatnya.


Pada kesempatan On Air untuk yang kesekian kalinya itu, saya memutuskan untuk menginap di ruang rekaman yang bersebelahan dengan ruang studio. Mungkin karena malam itu saya terlampau lelah untuk melakukan perjalanan pulang setelah saya ngobrol dengan salah satu penyiar perempuan yang minta ditemani sampai tiba gilirannya On Air pada jam dua belas malam. Meski selepas jam sebelas malam itu saya sebenarnya sudah merasakan kantuk akibat kelelahan. 

Keesokan harinya saya pun berangkat pulang pada jam sembilan pagi setelah sarapan nasi uduk dan menghabiskan segelas Cappuccino. Juga tentu saja, menghisap sebatang rokok kretek kesukaanku. 

Saat saya telah masuk angkutan umum, awalnya saya duduk tenang saja di dalam angkutan umum yang saya tumpangi. Tapi karena macet yang cukup lama dan membuat tubuh saya gerah, saya pun ingin mengetahui penyebab kemacetan. Dan ketika saya menanyakannya pada si sopir, si sopir menjawabnya bahwa ada kecelakaan beberapa ratus meter di depan.


“Oh, begitu,” ujar saya. 

Setengah jam kemudian angkutan umum mulai melaju. Begitulah selanjutnya. Di hari Selasa berikutnya lagi saya pun kembali berangkat menuju studio seperti sebelum-sebelumnya. Lagi-lagi saya tak melihat si perempuan gelandangan di tempat pertamakali saya melihatnya. Tapi beberapa ratus meter kemudian saya melihatnya tengah bersandar di sepohon besar pinggir jalan. Kali ini gaun dekil yang dikenakannya terlihat berubah dan sangat berbeda. Lengan kiri gaun yang dikenakannya kali ini robek dan bagian yang menutup dadanya sedikit terbuka hingga menampakkan sebagian dadanya. 

Dan yang membuat saya penasaran dan bertanya-tanya adalah ketika tangan kanannya seolah tengah meraba-raba dan meremas-remas bagian tubuhnya yang berada di bawah perutnya dan di ujung dua pahanya. 

Melihat hal tersebut saya pun mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan yang dialaminya.


“Mungkinkah ia telah diperkosa?” Tanya saya dalam hati. Karena ketika itu ia seperti tengah menahan kesakitan di saat ia menyandarkan kepalanya dan mendongakkan wajahnya ke atas, mirip seseorang yang tengah berdoa kepada langit yang ditatapinya.

“Jika benar ia telah diperkosa, terkutulah orang yang telah memperkosanya,” bathin saya. 

Tanpa saya sadari sepanjang perjalanan itu pikiran saya sibuk menerka-nerka kejadian apa yang menimpanya.


“Ah, mungkin saja ia lapar,” saya menduga-duga dalam hati.

“Atau mungkin juga hanya merasakan kesakitan, tapi bukan karena diperkosa,” saya terus membathin.

Namun, lamunan saya berhenti ketika si sopir mengingatkan saya bahwa saya telah sampai di tempat yang saya minta padanya untuk berhenti jika telah sampai. Dan tentu saja seperti biasanya, malam itu kami kembali On Air, dan saya pun kembali menginap di studio sambil menemani seorang penyiar perempuan yang biasa dipanggil Mbak Mela. 

Selama Mbak Mela On Air malam itu saya menemaninya sembari membaca koran-koran yang telah saya bawa ke studio dari tempatnya. Di sela-sela iklan siaran saya pun mulai meminta pendapat Mbak Mela bagaimana bila seorang perempuan gelandangan diperkosa. Saat itu saya ingin tahu perasaan dan empati Mbak Mela sebagai sesama perempuan. 

“Misalkan, ini hanya seandainya lho!,” papar Mbak Mela, “Misalkan yang diperkosa itu adalah saya, tentu saya akan mengalami trauma,” lanjutnya.


“Meski yang diperkosa itu perempuan gila alias perempuan tak normal?”, tanya saya.

“Saya pikir itu tak akan ada bedanya sepanjang ia memiliki perasaan seperti halnya saya,” lanjut Mbak Mela.

“Kalau boleh tahu, kenapa kau menanyakan hal itu?”, tanya Mbak Mela.

“Bukan apa-apa sih”, kilah saya, “Hanya saja saya melihat seorang gelandangan yang saya pikir telah mengalami perkosaan ketika saya dalam perjalanan menuju ke sini”, papar saya,

“Maksudnya kamu melihatnya diperkosa?”, tanya Mbak Mela.

“Tidak juga sih”, jawab saya, “Saya hanya mengambil kesimpulan dari ekspresi wajahnya dan kondisi tubuhnya juga pakaiannya ketika saya melihat dirinya yang meraba-raba bagian tubuhnya yang berada di bawah perutnya dan di ujung kedua pahanya dengan tangan kanannya, sementara ia mendongakkan wajahnya ke atas”, lanjut saya.

“Mungkin saja ia diperkosa, tapi mungkin saja hal lain yang menimpanya”, ujar Mbak Mela, “Sebab bisa jadi kesimpulan kamu itu keliru di saat kamu tak melihatnya diperkosa, apalagi kecendrungan orang adalah membenarkan anggapannya sendiri, tapi saya percaya kamu tidak seperti itu.” 

Saya tak melanjutkan perbincangan itu karena khawatir mengganggu tugas Mbak Mela untuk siaran, dan saya pun kembali membaca koran yang bertumpuk di hadapan saya, di meja studio malam itu. 

Setelah Mbak Mela selesai siaran, saya langsung menuju sofa ruang tamu dan membaringkan tubuh saya hingga tertidur tanpa saya sadari.


Keesokan harinya saya pun berangkat pulang. Pagi itu saya tak lagi memikirkan keingintahuan saya pada apa yang menimpa si perempuan gelandangan yang sempat membuat saya gelisah itu. Mungkin karena saya terpengaruh oleh pendapat Mbak Mela. 

Tapi di pagi itu saya menyimak perbincangan, lebih tepatnya cerita sopir angkutan umum yang tengah saya tumpangi kepada temannya yang sama-sama duduk di depan bersama si sopir. Si sopir itu bercerita bahwa ia hampir saja menabrak perempuan gelandangan di hari yang sama ketika saya melihatnya untuk yang kedua kalinya itu. Untung saja, cerita si sopir, ia hanya menyerempetnya ketika ia hendak melaju setelah menurunkan beberapa penumpang.



Saya hanya bisa tersenyum ketika mendengar cerita si sopir, atau lebih tepatnya saya berusaha untuk tidak tertawa agar tidak dituduh gila oleh sesama penumpang. 

Ilustrasi: Lukisan karya seniman realis Iran, Iman Maleki.

Senin, 15 Agustus 2016

Galeri Buku Sastra

(Shella Andelica, Finalis Nong Tangerang dan buku Mazmur Musim Sunyi)

Pendapat Para Penulis tentang Buku Mazmur Musim Sunyi

Keberhasilan Sulaiman Djaya adalah memainkan personifikasi dan hiperbola dalam setiap puisi-puisinya. Material dihidupkan oleh teknik seorang penyair, bukan alami. Ini salah satu gaya yang dimiliki oleh SD (Heri Maja Kelana, penulis dan pecinta sepeda).

Puisi-puisi penyair Sulaiman Djaya yang terkumpul dalam buku Mazmur Musim Sunyi ini menyiratkan keseimbangan kecerdasan pikiran dan tangan sebagai “sekembar” aktus intelegensia itu sendiri. Bagi penulis, gagasan itu di dalam tangan yang sekaligus bekerja kompak dengan intuisi dan pikirannya. Terlihat juga dalam beberapa sajaknya yang prosaik, selain sajak-sajaknya yang tertib laiknya puitika kwatrin itu, menampilkan diri dengan lincah sekaligus rileks (M. Taufan, penyair tinggal di Bekasi).

Di dalam bis, di Smoking Area saya buka buku Mazmur Musim Sunyi. Saya menemukan puisi berjudul "Monolog". Ada bagian menarik di puisi itu, seperti berikut: Saya tahu seorang penyair harus belajarmenulis puisi yang kata pertamanya bukan aku. Saya merenungi kalimat tersebut. Seorang penyair harus belajar menulis puisi yang kata pertamanya bukan aku. "Aku" ini, aku sebagai kediriankah? Jika memang demikian, saya setuju. Penyair harus bisa menulis puisi yang tidak hanya berkutat dengan kediriannya, sebab ada banyak hal di luar diri yang juga penting dan esensial untuk dituliskan (Lutfi Mardiansyah, penyair tinggal di Sukabumi).

Simbol-simbol waktu yang ditanam Sulaiman Djaya dalam puisi-puisinya mengingatkan pada sumpah Tuhan atas nama makhluknya, yakni “Demi Waktu”. Keberadaan waktu dalam kehidupan memang misterius. Ia seperti sangat jauh padahal begitu dekat. Seperti sangat renggang padahal begitu rapat dengan tubuh dan ruh manusia (M. Rois Rinaldi, penulis tinggal di Cilegon).

Akan banyak sekali yang ditemukan dari puisi-puisi yang terhimpun dalam Mazmur Musim Sunyi Sulaiman Djaya ini, yang secara tanpa sadar menggunakan citraan warna-warna untuk menandakan benda-benda. Sebut saja “putih beludru” dalam puisi “Memoar”, “November yang agak ungu” untuk latar waktu pada puisi “Surat Cinta”, “mendengar putih bintang-bintang”, “tahun-tahun adalah kibasan perak warna kelabu yang jadi biru”, “hijau musim di wajahmu yang matang”, “senja tampak marun”, “langit kuning bulan Mei”, “akhirnya datanglah Desember putih”, dan masih banyak lagi yang lainnya yang kemudian dapat disandingkan dengan penanda waktu (Mugya Syahreza Santosa, penyair tinggal di Bandung).


Sulaiman Djaya adalah sastrawan yang selalu riang gembira dalam pelbagai kesempatan. Ia termasuk sastrawan yang produktif. Terakhir ia menerbitkan antologi puisinya yang berjudul Mazmur Musim Sunyi. Sastrawan yang lebih pas disebut penyair ini, selain menulis puisi dan esai sastra, juga kerap menulis tentang kajian-kajian kebudayaan. Sehingga belakangan ia juga disebut budayawan. Tetapi sekali lagi, ia lebih pas disebut penyair. Puisi-puisinya memiliki warna airmuka yang begitu dekat kaitannya dengan “hakikat kehidupan”. Jika sekilas dibaca, puisi-puisinya seperti puisi cinta biasa, akan tetapi jika diselami lebih dalam, ada warna “teologis”, semisal yang bercitarasa sufistik. Sumber: Tabloid Ruang Rekonstruksi Edisi Desember 2013. 


(Nazar Shah Alam, penyair dan buku Mazmur Musim Sunyi)

Jumat, 29 Juli 2016

Rumah Berhantu


Cerpen Virginia Woolf

JAM berapa pun kau terbangun ada sebuah pintu menutup. Dari satu kamar ke kamar lain mereka berjalan, bergandengan tangan, menyingsing di sini, membuka di sana, memasti-pastikan-pasangan yang remang.

"Di sini kita meninggalkannya," dia, yang perempuan, berkata. Dan ia, yang lelaki, menambahkan, "Oh, tapi di sini juga!" "Di atas," dia berdesir. "Dan di taman," ia berbisik. "Pelan-pelan," mereka berkata, "atau kita mesti membangunkan mereka."

Tapi bukan soal kalian membangunkan kami. Oh, bukan itu. "Mereka akan menemukannya; mereka sedang menarik gorden," salah satu akan berkata, kemudian membaca satu atau dua halaman. "Kini mereka telah menemukannya," salah satu akan merasa pasti, menggaris batas bacaan dengan pensil. Dan kemudian, lelah membaca, salah satu akan bangkit dan menjumpai yang lainnya, rumah kosong, pintu tetap terbuka, hanya gelembung merpati hutan dengan muatan dan deruman mesin pengirik terdengar dari ladang. "Untuk apa aku masuk kemari? Apakah yang hendak kucari?" Apel-apel berada di loteng. Dan begitu turun lagi, taman masih seperti biasa, hanya buku tergelincir ke dalam rumputan.

Tetapi mereka telah menemukannya di ruang tamu. Tak seorang pun dapat melihat mereka. Kaca-kaca jendela memantulkan apel-apel, memantulkan bunga-bunga mawar; semua daun berwarna hijau di dalam kaca. Jika mereka bergerak di dalam ruang tamu, barulah apel menampilkan sisi kuningnya. Namun, sesaat kemudian, jika pintu terbuka, melintasi lantai, menempel di dinding-dinding, anting-anting dari genting-apa? Tanganku kosong. Bayangan seekor murai melintasi karpet; dari sumur-sumur kesunyian terdalam merpati hutan menebarkan gelembung suaranya. "Aman, aman, aman," nadi rumah berdenyut lembut. "Harta terpendam; kamar...." denyut itu berhenti sesaat. Oh, apakah itu harta terpendamnya?

Sesaat kemudian cahaya telah padam. Berarti di taman luar sana? Tetapi pohon-pohon menebarkan kegelapan bagi sorot matahari yang mengembara. Begitu bagus, begitu langka, dengan tenang terbenam di bawah permukaan, sinar yang kuketemukan selalu menyala di balik kaca. Maut adalah kaca; maut berada di antara kita; datang kepada yang perempuan terlebih dahulu, ratusan tahun yang lalu, meninggalkan rumah, mengunci semua jendela; kamar-kamar menjadi gelap. Ia meninggalkannya, ia meninggalkan dia, pergi ke Utara, pergi ke Timur, melihat bintang-bintang berputar di langit Selatan; mencari rumahnya, menemukannya tertimbun Kemuraman. "Aman, aman, aman," nadi rumah berdenyut riang. "Harta kepunyaanmu."

Angin menderu di jalan raya. Pohon-pohon membungkuk dan meliuk ke sana ke mari. Sorot cahaya bulan memercik dan jatuh dengan liar dalam hujan. Tetapi sorot cahaya lampu jatuh lurus dari jendela. Lilin menyala kaku dan tenang. Dengan mengembara ke seluruh rumah, membuka jendela-jendela, berbisik agar tak membangunkan kami, pasangan remang itu mencari kebahagiaan mereka.

"Di sini kita tidur," dia berkata. Dan ia menambahkan, "Ciuman-ciuman tanpa nomor." "Bangun di pagi hari-" "Perak di antara pohonan." "Di atas-" "Di taman-" "Ketika musim panas tiba-" "Di tengah salju musim dingin-" Pintu-pintu menutup di kejauhan, berdentam halus bagai denyut jantung.

Makin dekat mereka tiba; berhenti di pintu masuk. Angin luruh, hujan menggelincir perak pada kaca. Mata kami menjadi gelap; kami tak mendengar langkah apa pun di samping kami; kami tak melihat seorang wanita pun melebarkan jubah hantunya. Tangan yang lelaki melindungi lentera. "Lihat," ia mendesah. "Kedengarannya tidur. Cinta di atas bibir mereka."

Sambil membungkuk, menggenggam lampu peraknya di atas kami, lama mereka memandang, dan dalam. Lama mereka diam. Angin melaju lurus; api merunduk halus. Sorotan liar cahaya purnama melintasi lantai dan dinding, dan, bertemu, menodai peot wajah-wajah itu; wajah-wajah bosan; wajah-wajah yang mengejar orang-orang tidur dan mencari kebahagiaan tersembunyi mereka.

"Aman, aman, aman," jantung rumah berdetak bangga. "Bertahun-tahun lamanya-" ia mendesau. "Lagi kau menemukanku." "Di sini," dia berbisik, "tidur; membaca di taman; tertawa, menggulingkan apel di loteng. Di sini kita meninggalkan harta kita-" Dengan membungkuk, cahaya mereka mencabut penutup di atas mataku. "Aman! aman! aman!" nadi rumah berdenyut liar. Seraya terbangun, aku berteriak "Oh, inikah harta terpendam kalian? Cahaya di dalam hati."


Diterjemahkan oleh Dina Oktaviani dari ''Haunted House'' karya Virginia Woolf dalam Fifty Grand Stories.

Kamis, 28 Juli 2016

Wanita yang Berbeda


Cerpen Siti Nuraisyah* (Sumber: Radar Banten, 23 September 2014)

Pukul 16.30 Aku datang tepat waktu. Sore ini, kami berdua berjanji untuk kembali bertemu setelah hampir satu minggu semua pekerjaan menyita seluruh waktuku. Dari depan pintu, Aku dapat melihatnya duduk di sudut cafe, sedikit terpisah dari pengunjung lainnya. Tempat biasa kami menghabiskan segelas kopi dalam genggaman masing-masing. Seperti biasa ia selalu datang lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.

“Aku tak suka menunggu, itu lah alasannya kenapa aku tak ingin membuat orang lain menunggu.” Itu yang selalu ia katakan. Dan aku belajar hal itu darinya.

Ia langsung tersenyum saat menyadari kehadiranku. Masih menggunakan blezer kerja berwarna hitam, yang menandakan bahwa ia tak sempat pulang ke rumah. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Rasa lelah terpancar jelas di wajahnya, entah karena pekerjaan atau karena hubungannya dengan laki-laki itu. Tapi bagaimanapun, ia selalu terlihat cantik.

Aku melanjutkan langkahku dan duduk di hadapannya. Tanpa banyak haha dan hihi akhirnya kami memesan cappuccino dan tiramisu masing-masing satu.

Dua gelas cappuccino dan dua potong tiramisu datang tak lama setelah kami selesai menanyakan kabar. Ia menjawab bahwa ia baik-baik saja, tapi aku tahu ia tidak sedang baik-baik saja. Setelah tegukan pertama, ia menghela nafas panjang. Aku benar-benar yakin bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

Tangismu pecah, pada helaan nafas di akhir cerita. Sepertinya kamu tak lagi mampu menahan beban berat yang sejak tadi membuatmu menghela nafas berkali-kali. Ceritamu selalu sama, tentang dia yang kembali menyakitimu dengan semua hal yang ia lakukan, dengan semua hal yang ia katakan. Aku benci mendengarnya.

Aku mengenalmu lebih dari siapapun yang pernah kamu kenal, kita telah bersama lebih lama dari siapapun yang pernah bersamamu. Aku tahu kamu, sifatmu, kebiasaanmu. Tapi sampai sekarang aku tak pernah mengerti jalan fikiranmu. Aku tak pernah bisa sepenuhnya tahu apa yang kamu fikirkan. Aku...aku...tak pernah tahu, kenapa kamu masih saja bertahan.

Ia menyakitimu, lagi, lagi dan lagi. Tapi, Kamu masih tetap mencintainya. Ia mengecewakanmu, lagi, lagi dan lagi. Tapi kamu masih tetap bertahan di sampingnya. 

“Aku yakin kok, dia bakal berubah.” Katamu di sela isak tangis.

“Tapi, aku nggak yakin.” kataku. Dan kamu hanya akan tersenyum mendengar semua omelanku.

Aku tahu sekali tentang hubunganmu dengan laki-laki itu. 3 tahun, aku tak menyangka kamu bisa bertahan selama ini menghadapi laki-laki seperti itu. Ini bukan pertama kalinya kamu menangis hingga separah ini. Penjaga cafe pun sudah tahu, dan mungkin mereka sudah memakluminya.

Berulang kali aku memberitahumu bahwa dia tak akan berubah, dia adalah orang yang salah. Namun aku menyerah, sampai kapan pun kamu tak akan pernah mendengarkanku. Tugasku, hanya menjadi seorang pendengar yang baik untukmu.

Kita berteman sudah sangat-sangat lama. Aku selalu menjagamu. Aku tak ingin satu orangpun menyakitimu. Tapi dia datang, menghancurkan apa yang selalu aku jaga. Dan aku...tak bisa berbuat apa-apa. Ada rasa sakit yang teramat saat kamu menangis di hadapanku. Ada debar yang tak terduga saat jemariku menggenggam erat jemarimu ―yang bermaksud untuk menguatkan.

Aku tahu, tak seharusnya rasa sayangku berubah menjadi apa yang orang-orang sebut dengan cinta. Aku tahu, tak seharusnya aku jatuh cinta padamu. Kita tumbuh bersama, hingga akhirnya aku mempunyai rasa. Aku tahu ini kesalahan terbesar yang pernah ku lakukan. Aku menginginkanmu, namun tak ingin kamu ikut terjerumus bersamaku.

Aku pun tak mengerti tentang perasaan ini, bukan cuma sekali aku mengutuk diriku sendiri, tapi pada akhirnya aku harus mengerti bahwa ini telah terjadi. Aku telah jatuh cinta padamu, tapi...aku, sudahlah. Aku tahu aku hanya akan menjadi teman terbaikmu.

Suaramu mulai parau saat berkata. “Aku tak apa-apa.” Dan kembali meneguk cappuccino yang hampir dingin. Tapi nyatanya tangismu lebih banyak menceritakan apa yang kamu rasakan dibandingkan kata-kata yang kamu ucapkan. Tapi kamu, masih bisa berkata bahwa kamu tak apa-apa.

Lagi-lagi aku tak mengerti jalan fikiranmu.

Aku masih tak mengerti, saat kamu bilang tak bisa meninggalkannya. Aku hanya mengerti, bahwa kamu terlalu melihat pada satu titik hitam hinggak tak sadar ada pelangi yang mengelilingi titik hitam itu. Aku hanya mengerti, kamu terlalu melihat pada jurang dalam di hadapanmu hingga kamu tak sadar bahwa ada jembatan yang siap menyeberangkanmu.

Aku tahu, tak seharusnya aku berharap menjadi pelangi yang mengelilingi titik hitam itu. Aku tahu, tak sepantasnya aku berharap menjadi jembatan yang akan menyebrangkanmu melewati jurang.

Aku tahu, sampai kapan pun kamu tak akan menyadari perasaanku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa memilikimu. Kita sama-sama wanita? Kau tahu sendirikan? Tapi aku rasa kita wanita yang berbeda, maksudku aku wanita yang berbeda.


*Lahir di Pandeglang, Banten 1 April 1997. Saat ini aktif di Kubah Budaya.


Senin, 25 Juli 2016

Pentas Sastra Siswa


Tumbuhkan Apresiasi Sastra, SMAN 2 Gelar Pentas Sastra: Courtesy: http://www.bantennews.co.id/tumbuhkan-apresiasi-sastra-sman-2-gelar-pentas-sastra

SERANG – SMA Negeri 2 Kota Serang menggelar acara Pentas Sastra, Sabtu (23/7/2016). Acara ini merupakan hasil pelatihan Bengkel Sastra yang dimotori oleh Komunitas Perubahan Budaya (Kubah Budaya) selama tiga bulan lalu. Pentas siswa kali ini antara lain diisi dengan pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pembacaan cerpen dan sebagainya. Karya yang dibacakan merupakan hasil karya siswa setelah mengikuti rangkaian kegiatan Bengkel Puisi. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Iis Mugisah menyambut baik kegiatan tersebut. Namun demikian, Iis mengakui, antusiasme siswa di sekolahnya masih lemah terhadap sastra.

“Pada saat kegiatan ini siswa tidak mengikuti dengan keseriusan, makanya ada yang ikut ada juga yang tidak ikut. Setiap pertemuan menyusut. Awalnya banyak siswa sampai tersisa tujuh orang,” kata Iis sebelum pentas dimulai di Aula SMA Negeri 2 Kota Serang, Sabtu (23/7/2016). Iis berharap, kedepan kegiatan ini bisa diikuti oleh banyak peserta di sekolahnya. Hal senada disampaikan oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten Muhammad Lutfi Baihaqi. Lutfi mengatakan minat siswa terhadap karya sastra masih dinilai rendah. Ini dapat dilihat dari minat baca siswa terhadap karya sastra. Akibatnya, kemampuan menulis siswa menjadi tumpul karena tidak diasah secara berkala.

“Berapa karya sastra yang sudah dibaca adik-adik? Kita prihatin dengan kondisi (keterbacaan) ini,” kata Kepala Kantor Bahasa Banten Muhammad Lutfi Baihaqi. Untuk menumbuhkan minat dalam apresiasi sastra, lanjut Lutfi, Kantor Bahasa Provinsi Banten memfasilitasi siswa untuk mengikuti acara Bengkel Sastra. Selain itu Kantor Bahasa Banten juga menyediakan ruang seperti Majalah Kandaga. Sebuah majalah sastra yang terbit per empat bulan. “Di dalamnya, bisa menampung karya siswa. Jadi silahkan bagi siswa untuk mengirimkan karyanya. Kami berharap hasil pentas ini siswa mencintai sastra dan menghargai sastra,” tuturnya.


Ditegaskan oleh Lutfi, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sastra. “Kita ingin apresiasi siswa tetap tinggi,” kata dia. Pelaksana Kegiatan Dody Kristianto menjelaskan bahwa kegiatan tersebut untuk mengasah kemampuan siswa dalam menulis sastra. Diantara siswa yang mengikuti program ini sudah menelurkan karya sastra yang dimuat di media lokal Banten. “Sudah ada juga yang dimuat di Banten Muda. Terlihat bahwa sekolah ini punya prestasi. Selama siswa punya kemauan, mereka punya kemampuan untuk berkarya,” kata Dody. (You/Red


Kamis, 30 Juni 2016

La Ronde –Puisi Sitor Situmorang




I
Senandung lupa pertemuan malam
Dengan dirinya, memisah di kamar
Meninggi musim hingga salju
Jatuh, hingga bertambah lapar

Dua kisah tak bertubuh
Rasuk-merasuk bau kehadirannya
"Sekira mati begini," bisik gelap
Di puncak nikmat, hingga ke subuh

Terbaring di dada malam. "Milikku seluruh,"
erang detik mengalir dalam ciuman,
kegemasan bibir meraba waktu
memadat jadi tubuh perempuan.

Meninggi musim hingga ke subuh
Jendela dibuka melihat salju jatuh

II
Adakah yang lebih indah
dari bibir padat merekah?
Adakah yang lebih manis
Dari gelap dibayang alis?

Di keningnya pelukis ragu:
Mencium atau menyelimuti bahu?
Tapi rambutnya menuntun tangan
Hingga pinggulnya, penuh saran

Lalu paha, pualam pahatan
Mendukung lengkung perut.
Berkisar di pusar, lalu surut
Agak ke bawah, ke pusat segala.

Hitam pekat, siap menerima.
Dugaan indah.

Ah, dada yang lembut menekan hati
Terimalah
kematangan mimpi lelaki!

III
Kau dewiku, penghibur malam hampa
Segala perbuatan siang yang sia-sia
Kebosanan abadi jadilah lupa
Dan badan hancur nikmat terasa!

Di matamu api ingin tak puas
Membakar tulang, hingga ke sumsum diperas.
Kuserahkan pada binatang malam hari,
Nafsumu, semakin buas dan menjadi.

Adakah candi pedupaan lebih mulia
Dari kesucian pualam tubuhmu?
Adakah lebih pemurah dari pangkuanmu
Dan panas rahmat dirangkul mulut dosa?

Padamu seluruh setia dan sembah
Sajak penyair dan mimpi indah!
Kelupaan sesaat, terlalu nikmat
Pada siksa ingin semakin melumat.

1955
Ilustrasi: Lukisan Sitor Situmorang karya Affandi 1976, oil on canvas, 60 x 48 cm.

Sabtu, 18 Juni 2016

Pidato Kebudayaan Albert Camus Saat Menerima Nobel Sastra 1957



Dalam penerimaan atas penghargaan yang telah begitu murah hati diberikan kepada saya oleh akademi Anda yang bebas, saya ucapkan terima kasih secara mendalam, terutama ketika saya ingin mempertimbangkan sejauh mana penghargaan ini telah mempengaruhi kemampuan pribadi saya.

Setiap manusia, dan untuk alasan yang kuat, setiap seniman, ingin diakui. Saya juga demikian. Tetapi saya belum bisa memahami keputusan Anda tanpa membandingkan dampak (penghargaan ini) kepada siapa diri saya sendiri. Seorang pria yang hampir masih muda, hanya kaya dalam keraguan dan dengan karyanya yang masih dalam proses, terbiasa hidup dalam kesendirian kerja atau menjauhi persahabatan: bagaimana dia tidak merasa sedikit panik saat mendengar keputusan yang membuat dia tiba-tiba, sendirian dan mereduksi dirinya sendiri, ke dalam pusat cahaya yang benderang? Dan dengan perasaan apa dia bisa menerima kehormatan ini pada saat penulis lain di Eropa, di antaranya yang sangat besar, diminta untuk diam, dan bahkan pada saat yang sama negara kelahirannya sedang melalui penderitaan tak berujung?

Saya merasakan keterkejutan dan kekacauan batin itu. Dalam usaha untuk mendapatkan kembali kedamaian yang saya miliki, sederhananya, untuk dapat menerima penghargaan yang luar biasa ini. Dan karena saya tak mungkin bisa hidup dengan sekedar bersandar pada prestasi saya belaka, saya tak menemukan apapun untuk mendukung saya kecuali apa yang telah ada sepanjang hidup saya, meski dalam keadaan yang paling bertolak-belakang sekalipun: pemikiran bahwa saya telah menemukan kebersenian saya dan khitoh saya sebagai penulis.

Biarkan saya menjelaskan pada Anda sekalian, dalam semangat syukur dan persahabatan, sesederhana yang saya bisa, apa maksud dari ide ini.

Bagi saya, saya tak bisa hidup tanpa seni yang saya miliki. Tapi saya tak pernah meletakan hal itu di atas segalanya. Jika, di sisi lain, saya membutuhkanya, hal itu terjadi karena ia tak bisa dipisahkan dari rekan-rekan saya dan ia membuat saya merasa hidup, seperti saya saat ini, setara dengan mereka semua. Ini berarti mencampurkan banyak orang dan menawarkan mereka sebuah gambaran istimewa tentang kebahagiaan dan penderitaan. Hal ini berarti memberikan tanggung-jawab pada si seniman untuk tidak berjarak, melainkan menjadikannya subjek yang paling rendah hati dan paling benar secara universal.

Dan seringkali ia yang memilih nasib sebagai seniman merasa bahwa dirinya berbeda, akan segera menyadari bahwa ia tak akan bisa mempertahankan seninya dan perbedaannya kecuali ia mengakui bahwa ia sama seperti yang lain.

Sang seniman menempa dirinya dengan yang lain, persimpangan antara keindahan yang ia tak bisa lakukan dan masyarakat dimana ia tak bisa lepaskan. Itulah mengapa seniman yang sesungguhnya tak mencemooh apapun: mereka bertanggungjawab untuk memahami ketimbang untuk menghakimi. Dan jika mereka harus berpihak di dunia ini, mungkin mereka hanya akan berpihak dimana, yang oleh Nietzsche dalam kalimatnya yang indah, ‘tidaklah hakim melainkan pencipta yang akan berkuasa, apakah itu seorang buruh ataupun seorang intelektual’.

Begitu pula, peran seorang penulis tidak bebas dari tugas yang berat. Dengan definisi yang tak bisa ia letakan pada dirinya sendiri pada hari ini sebagai persembahan kepada mereka yang membuat sejarah, ia yang sedang melayani mereka yang menderita karenanya. Pada sisi lain, ia akan sendiri dan tercerabut dari seninya.

Tidak semua pasukan dari tiran dan jutaan manusia akan membebaskannya dari keterasingannya, bahkan dan secara khusus jika ia tidur bersama mereka. Tetapi kesunyian dari narapidana yang tak dikenal, yang ditinggalkan untuk dipermalukan di sisi lain dunia, cukup untuk menarik sang penulis dari pengasingannya, atau setidaknya kapan pun, di tengah-tengah hak kebebasan, ia berhasil untuk tidak melupakan kesunyian itu, dan untuk menyebarkannya dalam usaha menggemakan makna dari seninya.

Tak satu pun dari kita cukup besar untuk menerima tugas seperti itu. Tetapi dalam semua situasi kehidupan, dalam kerumitan atau ketenaran adalah hal yang sementara, peran sebagai tiran yang besi atau untuk waktu bebas untuk mengekspresikan dirinya sendiri, seorang penulis dapat memenangkan hati masyarakat yang akan membenarkan tindakannya, pada satu kondisi dimana ia akan menerima batasan dari kemampuannya, dua tugas yang merupakan keagungan keterampilannya: pelayanan kepada kebenaran dan pelayanan kepada kemerdekaan. Karena tugasnya adalah untuk menyatukan sebanyak mungkin orang, karya seninya haruslah tidak berkompromi dengan kebohongan dan menghamba pada, di mana pun mereka berkuasa, mengembang-biakkan kesendirian.

Apa pun kelemahan pribadi yang mungkin punya, kemuliaan keterampilan kita akan selalu berakar pada dua komitmen, dimana hal ini sulit untuk dipertahankan: penolakan untuk berbohong tentang apa yang diketahui dan perlawanan terhadap penindasan.

Selama lebih dari dua puluh tahun dari kegilaan sejarah, tersesat tanpa ada harapan seperti semua orang dari angkatan saya yang kejang akan waktu, saya telah didukung oleh satu hal: Dengan perasaan tersembunyi bahwa untuk menulis pada hari ini adalah bentuk kehormatan karena aktivitas ini adalah sebuah komitmen – dan sebuah komitmen tidak hanya untuk menulis, khususnya, dalam pandangan tentang kekuatan saya dan keberadaan saya, ini adalah sebuah komitmen untuk menanggung, segalanya dengan mereka yang kebetulan hidup pada periode sejarah yang sama,  penderitaan dan harapan yang kita bagi.

Orang-orang ini, yang dilahirkan pada permulaan Perang Dunia Pertama, berumur duapuluhan ketika Hitler memperoleh kekuasaannya dan percobaan revolusioner pertama dimulai, yang kemudian dihadapkan sebagai penyelesaian pedidikan mereka dengan Perang Saudara Spanyol, Perang Dunia Kedua, kamp konsentrasi dunia, Eropa sebagai sebuah penjara dan penyiksaan – orang orang ini hari ini harus membesarkan anak-anak mereka dan membuat karya dalam dunia yang terancam oleh kehancuran nulkir.

Tak seorang pun, saya pikir, bisa meminta mereka untuk menjadi seorang yang optimis. Dan bahkan saya sendiri berpikir kita harus mengerti- tanpa melakukan berhenti untuk melawannya –kesalahan orang-orang yang dengan keputusasannya yang besar telah menegaskan hak mereka untuk menghina dan bergegas memasuki era nihilisme. Tetapi kenyataannya bahwa sebagian besar dari kita tetap, di negara saya dan di Eropa, telah menolak nihilisme ini dan telah terlibat dalam upaya untuk pencarian legitimasi. Mereka harus menempa dirinya sendiri sebagai sebuah seni untuk hidup di zaman penuh bencana sebagai upaya terlahir kembali dan secara terbuka menentang insting kematian yang bekerja pada sejarah kita.

Setiap generasi tanpa ada keraguan pasti merasa terpanggil untuk merubah dunia. Karya saya tahu bahwa itu tidak akan merubah apapun, tapi tugasnya bahkan mungkin lebih besar. Hal ini berarti mencegah dunia dari menghancurkan dirinya sendiri. Menjadi pewaris sejarah yang korup, yang di dalamnya bercampur revolusi jatuh, teknologi yang menjadi gila, dewa-dewa yang telah mati, dan deologi yang usang, dimana kekuatan medioker dapat menghancurkan semua tanpa sadar bagaimana meyakinkan mereka, dimana intelijen telah merendahkan diri untuk menjadi hamba kebencian dan penindasan, generasi yang mulai menegasikan diri ini harus dibangun kembali, keduanya baik di dalam dan luar, yang sedikit itu yang merupakan martabat hidup dan mati.

Dalam dunia yang terancam oleh perpecahan, dimana jaksa agung kita berewenang menjalankan resiko di kerajaan maut, ia tahu bahwa ia harus, dalam perlombaan gila melawan waktu, memulihkan perdamaian dan pengahambaan antara bangsa-bangsa, menyesuaikan lagi antara tenaga kerja dan budaya, dan menyelaraskan semua orang dengan Tabut Perjanjian. Tidak jelas apakah generasi ini akan bisa mencapai tugas yang sangat besar ini, tetapi hal ini telah terjadi di mana pun di dunia sebagai tantangan ganda akan kebenaran dan kemerdekaan, lantas jika perlu, mengetahui perihal cara untuk mati tanpa membenci.

Di mana pun hal itu ditemukan, ia pantas dihormati dan didorong, khususnya apabila ia mengorbankan dirinya sendiri untuk itu. Dalam kejadian apapun, dengan keyakinan atas persetujuan total Anda, adalah untuk generasi ini saya harus memberikan kehormatan yang baru saja Anda berikan kepada saya ini.

Pada saat yang sama, setelah menguraikan tugas mulia dari keterampilan penulis, saya harus menempatkannya di tempat yang tepat. Dia tidak memiliki gugatan selain yang ia bagi dengan teman seperjuangannya: rentan tapi keras kepala, tertindas tetapi bersemangat untuk keadilan, melakukan pekerjaannya tanpa rasa malu atau mencari kebanggaan dalam pandangan semua orang, tidak berhenti untuk lantas terbagi di antara kesedihan dan keindahan, dan pada akhirnya mengabdikan diri dari peran gandanya sebagai penciptaan yang secara keras kepala ia coba dirikan untuk menciptakan gerakan merusak dalam sejarah.

Siapa pula yang pada akhirnya bisa berharap padanya solusi lengkap dan moralitas yang tinggi? Kebenaran adalah misteri, sulit dipahami yang selalu harus ditaklukan.

Kemerdekaan adalah hal yang berbahaya, karena sulit untuk bisa hidup dengan menyenangkan hati. Kita harus bergerak menuju dua tujuan, menyakitkan namun tegas, kepastian tentang kejatuhan kita pada jalan yang panjang. Penulis jenis apa yang kini dalam hati nuraninya mempersiapkan diri sebagai seorang pengkhotbah kebajikan? Bagi saya sendiri, saya harus menjelaskan saya bukanlah jenis yang demikian. Saya tak pernah bisa meninggalkan cahaya, kenikmatan menjadi, dan kemerdekaan dimana saya dibesarkan. Tapi meskipun nostalgia ini menjelaskan banyak kesalahan-kesalahan dan kekeliruan yang saya miliki, hal ini tanpa diragukan lagi membantu saya menuju pemahaman yang lebih baik dalam keterampilan menulis saya. Hal ini membantu saya untuk tetap mendukung tanpa perlu ditanyakan lagi kepada mereka orang orang yang diam dan berusaha mempertahankan hidup mereka sendiri dalam dunia melalui ingatan untuk kembali kepada kebebasan dan kebahagiaan yang singkat.

Maka untuk menyederhanakan siapa sebenarnya saya, untuk segala kelemahan dan hutang budi yang saya miliki sebagaimana juga sulitnya meyakinkan diri saya, saya kini merasa lebih bebas, sebagai sebuah penutup, untuk komentar atas luasnya dan kemurahan hati dari kehormatan yang baru saja diberikan kepada saya, juga lebih bebas untuk memberitahu Anda bahwa saya akan menerimanya sebagai sebuah penghormatan yang diberikan kepada semua orang yang, berjuang pada hal yang sama, belum memiliki hak istimewa apapun, tetapi pada saat yang sama mengalami penderitaan dan penganiayaan.

Penting bagi saya untuk mengucapkan terima kasih dari lubuk hati saya dan sebelum melakukannya di depan umum, sebagai tanda rasa terima kasih saya pribadi, janji yang sama seperti janji purba tentang kesetiaan yang diulangi oleh setiap seniman pada dirinya sendiri dalam keheningan setiap hari.