Label

Tampilkan postingan dengan label Kronik Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kronik Sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2015

Frankfurt Book Fair dan Perdagangan Orang




Oleh AS Laksana (esais dan novelis)

Kaget saya! Rupanya ada perbincangan seru di wall Facebook Linda Christanty tentang Frankfurt Book Fair (FBF) 2015. Saya senang membacanya. Akhirnya ada juga yang bersuara keras. Dalam percakapan-percakapan ringan, beberapa kawan saya para penulis sering “gremang-gremeng” mengungkapkan unek-unek mereka, tetapi tidak ada yang memulai buka suara sampai akhirnya Linda menuliskan pendapatnya secara terbuka dalam status tersebut—yang saya bagikan tepat di bawah status ini.

Tahun ini Indonesia menjadi Tamu Kehormatan FBF (dan mungkin hanya satu kali ini) dan kita bisa merasakan kesan bagaimana Laksmi Pamuntjak dipersiapkan sebagai bintang utama. Saya bilang kesan karena sebuah skenario, atau sesuatu yang dirancang di dalam pikiran, tidaklah mungkin diungkapkan secara eksplisit. Mustahil ada yang secara gila mengakui bahwa ia menyimpan skenario semacam itu.

Kita hanya bisa melihat bahwa berbagai ikhtiar diupayakan untuk itu. Pembicaraan tentang peristiwa 1965 diperkuat, forum-forum “pemanasan” diadakan, pemberitaan difokuskan ke arah itu, dan Laksmi menjadi figur pentingnya. Mungkin dialah yang terbanyak mendapatkan liputan media menjelang pameran buku Frankfurt dibandingkan penulis-penulis lain yang akan dihadirkan di sana—katanya akan ada 70 orang yang dibawa dan saya tidak tahu mereka itu siapa saja.

Ketika pembicaraan tentang 1965 menguat, tentu saja akan tampak masuk akal untuk mengedepankan Laksmi Pamuntjak. Ia menulis novel “Amba” yang bertema 1965.

Masuk akal? Tidak!

Tema yang diusung Indonesia sebagai tamu kehormatan adalah “17.000 Islands of Imagination”. Alih-alih memperkenalkan keberagaman tema karya sastra Indonesia atau mempromosikan imajinasi dari “17.000 pulau”, panitia Indonesia justru menyempitkan imajinasi dan menyelewengkannya ke peristiwa 1965 sebagai tema utama bayangan.

Katakanlah kita tidak berkeberatan karya bertema 1965 itu diselundupkan ke panggung utama dan dijadikan salah satu tema penting, tetapi kita juga bisa menyikapinya secara lebih kritis. Ada sejumlah penulis lain yang menulis novel dengan tema tersebut, dan beberapa dari mereka adalah korban atau keluarga korban, kenapa mereka tidak mendapatkan tempat dan tidak diperkenalkan kepada publik di Jerman? Saya tahu Ahmad Tohari dihadirkan juga, karena Trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” mengangkat tema 1965, Leila S. Chudori juga menulis novel dengan tema itu dan dibicarakan, tetapi tetap Laksmi Pamuntjak yang diarak sebagai bintang utama. Leila S. Chudori hanya figuran, di samping figuran-figuran lainnya termasuk Ahmad Tohari.

Dalam hal ini, Laksmi menjadi bintang utama hanya karena ia menulis novel bertema 1965—tanpa mempertimbangkan mutu karyanya.

Sekiranya tema 1965 dianggap sebagai salah satu yang penting untuk disodorkan kepada publik di Jerman, saya pikir mestinya ada telaah yang sungguh-sungguh untuk memilih yang terbaik di antara mereka. Apakah “Amba” lebih bagus atau lebih buruk dibandingkan “Ronggeng Dukuh Paruk”? Apakah “Pulang” lebih baik atau lebih buruk dibandingkan “Blues Merbabu”? Mana dari seluruh karya bertema 1965 itu yang terbaik?

Asahan Alham, 76 tahun, yang nama aslinya Asahan Aidit, salah seorang yang termasuk penulis eksil Indonesia, dalam sebuah komentar facebooknya tentang pembicaraan ramai yang dipicu oleh status Linda menuliskan, dalam huruf kapital semua:

“Tapi tokoh besar/dedengkot tua oportunis kanan-kiri PKI (Oporkaki PKI) yang bermukim di Belanda yang juga sering ulang-alik pergi ke Indonesia memuji-muji setengah mati dua pengarang perempuan ini bersama karyanya masing-masing “Amba” dan “Pulang”, yaitu karya Laksmi Pamuntjak dan Leila S. Chudori. Padahal seorang kritikus dan Indonesianis Perancis Henri Chambert-Loir mengatakan merasa muak setelah membaca “Pulang”-nya Chudori dan juga kata Henri buku ini sebuah kejahatan.”

Saya tidak tahu mana yang terbaik dari karya-karya bertema 1965. Saya bukan orang yang tergila-gila dengan tema itu, meskipun saya menyadari bahwa tema itu akan mudah diolah menjadi barang jualan untuk ditawarkan kepada publik Barat. Sebagai penulis, saya memiliki perhatian tersendiri terhadap situasi manusia hari ini yang tidak kalah runyamnya dibandingkan dengan situasi 1965. Sejumlah penulis lain juga mungkin seperti itu atau memilih tema-tema lainnya yang relevan dengan kepedulian mereka sendiri.

Kenapa panitia tidak memilih, misalnya, karya-karya terbaik sastra Indonesia dalam 50 tahun atau 25 tahun atau 10 tahun terakhir? Itu akan lebih masuk akal untuk dijalankan dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Panitia bisa mengumpulkan karya-karya sastra yang mendapatkan penghargaan pada tiap-tiap tahun atau mendapatkan pujian dari para kritikus yang berwibawa—kalau kritikus semacam itu ada dan terbukti memiliki ketekunan untuk mengamati karya sastra. Jika harus ada seleksi, karena tidak semua yang dibawa ke Frankfurt adalah buku sastra, maka tim seleksi bisa dibentuk untuk menentukan buku mana saja yang akan dibawa. Tetapi urusannya jelas: yang dipilih sejak awal adalah buku-buku yang mendapatkan penghargaan atau mendapatkan pujian para kritikus.

Dari sana kita akan bisa melihat keragaman tema dan mempertanggungjawabkan mutunya. Dari sana kita bisa memperkenalkan dunia sastra Indonesia dan perjalanan kepengarangan para penulis dari waktu ke waktu secara lebih utuh.

Atau kita bisa juga menyertakan karya-karya yang menjadi best-seller di dalam negeri dalam 10 tahun terakhir. Itu berguna untuk memperkenalkan kecenderungan pembaca Indonesia dan seperti apa buku-buku yang digemari. Yang jelas, ada kriteria yang bisa dijadikan pegangan dan itu akan menghindarkan kita dari perdebatan yang keruh, misalnya, tentang bekerjanya jaringan perkoncoan.

Mestinya pameran buku Frankfurt dimanfaatkan untuk memperkenalkan para penulis terbaik Indonesia. Akan sangat memalukan jika forum ini hanya digunakan untuk memperdagangkan orang-orang tertentu dan mengasongkannya ke mana-mana: “Inilah para penulis terbaik kami, yang sungguh besar jasanya dalam mendorong terjadinya perubahan di negeri kami.” Dan, entah kebetulan atau dengan kesengajaan (jika bicara desain saya tidak yakin ada kebetulan), mereka itu semua perempuan. Maka Deutsche Welle, media resmi pemerintah Jerman, pun menulis: “Yang cukup mengejutkan, kebanyakan yang memaksa Indonesia berhadapan dengan sejarah gelapnya adalah penulis perempuan.”

Saya yakin bahwa “keterkejutan” wartawan DW itu adalah produk atau dampak dari sebuah desain. Baru-baru ini saya mendapatkan informasi bahwa, demi kepentingan pameran buku Frankfurt juga, sekarang sedang disiapkan di Jerman sana buku tentang 9 pengarang perempuan Indonesia. Jika benar buku tersebut akan terbit nantinya, kita bisa dengan mudah menebak setidaknya 2 atau 3 nama yang sudah pasti masuk di dalamnya.

Untuk semua ini, paling banter kita hanya bisa berkomentar sengit, “Ya, sudah, kau makan sajalah semuanya.”

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan ingatan yang jauh ke masa lampau. Pada tahun 1935 Balai Pustaka pernah menerbitkan roman karya Anak Agung Pandji Tisna berjudul “Ni Rawit Ceti Penjual Orang”. Saya khawatir dalam kesastraan kita hari ini sosok Ni Rawit Ceti masih bergentayangan. Kalau ia seorang lelaki, kita bisa menyebutnya “Ki Rawit Ceti Penjual Orang”.

Selasa, 23 Juni 2015

Tifa Nusantara 2


Tifa Nusantara 2 digelar oleh Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang (DKKT) berupa “temu kangen” dan “temu karya”. Temu Kangen mempertemukan para penyair beragam usia dalam silaturahmi yang indah; bakar jagung, ngopi, pesta puisi, dan kegiatan rekreatif seperti outbond. Di celah acara ini digelar juga seni tradisi dan pameran senirupa.

Temu Karya diawali dengan peluncuran antologi Tifa Nusantara 2 bersama buku-buku karya para peserta. Dalam kegiatan ini, disamping diskusi serius digelar juga bincang ringan ihwal geliat sastra di daerah, sastra masuk sekolah, dan ihwal Tifa Nusantara 3.

Tifa Nusantara 2 yang membumi berupa tenda budaya, Insya-Allah, pada 27 s.d. 29 Agustus 2015 mengundang 161 peserta terpilih, dalam hal ini membukukan 161 dari 1.161 puisi. Surat resminya akan kami kirimkan dalam dua minggu ini.

Terima kasih kepada segenap sahabat yang telah mengirimkan karyanya. Sungguh, seluruhnya adalah karya yang adiluhung. Mohon maaf bahwa pada akhirnya kami terpaksa membatasi jumlahnya. Hal yang tentunya dimaklumi bersama.

Tifa Nusantara = temu kangen + temu karya = susastra + cinta nusantara
Alhamdulillah. Terima kasih.
Tangerang, 22 Juni 2015
Rini Intama + Ayu Cipta + eL Trip Umiuki

PESERTA TIFA NUSANTARA 2
1. A.Nabil Wibisana (Kupang)
2. Abah Yoyok (Tangerang)
3. Abimanyu Hadi Sukoro (Tangerang)
4. Achmad Dasuki (Tangerang)
5. Ade Riyan Purnama (Jakarta)
6. Adriana Tjandra Dewi (Jakarta)
7. Agus Chaerudin (Tangerang)
8. Agustinus Wahyono (Kaltim)
9. Aksan Taqwin Embe (Tangerang)
10. Ali Satri Efendi (Bekasi)
11. Ali Syamsudin Arsi (Kalsel)
12. Aloeth Pathi (Pati)
13. Aly D Musyrifa (Yogyakarta)
14. Alya Salaisha (Bekasi)
15. Andre Theriqa (Tangerang)
16. Anna Mariyana (Kalsel)
17. Anggi Putri (Surabaya)
18. Arafat Ahc (Demak)
19. Ardi Susanti (Tulungagung)
20. Arif Khilwa (Pati)
21. Arsyad Indradi (Kalsel)
22. Ary Nurdiana (Madiun)
23. Astri Anjani (Jakarta)
24. Atin Lelya Sukowati (Yogyakarta)
25. Aulia Nur Inayah (Tegal)
26. A’yat Khalili (Madura)
27. Ayid Suyitno (Bekasi)
28. Ayu Cipta (Tangerang)
29. Azizah Nur Fitriana (Medan)
30. Bambang Eka Prasetya (Magelang)
31. Bambang Widiatmoko (Bekasi)
32. Betta Anugrah Setiani (Bogor)
33. Budhi Wiryawan (Yogyakarta)
34. Budhi Setyawan (Bekasi)
35. Bustan Basir Maras (Yogyakarta)
36. Citra Sasmita (Bali)
37. Daru Maheldaswara (Yogyakarta)
38. Dedet Setiadi (Magelang)
39. Destiyandi Kurniawati (Tangerang)
40. Dharmadi (Purwokerto)
41. Dian Hartati (Bandung)
42. Dian Rusdiana (Bekasi)
43. Dianing Widya (Depok)
44. Didi Kaha (Tangerang)
45. Dimas Arika Mihardja (Jambi)
46. Dimas Indiana Senja (Yogyakarta)
47. Doddi Ahmad Fauji (Bandung)
48. Duta L. Dudikoff (Palembang)
49. Dwi Klik Santosa (Jakarta)
50. Ekohm Abiyasa (Karanganyar)
51. Eko Ragil Ar-Rahman (Riau)
52. Elisyus (Depok)
53. eL Trip Umiuki (Tangerang)
54. Emi Suy Hariyanto (Jakarta)
55. En Kurliadi Nf (Bekasi)
56. Enes (Tangerang)
57. Encep Abdullah (Serang)
58. Fahmi Wahid (Kalsel)
59. Faizy Mahmoed Haly (Demak)
60. Fajar Timur (Tangerang)
61. Fileski (Surabaya)
62. Fina Lanahdiana (Kendal)
63. Fitrah Anugerah (Bekasi)
64. Gampang Prawoto (Bojonegoro)
65. Gito Waluyo (Serang)
66. Giyanto Subagio (Jakarta)
67. Gustu Sasih (Lombok)
68. Hadi Sastra (Tangerang)
69. Hardi Rahman (Tangerang)
70. Hasan Bisri BFC (Bogor)
71. Helwatin Najwa (Kalsel)
72. Hermansyah Adnan (Banda Aceh)
73. Herwan FR (Serang)
74. Humam S. Chudori (Tangerang)
75. Husnul Khuluqi (Banyumas)
76. Iberahim (Kalsel)
77. Ibramsyah Amandit (Kalsel)
78. Ignatius Dwiana (Yogyakarta)
79. Imam Budiman (Kaltim)
80. Iman Sembada (Depok)
81. Irna Novia Damayanti (Purbalingga)
82. Juftazani (Tangerang)
83. Jumari HS (Kudus)
84. Koez Arraihan (Yogyakarta)
85. Kurnia Hidayati (Batang)
86. L. Surajiya (Yogyakarta)
87. Lailatul Kiptiyah (Mataram)
88. Lunar Nurmalam (Tangerang)
89. Mahroso Doloh (Purwokerto)
90. Majenis Panggar besi (Bengkulu)
91. Maria Roeslie (Kalsel)
92. Mirza Sastroatmodjo (Pati)
93. Moh. Ghufron Cholid (Madura)
94. Muhammad Asqalani eNeSTe (Riau)
95. Muhammad Lefand (Jember)
96. Muhammad Musyaffa (Banyumas)
97. Muhammad Rois Rinaldi (Cilegon)
98. Muhammad Subhan (Padang)
99. Mustafa Ismail (Tangerang)
100. Mustaqiem Eska (Palembang)
101. Nana Sastrawan (Tangerang)
102. Nani Karyono (Bandung)
103. Nani Tandjung (Jakarta)
104. Nastain Achmad (Lamongan)
105. Nella S.Wulan (Bandung)
106. Niam At-Majha (Pati)
107. Niduparas Erlang (Serang)
108. Niken Kinanti (Pati)
109. Nila Hapsari (Bekasi)
110. Noi Bonita (Serang)
111. Novy Noorhayati Syahfida (Tangerang)
112. Nuniek Kharisma Rosalina (Banjar)
113. Nuning Kusumaning Palupi (Semarang)
114. Nurhadi (Kendal)
115. Nuyang Jaimee (Jakarta)
116. Otto Sukatno CR (Yogyakarta)
117. Pudwianto Arisanto (Jakarta)
118. Rahmi Airin (Jakarta)
119. Ratna Ayu Budhiarti (Garut)
120. Ratna M. Rochiman (Bandung)
121. Rezqie Muhammad AlFajar Atmanegara (Kalsel)
122. Rg. Bagus Warsono (Indramayu)
123. Ria Oktavia Indrawati (Depok)
124. Rini Intama (Tangerang)
125. Ritawati Jassin (Jakarta)
126. Riyanto El Jameel (Karawang)
127. Rizkia Hasmin (Padang)
128. Salimi Ahmad (Tangerang)
129. Seruni Unie (Solo)
130. Sindu Putra (Lombok)
131. Slamet Riyadi Sabrawi (Yogyakarta)
132. Sofyan RH. Zaid (Bekasi)
133. Sokanindya Pratiwi Wening (Lhokseumawe)
134. Sri Runia Komalayani (Sukabumi)
135. Sri Wintala Achmad (Cilacap)
136. Steve Elu (Kupang)
137. Sulaiman Djaya (Serang)
138. Sulaiman Juned (Padang)
139. Sus. S. Hardjono (Sragen)
140. Suyitno Ethex (Mojokerto)
141. Syarif Hidayatullah (Kalsel)
142. Syihabul Furqon (Sumedang)
143. Tajuddin Noor Ganie (Kalsel)
144. Tawakal M. Iqbal (Bogor)
145. Thomas haryanto soekiran (Purworejo)
146. Tjahjono Widarmanto (Ngawi)
147. Tonganni Mentia (Toraja)
148. Uki Bayu Sedjati (Tangerang)
149. Umar Affiq (Rembang)
150. Varikesit ‘ra (Tasikmalaya)
151. Viddy AD Daery (Jakarta )
152. Villy J. Roesta (Tangerang)
153. Wadie Maharief (Yogyakarta)
154. Wans Sabang (Bekasi)
155. Wanto Tirta (Banyumas)
156. Weni Suryandari (Bekasi)
157. Wiluning (Tegal)
158. Windu Mandela (Sumedang)
159. Yudi Damanhuri (Serang)
160. Yuditeha (Solo)
161. Yusran Arifin (Tasikmalaya)

Rabu, 03 Juni 2015

Jejak Sastra Persia-Islam di Benua Eropa


Setiap tanggal 25 Farvardin dalam kalender nasional Iran diperingati sebagai hari untuk mengenang Attar Neishabouri. Farid ud-Din Abu Mohammad bin Abu Bakar Ibrahim bin Ishaq Attar Kadkani Neishabouri adalah penyair dan ahli irfan Iran abad ke-6 dan awal abad ke-7. Dia lahir tahun 537 Hijriyah di desa Kadkan, Neishabour. Penetapan Hari Attar Neishabouri untuk menghormati kedudukannya yang tinggi dan penting dalam literatur syair Persia dan pemikiran-pemikiran irfaninya dalam membentuk irfan Islam Iran.

Attar termasuk salah satu dari tiga sastrawan Persia yang paling terkenal dan bukunya, Mantiq al-Thair (The Speech of the Birds) merupakan salah satu karya sastra terpenting dalam kumpulan sastra dunia. Dia meninggalkan banyak karya dan yang paling terkenal adalah Mantiq al-Thair dan Tadzkirah al-Auliya. Buku Tadzkiran al-Auliya ditulis dengan bahasa yang sederhana, tapi disertai kefasihan bahasa Persia. Karya-karya syair Attar Neishabouri menjadi sumber penting dalam penyusunan Matsnawi Maulawi (Jalaluddin Rumi). Attar meninggal dunia pada tanggal 10 Jumadil Tsani tahun 618 hijriah dalam serangan pasukan Mongol ke wilayah Iran.

Irfan Islami sebagai salah satu disiplin pemikiran Islam selalu menebarkan pengaruhnya terhadap sastra dan budaya Barat. Pada Abad Pertengahan dan pasca Renaissance, dunia Barat mengenal irfan Islami melalui sastra Persia. Sekarang para pemikir dunia – dengan bantuan studi sastra komparatif yang merupakan salah satu dari cabang sastra kritis – mampu mengidentifikasi karya sastra berbagai suku bangsa dan tingkat pengaruh mereka terhadap satu sama lain. Sastra komparatif mengkaji besarnya pengaruh dan refleksi sastra dan budaya sebuah bangsa terhadap sastra bangsa-bangsa lain. Refleksi itu diketahui dari pengaruh para penyair dan penulis sebuah negara terhadap negara-negara lain. Seperti pengaruh Hafiz atas Goethe dan pengaruh Attar atas Victor Hugo.

Pengenalan dunia Barat dengan sastra Persia kembali pada era Perang Salib, akan tetapi menurut para peneliti sastra, revolusi penerjemahan dan pengenalan dengan sastra Timur terjadi pada abad ke-18 Masehi. Pada abad ke-18-19, kebanyakan dari karya sastra besar Persia – terutama karya-karya penyair besar seperti, Saadi, Hafiz, Khayyam, Attar, Nezami, Ferdowsi, Nasir Khosrow, Baba Tahir dan yang lain-lain – mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, khususnya bahasa Perancis, Inggris, dan Jerman. Penerbitan karya-karya tersebut telah membuat bangsa Eropa mengenal sastra Persia yang megah dan telah menyedot perhatian bangsa Eropa terhadap Iran dan sastra Persia.

Menurut pakar ketimuran, legenda dan syair-syair serta kisah-kisah Iran masuk ke tradisi sastra Eropa pada abad pertengahan melalui Spanyol kemudian menjadi bagian dari tradisi sastra Eropa. Setelah itu, muncul kecenderungan tertentu di antara masyarakat Barat kepada wilayah Timur yang penuh dengan rahasia dan menakjubkan. Hal itu tercermin dari cerita-cerita dan dongeng di abad pertengahan Eropa.

Dapat dikatakan bahwa tidak ada negara lain yang mampu menyihir bangsa Eropa selama beberapa abad seperti yang dilakukan oleh Iran. Dibawah pengaruh pemikiran dan sastra Persia, lahir karya-karya di Inggris, Jerman, dan Perancis yang kemudian menjadi peninggalan sastra besar dunia, seperti, West-Eastern Divan karya Goethe, Persian Letters oleh Montesquieu, Artamene ou le Grand Cyrus oleh Madeleine de Scudery, dan Sohrab and Rustum oleh Atthew Arnold, dan lain-lain. Jelas bahwa syair, sastra, dan irfan Iran telah memperkaya dunia sastra Eropa.

Pengaruh sastra Persia dan karya-karya penyair besar Iran telah manjadi bagian inti dari pengaruh Timur terhadap dunia sastra Eropa di Barat. Sebab, beberapa penyair dan penulis Eropa telah menyaksikan kemegahan menara dan kubah-kubah serta keindahan dongeng dan cerita dalam karya-karya sastra Persia tanpa mereka harus melakukan perjalanan ke Iran. Mereka juga memproduksi banyak karya baru dengan mengambil inspirasi dari karya-karya sastra Persia. Dalam bidang itu, Hafiz, Maulawi, Saadi, Attar, dan Sanai, termasuk di antara para ilmuwan dan tokoh Iran yang paling berpengaruh di benua Eropa. Karya legendaris Simorgh Attar bahkan telah melampaui dunia Timur dan meneruskan turnya ke dunia Barat.

Buku The Divine Comedy karya Dante dan Sair-ul' Ibad Il'al Ma'ad karangan Sanai, merupakan dua contoh penting perjalanan spiritual yang menyelami kedalaman jiwa dan dunia setelah kematian. Novel The Divine Comedy adalah sebuah puisi epik yang ditulis oleh Dante Alighieri. Buku ini secara luas dianggap sebagai karya unggulan sastra Italia, dan dipandang sebagai salah satu karya terbesar di sastra dunia. Visi imajinatif dan alegoris The Divine Comedy tentang akhirat adalah puncak dari pandangan dunia abad pertengahan seperti yang berkembang di Gereja Barat. Di permulaan, The Divine Comedy menggambarkan perjalanan Dante melalui neraka (Inferno), api penyucian (Purgatory), dan surga (Paradiso), tetapi pada tingkat yang lebih dalam, itu merupakan kiasan perjalanan jiwa menuju Tuhan.

Buku Divine Comedy menggambarkan perjalanan di alam akhirat. Dante sendiri tampak percaya betul adanya kehidupan sesudah mati, yang keadaannya ditentukan oleh kehidupan sekarang ini. Inferno, yang disusun oleh Dante pada awal 1300-an secara literal mengubah persepsi Abad Pertengahan tentang hukuman akhirat. Dante melukiskan neraka sangat dekat dengan "realitas" yang sesungguhnya, karena berasal dari substansi yang sama dengan jiwa manusia yang penuh nafsu. Menurut seorang orientalis Inggris, Reynold Nicholson, Dante terinspirasi oleh Sanai dan kandungan buku Divine Comedy semakin memperkuat dugaan tersebut.

Beberapa gambaran simbolis Divine Comedy dapat ditemukan dalam karya Mantiq al-Thair Attar. Sastrawan Argentina, Jorge Luis Borges percaya bahwa gambaran simbolis tentang burung elang dalam Divine Comedy mengingatkan kita pada Simorgh dalam karya Attar.

Pada dasarnya, terjemahan karya-karya sastra Persia seperti, Divan Hafiz, Shahnameh Ferdowsi, Gulistan Saadi, dan Rubaiyyat Khayyam di negara-negara Eropa telah memperkaya sastra di dunia Barat. Saint-Beuve setelah menyaksikan Shahnameh, mengatakan, "Jika kita menyadari bahwa karya-karya besar seperti Shahnameh ada di dunia, kita tidak akan menjadi begitu bangga dengan karya kita sendiri dengan cara yang konyol."

Setelah mengenal Hafiz, Goethe malah ingin menjadi salah satu muridnya. Dia berkata, "Wahai Hafiz, kata-kata Anda sama besar seperti keabadian yang tidak memiliki awal dan akhir. Kata-kata Anda seperti kanopi surga, semata-mata tergantung pada dirinya sendiri. Itu semua adalah petunjuk, keindahan, dan keunggulan." Sementara itu, Ernest Renan menulis, "Saadi tidak asing di antara kita. Dia pada kenyataannya adalah salah satu dari kami." Barbier de Minaro, penerjemah Bustan Saadi, menulis dalam kata pengantar untuk terjemahannya bahwa, "Saadi adalah kombinasi dari kelezatan Horace, senyum manis Rabelais dan kesederhanaan La Fontaine. Tanpa berlebihan, penyair Iran telah memberikan kontribusi terhadap kekayaan tersebut. Sama seperti sastra Yunani dan Romawi, puisi-puisi Persia juga telah memberikan manfaat bagi literatur Eropa."

Rene Grousset, seorang orientalis Perancis menulis, "Saya harus katakan bahwa Iran memiliki hak besar di pundak manusia. Sebab secara historis, Iran dengan budayanya yang kuat dan kelembutan Islam telah menciptakan alat pemahaman, kesepakatan, dan koordinasi di antara bangsa-bangsa selama berabad-abad. Mereka telah menemukan filsafat, pemikiran, dan cita-cita tunggal." Dia menandaskan, "Ekspresi perasaan yang diungkapkan oleh para penyair Iran memiliki pengaruh besar seakan-akan seorang Perancis seperti menjadi seorang India dan seorang Turki seperti menjadi seorang Georgia. Harus dikatakan bahwa para Sufi (Arif) Iran meskipun Muslim, tetapi mereka dapat mengguncang jantung seorang Kristen dan seorang Brahman, dan mereka memiliki hubungan dengan kemanusiaan."

Gagasan dan pemikiran luhur yang menghiasi syair-syair para tokoh sastra Persia telah membuat takjub para cendekiawan besar dunia dari Timur hingga Barat tentang sastra Persia. Pertanyaan-pertanyaan filosofis Khayyam, ungkapan cinta spiritual Maulawi, rasionalitas Ferdowsi dan hikmat Saadi memiliki banyak pemuja di dunia. (IRIB Indonesia


Kamis, 13 November 2014

Undangan Berpartisipasi Dalam Ubud Writers & Readers Festival

Pecinta sastra Indonesia,                                                                                

Ubud Writers & Readers Festival kembali membuka seleksi karya untuk festival pada bulan Oktober  2015 nanti (tanggal Festival akan diumumkan awal tahun 2015).

UWRF akan memilih 15 penulis emerging Indonesia yang kehadiran serta partisipasinya di festival akan didanai oleh UWRF dan lembaga funding mitra Hivos. Pemilihan akan didasari pada sejumlah kriteria, termasuk kualitas karya, prestasi dan konsistensi dalam berkarya, serta dedikasi pada pengembangan kesusastraan Indonesia. Seleksi dilakukan oleh Dewan Kurator yang beranggotakan penulis-penulis senior Indonesia.

Kegiatan festival meliputi: Panel Diskusi, pembacaan karya, lokakarya, peluncuran buku, pementasan seni, serta beberapa acara satellite yang diadakan di beberapa kota di Indonesia.

Bila Anda adalah penulis Indonesia, atau mengenal penulis yang Anda anggap layak, layangkan pendaftaran sesuai syarat dan ketentuan di bawah ini:

[1] Penulis adalah warga negara Indonesia (menyertakan fotokopi KTP).
[2] Menulis karya sastra, baik berupa puisi, prosa (cerpen, novel atau novelet), naskah drama maupun karya non- fiksi.
[3] Karya dapat berupa buku, kumpulan naskah yang belum ataupun sudah pernah diterbitkan di media massa.
[4] Penulis yang sudah menerbitkan buku silahkan mengirimkan beberapa buku karyanya.
[5] Bagi penulis yang belum menerbitkan buku dipersilahkan mengirimkan 30 karya puisi terbaik atau 8 karya cerpen terbaik, atau 5 karya essai, atau 3 naskah drama dengan dijilid.

Karya dapat juga dikirimkan melalui email dan panitia akan meminta hardcopy jika diperlukan. Sertakan biodata diri, nomor kontak / HP dan alamat email dengan jelas. Silakan melampirkan tentang aktivitas sastra dan keterlibatan dalam komunitas yang diikuti. Apabila anda menggunakan nama pena, mohon sertakan juga nama lengkap yang asli. Koresponden dan pengumuman seleksi akan dilakukan melalui Email.

*Bagi penulis dari luar Bali yang terpilih, Panitia akan menanggung biaya  transportasi (penerbangan) dan akomodasi selama berlangsungnya acara Festival.

Kirim ke sekretariat panitia UWRF paling lambat tanggal 30 Januari 2015 (cap pos). Pengumuman 15 penulis yang terpilih akan di umumkan pada akhir Mei 2015.

Pengiriman Aplikasi ditujukan kepada:

Program Indonesia - Ubud Writers & Readers Festival
Jl. Raya Sanggingan, Ubud. PO Box 181, Ubud Bali 80571. Telp : 0361-7808932

UWRF TEAM