Label

Sabtu, 27 Februari 2016

Fabel & Animasi



Puisi-puisi Sulaiman Djaya


FABEL –

Tanganku saling bermain dengan kata
dan kalimat. Menggambar rusa dan senja,
sama-sama melukis bahasa
jadi sajak, menziarahi dunia.

Orang-orang telah mengganti kesepiannya
dengan dunia-dunia di layar kaca
dan puisi pun tak ada
bagi mereka yang kehilangan bahasa.

Puisi hanya bisa ditulis
ketika kau ikhlas duduk sendiri.
Selagi bahasa belum mati
oleh iklan-iklan komoditas abad ini

yang membuatmu tak lagi mengenali
beda kata dan kalimat
saat kau membaca dan berbicara
ketika sedih atau gembira.

Aku menulis karena aku ingin menziarahi
dunia-dunia yang tersembunyi
dalam bahasa dan hidup sehari-hari
yang juga kau akrabi.

Kau tentu tahu, seringkali rasa asing
tak bisa dibedakan dari sepi
ketika kau sibuk memilih
dunia yang ingin sekali kau tinggali.

Tetapi aku berbagi sunyi dengan kata-kata
ketika bernyanyi dan menulis puisi.
Membayangkan sebuah dunia
dengan rumah-rumah purba

dan kau tak perlu menyeru kata
ketika menulis sajak
karena puisi bukan mantra sihir
atau jurus sulap dunia jaman mesin.

(2015)


ANIMASI –

Februari datang seperti bahasa
dan detak jam
telah selesai menghitung hujan
seperti cinta pertama

dalam sebuah sajak.
Di bawah mendung aku memandang
para capung dan kupu-kupu
ketika waktu tidur

di dalam sepasang matamu.
Waktu, yang tanpa kau-tahu,
merubah warna jendela kaca
dan menyimpan ingatan

di sebuah stanza
yang pernah kau-baca.
Tetapi waktu bukan tahun-tahun
yang menggugurkan daun.

Waktu adalah cahaya kunang-kunang
dan sesuatu, entah apa itu,
yang tak pernah dikatakan
gugusan rambutmu.

Aku pun seringkali
terlambat membuka mata
untuk mengenali sebuah dunia
yang ditinggalkan dan yang datang.

Waktu, barangkali, seperti para capung
yang bergetar dan mengambang
di antara remang cahaya
dan dingin udara Februari pertama.

(2015)

Sumber: Harian Indo Pos, 26 Februari 2016 


Kamis, 25 Februari 2016

Sajak-Sajak Walt Whitman


Kepada Seorang Asing

Orang asing yang lewat! kau tak tahu betapa aku rindu
untuk bertemu denganmu,
Engkau pastilah lelaki yang sedang kucari,
 atau wanita yang sedang kucari
(menghampiriku ibarat mimpi)

Aku yakin pernah memiliki saat-saat bahagia denganmu
entah di mana. Segalanya terkenang lagi kala kita
saling berbagi, mengalir, saling sayang, murni dan matang.

Engkau tumbuh bersamaku, anak lelaki atau wanita
yang dulu bersamaku. Aku makan dan tidur bersamamu,
tubuhmu bukan hanya menjadi milikmu
pun tak membiarkan tubuhku hanya menjadi milikku.

Engkau memberiku keriangan matamu, wajahmu, kulitmu
saat kita berpisah. Kau mengambil jenggotku,
dadaku, tanganku tatkala kembali pulang.

Aku tak berbicara padamu, aku memikirkanmu
sewaktu aku duduk sendirian. Atau saat terjaga malam-malam
sendirian. Aku menunggumu, aku tak ragu aku
akan bertemu kembali denganmu
aku bersaksi bahwa aku tak kehilanganmu


Suara Hujan

Dan siapa gerangan engkau? kataku pada hujan yang gugur lembut
Yang, sukar untuk diceritakan, memberiku sebuah jawab,
begini kira-kira: Akulah Puisi Bumi, kata suara hujan,
Kekal aku memancar tak terasa dari tanah dan lautan tanpa dasar
Naik ke langit, darimana, terbentuk samar-samar, semua berubah,
namun masih tetap sama. Aku turun untuk membasuh kemarau,
zarah-zarah, debu yang terbaring di bumi.

Dan tanpaku segala yang ada di buana ini akan cuma benih,
tersembunyi, tak bisa lahir. Dan selamanya, ketika siang atau malam,
aku berikan kembali kehidupan ke muasalku dan membuatnya
purna dan jelita (Karna nyanyian, yang terbit dari tempat kelahirannya,
setelah penuh, akan berkelana peduli atau tak peduli,
dan mesti kembali bersama cinta)


Selamat Tinggal Khayalku

Selamat tinggal Khayalku!
Selamat berpisah belahan jiwaku, kekasihku!
Aku pergi jauh, aku tak tahu kemana,
Dan demi nasib yang mana, atau apakah aku akan kembali melihatmu,
Maka selamat tinggal Khayalku.

Kini buat terakhir kali—biarkan aku sejenak menoleh ke belakang;
Bunyi tik tok jam yang kian melemah berada dalam diriku,
Pergi, saat sore hari, dan segera degup jantung ini akan berhenti.
Lama kita hidup bersama, bahagia, saling menjaga
Betapa menyenangkan!—tapi kini terpisah—Selamat tinggal Khayalku,
Namun biarkan aku tak terlampau tergesa,
Sungguh lama kita hidup bersama, tidur, saling merasuk,
berbaur jadi satu;

Lalu andai kita mati, kita mati bersama, (ya, kita akan masih satu,)
Jika kita pergi ke mana pun kita akan pergi bersama
untuk bersua peristiwa-peristiwa,
Barangkali kita akan menjadi semakin baik dan gembira,
dan belajar sesuatu,
Barangkali justru engkaulah kini yang memanduku
ke nyanyian-nyanyian sejati (siapa tahu?)
Barangkali justru engkaulah tombol maut yang menghancurkan,
menentukan—maka kini akhirnya,
Selamat tinggal—dan salam! Khayalku.


Kita Berdua, Berapa Lama Lagi Kita Pandir

Kita berdua, berapa lama lagi kita pandir!,
Kini berubahlah, bergegas kita melarikan diri sebagaimana Alam melarikan diri,
Kita adalah Alam, telah lama kita mangkir, namun kini kita kembali,
Kita menjadi tetumbuhan, batang-batang pohon, daun, akar-akar, kulit kayu
Kita berumah di hamparan tanah, kita adalah batu-batu,
Kita adalah pohon-pohon ek, kita tumbuh di dalam lubang yang berdampingan
Kita berkeliaran, kita adalah dua dari kawanan ternak liar yang tumbuh alami,
Kita adalah dua ikan yang berenangan bersama di samudra,
Kita adalah locust yang tengah berbunga, kita menebar wangi ke sekitar jalan-jalan kecil
petang dan pagi,
Kita juga adalah kotoran bintang-binatang buas, sayur-sayuran, mineral-mineral,
Kita adalah dua rajawali pemangsa, kita membubung ke atas dan memandang ke bawah,
Kita adalah dua surya gemilang, kitalah yang mengatur perputaran dan pertunjukan
bintang kita sendiri, kita laksana dua komet
Kita gigi taring yang memburu dan empat kaki kita menjejak di kekayuan, kita melompat
menerkam mangsa,
Kita adalah dua awan yang melintas tak putus-putus siang dan senja di atas kepala
Kita adalah lautan yang berbaur, kita adalah dua dari ombak-ombak riang
yang saling hempas satu sama lain, saling membasahi satu sama lain,
Kita adalah atmosfer itu sendiri: transparan, pengertian, tertembus,
tak tertembus,
Kita adalah salju, hujan, dingin, kegelapan, kita masing–masing adalah hasil
dan pengaruh bola bumi
Kita telah berputar dan berputar hingga kita tiba di rumah kembali, kita berdua,
Kita telah menghindari kebebasan dan kegembiraan kita sendiri.


Aku Melihat di Louisiana Sebuah Pohon Ek Sedang Tumbuh

Aku melihat di Louisiana sebuah pohon ek sedang tumbuh
Pohon ek itu berdiri sendirian dan lumut bergantung berjuluran dari cecabangnya
Tanpa satu pun teman pohon ek itu tumbuh di sana bertutur tentang keriangan daun-daun
yang hijau gelap
Dan pohon ek itu tampak bersahaja, ramah, segar, membuatku berpikir ihwal diri sendiri
Namun aku takjub bagaimana pohon ek itu bisa bertutur tentang keriangan daun-daun
berdiri sendirian di sana tanpa teman mendekat, karna aku tahu aku pun tak bisa
Dan kupatahkan sebatang ranting dengan sejumlah daun di atasnya dan sedikit lumut
yang berjalinan mengelilingi ranting itu
Dan kubawa pergi ranting itu, dan kuletakkan di tempat terbuka di kamarku
Ranting itu tak perlu mengingatkanku pada sahabat-sahabat terkasihku sendiri
(Karena aku percaya akhirnya kukira ranting itu cuma hal kecil dibanding mereka)
Tapi ranting itu masih tinggal padaku sebagai tamsil aneh yang membuatku berpikir
tentang cinta manusia;
Untuk semua itu, dan meski pohon ek itu berkilau-kilauan di sana di Louisiana
sebatangkara di ruang datar lebar
Bertutur tentang keriangan daun-daun dalam seluruh hidupnya tanpa kekasih tanpa teman
Karna sungguh aku tahu dengan baik, aku pun tak bisa.


Ada Seorang Anak yang Terus Berkeliaran

Ada seorang anak yang terus berkeliaran saban hari
Dan benda pertama yang dia pandang, benda itu menjadi dirinya
Dan benda itu menjadi bagian dari anak itu selama sehari atau beberapa saat
dalam sehari
Atau selama beberapa tahun atau selama rentangan peredaran tahun-tahun.
Bunga-bunga lilac yang baru mekar menjadi bagian dari anak itu,
Dan rumputan dan megahnya pagi yang putih dan merah, dan bunga semanggi
yang putih dan merah, dan nyanyian burung phoebe
Dan anak-anak babi berusia tiga bulan, dan tahi induk babi yang merah muda
dan kegaduhan di pekarangan atau di kubangan lumpur
pinggir kolam
Dan ikan-ikan yang melayang-layang dengan aneh di kolam itu
dan paras air yang ajaib dan jelita
Dan tumbuhan-tumbuhan air dengan kepala-kepala mereka yang penuh berkah,
semuanya menjadi bagian dari anak itu
Ladang kubis berusia empat bulan dan lima bulan menjadi bagian
dari anak itu,
Biji-biji kecambah musim dingin dan kemilau kuning ladang jagung itu, dan akar-akar
sayuran di kebun itu
Dan pohon-pohon apel yang dipenuhi oleh bunga-bunganya dan lalu oleh buah-buahnya
dan pohon arbei, dan rumputan liar biasa di sepanjang jalan
Dan si pemabuk tua yang terhuyung-huyung pulang ke rumahnya dari kedai minum
darimana tadi ia terlambat bangun
Dan si ibu guru yang lewat di jalan menuju ke sekolahnya
Dan bocah-bocah lelaki bersahabat yang lewat, dan bocah-bocah lelaki yang cekcok
Dan gadis-gadis yang rapi dan berpipi segar, dan bocah lelaki dan wanita negro
yang telanjang kaki,
Dan segala perubahan kota dan desa ke mana pun anak itu pergi.
Orang tuanya sendiri, anak kecil itu dengan ayah dan ibu yang mengandungnya
dalam rahim dan melahirkannya,
Orang tua yang memberi anak itu lebih dari yang mereka bisa,
Orang tua yang memberinya saban hari, maka mereka pun menjadi bagian anak itu.
Ibunya di rumah dengan anggun menghidangkan makanan di meja makan
Ibu dengan kata-kata sejuk, topi dan gaun yang bersih, aroma yang sehat merebak
dari perempuan itu sesehat baju yang dipakaianya ketika berjalan
Ayahnya, kuat, percaya diri, jantan, pemarah, tak adil,
Pukulan, kata-kata yang cepat keras, perintah yang ketat, keprigelan yang memikat,
Kebiasaan-kebiasaan keluarga, bahasa, sahabat, perabotan rumah tangga,
hati yang angkuh dan merindu,
Kasih sayang yang tak bisa disangkal, kepekaan pada kenyataan, dan
pikiran yang datang setelahnya yang ternyata tak nyata,
Keraguan-keraguan saat siang dan keraguan-keraguan saat malam, rasa ingin tahu
apa dan bagaimana,
Apa yang muncul begitu itu memang begitu, atau apa segalanya bercahaya dan bernoda?
Perempuan dan lelaki yang erat berdesakan di jalanan, apakah mereka tidak bercahaya
dan bernoda sebagaimana tampaknya mereka?
Jalan-jalan itu sendiri dan beranda-beranda rumah, dan hiasan-hiasan
di jendela,
Kendaraan-kendaraan, dermaga-dermaga dengan papannya yang berat, penyebrangan
akbar kapal-kapal
Bayang-bayang, lingkaran cahaya dan halimun, sinar yang jatuh ke atap-atap dan dinding
dinding putih atau coklat sejauh dua mil
Sekunar di dekat arus yang turun dan tertidur, kapal kecil dengan buritan yang eretannya
kian melamban
Ombak-ombak yang bergegas bergulingan,tinggi-besar,dan puncaknya segera berpecahan
Dan lapis warna awan-awan, dan sepotong awan panjang warna merah marun melayang
sendirian dengan dirinya sendiri, kemurniannya meluas merentang tanpa gerak
Ujung akanan, burung-burung gagak laut yang beterbangan, aroma garam rawa
dan lumut pantai,
Semua menjadi bagian dari anak itu yang terus berkeliaran saban hari, dan yang kini
pergi, dan akan selalu terus pergi saban hari.


Ode Untuk Diriku

1
Aku rayakan diriku, dan kunyanyikan diriku
Dan apa yang kupikul mesti kau pikul juga
Sebab setiap zarah yang kupunya kau punya juga
Aku malas dan kuundang jiwaku,
Aku kurus dan malas saat mencermati dengan riang setangkai rumput tajam musim panas
Lidahku, setiap zarah darahku, terbentuk dari tanah ini, udara
ini,
Lahir di sini para moyang lahir di sini dari moyang yang sama, dan moyang
mereka sama
Aku, kini berusia tiga puluh tujuh tahun di awal kesehatanku yang sempurna
Berharap tak akan henti hingga mati
Kepercayaan-kepercayaan dan sekolah-sekolah tertangguhkan
Kucecap sejenak semuanya namun tak akan pernah terlupakan
Aku dermaga bagi yang baik atau yang buruk, aku berkenan bicara pada setiap bahaya
Bertabiat tanpa pedoman tapi dengan enerji asali.

2
Rumah-rumah dan kamar-kamar penuh wewangian, rak-rak sesak
dengan wewangian
Aku bernafas dengan bau diriku sendiri dan aku tahu itu dan aku suka itu
Penyulingan ini mungkin meracuniku juga, tapi tak akan kubiarkan terjadi itu
Udara ini bukanlah wewangian, udara ini tak punya penyulingan
udara ini tak beraroma
Wewangian itu untuk mulutku selamanya, aku jatuh cinta padanya
Aku akan pergi ke sungai dekat hutan dan menjadi tak tersamar dan
telanjang,
Aku gila wewangian dan kuingin ia bersintuhan denganku
Asap dari nafasku sendiri
Gema-gema, riak-riak, dengung bisikan-bisikan, akar-cinta, benang sutra, canggah dan
anggur
Nafas dan ilhamku, degupan-degupan jantungku, aliran darahku
dan udara di paru-paruku
Harum daun-daun hijau dan daun-daun kering, dan harum pantai dan
batu-batu laut yang berwarna hitam, dan jerami di gudang-gudang
Bunyi kata-kata berserdawa dari suaraku sendiri yang meluput dalam pusaran
topan,
Ciuman-ciuman cahaya yang sedikit, pelukan-pelukan yang sedikit, jangkauan di tangan,
Permainan kilauan dan naungan pepohonan ketika cabang-cabangnya yang gemulai
melambai
Kegembiraan yang sendirian atau di kehebohan jalanan, atau di sepanjang ladang-ladang
dan di tepi-tepi perbukitan
Perasaan yang segar, fajar penuh yang bergetar, nyanyianku ketika terbangun dari
ranjang dan berjumpa matahari.
Sudahkah engkau menghitung sebanyak seribu ha? Sudahkah engkau menghitung
jagad raya?
Sudahkah engkau menghabiskan waktu untuk menelaah untuk membaca?
Sudahkah engkau merasa begitu bangga karena menenggak makna sajak-sajak?
Berhentilah siang ini dan malam ini bersamaku dan engkau mesti miliki muasal
segala sajak,
Engkau mesti miliki kebaikan bumi dan matahari, (ada bermilyar matahari
yang pergi)
Engkau jangan lagi mengambil segalanya dari tangan kedua atau ketiga, atau memandang
lewat mata orang-orang mati, atau menyantap dari hantu-hantu dalam buku
Engkau jangan lagi memandang lewat mata orang lain, atau mengambil segalanya dariku
Engkau mesti menyimak dari segala sisi dan menyaring segalanya untuk dirimu sendiri

3
Aku telah mendengar apa yang digunjingkan para penggunjing, pergunjingan ihwal awal
dan akhir
Tapi aku tak akan menggunjingkan ihwal awal atau akhir
Tak akan pernah ada lagi kelahiran selain saat ini
Tak akan pernah ada lagi masa muda atau usia selain saat ini
Dan tak akan pernah ada lagi kesempurnaan selain saat ini
Tak akan pernah ada lagi surga atau neraka selain saat ini.
Hasrat dan hasrat dan hasrat
Senantiasa hasratlah yang bermunculan di dunia
Lepas dari pertentangan yang remang adalah kemajuan yang seimbang, senantiasa berisi
dan bertambah, senantiasa sex,
Senantiasa rajutan identitas, senantiasa perbedaan, senantiasa pembiakan kehidupan.
Menjelaskan semuanya tak berfaedah, gairah untuk mempelajari dan tak mempelajarinya
itu yang mesti dipunya
Yakin bagai keyakinan paling pasti, tegak lurus di antara yang tegak lurus, penopang
tiang-tiang,
Kukuh bagai kuda, setia, angkuh, bergairah
Aku dan misteri ini di sini kami berdiri
Jernih dan manis begitulah jiwaku, dan jernih dan manis segala yang bukan
jiwaku,
Yang satu kekurangan yang lain kekurangan, yang tak tampak dibuktikan yang tampak
Hingga yang tampak jadi tak tampak dan menerima kenyataan yang sebaliknya
Tunjukkan yang terbaik dan bagilah ia dari masa yang terburuk masa yang tersakit
Ketahuilah kebugaran sempurna dan ketentraman segala hal, dan sementara mereka
bercengkrama aku diam, dan pergi mandi dan mengagumi diriku sendiri,
Selamat datang setiap sendi dan sifatku, dan selamat datang pada setiap manusia
yang jernih dan berjiwa,
Tak seinci atau sebutir pun yang tersembunyi, dan tak satu pun yang kurang dikenal
ketimbang lainnya
Aku puas—aku melihat, menari, tertawa, bernyanyi;
Bagai berpelukan dan kekasih yang tidur di ranjang bersisian denganku sepanjang
malam, dan pergi ketika siang mulai mengintip
dengan langkah diam-diam
Meninggalkan keranjang-keranjang yang dipenuhi lap-lap putih yang merangkum
rumahku dalam kepenuhannya
Mestikah aku menunda penerimaan dan perwujudanku dan berteriak di kedua mataku,
Kemudian teriakanku turun dari tatapan dan hilir mudik di jalanan,
Dan dengan segera berhitung dan menunjukkan padaku satu sen
Persisnya nilai dari satu dan persisnya nilai dari dua, dan yang manakah
yang lebih dulu?

4
Para pejalan dan para penanya mengelilingiku,
Orang yang kujumpa, pengaruhnya padaku di awal kehidupanku atau daerah
dan kota tempat aku bermukim, atau bangsa
Pertemuan-pertemuan terakhir, penemuan-penemuan, masyarakat-masyarakat, pengarang
lama dan baru
Makan malamku, pakaian, hubungan-hubungan, penglihatan-penglihatan, pujian-pujian
Ketakacuhan yang nyata atau khayal dari beberapa wanita atau pria yang kucinta
Kesakitan dari salah seorang kerabatku atau diriku sendiri, atau sakit atau kehilangan
atau melarat, atau keputusasaan-keputusasaan atau kemuliaan-kemuliaan,
Pertarungan-pertarungan, horor perang saudara, demam berita-berita yang meragukan
peristiwa-peristiwa yang menggelisahkan
Semuanya datang padaku siang dan malam dan pergi lagi dariku
Namun semua itu bukan Aku-nya diriku
Terpisah dari tarikan dan helaan berdirilah apa adanya aku
Berdiri bingung, puas, bergairah, malas, menyatu
Memandang ke bawah, tegak, atau melipatkan tangan yang satu
ke tangan lainnya
Memandang dengan kepala mencongak ke samping ingin tahu apa yang akan datang
Yang di dalam dan di luar permainan dan menyimak dan takjub atas semuanya.
Ke belakang kutengok hari-hari silamku sendiri dan aku berkeringat lewat kabut dengan
para ahli bahasa dan para pendebat,
Aku tak punya pendapat-pendapat atau ejekan-ejekan, aku menyaksikan dan menunggu.

5
Aku percaya padamu jiwaku, tubuhku tak akan merendahkanmu
Dan engkau tak akan merendahkan tubuhku
Bermalasanlah bersamaku di rumputan, lepaskan yang tersekat di tenggorokanmu
Bukan kata-kata, bukan musik atau syair yang kuinginkan, bukan adat atau ajaran, bukan
bahkan yang terbaik dari semuanya
Hanya tidur yang kuinginkan, senandung dari katup suaramu
Aku berpikir bagaimana suatu saat kita terbaring bagai pagi musim panas yang transparan
Bagaimana engkau meletakkan sirahmu melintangi pahaku dan dengan lembut bergantian
denganku
Dan menanggalkan bajuku dari dadaku, dan mencelupkan lidahmu
ke setangkup hatiku yang suwung
Dan meraihnya hingga kau rasakan jenggotku, dan meraihnya hingga kau rasakan kakiku.
Bermekaran dengan cepat dan meluas ke sekitarku kedamaian dan pengetahuan yang
dilalui segala penjelasan tentang jagad raya
Dan aku tahu bahwa tangan Tuhan adalah janji diriku sendiri
Dan aku tahu bahwa ruh Tuhan adalah saudara diriku sendiri
Dan seluruh lelaki yang pernah lahir adalah saudaraku, dan seluruh wanita
adalah saudari-saudari dan kekasih-kekasihku
Dan bahwa alasan penciptaan adalah cinta,
Dan yang tak terbatas adalah harum daun-daun atau daun-daun yang berjatuhan
Dan semut-semut coklat di dalam liang-liang kecil di bawah ladang-ladang
Dan keropeng-keropeng lumut yang dipagari cacing, pinggul batu-batu, pohon murbai
dan ilalang liar

6
Seorang anak bertanya Apakah rumputan itu? Menarikku dengan kedua tangannya penuh
Bagaimana aku bisa menjawab anak itu? Aku tak lebih tahu apakah rumputan itu
ketimbang anak itu
Kukira rumputan itu pastilah bendera dari karakterku, bendera dari harapan hijau
benang-benang yang tertenun
Atau kukira rumputan itu sapu tangan seorang Tuan,
Hadiah yang harum dan kenangan yang ditandai, yang terjatuh
Menampilkan nama pemiliknya di tiap sudutnya, yang mungkin kita lihat
dan simak, dan berkata Siapakah?
Atau kukira rumputan itu sendiri adalah seorang anak, bayi yang lahirkan
tetumbuhan
Atau kukira rumputan itu hieroglif yang seragam
Dan penuh makna, berkecambah baik di hamparan luas atau di hamparan sempit
Bertumbuhan di antara orang-orang kulit hitam dan orang-orang kulit putih
Orang-orang Kanuck,Tuckaho,para pejabat,para jelata, aku sama-sama mengasihi mereka
aku sama-sama menerima mereka
Dan kini rumputan itu terlihat olehku sebagai rambut tak terpotong dari kuburan-kuburan.
Dengan lembut aku akan memanfaatkanmu duhai rumputan ikal
Barangkali engkau berasal dari dada-dada pria muda
Barangkali jika aku mengenal mereka aku akan mencintainya
Barangkali engkau berasal dari orang tua, atau dari bocah-bocah cilik yang dengan sigap
direngkuh dari pangkuan ibu-ibu mereka
Dan di sini engkau menjadi pangkuan para ibu.
Rumputan ini terlalu hitam untuk berasal dari kepala nenek-nenek yang memutih
Lebih hitam ketimbang jenggot-jenggot tak berwarna dari kakek-kakek
Terlalu hitam untuk berasal dari pangkal mulut-mulut dengan warna merah yang samar
O aku sudah tahu begitu banyak apa yang diucapkan lidah-lidah
Dan aku tahu ucapan-ucapan itu berasal dari pangkal mulut-mulut bukan tanpa maksud
Aku harap aku bisa menterjemah isyarat-isyarat tentang arwah-arwah pria dan
wanita muda
Dan isyarat-isyarat tentang lelaki tua dan para ibu, dan bocah-bocah cilik yang direngkuh
dari pangkuan mereka.
Apa yang kau pikir tentang telah menjadi muda atau tua?
Dan apa yang kaupikir tentang telah menjadi ibu dan anak?
Rumputan itu hidup dan tumbuh di mana saja
Kecambah yang paling kecil pun menunjukkan bahwa tak ada kematian yang nyata
Dan jika pun pernah mati, rumputan itu akan memandu ke kehidupan selanjutnya
dan tak akan menunggu sampai akhir untuk menawannya
Dan menghentikan saat-saat kehidupan bermunculan
Segalanya pergi ke dalam dan ke luar, tak ada satu pun yang musnah
Dan untuk mati adalah sungguh berbeda dari yang diduga siapa pun, dan beruntunglah.

7
Sudahkah setiap orang mengira betapa beruntungnya telah terlahir?
Aku bergegas mengabarkan pada mereka bahwa lahir itu sama untungnya dengan mati,
dan aku tahu itu
Aku lalui maut dengan kematian dan kelahiran dengan bayi yang baru dimandikan,
dan aku tak mengandung apa yang ada antara topiku dan sepatuku
Dan selidikilah setiap benda, tak ada dua benda yang sama dan setiap benda itu bagus
Bumi itu bagus dan bintang-bintang itu bagus, dan anasir-anasirnya semua bagus
Aku bukanlah bumi atau anasir dari bumi
Aku kekasih dan sahabat manusia, semuanya kekal dan
tak tepermanai bagai diriku
(Mereka tidak tahu bagaimana kekal itu, namun aku tahu)
Setiap hal buat dirinya dan miliknya sendiri, buatku aku lelaki sekaligus wanita
Buatku segala yang dimiliki anak lelaki dan dara yang mencinta
Buatku pria yang bangga dan merasa betapa busuknya
kerapuhan itu,
Buatku hati yang manis dan wanita tua, buatku para ibu dan ibu
dari ibu
Buatku bibir-bibir yang tersenyum, buatku mata yang menjadi lumbung airmata
Buatku anak dan ayah dari anak itu
Telanjanglah! Engkau tak berdosa padaku, tidak juga basi atau terbuang
Aku memandang lewat kain sutra dan kain genggang
Dan aku berkeliling, kukuh, gigih, tak kenal lelah, dan tak akan bisa
tergoyahkan.

8
Seorang bocah terlelap di buaiannya,
Aku singkirkan kabut tipis dan memandang lama sekali, dan diam-diam menghalau lalat
dengan tanganku
Seorang perjaka dan dara bermuka merah menikung dari samping semak-semak bukit
Aku mengawasi mereka dengan jeli dari puncak bukit
Orang yang bunuh diri tergeletak dilantai sebak darah di dekat ranjang tidurnya
Aku menyaksikan mayatnya dengan percik darah di rambutnya, aku mencatat di mana
pistolnya terjerambab
Riuh-rendah di jalanan, kereta-kereta yang lelah, derap telapak kaki, gunjingan
para pejalan
Omnibus yang berat, para sopir dengan pertanyaan mereka yang hebat, dentangan
tapak-tapak kaki kuda di lantai granit
Lungsuran-lungsuran salju, dentingan, lelucon-lelucon seru, lemparan bola-bola salju
Sorak-sorai untuk hal-hal yang amat disukai, kemarahan rakyat yang terbangun
Gundukan-gundukan gorden kotor, lelaki sakit di samping bayi lahir di rumah sakit
Pertemuan musuh-musuh, sumpah yang seketika, pukulan-pukulan dan kejatuhan
Kerumunan yang bergairah, Pak polisi dengan bintangnya yang tergesa menyerukan
pesannya ke tengah-tengah kerumunan
Batu-batu yang tenang yang menerima dan memantulkan kembali aneka gema
Erangan orang yang kelebihan makan atau setengah lapar yang jatuh pingsan atau marah
Teriakan-teriakan wanita yang tiba-tiba menyeruak dan terburu pulang ke rumah
dan melahirkan jabang bayinya
Pembicaraan yang hidup atau terkubur senantiasa bergetar di sini, lolongan-lolongan
yang dibatasi kepantasan
Penawanan para perompak, sulapan, perzinahan yang dijajakan, penerimaan-penerimaan,
penolakan-penolakan dengan bibir-bibir cembung,
Aku memikirkan atau menunjukan atau memantulkan semuanya—aku datang dan pergi.


(Diterjemahkan oleh Tia Setiadi)