Label

Rabu, 05 Februari 2014

Raden Kian Santang, Sayyidina Ali, Sultan Hasanudin Banten




(Hikayat ini adalah contoh sastra lisan di Banten dan Jawa Barat yang lebih bersifat kiasan, yang memaksudkan dirinya untuk bercerita tentang bagaimana peralihan kultural dan politik di Banten dan Jawa Barat dari Era Hindu ke Era Islam).

Prabu Siliwangi memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya adalah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang, yang keduanya adalah putra dan putri kesayangan sang Prabu. Raden Kian Santang terkenal dengan kesaktiannya yang luar biasa. Di dunia persilatan, nama Raden Kian Santang sudah tak asing lagi sehingga seluruh Pulau Jawa, bahkan Nusantara saat itu sangat mengenal siapa Raden Kian Santang. Tak ada yang sanggup mengalahkannya. Bahkan, Raden Kian Santang sendiri tak pernah melihat darahnya. Dan suatu ketika, Raden Kian Santang yang adalah putra Prabu Siliwangi itu terkejut ketika di dalam mimpinya ada seorang kakek berjubah yang mengatakan bahwa ada seorang manusia yang sanggup mengalahkannya, dan kakek tersebut tersenyum. Mimpi itu terjadi beberapa kali hingga Raden Kian Santang bertanya-tanya siapa gerangan orang itu. Dalam mimpi selanjutnya sang kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata bahwa orang itu di sana.

Penasaran dengan mimpinya, Raden Kian Santang pun meminta ijin kepada ayahandanya, Prabu Siliwangi untuk pergi menuju seberang lautan, dan menceritakan semuanya. Prabu Siliwangi walaupun berat hati tetap mempersilahkan putranya itu pergi. Namun Ratu Rara Santang, adik perempuan Raden Kian Santang, ingin ikut kakaknya tersebut. Meski dicegah, Ratu Rara Santang tetap bersikeras ikut kakaknya, yang akhirnya mereka berdua pergi menyeberangi lautan yang sangat luas menuju suatu tempat yang ditunjuk orang tua alias si kakek berjubah di dalam mimpi Raden Kian Santang itu.

Hari demi hari, minggu berganti minggu dan genap delapan bulan perjalanan sampailah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang ke sebuah dataran yang asing, tanahnya begitu kering dan tandus, padang pasir yang sangat luas serta terik matahari yang sangat menyengat mereka melabuhkan perahu yang mereka tumpangi. Tiba-tiba datanglah seorang kakek yang begitu sangat dikenalnya. Yah, kakek yang pernah datang di dalam mimpinya itu. Kakek itu tersenyum dan berkata: “Selamat datang anak muda! Assalamu alaikum!” Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang hanya saling berpandangan dan hanya berkata: “Aku ingin bertemu dengan Ali, orang yang pernah kau katakan sanggup mengalahkanku.” Dengan tersenyum kakek itu pun berkata: “Anak muda, kau bisa bertemu Ali jika sanggup mencabut tongkat ini!” Lalu si kakek itu menancapkan tongkat yang dipegangnya.

Kembali Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang saling berpandangan, dan Raden Kian Santang tertawa terbahak-bahak. “Hai orang tua! Di negeri kami adu kekuatan bukan seperti ini, tapi adu olah kanuragan dan kesaktian. Jika hanya mencabut tongkat itu buat apa aku jauh-jauh ke negeri tandus seperti ini?  Ujar Raden Kian Santang mengejek. Kakek itu kembali tersenyum. “Anak muda, jika kau sanggup mencabut tongkat itu kau bisa mengalahkan Ali, jika tidak kembalilah kau ke negerimu anak sombong.” Kata orang tua itu. Akhirnya Raden Kian Santang mendekati tongkat itu dan berusaha mencabutnya. Namun  upayanya tak berhasil. Semakin dia mencoba semakin kuat tongkat itu menghunjam.

Keringatnya bercucuran, sementara Ratu Rara Santang tampak khawatir dengan keadaan kakaknya, ketika tiba-tiba darah di tangan Raden Kian Santang menetes, dan menyadari bahwa orang tua yang di hadapan mereka bukan orang sembarangan. Saat itu, lutut Raden Kian Santang bergetar dan dia merasa kalah. Ratu Rara Santang yang terus memperhatikan kakaknya segera membantunya, namun tongkat itu tetap tak bergeming, akhirnya mereka benar-benar mengaku kalah. “Hai orang tua! Aku mengaku kalah dan aku tak mungkin sanggup melawan Ali. Melawan  dirimu pun aku tak bisa! Tapi ijinkan aku bertemu dengannya dan berguru kepadanya.” Ujar Raden Kian Santang. Kakek itu kembali tersenyum. “Anak muda! Jika Kau ingin bertemu Ali, maka akulah Ali.” Tiba-tiba mereka berdua bersujud kepada orang tua itu, namun tangan orang tua itu dengan cepat mencegah keduanya bersujud. “Jangan bersujud kepadaku anak muda! Bersujudlah kepada Zat yang menciptakanmu, yaitu Allah!”

Akhirnya mereka berdua mengikuti orang tua tersebut, yang ternyata Ali Bin Abi Tholib, ke Baitullah dan memeluk agama Islam. Begitulah, Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh. Dalam perjalanannya Raden Kian Santang kembali ke pulau Jawa dan menyebarkan Islam di daerah Garut hingga meninggalnya. Sedangkan Ratu Rara Santang dipersunting oleh salah satu pangeran dari tanah Arab yang bernama Syarif Husen. Perkawinan antara Ratu Rara Santang dan Syarif Husen itu menghasilkan dua putra, yaitu Syarif Nurullah dan Syarif Hidayatullah. Syarif Nurullah menjadi penguasa Makkah saat itu, sedangkan Syarif Hidayatullah pergi ke Jawa untuk bertemu dengan ayah dan kakeknya.

Syarif Hidayatullah pamit untuk pergi ke Jawa dan ingin menyebarkan Islam ke sana. Dan pergilah Syarif Hidayatullah mengarungi samudera nan luas seperti halnya dulu ibu dan pamannya, Ratu Rara Santang dan Raden Kian Santang. Setibanya di tanah Jawa, Syarif Hidayatullah tidak kesulitan berjumpa dengan ayah dan kakeknya. Namun Syarif Hidayatullah prihatin karena hingga saat itu kakeknya masih belum masuk ke dalam agama Islam dan tetap bersikukuh dengan agamanya yaitu agama Sunda Wiwitan, meski berbagai upaya terus dilakukan dan dia hanya berdoa semoga kakeknya suatu saat diberi hidayah oleh Allah.

Melihat keuletan cucunya dalam menyebarkan Agama Islam, Prabu Siliwangi memberikan tempat kepada cucunya sebuah hutan yang kemudian bernama Cirebon. Dan di sinilah pusat penyebaran Islam dimulai. Murid-muridnya kian bertambah dan Islam sangat cepat menyebar. Dalam penyebarannya, Syarif Hidayatullah mengembara ke ujung barat pulau Jawa, ke daerah kulon, tempat pendekar-pendekar banyak tersebar. Di Pandeglang ada Pangeran Pulosari dan pangeran Aseupan, juga terdapat Raja Banten yang terkenal sangat sakti, bahkan Raden Kian Santang pun segan kepadanya, yaitu Prabu Pucuk Umun, Raja Banten yang memiliki ilmu Lurus Bumi yang sangat sempurna, juga pukulan braja musti yang bisa menghancurkan gunung, bahkan menggetarkan bumi.

Rupanya Syarif Hidayatullah telah mengetahui kesaktian Prabu Pucuk Umun yang menguasai daerah itu. Untuk langsung mengajak Prabu Pucuk Umun masuk ke dalam Agama Islam sangat tidak mungkin, sebab Syarif Hidayatullah tahu Prabu Pucuk Umun mudah sekali murka, dan hal ini sangat berbahaya. Dengan bersusah payah Syarif Hidayatullah menemui Pangeran Pulosari dan juga Pangeran Aseupan, yang merupakan sepupu dari Prabu Pucuk Umun, dan rupanya Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan sangat tertarik dengan ajaran agama yang dibawa oleh cucu Raja Pajajaran itu, dan keduanya menganut agama Islam. Masuknya kedua pangeran itu ke dalam agama yang dibawa Syarif Hidayatullah terdengar juga oleh Prabu Pucuk Umun, dan hal ini membuatnya murka. Tiba-tiba langit menjadi gelap, halilintar bergelegar bersahutan. Pangeran Aseupan dan Pangeran Pulosari memahami bahwa kakak sepupunya telah mengetahui masuknya mereka kepada agama yang dibawa Syarif Hidayatullah. Dengan ilmu Lurus Buminya, Prabu Pucuk Umun memburu kedua pangeran yang menurutnya berkhianat itu, dan terjadilah perkelahian yang sangat dahsyat. Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan berusaha mengelak dari serangan-serangan yang dilakukan kakak sepupunya itu. Namun kesaktian luar biasa yang dimiliki Prabu Pucuk Umun membuat mereka lari ke arah selatan, dan di sanalah Syarif Hidayatullah menunggu mereka, dan dengan luka yang diderita mereka, akhirnya mereka pun berlindung di belakang Syarif Hidayatullah. Prabu Pucuk Umun berteriak: “Hai cucu Siliwangi! Jangan kau ganggu tanahku dengan agamamu, jangan kau usik ketenangan rakyatku, enyahlah kau dari sini sebelum kau menyesal dan berdosa kepada kakekmu.”

Dengan tersenyum Syarif Hidayatullah menjawab: “Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyebarkan agama ini, karena agama ini bukan hanya untuk satu orang tapi untuk semua orang di dunia ini. Agama yang akan menyelamatkanmu.” “Aku tidak menyukai basa-basimu anak lancang!” Teriak Prabu Pucuk Umun dengan lantang dan menggelegar, dan dari arah depan tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, tampak Syarif Hidayatullah mundur beberapa langkah, sedangkan Pangeran Pulosari dan Pangeran Aseupan memasang kuda-kuda untuk menggempur serangan Prabu Pucuk Umun. Pertarungan itu begitu dahsyatnya hingga Prabu Siliwangi dan Raden Kian Santang pun bersemedi memberikan energi kepada Syarif Hidayatullah.

Prabu Pucuk Umun merasakan panas yang teramat sangat, dia mengetahui bahwa serangannya telah berbalik arah kepadanya, dan dengan menggunakan Ilmu Lurus Bumi, Prabu Pucuk Umun melarikan diri, namun dengan sigap Pangeran Aseupan dan Pangeran Pulosari mengejarnya. Dengan menggunakan ilmu yang sama terjadilah kejar-kejaran antara ketiganya. Dan akhirnya, di puncak Gunung Karang Banten, Prabu Pucuk Umun tertangkap, atas restu Prabu Siliwangi, Prabu Pucuk Umun tidak dibunuh, tapi dimasukan ke kerangkeng di bawah kawah Gunung Krakatau. 

Prabu Pucuk Umun memiliki putri yang cantik dan juga memiliki kesaktian yang tidak kalah dengan ayahnya, bahkan lebih dari 1000 Jin di bawah pengaruhnya, dan dia bernama Ratu Kawunganten, Putri Prabu Pucuk Umun yang kemudian diperistri oleh Syarif Hidayatullah. Ratu Kawunganten pun masuk Islam dan berganti nama menjadi Siti Badariah. Tidak berapa lama, Siti Badariah atau Ratu Kawunganten pun hamil, namun dia mengidam hal yang tidak wajar menurut pemikiran Syarif Hidayatullah, dia menginginkan daging manusia. Sontak, Syarif Hidayatullah pun kaget dan marah. “Isteriku, kau telah menganut agama Islam, keinginanmu itu terlarang.” Tandas Syarif Hidayatullah. Namun isterinya tetap menginginkan daging manusia, dan Syarif Hidayatullah tak bisa berbuat banyak, beliau sangat marah dan meninggalkan isterinya dalam keadaan hamil dan kembali ke Cirebon. Sepeninggal Syarif Hidayatullah, Siti Badariah atau Ratu Kawunganten kembali ke agama leluhurnya yaitu Agama Sunda Wiwitan, agama yang sudah menjadi darah dan dagingnya.

Ratu Kawunganten atau Siti Badariah pun melahirkan seorang putra, dan diberi nama Pangeran Sabakingking, seorang Pangeran yang suatu saat mendirikan Kesultanan Banten. Pangeran Sabakingking beranjak dewasa, dan dia menjadi pemuda yang gagah,  pemuda yang keras, berani dan memiliki kesaktian yang luar biasa, ilmu-ilmu kesaktian ibunya mengalir ke tubuhnya, lebih dari 1000 Jin takluk atas perintahnya. Pangeran Sabakingking tak pernah merasa takut kepada siapapun, dan hampir semua pendekar di tanah Banten pernah berhadapan dengannya. Suatu hari, Pangeran Sabakingking dipanggil ibunya, karena ia harus mengetahui siapa ayahnya, Sabakingking pun menghadap ibunya. Anakku, kau sudah dewasa dan sudah saatnya kau mengetahui siapa ayahmu. Ia berada di Cirebon dan telah menjadi Sultan di sana. Jika kau ke sana berikan tasbih ini kepadanya. Tasbih inilah yang dulu menjadi mahar perkawinan ibu dengan ayahmu.

Pergilah Pangeran Sabakingking menuju utara melewati hutan dan sungai, bukit bahkan gunung di tempat yang dituju Pangeran Sabankingking langsung menuju Kesultanan Cirebon. Di Kesultanan Cirebon itulah Pangeran Sabakingking melihat sebuah perbedaan yang mendasar. Terdengar suara adzan, serta alunan al Quran yang asing baginya, namun begitu menyejukkan hatinya. Tak berapa lama bertemulah Pangeran Sabakingking dengan seorang tua berjanggut panjang dengan mengenakan sorban. Orang tua itu tampak berwibawa dan memiliki sorot mata yang tajam. “Anak muda, ada keperluan apa kau ke sini? Tanya orang tua yang tak lain adalah Syarif Hidyayatullah itu. Aku ingin bertemu dengan Syarif Hidayatullah dan menyerahkan tasbih ini dari ibuku.” Tasbih itu pun diterima Syarif Hidayatullah sembari menerawangkan matanya. “Apakah kau anak Kawunganten?” “Benar! Aku Sabakingking Putra Kawunganten!” “Akulah Syarif Hidayatullah yang kaucari anak muda. Namun aku tidak begitu saja mengakui kau sebagai anakku, sebab ada syarat yang harus kau laksanakan.” “Apa itu?” Buatlah sebuah bangunan masjid lengkap dengan menaranya di Banten. Tapi ingat, hanya 1 malam saja. Jika  sampai muncul matahari dan perkerjaanmu belum selesai, jangan harap aku akan mengakui kau sebagai anakku.” Ujar Syarif Hidayatullah. “Baiklah! aku akan melaksanakan perintahmu.” Jika sudah selesai, kumandangkan adzan yang dapat kau dengar dari menaranya. Ingat, hanya dalam waktu 1 malam saja!”

Setelah mendengar perintah ayahnya, Pangeran Sabakingking bergegas meninggalkan Cirebon untuk kembali ke Banten. Setelah sampai di Banten diceritakanlah semua yang dialami selama di Cirebon kepada ibunya. Ibunya maphum dan bersedia membantu anaknya. Dipanggilah lebih dari 1000 jin sakti untuk membantu Pangeran Sabakingking, dan tepat saat matahari terbenam mereka mulai membangun fondasi Masjid di pesisir Banten. Semua bekerja dengan berbagai ilmu, lebih dari 1000 Jin dikerahkan, dan mendekati matahari terbit menara pun baru selesai. Saat itulah Pangeran Sabakingking menaiki menara dan mengumandangkan Adzan seperti apa yang ia dengar di Kesultanan Cirebon, dan dengan tenaga dalam yang nyaris sempurna, terdengarlah alunan adzan yang menggema hingga ke seluruh alam. Mendengar suara adzan yang memiliki kekuatan yang luar biasa itu, Syarif Hidayatullah pun keluar dari keraton Kesultanan Cirebon dan segera memperhatikan arah suara itu, yang tak salah lagi itu adalah suara anaknya. Dan dengan ilmu Sancang, ilmu berlari cepat yang sulit diterima akal manusia, yang dimilikinya, hanya dalam waktu beberapa menit saja tibalah Syarif Hidayatullah ke Mesjid yang dibangun anaknya tersebut dan melakukan sholat subuh di sana.

Pangeran Sabakingking mengetahui datangnya seseorang yang masuk ke Mesjidnya, dan dia bergegas menuju ke dalam. Alangkah kagetnya Pangeran Sabakingking saat ternyata dihadapannya adalah Syarif Hidayatullah, ayahnya. “Anakku. Kau telah membangun Mesjid ini dengan baik, Mesjid ini akan menjadi pusat penyebaran agama yang kubawa dan kau adalah pemimpinnya.  Mulai hari ini namamu adalah Hasanudin. Dan bangunlah Kesultanan di sini, syiarkan Islam kepada rakyatmu. Hasanudin pun membangun keraton di sekitar masjid yang dibangunnya, yang tidak berapa lama berdirilah keraton lengkap dengan singgasananya, untuk membantu penyebaran Islam di Banten, dan Syarif Hidayatullah memerintahkan rakyatnya untuk ikut membangun Banten. Berduyun-duyunlah rakyat Cirebon menuju Banten. Mereka disambut rakyat Banten dengan antusias, seakan-akan perbauran antara rakyat Cirebon dan penduduk asli itu seperti halnya perpaduan antara Muhajirin dan Anshor jaman Nabi Muhammad. Budaya dan bahasa yang hampir sama dengan Cirebon merupakan bukti otentik yang terwariskan hingga saat ini.

Sementara itu, Padjajaran setelah mangkatnya prabu Siliwangi pecah menjadi jadi dua kerajaan yaitu Kerajaan Pakuan dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Pakuan di berikan kepada cucunya Ratu Dewata yang merupakan putri Raden Surawisesa yang dikenal dengan Pangeran Walangsungsang, salah seorang putra Prabu Siliwangi. Keinginan Kesultanan Cirebon untuk mengislamkan seluruh Kerajaan Padjajaran didukung penuh oleh Maulana Hasanudin, yang juga dibantu oleh putra mahkota yaitu Sultan Maulana Yusuf, yang merupakan hasil pernikahan Maulana Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana, Putri Sultan Trenggono dari Kesultanan Demak. Selain Maulana Yusuf, Maulana Hasanudin memiliki putri bernama Ratu Pembayun yang menikah dengan Tubagus Angke putra Ki Mas Wisesa Adimarta dimana Tubagus Angke merupakan panglima perang Banten yang nantinya memiliki putra bernama Pangeran Jayakarta, yang kelak menjadi pajabat Kesultanan Banten di Jakarta, di mana nama Jakarta diambil dari namanya. (*) 


1 komentar:

  1. Legenda pertemuan Kean Santang ini mungkin terlebih sebagai metafora simbolisme mistis. Karena masa hidup Kean Santang berbeda jauh hampir 7 abad selisihnya.

    BalasHapus