Label

Senin, 15 Desember 2014

The Wind Will Carry Us, Film yang Lahir dari Puisi

http://sp3.imgs.sapo.pt/0009/06/fb/38/06fb3835df76c9804191b49b3b72a269.jpg

Oleh Manshur Zikri

Film yang diambil dari puisi “The Wind Will Carry Us” ciptaan Forough Farrokhzad ini disutradarai oleh Abbas Kiarostami. Forough Farrokhzad adalah seorang penyair dan penulis puisi yang jaya pada masa Iran modern. Sedangkan Abbas Kiarostami adalah seorang sutradara pembuat film Iran pasca-revolusi, yang mana karyanya banyak membahas tentang isu hak asasi manusia dan seni.

Untuk melihat dan membongkar film ini, yang harus diingat adalah “Puisi” yang mejadi bungkus film ini. Jadi setiap permasalahan yang ditemukan dalam film ini akan dikaitkan dengan puisi. Dalam film ini akan kita lihat peran dominan oleh tokoh utama (Behzad) dan seorang anak kecil (Farzad)

Film ini diawali dengan adegan dimana sebuah mobil memasuki daerah pedesaan yang mungkin dianggap terpencil karena tidak ada transportasi lain (seperti mobil atau sepeda motor) yang melintas selain mobil itu. Hal ini menjelaskan bahwa film ini akan bercerita tentang sesuatu yang berasal dari kota (modern) akan memasuki wilayah pedesaan (tradisional). Dan selanjutnya akan terdengar percakapan dari dalam mobil tentang alamat desa yang akan dicari. Dalam dialog tersebut disebut-sebut nama sebuah kota, yaitu Biston. Biston adalah kota tua di Iran yang dahulunya merupakan pusat peradaban, yang mana kota ini berasal dari kebudayaan kuno, diproduksi oleh mitologi Yunani (Situs Iran Kuno). Kota Biston yang disebut-sebut dalam dialog tersebut menjadi informasi yang dapat ditangkap oleh penonton mengenai tempat terlaksananya (setting) film tersebut, yaitu cerita dalam film ini terjadi di dekat kota yang merupakan situs Iran kuno. Nama Biston dan sejarah Biston itu (dalam film ini) sendiri menegaskan bahwa Iran adalah negara intelektual sejak zaman dahulu.

Dalam adegan mencari alamat tersebut, suara salah seorang dalam mobil menanyakan petunjuk yang mereka punya, yaitu desa yang dituju akan semakin dekat apabila telah melewati sederetan pohon. Kemudian orang yang berkata tadi mengutip rubayat dari Ommar Kayam, yang kata-katanya mirip dengan petunjuk tersebut; ”Near the tree is a wooded lone, greener than the dreams of God”. Kemudian dalam adegan, ada tampilan deretan pohon hijau. Adegan ini memberikan informasi kepada penonton bahwa cerita ini adalah tentang pencaharian akan sesuatu yang sangat sulit. Bisa diartikan sebagai pencaharian spiritual. Adegan selanjutnaya adalah gambar pohon besar di atas bukit, lagi-lagi menegaskan akan sesuatu yang berkuasa (Tuhan), yang merujuk kepada kata “spiritual”.

Kemudian, adegan berikutnya saat mobil semakin mendekati tujuan, tampilan gambar berikutnya adalah mobil melewati jalanan di bawah langit yang sudah berwarna orange kemerah-merahan. Hal ini memiliki arti bahwa perjalanan yang dilalui oleh mobil tersebut adalah sangat jauh. Jikalau cerita ini ditulis dalam sebuah novel atau cerpen, makan gambaran langit berwarna “orange kemerah-merahan” itu bisa diubah menjadi kata “beberapa jam kemudian”. Hal ini merupakan salah satu bahasa film yang harus disadari.

Adegan-adegan selanjutnya, si sutradara memperkenalkan lokasi terlebih dahulu daripada tokoh utama. Hal itu dapat diketahui dari sosok figur yang di-shot oleh kamera subjektif adalah seorang penduduk. Kemudian suara dari dalam mobil menanyakan alamat yang akan dituju, yaitu sebuah nama Desa Siah Dareh. Desa ini adalah perkampungan kurdi (kota purba) yang merupakan tempat asal-usul suku Kurdistan. Desa Siah Dareh ini disebut-sebut dalam sejarah sebagai jejak pertama orang Arya yang dikenal sebagai Iran sekarang. Menurut keterangan http://id.wikipedia.org, suku Kurdistan adalah adalah wilayah otonomi luas di Irak utara. Wilayah ini merupakan sebagian dari tanah air orang beretnis Kurdi dan beribu negeri di Arbil. Suku Kurdistan, berarti ”perantau”, dan menganut agama Zoroaster.

Pada adegan saat seorang anak kecil memberitahukan lokasi si Malek “The Blue Window”[1], ada urutan film yang perlu diperhatikan. Urutan film itu adalah dari realita lingkungan sekitar (saat semua hiruk pikuk masih terdengar di sela-sela percakapan Behzad dan Farzad), kemudian ke realita puisi (diperlihatkan gambar seorang laki-laki tua yang duduk termangu di tangga dekat rumah berjendela biru, dan suara hiruk pikuk mulai mengecil)[2], dan kembali ke realitas lingkungan sekitar (saat si Behzad kembali tersadar dengan menoleh ke beberapa penduduk, yang diperlihatkan dengan kamera subjektif, dan suara kembali ramai). Hal ini bisa dianggap jenius karena susunan urutan tersebut tidak dibuat begitu saja, tetapi melalui ide yang cemerlang dan pengaturan yang membutuhkan skill tertentu.

Pada percakapan tokoh utama dengan beberapa tokoh lain, ada beberapa adegan yang hanya wajah si tokoh utama saja yang dilihatkan sementara wajah tokoh lain tidak. Hal ini memberikan arti bahwa adanya unsur komunikasi modern dalam cerita itu, yaitu berbicara tidak harus melihat wajah, contohnya adalah dengan telepon. Dan dalam film itu bisa kita lihat bahwa handphone yang digunakan oleh tokoh utama adalah handphone yang sangat “jadul”, yaitu handphone yang sempat populer pada tahun 1999. Hal ini merujuk pada modernisasi telekomunikasi yang terjadi pada masa itu. Adegan berikutnya, ada percakapan antara Behzad dan Farzad mengenai wanita tua yang sakit tersebut. Percakapan itu memberikan informasi kepada penonton bahwa usia wanita tua itu adalah 100 atau 150 tahun. Bisa dilihat bahwa tahun 1999 bila dikurangi 100 tahun adalah tahun 1899, yang merupakan masa awal komunikasi global. Disini dapat kita anggap bahwa si wanita tua yang sakit itu merupakan perwakilan dari abad yang lalu.

Pada beberapa adegan, selalu diperlihatkan dan diperdengarkan bahwa saat tokoh utama (Behzad) menanyakan kondisi si wanita tua yang sakit kepada anak kecil (Farzad), selalu ada hambatan. Hal ini mengindikasikan bahwa ada hambatan antara komunikasi modern yang harus turun ke bawah agar bisa berkomunikasi dengan tradisional[3].

Adegan yang lain adalah si Behzad mencari sinyal untuk menerima telepon dengan pergi ke bukit melewati sawah (yang tak ada jalurnya). Akan tetapi si Behzad dengan mobilnya dengan seenaknya melintasi sawah tersebut (setiap kali dia harus menelepon) sehingga terbentuk jalan baru. Ini meberikan arti bahwa dalam melakukan pendekatan ke komunikasi tradisional, komunikasi modern harus menemukan jalannya sendiri.

Apel jatuh

Ada adegan yang memperlihatkan jatuhnya apel dari meja (setelah Behzad mencuci apel tersebut). Apel itu jatuh seakan-akan telah diskenario oleh alam dan, akhirnya, apel itu jatuh dekat kaki Farzad. Hal ini mungkin mengandung makna tersendiri, namun belum diketahui lebih lanjut.

Kontradiksi Kebudayaan

Adegan tentang Good and Evil. Dalam adegan tersebut, si Behzad berbicara kepada si Farzad, yang saat itu seharusnya dia sedang ujian. Akan tetapi dia tidak bisa menjawabnya, dan bertanya kepada si Behzad saat dia diizinkan gurunya keluar untuk menemui si Behzad. Waktu Farzad bertanya kepada si Behzad, apa yang akan terjadi dengan ”Good” dan ”Evil” dihari akhir nanti? Si Behzad menjawab bahwa Evil akan ke surga, dan Good akan ke neraka. Farzad begitu saja percaya dengan jawaban tersebut. Akan tetapi jawaban itu dikoreksi sendiri oleh Behzad (mungkin niatnya hanya bercanda) bahwa ”Good” yang akan ke surga dan ”Evil” akan ke neraka. Adegan ini bisa kita artikan: si Behzad sebagai orang dewasa, mewakili golongan modern. Si Farzad yang merupakan anak kecil, mewakili golongan tradisional. Ada kontrakdiksi kebudayaan, yaitu dengan adanya infiltrasi keyakinan. Hal ini dilakukan oleh golongan modern. Biasanya hal itu akan diterima begitu saja oleh golongan tradisional karena tidak adanya kemampuan dialektika (yang digambarkan dengan kepolosan anak kecil).[4]

Dalam beberapa adegan juga dapat dilihat bahwa si Behzad selalu bersikap arogan kepada para penduduk (meski hanya samar-samar). Sikap Bossy ini mencerminkan perilaku dari orang kota (yang berasal dari golongan modern) terhadap orang-orang desa (tradisional).

Adegan dalam film itu bisa kita sebut atau istilahkan sebagai ”guncangan komunikasi”, yang terjadi pada tahun 1999 itu.

Kura-kura

Ada adegan saat Behzad selesai menerima telepon dari seseorang (mungkin atasannya), yaitu kura-kura yang berjalan dengan pelan dan tenang dekat batu nisan. Adegan itu cukup lama dan dirasakan sangat penting. Namun maksud dari adegan itu belum diketahui lebih lanjut. Dan ada juga adegan yang memperlihatkan seekor kumbang mendorong taik dengan kaki belakangnya.

Di kandang Sapi

Dalam adegan di kandang sapi, saat Behzad meminta susu kepada seorang gadis, dia mendeklamasikan dua puisi karya Forough Farrokhzad.[5] Yang pertama adalah ”Hadiah” dan yang kedua adalah ”The Wind Will Carry Us” yang juga merupakan judul dari film ini. Dalam adegan tersebut menggambarkan keadaan wanita yang terkungkung pada masa tradisional. Behzad dari golongan modern membawa wanita modern (puisi Forough) dan meletakkan puisi itu pada tempatnya (yaitu daerah tradisional). Ide adegan ini diakui sangat menarik, tetapi tampilan visual yang disajikan sangatlah buruk, atau terlalu gamblang. Karena sangat jelas saat Behzad mulai masuk ke gua (kandang) itu, dia berkata ”Sungguh sangat gelap disini!”, yang sangat jelas memberikan informasi bahwa adegan tersebut akan berbicara tentang masa-masa kelam di Iran (terhadap wanita), kemudian dengan kentara pula puisi itu dibacakan teruntuk si gadis. Adegan ini tidak memberi ruang kepada penonton untuk berimajinasi lebih jauh karena dengan mudahnya mereka mendapat maksud dari sang sturadara. Bisa dikatakan mungkin adegan ini adalah adegan yang paling sulit dalam pembuatan film, kemugnkinan sang sutradara suah habis akal dan mengalami kebuntuan dalam meracik adegan yang kreatif dan imajinatif. Namun begitu, dalam adegan ini bisa dikatakan bahwa adanya penyampaian yang menegaskan: di Iran (pada masa kelamnya, atau bahkan sampai sekarang) terjadi dampak politik gender[6] dari sebuah negara yang menganut hukum Islam.

Dalam film ini, wajah si Malek tidak pernah diperlihatkan (sosoknya tidak diperlihatkan), hanya diberitahu saja lokasinya yang berada di balik jendela biru (the blue window). Hal ini juga merujuk kepada puisi Forough yang isinya tentang bayang-bayang kematian.

Melempar tulang

Adegan film (mendekati akhir) yang paling menarik adalah saat Behzad yang sudah jenuh[7] berada di desa tersebut, memutuskan untuk pulang ke kota, namun sebelum pulang itu dia melempar tulang yang didapatnya dari seorang penggali tanah untuk pembuatan tiang listrik (atau sejenisnya). Tulang itu dilempar ke sungai, kemudian gambar-gambar berikutnya memperlihatkan tulang yang dibawa aliran sungai itu melewati tanaman-tanaman hijau, kambing/domba, dan makhluk hidup lainnya. Hal ini memberikan arti bahwa semuanya akan kembali ke alam.

Dan adegan yang terakhir adalah saat Behzad akan mengendarai mobil. Ada segerombolan wanita di pedesaan itu menuju rumah si Malek yang sudah mati[8]. Sebelum pulang ke kota, Behzad menyempatkan diri mengambil beberapa foto segerombolan wanita tersebut. Ini mempunyai arti bahwa semuanya kembali ke dasar. Seharusnya Behzad mengambil gambar itu dengan kamera (mungkin video) yang lebih canggih, tetapi tidak bisa karena barang-barang perlengkapannya sudah dibawa lari oleh temannya sehingga dia hanya bisa mengambil gambar foto dengan kamera sederhana (kembali ke dasar, atau sesuatu yang tradisional).

Catatan:

[1] Malek adalah perempuan yang sedang sekarat, atau rumah yang disebut dengan “The Blue Window” oleh anak kecil itu adalah rumah perempuan tua yang sedang sakit itu (si Malek), yang mana selalu ditanya oleh si Behzad (tokoh utama) kepada si anak kecil, Farzad
[2] Laki-laki tua itu adalah anak dari si wanita tua yang sakit tersebut. Saat si Farzad memberitahukan hal itu kepada Behzad, ekspresi wajah Behzad memberitahukan kepada penonton betapa terkejutnya dia, “Anaknya saja sudah setua itu, bagaimana tuanya si wanita tua yang sakit itu?” Tapi dalam bahasa film, kata-kata tersebut tidak perlu diucapkan, cukup dengan ekspresi wajah si Behzad saja.
[3] Kembali ke adegan awal saat mobil memasuki desa. Itu memberitahukan penonton bahwa akan adanya interaksi antara item yang berasal dari kota (modern) dengan item yang ada di desa (tradisional).
[4] Semakin jelas bahwa inti dari cerita dalam film ini adalah tentang interaksi antara modern dan tradisional, namun disajikan dengan bungkus puisi. Dimana dapat dikatakan bahwa suatu komunikasi modern akan berjaya di atas kematian komunikasi tradisional. Hal ini merujuk kepada kata”kematian” yang merupakan ciri khas dari puisi Forough.
[5] Forough Farrokhzad berasal dari masa Iran modern (wanita). Ommar Kayam bersal dari masa tradisional (laki-laki).
[6] Di mana perempuan dianggap lebih rendah derajatnya dari laki-laki.
[7] Saat menonton film tersebut, dari ceritanya akan diketahui bahwa sebenarnya Behzad yang datang dari kota adalah seorang Jurnalis (atau sejenisnya) yang memiliki tujuan tertentu terhadap si Malek. Dari dialog-dialognya dengan si Farzad (juga ekspresinya), terlihat jelas dia menginginkan si Malek segera mati. Dan saat dia berbicara melalui telepon ataupun berbicara dengan teman dari kota juga (yang wajahnya tidak pernah diperlihatkan), mereka menyebut kata-kata ”mengambil gambar”, yang bisa diartikan bahwa mungkin saja mereka adalah orang kota yang ingin meliput tentang upacara kematian di desa itu (untuk keperluan antropologi, misalnya)
[8] Saat Malek yang diketahui membaik kondisi kesehatannya, teman-teman Behzad merasa muak dan pergi meninggalkan Behzad sendiri di desa tersebut karena mereka yakin Malek tidak akan mati, dan tidak ada gunanya mereka berlama-lama di desa karena tidak ada gambar yang akan diambil. Akan tetapi beberapa saat setelah itu, terdengar kabar bahwa si Malek meninggal dunia. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar