Label

Tampilkan postingan dengan label Arsip Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsip Sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2021

Puisi-puisi Sulaiman Djaya tentang Jakarta

 

DI HALTE

 

Di halte aku memandangi ragam rupa

Lalulalang, orang-orang yang menunggu, juga rasa bosan.

Hujan yang reda tak membuat kaca-kaca

Jadi gambar senja. Lampu-lampu jalan mulai menyala

Tapi kota-kota dibangun dari lupa.

 

Tak kudapatkan burung-burung di cakrawala

Diantara gedung-gedung bertingkat

Yang kubayangkan seperti mainan masa kanak.

Hanya langit yang tampak gelap

Dan aroma karbondioksida.

 

Ke seberang jalan kulihat penyanyi jalanan

Asik berdendang di barisan kemacetan.

Hanya samar-samar kudengar

Ia memainkan senar-senar gitar

Dengan riang, dan lalu menghilang.

 

(Jakarta 2002)

 

DI SEBUAH SORE

 

Lewat sebuah kaca,

senja kulihat duduk menatapmu.

Orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka,

sebagian telah beranjak pulang

dengan keresahan yang tak mereka ungkapkan.

 

Sayangku, katakan apa yang ingin kaukatakan

sebelum malam datang

dan kau jadi lupa

pada semua yang kelak tinggal.

 

Kota masih menyisakan sudut-sudut yang sama,

dan tepikir sejenak

kulangkahkan kakiku ke tempat

di mana kau pernah teramat jatuh cinta

pada selembar garis cahaya

antara langit sore hari

dan atap gedung-gedung bertingkat.

 

Seakan aku membayangkan

ingatan menuju menuju rumahmu dipenuhi burung-burung senja

dengan keheningan yang menggoda

seperti sebelum-sebelumnya.

 

Terduduk sendiri di ruang ini

di antara kertas-kertas

dan sebaris detak jam dinding,

aku memikirkan sebuah kalimat puisi

seperti sepasukan gerimisku tadi malam.

 

(Jakarta 2011)

 

Sumber: Tuah Tara No Ate: Bunga Rampai Cerpen dan Puisi Temu Sastrawan Indonesia Ke-4 di Ternate 25-29 Ontober 2011, Ummu Press h. 458.

 

DI KOTA TUA JAKARTA

 

Kota ini sebuah riwayat

Para saudagar dan syahbandar

Di hiruk-pikuk dan lalu-lalang bandar

Dari sejak Taruma

Hingga masa Hindia Belanda.

 

Tugu dan gedung-gedung tua

Adalah kisah penaklukan

Juga pemberontakan

Atas nama agama

Dan komoditas dagang.

 

Aku dan perempuan Eropa-ku

Singgah di Café Batavia

Dan aku hanya bisa tertawa

Saat ia melantunkan selagu jazz lama

Tentang kesepian dan cinta.

 

“Fly me to the moon……

Let me play among the stars…..”

Tapi yang kubayangkan

Adalah kepak para unggas

Di atas gugusan ranca

 

Sebelum noni-noni Belanda

Menyebutnya Batavia.

Di Sunda Kelapa,

Orang-orang dari ragam suku dan bangsa

Sibuk dengan pekerjaan mereka

 

Dan tentu saja tak ada lagi Fatahillah

Atau Pengeran Jayakarta

Meski nama mereka masih terbaca

Sekedar artefak di museum tua

Sebagaimana halnya benda-benda

 

Dan bangunan-bangunan lama

Yang kusam dan berkarat

Oleh waktu. Kota ini adalah riwayat

Banyak bangsa. Seperti perempuan Eropa-ku

Yang datang karena kisahnya.

 

(Jakarta 2011-Serang 2019)

 

Sumber: Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, halaman 159.

 

KWATRIN JAKARTA

 

Dari titik sebuah trotoar, ketika warna hitam

sudah sedemikian akrab, setiang lampu di taman jalan

memang lebih indah dibanding tugu.

Tak ada ujung atau tanjung

 

ketika hatiku ingin sejenak berlabuh.

Atau langkah-langkah hijrah sepasukan kijang

ketika aku hanya ingin sekedar membayangkan

kau asyik menerka tokoh utama sebuah cerita

 

yang hanya ada dalam lipatan sampul anggun.

Tetapi dulu, barangkali, di kota ini,

ada saat ketika bebek-bebek liar

tak sanggup menawan arah pancaroba

 

di kubangan-kubangan ranca, antara Krukut

dan langit berkabut Kebayoran Lama.

Barangkali dulu, di kota ini, nasib pun

serupa gerimis, atau semisal cahaya matahari

 

yang menjelma seperti api senjahari.

Lumut, juga daun-daun, mungkin bertafakkur,

dihembuskan mulut-mulut tahun

semisal mendung yang cemburu pada rambutmu.

 

(2011)

 

Sumber: Koran Tempo, 17 Maret 2013

 


Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak,  Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, Majalah Sastra Kalimas, basabasi.co, langgar.co, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

Kamis, 30 Juni 2016

La Ronde –Puisi Sitor Situmorang




I
Senandung lupa pertemuan malam
Dengan dirinya, memisah di kamar
Meninggi musim hingga salju
Jatuh, hingga bertambah lapar

Dua kisah tak bertubuh
Rasuk-merasuk bau kehadirannya
"Sekira mati begini," bisik gelap
Di puncak nikmat, hingga ke subuh

Terbaring di dada malam. "Milikku seluruh,"
erang detik mengalir dalam ciuman,
kegemasan bibir meraba waktu
memadat jadi tubuh perempuan.

Meninggi musim hingga ke subuh
Jendela dibuka melihat salju jatuh

II
Adakah yang lebih indah
dari bibir padat merekah?
Adakah yang lebih manis
Dari gelap dibayang alis?

Di keningnya pelukis ragu:
Mencium atau menyelimuti bahu?
Tapi rambutnya menuntun tangan
Hingga pinggulnya, penuh saran

Lalu paha, pualam pahatan
Mendukung lengkung perut.
Berkisar di pusar, lalu surut
Agak ke bawah, ke pusat segala.

Hitam pekat, siap menerima.
Dugaan indah.

Ah, dada yang lembut menekan hati
Terimalah
kematangan mimpi lelaki!

III
Kau dewiku, penghibur malam hampa
Segala perbuatan siang yang sia-sia
Kebosanan abadi jadilah lupa
Dan badan hancur nikmat terasa!

Di matamu api ingin tak puas
Membakar tulang, hingga ke sumsum diperas.
Kuserahkan pada binatang malam hari,
Nafsumu, semakin buas dan menjadi.

Adakah candi pedupaan lebih mulia
Dari kesucian pualam tubuhmu?
Adakah lebih pemurah dari pangkuanmu
Dan panas rahmat dirangkul mulut dosa?

Padamu seluruh setia dan sembah
Sajak penyair dan mimpi indah!
Kelupaan sesaat, terlalu nikmat
Pada siksa ingin semakin melumat.

1955
Ilustrasi: Lukisan Sitor Situmorang karya Affandi 1976, oil on canvas, 60 x 48 cm.

Jumat, 27 Mei 2016

Jika Kematian Sedingin Ciuman





Puisi Sulaiman Djaya

Di seruangku yang dingin dan biasa ini, jarum jam telah lama
menjauh dari angka tujuh. Lampu dan buku-buku
seakan tengah merenungi bayang-bayang wajahku.
Jika maut yang kau-bayangkan sedingin ciuman
dan kabut yang kaupandang adalah gairah yang terpendam,

aku akan tergoda menulis sebuah sajak tentang malam
yang begitu panjang di jalan-jalan kota yang kau-khayalkan.
Aku akan tergoda membayangkan dunia seperti
segerbong kereta yang lengang. Dengan hujan yang lambat
dan angin yang tersendat di antara jendela-jendelanya.

Dan hasratku-hasratmu saling menabung bisu
di dua matamu-mataku. Begitu dingin malam di seruang bacaku
yang mungil dan biasa ini. Dengan selampu kamar yang patuh
menghangatkan setiap huruf sajak-sajakku.
Aku tergoda dan tak kuasa membayangkan kau dan aku

sebagai dua bidak yang kasmaran dan sama-sama terbius malam.
Kegelapan memintal waktunya sendiri, waktu yang memandang
dan terlelap di antara jalan-jalan dan gerimis yang menyelam
antara keheningan dan gerak samar dedaunan,
waktu yang adalah engkau, perempuanku.

(Jakarta 2011).

Sumber: Tuah Tara No Ate:
Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastrawan IV (2011),
UMMU Press. Hal. 459.