Label

Sabtu, 28 Maret 2015

Puisi-Puisi Wislawa Szymborska




Tak Ada Yang Dua Kali

Tak ada yang pernah terjadi dua kali
semua itu karena, kenyataan
bahwa kita hidup seadanya saja
kemudian meninggal tanpa kesempatan berbenah

Bahkan jika tak ada seorang bodoh
dan kemudian kamu menjadi orang paling bodoh di planet ini
kau tak akan pernah mengulang kelas di musim panas
kelas ini hanya sekali saja

Hari ini tak pernah disalin dari hari kemarin
tak ada dua malam yang akan mengajarkan kebahagiaan
di cara yang persis sama
juga dengan ciuman yang benar-benar sama

Suatu hari, mungkin, sejumlah lidah bermalasan
menyebut nama-nama dengan tak sengaja
lalu aku serasa bunga mawar yang dilemparkan
dalam ruangan, seluruh aroma dan warna

Di hari selanjutnya, meski kau bersamaku
aku tak bisa membantumu melihat jam
Setangkai mawar? Setangkai mawar? Akan jadi apa?
Apakah bunga atau sebuah batu?

Mengapa kita memperlakukan hari sekilas
dengan begitu banyak ketakutan yang tidak perlu dan kesedihan?
Ada dalam sifatnya tidak tetap:
Hari ini selalu pergi besok.

Dengan senyum dan ciuman, kita lebih senang
untuk mencari kesepakatan di bawah bintang kita,
meskipun kita berbeda kemudian setuju
seperti dua tetes air.


Laporan dari Rumah Sakit

Kami bertanding untuk menggambar banyak hal: siapa yang akan mengunjunginya.
Dan aku kalah. Aku bangkit dari meja kami.
Jam besuk baru saja akan dimulai.

Ketika aku menyapa dia tidak mengatakan sepatah kata pun.
Aku mencoba untuk mengambil tangannya - ia menariknya kembali
seperti anjing lapar yang tidak ingin melepas tulangnya.

Dia tampak malu tentang kematian.
Apa yang kau akan katakan kepada orang seperti itu?
Mata kita pernah bertemu, dalam sebuah foto yang palsu.

Dia tidak peduli apakah aku tinggal atau pergi.
Dia tidak bertanya tentang siapa pun dari meja kami.
Bukan kau, Barry. Atau kau, Larry. Atau kau, Harry.

Kepalaku mulai terasa sakit. Siapa yang sekarat pada siapa?
Aku mulai pergi menemukan obat modern dan tiga bunga violet dalam stoples.
Aku berbicara tentang matahari dan kemudian padam.

Ini adalah hal yang baik mereka memiliki tangga untuk sebuah pelarian
Ini adalah hal yang baik mereka memiliki gerbang untuk membiarkanmu keluar.
Ini adalah hal yang baik kalian sedang menunggu di meja kami.

aroma rumah sakit membuat aku merasa sakit.


Diterjemahkan oleh Wawan Kurn dari Versi Ingris "Nothing Twice" (Puisi-puisi Wislawa Szymborska) oleh Stanislaw Baranczak dan Clare Cavanagh.



Jumat, 27 Maret 2015

Dickinson, Holderlin, dan Akutagawa




Tak Pernah Kulihat Padang
(Puisi karya Emily Dickinson)

Tak pernah kulihat padang,
Tak pernah kulihat lautan,
Namun kukenal pucuk gelinggang
Dan tahu makna gelombang.

Tak pernah kusapa Tuhan,
Maupun berkunjung ke surga
Namun tempatnya kudapat pastikan,
Seakan tertera di peta.




Dahulu dan Sekarang
(Puisi karya Friedrich Holderlin)

Di masa mudaku, aku girang di pagi hari,
Malamnya aku menangis; kini, kala agak tua,
Dengan bimbang hariku kumulai, tapi
Kudus dan bersemangat bagiku akhirnya.



Nukilan dari Kappa
(Puisi karya Ryunosuke Akutagawa)

Di semak bunga-bunga, di antara rumpun bambu,
Sang Budha tertidur lelap.

Dengan pohon ara yang layu di tepi jalan,
Kristus, juga telah mati.

Tapi kita semua perlu beristirahat -
Meskipun di depan panggung.

Ketika kalian melihat di belakang panggung
Kalian hanya akan menemukan kanvas

yang compang-camping. 


Kau Datang Padaku, Tiga Puisi dari Eropa




Di Dalam Telur (Puisi GUNTER GRASS)

Kita hidup di dalam telur.
Sebelah dalam dari kulitnya
kita coreti dengan gambar-gambar cabul
dan nama depan musuh-musuh kita.

Kita sedang dikeram.
Siapa pun yang mengeram kita,
pinsil kita pun dikeram olehnya.
Nanti kalau suatu hari kita menetas,
kita langsung akan mereka
gambaran si pengeram.

Kita menduga, kita sedang dikeram.
Kita membayangkan seekor unggas yang ramah
dan menulis karangan sekolah
tentang warna dan jenis
ayam betina yang sedang mengeram kita.

Kapan kita akan menetas?
Nabi-nabi kita dalam telur
bertengkar dengan mendapat upah yang sedangan
tentang lamanya waktu pengeraman.
Mereka menduga adanya satu hari X.

Karena bosan dan karena keperluan yang sungguh
kita nemukan kotak pengeraman.

Kita berusaha sungguh untuk generasi penerus dalam telur.
Dengan senang hati kita akan nawarkan paten kita itu
kepada dia yang ngawasi kita.

Tapi kita miliki atap di atas kepala.
Kita –anak unggas yang pikun,
embrio-embrio dengan pengetahuan bahasa
yang berbicara sepanjang hari
dan bahkan bicarakan mimpi-mimpinya.

Dan seandainya kita tidak dikeram?
Seandainya kulit ini takkan pecah?
Seandainya horison kita hanya horison
coretan kita dan keadaan itu tetap sama?

Kita mengharap bahwa kita dikeram.
Walaupun kita bicara tentang pengeraman itu saja,
toh patut ditakuti, bahwa seorang
di luar kulit telur kita merasa lapar,
memasukkan kita dalam panci dan menambah garam.-
Apa yang lalu akan kita lakukan, saudara-saudara dalam telur?

Sumber: "Kau Datang Padaku (Antologi PUISI JERMAN Abad Ke-20)"


POHON RINDANG (Puisi Seamus Heaney)

Dia takkan pernah bangkit lagi tetapi dia siap.
Mengawali serupa dicerminkan pagi,
Dia menatap ke luar jendela besar, ajaib
Tak peduli hari cerah atau mendung.

Mengintai dari lantai atas ke seluruh negeri.
Terutama truk-truk susu, terutama asap, gumpalannya, pohon
Di kelembaban yang meruah di atas pagar-pagar tanaman
Dia melakukannya sendiri, dia seperti prajurit jaga

Terlupakan dan tak bisa mengingat
Alasan-alasan dan sebab-sebab mengapa dia pergi dari kekayaan lingkungannya,
Beranjak mengendurkan posisi penjagaannya,
Terlepas bagai debur gelombang.

Sejalan kepalanya terang oleh cahaya, tangan kurus keringnya
Meraba-raba dengan putus asa dan mendapati bayangan dahan
Pohon rindang dalam genggamannya, yang mengukuhkannya.
Sekarang dia telah menemukan yang dirabanya dia dapat memijak buminya

Atau memiliki tongkat kayu seperti dahan perak dan
Melangkah lagi di antara kami: juri yang menghargai
(Telah menghempaskan lelaki yang lebih baik terlindung
Dari pagar tanaman)
Tuhan mungkin berpikiran sama, mengingat Adam.


PADA SEPOI MALAM  (Puisi T.S. Eliot)

Pukul dua belas, tepat.
Sepanjang rengkuhan jalan
Bertahan pada sintesa bulan,
Bisik mantra-mantra bulan
Mengabur lantai kenangan
Dan segala relasi jelas kini,
Segala memisah, mempertegas diri,
Setiap lelampu jalan yang kulintas
Berdentum bagai tambur kematian,
Tengah malam menyentak lepas kenangan
Bagai lelaki marah mencabut kering geranium.

30 menit dari pukul satu,
Lelampu jalan memercik
Lelampu jalan berkata,
"Beri hormat itu perempuan
Yang menggamangkanmu ke sinar pintu itu
pintu yang membuka padanya seperti seringai.
Kau lihat, ujung gaunnya
koyak berlumur pasir
dan kau lihat sudut matanya
mengerling bagai lencana yang dipakai miring.

Kenangan melambung, tinggi dan kering
Kerumun dari yang terpintal-terjalin
Jalinan cecabang di senarai pantai
Terasa hambar dan berkilau
Seperti yang dunia serahkan
Rahasia tulang kerangka
putih dan keras
Selingkar pegas di halaman pabrik
Karat yang merekat, tak lagi ada kuat
Keras melengkung, siap didentang-dentang.

Aku melihat ada kosong di lorong mata bocah itu.
Aku sudah melihat mata di jalan itu
Menatap tajam menembus benderang jendela,
Dan seekor ketam, satu sore, di genang kolam,
Seekor ketam tua, kepah di punggungnya,
Mencengkeram ujung tongkat yang kugenggam.

Pukul tiga, tiga puluh menit,
Lelampu memercik,
Lelampu memberengut dalam gelap.

Lelampu yang bergumam:
"Beri hormat bulan itu,
La lune ne garde aucune rancune,
Bulan mengerdip, matanya redup,
Bulan tersenyum, ke pencil sudut-sudut.
Bulan mengelus lembut rambut-rambut rumput.
Bulan yang telah kehilangan kenangan.
Parut cacar mengacau wajah bulan,
Tangan bulan menata mawar kertas,
yang menebar aroma debu dan Cologne apak,
Bulan sendiri, dengan seluruh aroma malam
Yang saling bersilang di sisi seberang pikir bulan.
Kenangan pun tiba-tiba tiba
Dari Geranium yang kering di teduh matahari,
Dan menabur di celah karang,
Aroma chesnut menebar di jalan-jalan
Dan aroma perempuan di kedap ruang
Dan sengak rokok di koridor
Dan uap koktail di bar."

Lelampu berkata,
"Pukul empat,
Inilah nomor pintu itu,
Kenangan!
Engkau punya kuncinya,
Lampu kecil menebar lingkar sinar di tangga,
Menaik.
Ranjang membuka; sikat gigi menggantung di dinding,
Lepaskan sepatu di depan pintu, tidurlah,
bersiap untuk hidup esok lagi."

Hunus terakhir sang pisau.

Jumat, 20 Maret 2015

Sulaiman Djaya dan Dinamika Kesusastraan



Oleh M. Rois Rinaldi (Penyair)

Kerja-kerja sastra sangat menguras pikiran, tenaga, dan waktu. Karena dituntut mengerahkan kecerdasan emosional, kedalaman bathin, dan keluasan berpikir dalam setiap karya, bahkan dalam setiap tindakan –meski tak dapat dipastikan bahwa semua penyair demikian. Sementara di sisi lain, paling tidak hingga tulisan ini ditulis, kesusastraan (khususnya puisi) masih di-anak tirikan, di mana toko-toko buku tidak begitu saja menerima antologi puisi, syarat dan ketentuan yang diajukan dibuat berat dan bertele-tele.

Jika pun ada buku puisi yang tersebar di toko-toko buku, sebatas kata-kata cinta ala anak-anak remaja (ABG). Hal semacam itu memang aneh sekaligus tidak aneh, karena manusia di jaman sekarang orientasinya selalu keuntungan, maka yang diprioritaskan kehendak pasar, kualitas menjadi nomor keseratus.

Kenyataan yang dihadapi sastrawan seperti buah simalakama: mengerahkan seluruh hidupnya dalam kesusastraan yang minus pendapatan material atau gantung pena, lalu memilih profesi lain yang lebih menghasilkan. Dilatarbelakangi oleh pangsa pasar pula, membuat beberapa sastrawan berpindah-pindah genre, seperti Motinggo Busye. Novel-novelnya laku keras seperti kacang goreng di area layar tancap. Belum lagi sastrawan dihadapkan pada kemalasan guru-guru bahasa yang tidak berusaha mencari dan menemukan data baru mengenai sastrawan yang hari ini berkarya.

Sebetulnya perkara-perkara semacam itu tidak akan membuat sastrawan sejati tumbang. Karena bagi sastrawan yang bebas jiwa dan badannya, keadaan tidak untuk diikuti, melainkan ditanggapi dengan matang dan tenang –toh kemenangan selalu di tangan orang-orang yang tenang. Berbeda dengan sastrawan yang tahunya soal-soal eksistensi dan selebritas kesusastraan, biasanya rapuh dan kalah oleh keadaan. Sepanjang waktu akan ditakut-takuti kegelisahan eksistensi, apalagi sampai tidak laku dan tidak menulis kemudian menjadi pilihan.

Sulaiman Djaya salah satunya –sastrawan ini selalu riang gembira dalam pelbagai kesempatan. Ia termasuk sastrawan yang produktif. Terakhir ia menerbitkan antologi puisinya yang berjudul Mazmur Musim Sunyi. Sastrawan yang lebih pas disebut penyair ini, selain menulis puisi dan esai sastra, juga kerap menulis tentang kajian-kajian kebudayaan. Sehingga belakangan ia juga disebut budayawan. Tetapi sekali lagi, ia lebih pas disebut penyair. Puisi-puisinya memiliki warna airmuka yang begitu dekat kaitannya dengan “hakikat kehidupan”. Jika sekilas dibaca, puisi-puisinya seperti puisi cinta biasa, akan tetapi jika diselami lebih dalam, ada warna “teologis”, semisal yang bercitarasa sufistik.

Begitulah sekilas tentang Sulaiman Djaya dan karya-karyanya. Seperti kata pepatah: “Tak kenal maka tak sayang” melihat konsistensinya di dunia kesusastraan. Menyoal proses kreatif, sastrawan ini kerap memberikan “wejangan” kepada penyair-penyair muda untuk membaca dan memahami al Qur’an –karena di dalam al Qur’an aspek-aspek kesastraan begitu paripurna. Begitulah obrolan ringan mengenai kesusastraan bersama Sulaiman Djaya sambil ngopi dan makan ubi rebus.

Disadur dari Tabloid Ruang Rekonstruksi Edisi Desember 2013. 


Kamis, 19 Maret 2015

Kisah Nyi Randa


Lampu-lampu sebuah pabrik kertas, karena tampak berkerlap-kerlip dan berkerumun, lebih mirip sebuah kota kecil yang tak pernah tertidur. Dan memang sudah hampir tengah malam ketika pintu ruang bacaku masih terbuka. Juga, meski cukup jauh, suara-suara mesin pabrik kertas itu seolah datang dari setapak pematang di belakang rumah.

Tak terasa, aku sudah bertahun-tahun hidup di dunia yang tak lagi sama seperti ketika aku masih kanak-kanak. Memang, sesuatu acapkali telah berubah secara pelan-pelan ketika kita tak sedang memikirkannya, atau ketika kita, entah sengaja atau tidak sengaja, tak menyadarinya. Sementara, malam tetap lengang seperti biasanya, tak ada bising atau keriuhan selain suara-suara katak dan serangga.

Namun, ketika aku masih kanak-kanak, tempat yang kini menjadi kawasan pabrik kertas itu adalah sejumlah rawa-rawa dan hutan belukar yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular dan binatang-binatang lainnya. Di tempat itu pula, dulu sering kulihat gerombolan-gerombolan bermacam-macam burung dan unggas yang singgah atau kembali terbang.

Aku baru terbangun dari tidur sebelum aku membuka pintu dan memandangi lampu-lampu pabrik kertas itu, dan karenanya aku sengaja menahan dingin angin selepas hujan. Sedangkan di antara atau di sekitar lintasan-lintasan pematang dan hamparan sawah-sawah, gelap terasa kental dengan kebisuannya yang menyerupai kiasan maut yang tengah terlelap karena cuaca lembab.

Tetapi, ingatanku tentang masa silam, muncul ketika kupandangi barisan angka-angka pada kalender yang terpampang dan berdiri di atas meja bacaku, di antara beberapa buku, jurnal dan majalah yang terhampar dengan tenang, juga seperti kematian dan masa silam. Masa-masa yang bagiku seperti lorong-lorong keheningan yang panjang.

Ketika itu aku harus berjalan kaki dengan menempuh jarak beberapa kilometer untuk bisa sampai ke sekolah menengah pertama. Atau menumpang mobil-mobil truk pengangkut pasir dan batubata yang jarang ada, kecuali di hari-hari tertentu saja. Pernah juga aku harus berteduh di sepohon rindang di tengah perjalanan pulang dari sekolahku menuju rumah karena hujan lebat yang turun tiba-tiba.

Itulah ketakutan pertamaku berada dalam kegelapan dan guyuran hujan di antara barisan pohon-pohon rindang sepanjang jalan dan sungai, yang karena keheningannya, lebih mirip terowongan panjang di waktu malam. Tetapi kini, sungai telah memiliki dinding-dinding batu dan pohon-pohon rindang sepanjang jalan telah digantikan barisan tiang-tiang beton, bersamaan dengan hadirnya pabrik kertas dengan dua cerobong asap raksasanya.

Tetapi, sebelum pabrik kertas itu dapat hadir dengan megah seperti sekarang ini, ada sebuah cerita tentang Nyi Randa, yang kemudian menjadi nama tempat yang kini telah digantikan pabrik kertas itu, yaitu Tegal Nyi Randa. Dan ketika pabrik kertas mulai dibangun di tegal itu, orang-orang bercerita tentang sepohon besar yang berdiri kokoh kembali keesokan harinya setelah dirobohkan.

Pohon besar itulah yang oleh orang-orang dipercaya sebagai jelmaan Nyi Randa bertahun-tahun kemudian setelah ia melarikan diri ke rawa-rawa dan gugusan hutan belukar ketika seorang jawara membunuh suaminya tak lama setelah dilangsungkan resepsi pernikahan Nyi Randa dan suaminya yang terbunuh itu. Sebab, setelah kejadian itu, seperti cerita orang-orang di sekitar sungai Ciujung, Nyi Randa tak lagi ditemukan.

Mendapati pohon besar yang telah dirobohkan dengan menggunakan alat berat itu berdiri kokoh kembali keesokan harinya, pihak perusahaan pun merobohkan lagi pohon besar itu. Tetapi hasilnya tetap sama, pohon besar itu kembali berdiri seperti semula.

Kejadian itu pun segera menyebar luas di masyarakat, dan memunculkan dua pendapat: pihak perusahaan tetap ngotot untuk melenyapkan pohon tersebut, sementara sebagian masyarakat menginginkan agar pohon besar tetap ada di tempatnya seperti telah bertahun-tahun ada. Butuh waktu berhari-hari bagi pihak perusahaan untuk mewujudkan keinginan mereka sebelum akhirnya mereka berhasil membayar para dukun dan beberapa orang untuk melenyapkan pohon besar tersebut dengan bayaran yang cukup besar bagi orang-orang yang tak memiliki pekerjaan resmi.

Namun ceritanya tak hanya sampai di situ saja. Beberapa hari setelah pohon besar itu berhasil dilenyapkan, pihak perusahaan dikagetkan dengan banyaknya kehadiran ular-ular yang datang tiba-tiba entah dari mana ke setiap sudut dan tempat di kawasan pabrik kertas yang sedang dibangun itu, hingga beberapa pekerja pun meninggal karena serangan ular-ular tersebut. Sementara, di waktu malam, para pekerja seolah selalu mendengar suara seorang perempuan tengah bersenandung dan beberapa pekerja terjatuh dari konstruksi bangunan karena efek teror nyanyian gaib tersebut.

Dan seperti pada kejadian-kejadian sebelumnya, orang-orang pun mempercayai bahwa perempuan yang selalu bersenandung di waktu malam itu adalah Nyi Randa yang tengah merana dan merasakan kesepian karena telah terusir untuk kedua kalinya. Aku jadi teringat kembali tentang kisah Nyi Randa itu ketika kupandangi lampu-lampu pabrik kertas, yang dulunya adalah rawa-rawa dan habitat para unggas, burung-burung, dan binatang-binatang Tuhan lainnya.

Sejumlah burung-burung dan para unggas, yang ketika terbang melintasi cakrawala pagi atau senja, membuatku membayangkan diri ingin seperti mereka yang dapat pergi dan terbang kapan saja.

Hak cipta © Sulaiman Djaya (2008)