Pandangan penyair Sulaiman Djaya tentang pementasan Tebah, Tabah, Tabuh karya Imaf M. Liwa.
Label
- Arsip Sajak (67)
- Book Review (18)
- Galeri (21)
- Inspirasi (6)
- Khazanah (67)
- Kronik Sastra (18)
- Prosa (11)
Tampilkan postingan dengan label Galeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galeri. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Februari 2021
Senin, 25 Juli 2016
Pentas Sastra Siswa
Tumbuhkan Apresiasi Sastra,
SMAN 2 Gelar Pentas Sastra: Courtesy: http://www.bantennews.co.id/tumbuhkan-apresiasi-sastra-sman-2-gelar-pentas-sastra
SERANG – SMA Negeri 2
Kota Serang menggelar acara Pentas Sastra, Sabtu (23/7/2016). Acara ini
merupakan hasil pelatihan Bengkel Sastra yang dimotori oleh Komunitas Perubahan
Budaya (Kubah Budaya) selama tiga bulan lalu. Pentas siswa kali ini antara lain
diisi dengan pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pembacaan cerpen dan
sebagainya. Karya yang dibacakan merupakan hasil karya siswa setelah mengikuti
rangkaian kegiatan Bengkel Puisi. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Iis
Mugisah menyambut baik kegiatan tersebut. Namun demikian, Iis mengakui,
antusiasme siswa di sekolahnya masih lemah terhadap sastra.
“Pada saat kegiatan ini siswa tidak mengikuti
dengan keseriusan, makanya ada yang ikut ada juga yang tidak ikut. Setiap
pertemuan menyusut. Awalnya banyak siswa sampai tersisa tujuh orang,” kata Iis
sebelum pentas dimulai di Aula SMA Negeri 2 Kota Serang, Sabtu (23/7/2016). Iis
berharap, kedepan kegiatan ini bisa diikuti oleh banyak peserta di sekolahnya.
Hal senada disampaikan oleh Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten Muhammad Lutfi
Baihaqi. Lutfi mengatakan minat siswa terhadap karya sastra masih dinilai
rendah. Ini dapat dilihat dari minat baca siswa terhadap karya sastra.
Akibatnya, kemampuan menulis siswa menjadi tumpul karena tidak diasah secara
berkala.
“Berapa karya sastra yang sudah dibaca
adik-adik? Kita prihatin dengan kondisi (keterbacaan) ini,” kata Kepala Kantor
Bahasa Banten Muhammad Lutfi Baihaqi. Untuk menumbuhkan minat dalam apresiasi
sastra, lanjut Lutfi, Kantor Bahasa Provinsi Banten memfasilitasi siswa untuk
mengikuti acara Bengkel Sastra. Selain itu Kantor Bahasa Banten juga
menyediakan ruang seperti Majalah Kandaga. Sebuah majalah sastra yang terbit per
empat bulan. “Di dalamnya, bisa menampung karya siswa. Jadi silahkan bagi siswa
untuk mengirimkan karyanya. Kami berharap hasil pentas ini siswa mencintai
sastra dan menghargai sastra,” tuturnya.
Ditegaskan oleh Lutfi, bahwa bangsa yang besar
adalah bangsa yang menghargai sastra. “Kita ingin apresiasi siswa tetap
tinggi,” kata dia. Pelaksana Kegiatan Dody Kristianto menjelaskan bahwa
kegiatan tersebut untuk mengasah kemampuan siswa dalam menulis sastra. Diantara
siswa yang mengikuti program ini sudah menelurkan karya sastra yang dimuat di
media lokal Banten. “Sudah ada juga yang dimuat di Banten Muda. Terlihat bahwa
sekolah ini punya prestasi. Selama siswa punya kemauan, mereka punya kemampuan
untuk berkarya,” kata Dody. (You/Red)
Kamis, 28 April 2016
Dari Sejarah Hingga Mitologi Maritim
Puisi-puisi yang termuat
dalam buku ini menghadirkan keunikan masing-masing dan mendadarkan keragamaan
naratif dan gaya puitiknya sendiri, acapkali dengan nuansa lokalitas yang kuat,
yang datang dari segala penjuru Indonesia.
Namun, umumnya,
puisi-puisi tersebut menampilkan diri dan ‘menarasikan diri’ mereka kepada kami
(para kurator) seputar tema-tema dan muatan yang berkisar tentang ‘sejarah
maritim’ semisal puisi yang berjudul, Bila Roboh Tembok di Malaka, Papan di
Djawa Kami Tegakkan (Chairil Gibran Ramadhan) sembari berusaha menampilkan
lokalitas Betawi dengan kultur dan hikayatnya sendiri, isu-isu ekologi-bahari
seperti puisi yang berjudul Mengaji Kepada Ikan-Ikan, dan ‘mitologi maritim’
serta kehidupan orang-orang ‘maritim’ semisal puisi-puisi yang mengangkat dan
menarasikan kehidupan para nelayan seperti puisi yang berjudul Nelayan Pesisir,
tentu dengan kekhasan masing-masing sesuai konteks sosiologis, historis, dan
kulturalnya.
Nuansa lokalitas tentang
kehidupan maritim itu contohnya diwakili oleh sejumlah puisi yang ditulis oleh
para penulis dari Pulau Garam, Madura, sebagaimana yang mengangkat isu ekologi
bahari juga relatif cukup banyak, di mana sisanya adalah menarasikan
kemaritiman dalam konteks dan sudut pandang mitologi dan lokalitas yang dapat
kami contohkan dengan puisinya Ni Wayan Eka Pranita Dewi yang berjudul
Sarasvati.
Di luar itu, ada cukup
banyak puisi-puisi yang berkisah tentang laut atau lanskap maritim dalam
keterkaitannya dengan sentimentalitas dan pengalaman subjektif para penulisnya
yang bersifat romantis dan bernuansa liris. Yang juga terhitung cukup banyak
adalah puisi-puisi yang berusaha menggambarkan dan menarasikan kehidupan dan realitas
para nelayan serta orang-orang bahari, seperti tampak dalam puisi yang berjudul
Rokat Laut dan puisi yang berjudul Kidung Nelayan Kecil.
Dapat dikatakan,
puisi-puisi yang masuk dan yang kemudian terseleksi memang umumnya
menkontekskan diri mereka dengan lanskap dan konteks-dunia kemaritiman dan
mengait-ngaitkan ikhtiar naratifnya dengan isu-isu yang bersentuhan dan
memiliki keterkaitan dengan dunia bahari atau dengan dunia dan kehidupan
maritim, meski memang berusaha melihat dan menampilkannya dari sudut pandang
atau perspektif serta isu dan tema yang tidak sama, sesuai dengan selera dan
kekhasan-nya masing-masing para penulisnya, kendati kami dapati dari ratusan
puisi yang masuk tersebut, mayoritas memang memberi judul puisi-nya dengan
menyisipkan kata ‘Laut’ dan banyak yang menggunakan ‘Laut’ itu sendiri sebagai
judul, yang seakan-akan agar ‘sah’ atau dapat dianggap ‘sah’ dalam rangka
memenuhi tema besar yang diinginkan pihak Dewan Kesenian Banten (DKB).
Dari segi stilistika dan
bentuk naratif, puisi-puisi lirik cukup dominan, seperti puisi yang berjudul
Jacht Verleden (Dino Umahuk) dan puisi yang berjudul Pendatang dari Laut
(Herwan FR), meski ada sejumlah puisi berbentuk epik (epos dan hikayat) seperti
puisi yang berjudul Lemuria (Doddy Achmad Fawzi).
Perlu juga dikatakan di
sini, ada banyak puisi-puisi yang kuat dan memiliki aura yang mempesona yang
ditulis para penulis muda, seperti para penulis dari Madura, di saat
puisi-puisi yang kuat secara stilistik dan tematik masih dihadirkan oleh para
penulis yang telah memiliki jam terbang lama alias para penyair kawakan,
seperti Pranita Dewi, Wayan Jengki Sunarta, Marhalim Zaini, El Trip Ummiuki,
Doddy Achmad Fawzi, Herwan FR, Dino Umahuk, Sindu Putra, Chairil Gibran
Ramadhan, Isbedy Stiawan ZS, Dahta Gautama, Bambang Widiatmoko, Deddy Tri
Riyadi, Husnul Khuluqi, Mahwi Air Tawar, Sofyan RH. Zaid, Dian Hartati, Mugya
Syahreza Santosa, Alex R. Nainggolan dan yang lainnya.
Di sisi lain, bisa
dibilang kami juga cukup berbangga dengan banyaknya para penulis dan atau
penyair muda dan juga dengan kehadiran nama-nama baru (nama-nama yang
setidak-tidaknya terbilang 'baru' dalam gelanggang perpuisian Indonesia) saat
ini yang mampu memproduksi puisi-puisi yang segar dan memberikan harapan bagi
kemajuan dan perkembangan sastra Indonesia, utamanya bagi perkembangan
perpuisian Indonesia, seperti puisi-puisi yang ditampilkan oleh Marsten L.
Tarigan, Zulkifli Songyanan, A’yat Kholili, A.Warits Zafa, Abdillah Mubarak
Nurin, Ardian Je, Irwan Sofwan, Fajar Timur, Nita Nurhayati, Edward Maulana,
dan yang lainnya, meski haruslah kami katakan bahwa puisi-puisi mereka belum
dapat kami bilang sebagai karya-karya yang telah berhasil bersaing dengan para
penyair yang lebih senior dari mereka.
Tetapi, bagi kami tidaklah
cukup ruang untuk mengulas satu persatu puisi-puisi yang lolos seleksi,
terlebih ulasan itu sudah dihadirkan oleh Bapak Maman S. Mahayana. Namun
dapatlah kami katakan kekhasan puisi-puisi yang terpilih dalam Antologi
Gelombang Puisi Maritim ini rupa-rupanya menghadirkan keragaman khazanah yang
datang dari aneka konteks sosial-kultural Indonesia, seperti puisi-puisi pantun
Melayu, baik yang liris maupun yang mendadarkan ‘permainan bahasa’ semisal
puisi-puisi yang datang dari jazirah Sumatra, yang berusaha ‘memutakhirkan’ bentuk
dan bunyi naratifnya dengan perkembangan sastra Indonesia saat ini, semisal
puisinya Marhalim Zaini. Atau puisi-puisi yang datang dari Indonesia Timur yang
berusaha mengangkat dan menarasikan mitologi dan hikayat yang bernuansa
historis, seperti puisi yang berjudul Pelayaran yang Pernah Diwasiatkan Arung
Matoa Wajo ke La Maddukelleng dan puisi yang berjudul Lontarak I Babad La
Lagaligo.
Selebihnya, selain
puisi-puisi yang menyuarakan dan menarasikan seputar sejarah maritim, ekologi
bahari, kehidupan para nelayan atau orang-orang laut dan mitologi maritim,
entah yang bergaya epik atau bernuansa liris, adalah puisi-puisi ‘lirik
romantik’ yang ditulis dan disenandungkan dengan gaya naratif aku lirik yang
berkisah menyangkut pengalaman-pengalaman penyair dengan laut, pantai, dan
lanskap maritim, acapkali bernada sentimentil.
Dewan Kurator:
Toto ST Radik
Sulaiman Djaya
Wahyu Arya
M. R. Rinaldi
Senin, 15 Februari 2016
100 Puisi Terpilih Hasil Kurasi Antologi Gelombang Puisi Maritim DKB
Setelah memakan proses yang cukup lama dan
alot, akhirnya tim kurator yang terdiri dari Toto ST Radik, Sulaiman Djaya,
Wahyu Arya dan M. Rois Rinaldi merampungkan penyaringan 100 puisi dari 720
lebih puisi yang masuk ke Panitia Gelombang Puisi Maritim Dewan Kesenian Banten
(DKB). Dibutuhkan beberapa kali pertemuan yang dilakukan para kurator tersebut
sebelum akhirnya berhasil memilih 100 puisi terpilih dalam pertemuan terakhir
pada 13 Februari 2016 bertempat di Taman Budaya Banten.
Sebelum
menyaring 100 puisi tersebut, para kurator terlebih dahulu menyaring 200 puisi
dari total 720 puisi yang masuk ke meja panitia. Pada kurasi tahap awal kurator
yang terdiri dari Sulaiman Djaya, Wahyu Arya dan M. Rois Rinaldi telah
menyaring 720 puisi menjadi 200 puisi. Butuh waktu yang panjang yang dibutuhkan
kurator mengingat banyaknya puisi yang masuk kepada kami selaku panitia
Gelombang Puisi Maritim Dewan Kesenian Banten (DKB).
Pada
kurasi tahap kedua, kurator ditugasi kembali menyaring 200 puisi menjadi 100
puisi. Dari segi kuantitas memang ada penurunan yang cukup signifikan. Namun
hal itu tidak sepenuhnya tepat karena 200 puisi yang bertahan, menurut
pengakuan salah satu kurator, memiliki kekuatan dan gaya ucapnya masing-masing
yang cukup kuat. Maka kerja kurasi menyaring 200 puisi menjadi 100 puisi pun
tidak kalah panjang dan melelahkannya. Pada kurasi tahap kedua ini kami
menunjuk kurator dengan formasi Chavchay Syaifullah, Toto ST Radik dan Wahyu
Arya. Namun pada perkembangannya ada sedikit perubahan formasi. Karena kesibukan
yang tidak bisa dihindari, Chavchay Syaifullah akhirnya memutuskan untuk tidak
ambil bagian dalam proses kurasi. Akhirnya, kurasi pada tahap dua dikerjakan
secara bersama oleh Toto ST Radik, Sulaiman Djaya, Wahyu Arya dan M. Rois
Rinaldi.
Kurasi
tahap kedua ternyata memakan waktu yang bukan berarti meringankan kerja kurasi
karena 200 puisi tersebut mulai menampakkan estetika yang kuat dan beragam.
Panitia mulai kerepotan dengan puisi bertiti mangsa “Pulau Garam”, Sumetera,
Sulawesi, Bali dan lainnya. Tentu dibutuhkan pembacaan yang berulang-ulang,
rinci, dan mendalam oleh para kurator terhadap puisi rekan-rekan penyair
sekalian.
Perjalanan
proses kurasi seringkali berlangsung dengan adu argumen, perang pendapat dan
perdebatan yang alot. Panitia sengaja tidak menampilkan nama penulis dalam
naskah puisi yang mereka terima. Kami bermaksud agar kurator tidak terjebak
pada nama-nama besar. Harus kami tegaskan kepada sidang pembaca panitia selalu
menegaskan kepada kurator hal yang menjadi tolok ukur kerja kurasi ini, tidak
lain dari kekuatan puisi itu sendiri. Untuk pertanggungjawaban kurator secara
komprehensif akan disertakan dalam buku Gelombang Puisi Maritim ini.
Dengan
tahapan proses kurasi yang cukup panjang dan alot tersebut, para kurator telah
bekerja dan melakukan kurasi semaksimal mungkin dan seobjektif mungkin atas
sejumlah naskah puisi para peserta Gelombang Puisi Maritim Dewan Kesenian
Banten (DKB). Terlebih puisi-puisi yang masuk ke panitia datang dari segala
penjuru Indonesia dan mewakili setiap wilayah dan seluruh provinsi di
Indonesia. Maka dari itu, kami Panitia Antologi Gelombang Puisi Maritim dengan
berbahagia, menyampaikan hasil kurasi Gelombang Puisi Maritim DKB untuk Anda.
Ttd
Panitia
NO
NAMA PENGIRIM JUDUL PUISI DAERAH ASAL
1 A.Warits Zafa Hikayat Sebuah Laut Sumenep, Jatim
2 Abdillah Mubarak Nurin Di Laut Itu Kalimantan Selatan.
3 Abimardha Kurniawan Nelayan Pesisir Surabaya
4 Aldy Istanzia Wiguna Libur Orang Laut Jawa Barat
5 Alexander Robert Nainggolan Ujung Laut Jakarta
6 Al-Fian Dippahatang Pelayaran yang Pernah Diwasiatkan Arung Matoa Wajo ke La
Maddukelleng Bulukumba, Sulawesi Selatan
7 Andi Wahyu Praminta/Andi Magadhon Lalu Kau Seakan Menjelma Mercusuar di Laut
Itu Yogyakarta
8 Anna Lestari Dua Tanjung yang Purba Banten
9 Anwar Noeris Parangtritis 04:50 Yogyakarta
10 Ardian Je Empat Mozaik dari Laut Banten
11 Arif Hidayat Bersandar di Pelabuhan Purbalingga
12 Aslan Abidin Manuskrip Gadis Bertubuh Manis Makasar
13 A’yat Khalili Rokat Laut Sumenep, Madura
14 Baequni Moh. Haririe Berlabuh di Hatimu Cirebon
15 Bambang Widiatmoko Imbu Bekasi Timur
16 Boy Ardian Kidung Nelayan Kecil Jepara
17 Budhi Setyawan Tasbih Laut Bekasi Selatan
18 Budhi Wiryawan Lelaki Berkaki Pasir Jawa Tengah
19 Bunyamin Fasya Mantra Mau Berlayar Jawa Barat
20 Cahyadi Willy Pesan Singkat Bandung
21 Chairil Gibran Ramadhan Bila Roboh Tembok di Malaka, Papan di Djawa Kami
Tegakkan Jakarta Selatan
22 Dafrika Doni Tentang Laut yang Dirompak Sumatera Barat
23 Dahta Gautama Aku Menghadap Laut Wanasalam Bandar Lampung
24 Daru Sima Mengaji Kepada Ikan-ikan Cilacap
25 Daruz Armedian Boom, Dermaga Bagi Peristiwa Yogyakarta
26 Dedet Setiadi Pelancong Lada Magelang
27 Dedy Tri Riyadi Samudraraksa Jakarta
28 Dian Hardiana Di Pesisir Tanjung Lesung Jawa Barat
29 Dian Hartati Kekalahan Kapal Perang Dewaruci Bandung
30 Dian Rusdiana Hikayat Laut Bekasi, Jawa Barat
31 Dino Umahuk Jacht Verleden Maluku Utara
32 Doddi Ahmad Fauji Lemuria Bandung
33 Dody Kristianto Kami Berlaut di Sajakmu Banten
34 Eddie MNS Soemanto Rindu Ombak Padang
35 Eddy Pranata PNP Sajak Dari Kampung Laut*) Cilacap
36 Edi Purwanto Makna Laut Lampung
37 Edwar Maulana Aku Mencintaimu sebagai Laut Cianjur
38 Edy Firmansyah Dari Pantai Camplong Madura
39 Faiz Adittian Ahyar Sampan Moyang Purwekerto Barat
40 Fajar Timur Rapsodi Desember Banten
41 Fakhrizal Eka/FE Sutan Kayo Melaju Jambi
42 FN Indrianto Cerita Buat Su Jun Deng Yogyakarta
43 Gunta Wirawan Hikayat Lanun Kalimantan Barat
44 Hadi Sastra Ekspedisi Nusantara I Tangerang Selatan
45 Hasan Bisri BFC Pelayaran Jauh Bogor
46 Herwan FR Pendatang dari Laut Banten
47 Hudan Nur Meraba Laut Kalimantan Selatan
48 Humam S. Chudori Ketika Menatap Laut Lepas Banten
49 Husnul Khuluqi Tanjung Pasir Banyumas, Jateng
50 Imam Budiman Membaca Kitab Arkais Laut Kalimantan Selatan
51 Imam Ma’arif Kapten Jakarta
52 Iman Sembada Engkau Bertanya Serupa Apa Laut Jakarta
53 Irwan Sofwan Laut Banten
54 Isbedy Stiawan ZS Perjalanan Pelaut Lampung
55 Iwan Konawe Ketika Ama Turun ke Laut Sulawesi Tenggara
56 Jamil Massa Ke Pulau Motu’o Gorontalo
57 Jhon FS. Pane Kembali Pada Jalan Gelombang Kalimantan Selatan
58 Mukti Sutarman Espe Hikayat Jejak Kaki
59 Juhendri Chaniago Rantau Samudera Deli Serdang
60 Jumari HS Sebab Kudus
61 Kaka Yuni Rizky Falia Mandehku Padang
62 Karisma Fahmi Y Dongeng Dari Rahim Laut Surakarta
63 Kurnia Hidayati Obituari Dermaga Batang, Jawa Tengah
64 Lia Zainab Zee Lontarak I Babad La Lagaligo Makassar
65 Lubet Arga Tengah Doa Anak Laut Surabaya
66 Dasuki Zamzany Tepuk Tangan Banten
67 Mahwi Air Tawar Penyeberangan Yogyakarta
68 Marhalim Zaini Hikayat Orang Laut Pekan Baru
69 Marsten L. Tarigan Muncul Kapal Dari Balik Buku-buku Sumatera Utara
70 Matroni Muserang Menuju Pulau Seribu Ombak Sumenep, Madura
71 Mega Kahdina Mencari Seruni Surabaya
72 Micky Hidayat Tentang Laut Kalimantan Selatan
73 Mugya Syahreza Santosa Bagaimana Lautmu Mendidihkan Amarahku Bandung
74 Muhammad Asqalani eNeSTe Katakan Aku Ikan Sungai Pekanbaru
75 Ni Putu Rastiti Balaton Lake Hungaria Denpasar, Bali
76 Ni Wayan Eka Pranita Dewi SARASVATI Denpasar, Bali.
77 Nita Nurhayati Karangantu Banten
78 Nizar Ulumuddin Sajak Ikan Kepada Bapak Karawang
79 Novy Noorhayati Syahfida Ombakmu, Papuma* Jakarta
80 Qizink La Aziva Mengenang Cinta di Karangantu Banten
81 R. Abdul Azis Membubuhkan Nama Laut Bandung
82 Raedu Basha “Hikayat Negeri Sorga
: Pulau Garam” Sumenep, Madura
83 Robi Akbar Pahawang Bandar Lampung
84 Rofiki Alajar Sumenep, Jatim
85 Royyan Julian Yang Tak Lagi Berbantal Gelombang Berselimut Sakal Pamekasan
86 Seruni Unie Melankholia Laut Solo
87 Sigit Jaya Herlambang “Matamu: Kapal-Kapal yang Menolak Berlabuh
” Jakarta
88 Sindu Putra Imajinasi Sepanjang Penyeberangan di Selat Lombok NTB
89 Sofyan RH. Zaid Pulau Garam Bekasi
90 Steve Elu le mar Banten
91 Subaidi Pratama Laut Jiwaku Tlogomas, Malang
92 Sus S. Hardjono Pelayaran Hongi Sragen
93 Syarif Hidayatullah Bersampan di Laut Bulan Jakarta
94 Syihabul Hajj Surat Dari Urat Selat Jawa Barat
95 Tawakal M Iqbal Di Geladak Bogor
96 Trip Umiuki Jung Tangerang
97 Umi Kulsum Relief Perahu Bantul
98 Wahyu Heriyadi Hanyut Bersama Insang Bogor
99 Wayan Jengki Sunarta Pelabuhan Sunda Kelapa Denpasar, Bali
100 Zulkifli Songyanan Dua Kartu Pos dari Banda Neira Jawa Barat
Selasa, 04 Agustus 2015
Sayembara Manuskrip Buku Puisi
Komite Sastra Dewan
Kesenian Jakarta, tahun ini mengadakan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan
Kesenian Jakarta 2015. Sayembara ini diadakan untuk merangsang dan meningkatkan
kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan puisi. Berikut adalah
ketentuan-ketentuannya:
[1] KETENTUAN UMUM
Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan fotokopi KTP atau bukti identitas lainnya),
Naskah belum pernah diterbitkan dalam bentuk utuh sebagai buku, baik cetak maupun elektronik,
Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa,
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik,
Tema bebas,
Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya),
Naskah merupakan karya yang ditulis 10 tahun terakhir.
Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan fotokopi KTP atau bukti identitas lainnya),
Naskah belum pernah diterbitkan dalam bentuk utuh sebagai buku, baik cetak maupun elektronik,
Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa,
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik,
Tema bebas,
Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya),
Naskah merupakan karya yang ditulis 10 tahun terakhir.
[2] KETENTUAN KHUSUS
Menggunakan A4, spasi 1, bentuk huruf Times New Roman ukuran 12,
Naskah minimal 50 halaman,
Menyerahkan biodata, alamat surat, dan nomor kontak di lembar terpisah,
Empat salinan naskah dikirim ke:
Panitia Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya No. 73
Jakarta 10330
Batas akhir pengiriman naskah :7 November 2015 (cap pos).
Menggunakan A4, spasi 1, bentuk huruf Times New Roman ukuran 12,
Naskah minimal 50 halaman,
Menyerahkan biodata, alamat surat, dan nomor kontak di lembar terpisah,
Empat salinan naskah dikirim ke:
Panitia Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya No. 73
Jakarta 10330
Batas akhir pengiriman naskah :7 November 2015 (cap pos).
[3] LAIN – LAIN
Para pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugrah Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Desember 2015,
Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis,
Naskah pemenang yang diterbitkan menjadi buku harus mencantumkan logo DKJ dan keterangan bahwa penerbitan buku ini didukung oleh DKJ,
Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat,
Pajak ditanggung Dewan Kesenian Jakarta,
Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2013 – 2015 dan keluarga inti Dewan Juri,
Maklumat ini bisa diakses di www.dkj.or.id,
Dewan Juri terdiri dari sastrawan dan akademisi sastra.
Para pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugrah Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Desember 2015,
Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis,
Naskah pemenang yang diterbitkan menjadi buku harus mencantumkan logo DKJ dan keterangan bahwa penerbitan buku ini didukung oleh DKJ,
Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat,
Pajak ditanggung Dewan Kesenian Jakarta,
Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2013 – 2015 dan keluarga inti Dewan Juri,
Maklumat ini bisa diakses di www.dkj.or.id,
Dewan Juri terdiri dari sastrawan dan akademisi sastra.
[4] HADIAH
Pemenang I Rp. 15.000.000,-
Pemenang II Rp. 10.000.000,-
Pemenang III Rp. 7.000.000,-
Masing – masing pemenang mendapatkan subsidi sebesar Rp. 10.000.000,- untuk menerbitkan buku, subsidi ini diberikan kepada Penerbit.
Pemenang I Rp. 15.000.000,-
Pemenang II Rp. 10.000.000,-
Pemenang III Rp. 7.000.000,-
Masing – masing pemenang mendapatkan subsidi sebesar Rp. 10.000.000,- untuk menerbitkan buku, subsidi ini diberikan kepada Penerbit.
Kamis, 23 Juli 2015
Lomba Menulis Cerita Rakyat Berhadiah Puluhan Juta Rupiah
Sebagian
besar cerita rakyat di sekitar kita beredar secara lisan. Untuk
melestarikan cerita rakyat itu, kita bisa menuliskannya. Ada hadiah jutaan
rupiah untuk cerita terbaik jika dikirim ke ajang Lomba Penulisan Cerita
Rakyat Tahun 2015.
Lomba
Menulis Cerita Rakyat tersebut mengambil tema “Cerita Rakyat sebagai Wahana
Pembangunan Karakter Bangsa”. Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun
2015 diselenggarakan oleh Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi
Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Siapa saja boleh menulis kembali cerita rakyat yang bersumber pada cerita
rakyat Indonesia, baik dalam jenis mite, legenda, maupun dongeng.
Lomba Menulis Cerita
Rakyat ini dibagi dalam dua kategori, yakni:
1. Cerita
rakyat untuk anak
2. Cerita
rakyat untuk umum
Hadiah
Pemenang Lomba Menulis Cerita Rakyat baik untuk kategori cerita
rakyat untuk anak maupun cerita rakyat untuk umum yaitu:
Juara
I Rp. 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah),
Juara
II Rp. 20.000.000 (dua puluh juta rupiah),
Juara
III Rp. 15.000.000 (lima belas juta rupiah),
Harapan
I Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah),
Harapan
II Rp. 7.500.000 (tujuh juta lima ratus ribu rupiah),
Harapan
III Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah),
Hiburan
untuk 6 pemenang @Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah)
Ketentuan Umum:
1. Naskah
cerita Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tahun 2015 merupakan penulisan
kembali karya orisinal perorangan yang belum pernah dipublikasikan dan
bersumber pada cerita rakyat Indonesia.
2. Cerita
rakyat yang ditulis kembali diharapkan diambil dari cerita rakyat yang selama
ini belum banyak digali.
3. Setiap
peserta hanya dapat mengirimkan naskah 1(satu) judul.
4. Panjang
naskah terdiri atas 10.000–15.000 karakter (10–15 halaman) tanpa
gambar/ilustrasi.
5. Naskah
diketik di atas kertas A4, Times New Roman 12, spasi 1,5, margin kiri 4 cm,
kanan 3 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm.
6. Judul
cerita bebas dan sesuai dengan inti cerita dan tema lomba. Cerita tidak
mengandung SARA, pornografi, dan kekerasan.
7. Pendaftaran
lomba dimulai tanggal 10 Juni 2015 dan ditutup
tanggal 20 Agustus 2015 (stempel pos/jasa Kurir)
8. Naskah
yang dilombakan menjadi milik Direktorat Internalisasi Nilai dan
DiplomasiBudaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan serta hak cipta tetap pada pengarang.
9. Keputusan
juri tidak dapat diganggu gugat.
10. Naskah
dan fotokopi KTP/Kartu Pelajar peserta dikirim dalam bentuk softcopy ke alamat
emailkekayaanbudaya@gmail.com atau hardcopy ke alamat: Direktorat
Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Kompleks Kemdikbud Gedung E Lantai
10. Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat. Telepon: (021)
5725047/5725564.
Ketentuan Khusus:
1. Pajak
hadiah ditanggung pemenang
2. Dua belas finalis dari dua kategori diundang ke Jakarta
untuk wawancara
3. Karya 12 terbaik akan diterbitkan dalam Katalog Pemenang Lomba.
4. Tim Juri terdiri atas ahli dalam bidang tradisi lisan, akademisi, praktisi, media, dan bahasa.
3. Karya 12 terbaik akan diterbitkan dalam Katalog Pemenang Lomba.
4. Tim Juri terdiri atas ahli dalam bidang tradisi lisan, akademisi, praktisi, media, dan bahasa.
Tahapan Kegiatan dan Jadwal
|
1.
|
Publikasi Lomba
|
Mei – Juni 2015
|
|
2.
|
Pengiriman Naskah
|
Juni – Agustus 2015
|
|
3.
|
Seleksi Teknis
|
Agustus 2015
|
|
4.
|
Penilaian Naskah
|
September 2015
|
|
5.
|
Wawancara Finalis
|
Oktober 2015
|
|
6.
|
Pengumuman Pemenang dan Penyerahan Hadiah
|
Oktober 2015
|
Informasi
selanjutnya terkait publikasi dan formulir Lomba Menulis Cerita Rakyat Tahun
2015 dapat diunduh pada tautan berikut:
Langganan:
Postingan (Atom)


















