Label

Jumat, 22 Maret 2019

Masyarakat Madani dan Revolusi Damai (2) oleh Sulaiman Djaya


Elite-elite Negara bangsa ini bukanlah mereka yang menjalankan amanat dan pengamal falsafah serta ideologi Negara bangsa sendiri. Alih-alih mereka hanya menjadi ‘perpanjangan’ tangan dari ideologi-ideologi ekonomi-politik dan paham-paham imporan seperti neoliberalisme yang membuat Negara bangsa ini tak punya jatidiri dan menjadi pelayan oligarkhi dan korporasi global ketika menetapkan kebijakan-kebijakan neoliberal, seperti privatisasi aset-aset publik.

Negara bangsa ini merupakan geografi dengan jumlah penduduk terbesar, yang karenanya menjadi sasaran ‘konsumerisasi’ atau upaya menjadikan warga Negara ini hanya sebagai konsumen oleh perusahaan-perusahaan multinasional, yang pada saat bersamaan, sejumlah kebijakan pemerintah lebih berpihak kepada korporasi global bukannya kepada sektor-sektor yang digarap dan dikelola rakyat, seperti kebijakan yang pro-petani, nelayan, dan usaha-usaha rakyat kecil. Ekonom-ekonom dan intelektual-intelektual kita lebih merupakan para calo yang bekerja untuk kepentingan Amerika, contohnya.

Dalam hal itu, figur bangsa kita yang dapat dikatakan mengurangi dan mengerem peran ekonom dan intelektual calo yang lazim disebut Mafia Berkeley itu adalah KH. Abdurrahman Wahid, yang sayangnya peran mereka kembali menguat di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sekedar informasi bagi yang ahistoris, ekonom dan think tanks yang lazim disebut Mafia Berkeley itu mulai bekerja di negeri ini sejak Presiden Soekarno digusur oleh CIA-Amerika dan kekuatan TNI Angkatan Darat (TNI AD) yang loyal kepada Jenderal Soeharto dalam rangka menjadikan Soeharto sebagai presiden Indonesia dengan kompensasi menjadi presiden yang loyal kepada Amerika. Di era Soeharto pula-lah IMF dan World Bank mulai diijinkan memainkan perannya menjadi penentu kebijakan ekonomi Indonesia, di saat kehidupan sosial warga Negara ditekan dengan sejumlah peraturan, intimidasi hingga pembunuhan para aktivis dan pejuang HAM.

Sejak Soeharto berkuasa-lah para ekonom yang tergabung dalam organisasi tanpa bentuk itu memegang kendali ekonomi Indonesia sampai sekarang, dengan jeda sebentar, seperti telah dikatakan, ketika KH. Abdurrahman Wahid (almarahum Gus Dur) menjabat sebagai Presiden, di mana di era Gus Dur, pengaruh mereka tidak lagi semutlak sebelumnya, meski masih tetap besar melalui Dewan Ekonomi Nasional yang diketuai oleh Prof. Emil Salim dan Dr. Sri Mulyani Indrawati sebagai sekretarisnya, yang kemudian dibentuk pula Tim Asistensi pada Menko EKUIN yang diketuai oleh Prof. Widjojo Nitisastro dengan Sri Mulyani Indrawati sebagai sekretarisnya, yang saat ini dipercaya menjadi salah-satu menteri di kabinet Presiden Joko Widodo.

TERKAIT POLAH DAN PERILAKU PARA ELITE NEGARA BANGSA INI dan dampaknya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, saya teringat apa yang pernah dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “Negeri yang begini kaya diubah menjadi negara pengemis…karena tidak adanya karakter pada elite”. Apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer, penulis prosa terbesar Indonesia yang pernah dinominasikan sebagai penerima Anugerah Nobel Sastra itu, adalah juga realitas politik Indonesia saat ini, di mana para elite Negara bangsa ini tak ubahnya para calo yang bekerja untuk kekuatan-kekuatan dan lembaga-lembaga asing, tak ubahnya orang-orang yang tak punya pegangan dan prinsip, tak menjalankan falsafah dan ideologi Negara bangsa sendiri, kecuali sebagai para pelaku ideologi pragmatis demi mendapatkan ‘upah’ dari tuan-tuan Amerika mereka seperti melalui IMF dan World Bank yang justru mengambil keuntungan dari tanah-air Negara bangsa ini.

Pertanyaannya adalah: BAGAIMANA REJIM NEOLIBERAL ITU? Watak predatorisme kaum oligarkhi dan para korporat global yang memainkan kebijakan neoliberal, tak segan-segan mengorbankan kepentingan rakyat dan hanya memandang warga Negara sebatas sebagai konsumen. Rasa-rasanya saya perlu mengutip pernyataan Alvaro Garcia Linera, sebelum saya mengajukan sejumlah pertanyaan lainnya, demi sedikit menerangkan apa neoliberalisme itu, yaitu:

“PERTAMA-tama, neo-liberalisme menandakan proses fragmentasi – disintegrasi struktural – terhadap jaringan dukungan, solidaritas, dan mobilisasi kerakyatan. Di penjuru dunia, terutama di Eropa, Amerika Latin, dan Asia neo-liberalisme berkembang dari penghancuran, fragmentasi, dan disintegrasi terhadap gerakan pekerja yang lama, gerakan tani yang lama, dan mobilisasi perkotaan yang berkembang di tahun lima-puluhan dan delapan-puluhan.

Fragmentasi masyarakat dan penghancuran jaringan solidaritas maupun ikatan-ikatan kohesif telah memicu konsolidasi neo-liberalisme.

KEDUA, neo-liberalisme telah terbentuk, termajukan, dan menerapkan dirinya di dunia melalui privatisasi, yakni pengambil-alihan swasta terhadap kekayaan kolektif dan kepemilikan publik, termasuk simpanan publik, tanah, mineral, hutan, dana pensiun. Neo-liberalisme berkembang melalui privatisasi sumber-sumber daya tersebut.

KETIGA, masuknya neo-liberalisme disertai dengan penyusutan dan deformasi negara, terutama aspek negara yang baik-buruknya berhubungan dengan konsep kolektif atau ide-ide kesejahteraan. Neo-liberalisme bertujuan menghancurkan pengertian negara sebagai kolektif atau penjamin kesejahteraan, demi menerapkan tipe ideologi korporat yang menyerukan pengambil-alihan dan penjarahan kekayaan kolektif yang diakumulasikan berkali-kali oleh dua, tiga, empat, atau lima generasi.

KEEMPAT, penerapan neo-liberalisme menyebabkan pembatasan partisipasi politik rakyat; demokrasi diritualkan menjadi pemungutan suara setiap empat tahun. Warga pemilih tidak lagi turut serta dalam penentuan keputusan. Segelintir kecil lingkaran elit politik mengutus dirinya sendiri untuk mewakili rakyat. Inilah empat pilar neoliberalisme – fragmentasi terhadap sektor-sektor pekerja dan organisasi pekerja, privatisasi sumber daya publik, memudarnya peran negara, dan rintangan-rintangan terhadap pengambilan keputusan oleh rakyat”.

Juga pembukaan pidatonya Fidel Castro, yang berbunyi: “Globalisasi adalah realitas obyektif yang menggarisbawahi kenyataan bahwa kita semua adalah penumpang dalam kapal yang sama – planet ini di mana kita semua bertempat tinggal. Tapi penumpang kapal ini melakukan perjalanan dalam kondisi yang sangat berbeda.

Sejumlah kecil minoritas melakukan perjalanan dalam kabin mewah yang dilengkapi dengan internet, telepon seluler dan akses terhadap jaringan komunikasi global. Mereka menikmati makanan yang bergizi, berlimpah dan seimbang berikut persediaan air bersih. Mereka memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang canggih dan seni budaya.

Sejumlah besar mayoritas yang menderita melakukan perjalanan dalam keadaan yang menyerupai perdagangan budak yang menakutkan dari Afrika ke Amerika dalam masa kolonial kami yang lalu. Jadi, 85 persen penumpang kapal ini disesakkan ke dalam lambung kapal yang kotor, menderita kelaparan, penyakit, dan tak mendapat pertolongan.

Tentunya, kapal ini mengangkut terlalu banyak ketidak-adilan sehingga tidak akan terus mengapung, mengejar rute yang begitu tak rasional dan tak masuk akal sehingga tidak akan selamat sampai di pelabuhan. Kapal ini tampak ditakdirkan untuk karam menabrak bongkah es”.

DULU, PARA PEJABAT LOKAL NEGERI INI MENJADI ‘PELAYAN’ PEMERINTAH HINDIA-BELANDA. Sekarang, mereka menjadi ‘pelaksana tugas’ keinginan dan motif kaum oligarkhi dan korporasi global dari dunia sana, seperti dari Amerika Serikat (yang memang mendominasi kebijakan neoliberal saat ini dan memaksakannya untuk dilaksanakan di Negara-negara lain), yang menjerat mereka melalui lembaga-lembaga ekonomi dan finansial seperti IMF dan World Bank.

Sejak Soekarno dikudeta dan dilengserkan oleh CIA-Amerika dengan menggunakan dan memperalat TNI Angkatan Darat yang loyal kepada Jenderal Soeharto, presiden-presiden Indonesia, kecuali K.H. Abdurrahman Wahid, adalah orang-orang lemah yang mau ditekan dan diatur oleh lembaga-lembaga yang dikendalikan oleh oligarkhi dan korporasi global (Amerika dkk). Di masa Megawati Soekarno Putri yang konon ‘pembela’ wong cilik, terjadi privatisasi BUMN. Begitu pun di era Susilo Bambang Yudhoyono, kebijakan neoliberal mencengkeram Indonesia.

Jika mau dikatakan, Presiden Abdurrahman Wahid-lah yang sesungguhnya Soekarnois, bukan Megawati Soekarno Putri atau pun Presiden Joko Widodo sebagaimana yang didengungkan kaum fanatik pendukung Presiden Joko Widodo, di mana di eranya (Era Gus Dur) dilakukan restorasi (pelurusan) sejarah Indonesia yang selama ini dipalsukan oleh rejim Soeharto selama puluhan tahun. Ia pula yang membubarkan dwi-fungsi ABRI dan memisahkan POLRI dari TNI. Termasuk ia pula yang berani mengangkat Menteri Pertahanan dari sipil dan menempatkan non-Angkatan Darat (AU dan AL) ke posisi-posisi strategis pemerintahan setelah sebelumnya mereka disingkirkan, seperti untuk jabatan Panglima Tertinggi TNI. Meski ia (Gus Dur) pun belum sepenuhnya lepas dari ‘jerat’ neoliberalisme.

Haruslah jujur dikatakan bahwa Indonesia, tidak seperti sejumlah Negara Amerika Latin yang dulu justru ‘berguru’ pada Indonesia era Soekarno, merupakan korban liberalisme Keynesian pada masa Orde Baru Soeharto dan neoliberalisme oligarkhi dan korporasi global pada saat ini, yang menjerat Indonesia lewat sejumlah lembaga global mereka, seperti contohnya IMF dan World Bank. Dan elite-elite Negara bangsa ini kemudian menjadi perpanjangan tangan mereka, mirip sejumlah pejabat dan birokrat lokal di era kolonialisme Belanda dulu.

Bahkan, dengan pahit perlu dikatakan, agenda dan program liberalisasi dijalankan elite-elite Negara bangsa ini, dari tingkat presiden hingga para menteri, yang jauh lebih liberal dibandingkan negara-negara kapitalis besar sekali pun. Jika, misalnya, di era Orde Baru, kolonialisme mutakhir tersebut diwujudkan dalam “topeng” pembangunan, sekarang ini ‘dikemas’ dalam kerangka globalisasi, pasar bebas, investasi, privatisasi, dan yang sejenisnya.


Bila demikian, kita tidak bisa berharap kepada para elite untuk melakukan revolusi damai untuk perubahan bangsa ini, dan begitu pun jika gerakan masyarakat sipil lumpuh demi mengubah Negara bangsa ini ke cita-cita proklamasi dan kembali ke UUD 45 dan Pancasila, maka tak ada lagi yang dapat diharapkan.

Sabtu, 16 Maret 2019

Sepucuk Surat dari Para Benalu


Romo Magnis yang kami hormati, izinkanlah kami mengaku dosa: di Pilpres besok, kami akan golput.

Begini, Romo. Kami tahu kalau dalam opini yang dimuat di Kompas (12/3) kemarin, Romo sudah panjang lebar menyampaikan ketidaksepakatan pada warga negara yang memilih untuk golput pada Pemilihan Presiden 2019. Walaupun secara garis besar, layaknya kaset tembang kenangan, Romo masih mengulang-ulang narasi klasik yang sudah disampaikan lima tahun lalu; bahwa esensi Pemilu bukanlah memilih yang terbaik, melainkan mencegah yang buruk berkuasa.

Tapi kalau boleh kami memberikan sejumlah catatan, dalam tulisan tersebut Romo kelihatannya lebih tertarik untuk melabeli dan mencaci-maki orang yang golput daripada memenangkan pikiran mereka lewat argumen logis. Paling tidak ada beberapa julukan menarik yang Romo alamatkan pada mereka – dan kami juga tentunya – yang memilih golput: “bodoh”, “just stupid”, “berwatak benalu”, “kurang sedap”, “secara mental tidak stabil”, “psycho-freak”, “tanda kebodohan”, “sikap parasit”, “tak peduli politik”, dan “mental yang lemah”.

Luar biasa.

Kami cukup bisa mengerti hinaan “bodoh” dan “kurang sedap” (mungkin karena kurang micin, Romo), tapi “mental tidak stabil”? Aduh, Romo. Setahu kami, halaman opini media nasional sekelas Kompas bukanlah tempat dimana ejekan itu bisa enteng dilontarkan. Tidakkah kompetisi copras-capres ini sudah cukup parah merusak pergaulan hidup kita? Mengapa harus ditimbun lagi dengan celaan yang tidak sensitif terhadap mereka yang mengalami persoalan kejiwaan?

Terlepas dari kecanggihan pilihan diksi Romo, ada juga kesan yang timbul dari tulisan ini bahwa sikap golput seolah bersifat non-politis. Romo menyebutkan bahwa penyebab golput adalah masalah teknis akibat pemilih tidak dapat datang ke tempat pemungutan suara, karena seseorang tak mau repot memilih, hanya mikirin karier sendiri, atau semata berlandaskan kekecewaan yang berujung “menggerutu dan golput”.

Tentu segala julukan yang disemburkan di atas tidak serta merta membuat tulisan Romo jadi nir-argumen. Paling tidak, setelah bersusah payah memilah yang mana argumen dan yang mana sentimen, kami bisa merangkum tiga “rayuan” untuk membujuk orang agar berpikir kembali soal golput.

Pertama, perihal argumen lawas tadi: bahwa kita tak memilih yang terbaik, melainkan mencegah yang terburuk berkuasa. Memang dalam tulisan ini Romo sudah menyebutkan bahwa di diri kedua calon presiden terdapat kekurangan, tapi mestinya ada yang bisa dipilih dari dua pilihan kurang baik ini. Tapi persoalannya Romo, logika lesser evil model begini merupakan penghalang besar jika kita masih mengharapkan perbaikan politik Indonesia. Rakyat diberi pilihan yang terbatas oleh para elit politik dan setiap lima tahun sekali ditodong untuk memilih calon-calon buruk. Kalau begini mah bukan pemilihan namanya, tapi penodongan. Memaklumi logika ini terus-menerus hanya akan membuat standar kita soal politik makin nyungsep. Bisa jadi lama-kelamaan kita akan menganggap normal kasus pelanggaran HAM yang tak terungkap, serangan kepada organisasi anti-korupsi, perusakan lingkungan, penggusuran paksa, dan sebagainya. Memangnya ini yang Romo harapkan?

Argumen kedua berkutat pada begitu pentingnya perhelatan pemilihan presiden 2019 nanti untuk menentukan masa depan bangsa. Karenanya, jika sekarang hanya tersedia dua pilihan, kenyataan itu harus bisa diterima. Mungkin benar bahwa Pemilu 2019 merupakan perhelatan penting, namun jelas ia bukan satu-satunya jalan untuk menentukan masa depan bangsa. Mampuslah kita jika masa depan bangsa hanya ditentukan oleh Pemilu yang sedari awal diakui hanya menyediakan dua pilihan kacrut ini. Sudah ditodong, disuruh pasrah pula. Karena itu, sistem politik perlu perbaikan serius sehingga tidak lagi menghasilkan opsi medioker yang terus dimaklumi kekurangannya.

Lalu ketiga, meski memilih dalam pemilu tidak wajib secara hukum, namun bagi Romo ia wajib secara moral. Dari seluruh kekonyolan yang sudah dipaparkan, boleh jadi ini argumen Romo yang paling ngawur. Bagaimana mungkin kewajiban dan ‘kadar’ moral seseorang diukur dari mencoblos atau tidaknya ia di TPS? Taruhlah ada seorang ibu yang anaknya dibunuh tentara dalam peristiwa 1998. Ia merasa dalam Pemilu saat ini, di kedua kubu terdapat sosok-sosok pelanggar HAM. Tak bermoralkah jika ia kemudian memilih untuk tidak memilih karena mencoblos salah satu kubu berarti menyalahi prinsip dan hati nuraninya? Apakah tindakannya itu “kurang sedap”?

Romo, cuplikan kisah di atas menunjukkan bahwa mereka yang memilih untuk tidak memilih tidaklah terbatas pada mereka yang terhambat urusan teknis, malas bangun pagi, kebelet liburan, atau hanya memikirkan karir. Semisal ada serikat buruh yang mendeklarasikan golput karena kedua kandidat tidak punya komitmen kuat untuk pemenuhan hak-hak asasi manusia. Masa kita mau dengan sompral mengatakan ratusan atau bahkan ribuan anggota serikat buruh itu gerombolan benalu malas yang tak peduli politik?

Contoh lain, kemarin di Palu ada kelompok korban tsunami yang menyatakan golput karena kecewa dengan cara penanganan bencana pemerintah dan menganggap lawan petahana tak layak memimpin. Apakah ini berarti para korban itu memiliki mental yang lemah atau bahkan secara kolektif mengidap psycho-freak? Bagi kawan-kawan Papua yang merasa siapapun presiden terpilih tidak akan mendatangkan perubahan berarti bagi kondisi di tanah mereka, apakah mereka kaum yang bodoh?

Cercaan Romo yang dialamatkan kepada mereka yang golput adalah kritik yang salah alamat dan kesiangan. Seharusnya kritik Romo terlebih dahulu disampaikan jauh-jauh hari kepada para elit yang menentukan dua calon yang dianggap kurang baik itu. Jika memang Pemilu 2019 dianggap momentum penting bagi masa depan bangsa, seharusnya rakyat tidak lagi disodori pilihan buruk oleh elit politik. Namun anehnya, baik pemerintah, media, cendekiawan, rohaniawan, filsuf, kelompok masyarakat sipil, hingga buzzer politik ramai-ramai mendiskreditkan golput. Seolah problem sistem politik oligarkis, kriminalisasi merajalela, maupun elit politik yang korup dari ujung jempol kaki sampai ujung rambut ini masih kalah membahayakan dari sekelompok orang yang memilih untuk tak memilih.

Katakanlah mereka yang golput ini adalah orang-orang yang tidak dapat diyakinkan oleh kedua calon. Lantas kenapa Romo harus mengata-ngatai mereka yang golput, bukan sebaliknya, mengatakan “bodoh” dan kawan-kawannya itu kepada dua pasangan calon yang tak juga meyakinkan pemilih? Akhirnya lagi-lagi para sobat benalu kayak kita yang harus menanggung beban, “Kalau gak nyoblos, kamu cacat moral” Idih, enak aja.

Yang kami ketahui Romo, jauh dari segala prasangkamu soal benalu-benaluan, gerakan golput yang muncul hari ini merupakan sikap politik yang menuntut koreksi atas sistem politik yang hampir tertutup bagi agenda perubahan. Terlihat jelas dalam kampanye maupun debat, kedua calon tidak punya komitmen pemenuhan agenda HAM, anti-korupsi, lingkungan hidup, dan lainnya. Karenanya, gerakan golput 2019 tidak bisa lagi disamakan dengan gerakan tidak memilih partai politik pada tahun 1971. Golput kini mencoba melampaui konteks elektoralnya dan meleburkan diri pada gerakan politik yang lebih luas. Justru saat ini, mereka yang memilih menjadi golput mengambil keputusannya berlandaskan pada kesadaran politik, bukan ketidakpedulian. Pemilihan 2014 sudah cukup mengajarkan kepada kita bahwa mencegah yang terburuk berkuasa tidak lagi relevan dalam memajukan kepentingan publik.

Karena itulah kami memilih golput, Romo. Dan sayangnya, keputusan kami belum akan goyah, meskipun isi media nasional sudah dijejali oleh segala rupa pamflet heboh seperti opini Romo tempo hari. Paling banter kami akan mengkompilasi segala hinaan tersebut – psycho freak, benalu, golongan pucuk tai, pecundang, dan seterusnya – untuk mentertawakannya di lain kesempatan. Hinaan Romo kami pastikan akan terus dikenang sebagai monumen kolosal penanda blunder, kegamangan dan kepongahan kaum intelektual hari-hari ini.

Tentu tertawanya tidak bakal lama-lama, Romo. Bagaimanapun juga kita tak punya banyak waktu. Memilih untuk golput hanyalah awal dari perjalanan panjang, dan masih banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Tapi yang jelas, kami harap Romo masih mau mengawasi kiprah benalu-benalu tercintamu ini. Syukur-syukur kalau mau menulis lagi tentang kami. Bagaimanapun, kami selalu butuh asupan humor segar untuk bahan obrolan di perjalanan.

Teriring salam,
Sobat Benalu Seluruh Indonesia (Sumber: https://www.sorgemagz.com/surat-dari-para-benalu/). 

Minggu, 10 Februari 2019

Masyarakat Madani dan Revolusi Damai (1) oleh Sulaiman Djaya


Pentingnya pembangunan masyarakat yang kritis dan tercerahkan untuk memahami dan mengerti posisi dan kedudukan mereka dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan adalah karena mereka-lah yang kemudian dapat menjadi kekuatan riil oposisi jika rejim dan atau pemerintahan menjalankan kebijakan-kebijakan yang merugikan mereka dan mencabut hak mereka sebagai warga Negara sebagaimana ‘dijamin’ oleh UUD 45 dan dasar Negara kita yaitu Pancasila.

Komunitas-komunitas dan institusi-institusi kebudayaan bisa menjalankan peran tersebut dengan kerja dan gerakan intelektualisme mereka. Sehingga kiprah dan gerakan kebudayaan tak sekedar ‘berpuas diri’ dengan hanya berjalan dalam iklim stagnan yang tak memberikan perubahan karakter dan mentalitas masyarakat atau warga Negara.

Singkat kata, kita membutuhkan intelektual-intelektual publik yang tak sekedar duduk nyaman di menara gading, tapi yang terjun langsung untuk menciptakan kritisisme dan pencerahan dalam masyarakat. Mereka yang sanggup bersuara ke atas sekaligus membangunkan jelata yang terlelap dalam ketidak tahuan. Mereka yang memiliki keberanian bersuara melalui media apa saja.

Posisi intelektual publik yang menjalankan fungsi seperti yang telah disebutkan itu, sebagaimana dinyatakan James Petras, menjadi sangat penting karena akan sanggup:

[1] Mempengaruhi pemimpin-pemimpin dan militan-militan partai, gerakan sosial, dan politisasi kelas sosial,

[2] Menyediakan diagnosa atas masalah ekonomi, politik negara, kebijakan, dan strategi-strategi imperialis,

[3] Menguraikan solusi-solusi, strategi-strategi politik, dan program-program bagi rejim, gerakan, dan para pemimpin, dan

[4] Mengorganisasi serta berpartisipasi dalam pendidikan politik partai atau aktivis gerakan.

Bukan kaum intelektual (kelas menengah) yang dikritik Noam Chomsky yang menjadi bagian dari kuasa dan kepentingan rejim neoliberal yang merugikan warga Negara.

Sebab, seperti telah diulas Noam Chomsky, kaum korporat (para oligarkh dan pengusaha-pengusaha multinasional) yang bekerjasama dengan kekuasaan acapkali ‘membentuk pikiran publik’ atau menggiring opini dan pikiran masyarakat dalam memandang dunia dan realitas kita saat ini, yang salah-satu contohnya adalah dengan menggunakan kelas menengah kaum intelektual (yang menikmati bayaran dan kenyamanan dari kapitalisme dan pasar yang dikendalikan kelas/korporasi berkuasa).

Dalam pandangan dan analisisnya tersebut, Noam Chomsky lebih lanjut menjelaskan bahwa proses pembentukan pikiran publik melalui propaganda dan doktrin tersebut tentulah untuk mengukuhkan kekuasaan kelas berkuasa (yaitu kaum korproat), karena bila tanpa ditopang oleh penguasaan atas pikiran publik, demikian diterangkan Noam Chomsky, maka doktrin-doktrin kelas berkuasa takkan bisa bertahan lama. Apa yang dijelaskan Noam Chomsky itu adalah persis seperti ketika LSM-LSM dan lembaga-lembaga think tanks di negeri ini menjadi perpanjangan tangan kepentingan neoliberal dan mendapatkan donasinya dari yayasan-yayasan Amerika.

Maka tak heran, dengan menggunakan think tanks dan media-media massa yang berada dalam lingkup kekuasaannya, sebuah rejim acapkali “mendikte setiap pikiran publik persis seperti halnya sebuah pasukan mendikte tubuh-tubuh dari tentara-tentaranya” melalui lembaga-lembaga dan atau institusi-institusi, semisal lewat institusi pendidikan, selain melalui media-media massa dan lembaga-lembaga think tanks demi menciptakan kepatuhan warga Negara dan mematikan kritisisme di pikiran mereka.

Upaya-upaya tersebut tentu saja ditopang bukan hanya melalui propaganda-propaganda media-media massa belaka yang dimiliki para korporat yang bekerjasama dengan pemerintah atau sebuah rejim dan para politisi yang menikmati ‘modal capital’ dari korporasi, melainkan oleh kaum intelektual, agar gagasan dan doktrin tentang kekuasaan kaum kapitalis itu bisa memperoleh legitimasi dan bahkan landasan konstitusional dalam sebuah Negara, sehingga kepatuhan warga Negara pun dimungkinkan, yah semisal dengan menimalisir potensi kritis dari warga Negara.

Bersama-sama dengan kaum intelektual, LSM-LSM, dan lembaga-lembaga think tanks yang mendapatkan donasinya dari yayasan-yayasan Amerika itulah, “kaum industrialis (para oligarkh dan korporat) itu harus menjalankan serta memenangkan perang yang tiada akhir demi memperebutkan pikiran-pikiran manusia” dan “mengindoktrinasi para warga Negara dengan cerita kapitalis” yang mereka buat, yang bahkan mereka massifkan dalam kurikulum pendidikan dan “didoktrinkan’ di sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi. Beberapa dari suara-suara kaum industrialis dan intelektual itu utamanya ditujukan untuk mewaspadai bangkitnya kekuatan sosialisme, demikian papar Noam Chomsky, yang persis dalam hal inilah Amerika sangat memiliki kepentingan untuk membendung dan menghancurkan pengaruh-pengaruh pikiran sosialis yang dapat melahirkan kriitisisme bagi warga Negara.

Kemudian, untuk menghambat proses tersebut, kaum intelektual, kalangan pebisnis (para oligarkh dan kaum elite korporat) dan negara imperial Amerika Serikat pun berupaya untuk menanamkan doktrin Washington Konsensus (neo-liberalisme) dan demokrasi pasar, baik melalui serangkaian perjanjian struktural maupun melalui perang imperialis. Terhadap upaya ini, para editor jurnal ilmiah yang bergaris liberal, contohnya, mendukung dengan gigih dengan menyebut bahwa proses yang sedang terjadi saat ini pada dasarnya “kebangkitan kembali demokrasi”, padahal yang sesungguhnya adalah ‘kepentingan korporasi mereka’ dengan membajak demokrasi elektoral dan demokrasi liberal.

Tak pelak lagi, dukungan ‘membuta’ (tanpa kritik dan perlawanan) kaum intelektual bagi doktrin neoliberal itu, sebagaimana dipaparkan Noam Chomksy, melalaikan fakta bahwa: “demokrasi yang dimaksud adalah sejauh ia meniru model Amerika Serikat yang memberi keleluasaan pada kaum kaya, juga mengabaikan bahwa demokrasi seperti itu seringkali dibangun di atas perang dan teror terhadap kaum miskin, serta yang juga cukup miris: melupakan fakta bahwa demokrasi pasar berdiri di atas penderitaan kaum buruh, petani, dan kaum miskin lainnya yang semakin dihisap dan dieksploitasi.”

SESUNGGUHNYA KITA, SEBAGAI WARGA NEGARA YANG TERHORMAT DAN BERMARTABAT, masih bisa melakukan revolusi untuk melawan sistem dan rejim yang dikendalikan neoliberalisme. Namun bukan revolusi dengan senjata atau pun revolusi berdarah, tapi dengan tidak ikut berpartisipasi dalam rutinitas suksesi politik yang diselenggarakan sistem dan kekuatan rejim neoliberal tersebut. Contoh revolusi damai itu adalah dengan jalan tidak memilih baik Prabowo Subianto dan Joko Widodo beserta pasangan cawapres mereka di Pilpres 2019 nanti.

Sesuatu yang sangat mudah, dan bahwa kita selalu memiliki jawaban dan kesempatan bagi jalan untuk melakukan perlawanan terhadap rejim dan kekuatan, serta rutinitas suksesi politik yang dikendalikan oleh lembaga-lembaga dan elite-elite neoliberal. Suatu ketika, seorang cebong (sebutan untuk kaum fanatik pendukung Joko Widodo) dan KH. Ma’ruf Amin menyatakan bahwa kebijakan Presiden Joko Widodo tidak neoliberal. Terkait pernyataan mereka itu, saya punya dua pertanyaan sebagai contoh saja:

[1] Bagaimana mungkin mereka menyatakan bahwa rejim Presiden Joko Widodo tidak menerapkan kebijakan neoliberal di saat menteri ekonomi dan keuangannya adalah orang-orang neoliberal, seperti Darmin Nasution dan Sri Mulyani?

[2] Bagaimana mungkin mereka bilang bahwa rejim Presiden Joko Widodo tidak menerapkan kebijakan neoliberal di saat impor beras, bawang, gula dan lain-lain begitu tinggi hingga para petani menjerit dan terjadi kekerasan agraria di sejumlah tempat?

Bila demikian, pernyataan mereka tersebut dapat dikategorikan sebagai pembohongan publik dan pembodohan terhadap warga Negara, rakyat yang menjadi fondasi utama dan syarat pertama adanya Negara dan bangsa selain tempat dan wilayah yang ditempati dan dihuni oleh para warga Negara. Adalah tindakan yang sangat mudah untuk melakukan revolusi damai tanpa kekerasan dan senjata dengan jalan tidak memilih baik Prabowo Subianto dan Joko Widodo beserta cawapres pasangan mereka di Pilpres 2019 nanti.

Revolusi damai tersebut merupakan solusi awal dan solusi percontohan pertama untuk memberikan jawaban bagi krisis politik Negara bangsa kita tercinta ini. Sungguh Indonesia belum terlambat untuk menyelamatkan bahtera tempat kita berlayar bersama dari pembajakan oleh elite-elite yang mengabdi kepada sistem, lembaga-lembaga, dan proyek-proyek neoliberal mereka.

Jika ada yang masih bertanya kenapa kita harus melawan sistem dan kekuatan neoliberalisme yang memainkan kebijakan ekonomi politik Negara bangsa kita tercinta ini, maka jawabannya adalah karena:

[1] Mereka mengeksploitasi sumber daya dari negara yang didominasi,

[2] Mereka menguras sumber daya dalam jumlah yang tidak sebanding dengan jumlah penduduknya jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain,

[3) Mereka menarik pajak bukan hanya dari warga mereka sendiri, tapi juga dari orang-orang di negara lain, dan

[4] Mereka mendorong penggunaan mata uang mereka sendiri di negara-negara yang berada di bawah kendalinya.


Sekali lagi, perlu dinyatakan, hal tersebut merupakan contoh solusi dan jawaban percobaan untuk memberikan solusi dan jawaban bagi krisis politik Negara bangsa kita saat ini.

Sabtu, 09 Februari 2019

Pematang Senjakala (4) oleh Sulaiman Djaya



Sebelum akhirnya kuputuskan untuk menuliskan riwayat hidupku ini, yang tentu saja terhubung dengan riwayat hidup orang-orang lain, sempat terbersit dalam benakku: Dari mana aku harus mulai? Sebab sungguh sulit sekali bagiku untuk menemukan simpul pertama dari ceceran dan serakan ingatan yang telah tercerai-berai, yang sebagian besar telah terlupakan. Meski demikian, rasanya aku akan merasa bersalah bila mencampakkan yang masih tersisa sebagai kenangan tentang perempuan yang menurutku begitu tabah dan tak berkeluh-kesah dalam kesahajaan keseharian yang ia jalani.

Aku ingin memulainya dari kupu-kupu di pagihari dan senja yang sesekali kulihat di barisan pohon Rosella yang ditanamnya, ketika hari bersimbah cuaca dingin atau di kala iklim berubah cerah selepas hujan menjelang siang, ketika matahari tiba-tiba tampak sangat riang.

Apakah kau akan membaca kisah pribadiku bukannya kisahnya ketika aku yang menceritakan dan menuliskannya? Aku berharap demikian, meski siapa pun bebas untuk memiliki pikiran yang sebaliknya. Keikhlasanmu untuk meluangkan waktu demi membaca kisahku ini akan menjadi penghargaan yang sangat berarti bagiku. Kisah dan riwayat tentang Ibunda, yang sebenarnya hanya ingatan kecil saja, tak lebih sejumlah serpihan yang masih dapat kupungut dan lalu kutuliskan.

Kala itu adalah masa-masa di tahun 1980-an, ketika ia memanen buah Rosella, sementara aku asik memperhatikan kupu-kupu yang hinggap di salah-satu pohon Rosella yang ditanam dan dirawatnnya dengan penuh kasih sayang, yang warna sepasang sayapnya seperti susunan ragam tamsil karena cahaya matahari senja. Ia sesekali terbang, lalu hinggap lagi, kadangkala berpindah atau pindah kembali ke pohon Rosella yang sama, lalu terbang lagi, sebelum akhirnya pergi ke tempat yang ingin ia ziarahi.

Keesokan harinya ia akan menjemur biji-biji Rosella itu dengan tikar yang ia sulam dari sejumlah karung bekas, dan akan mengangkatnya selepas asar, sebelum kami akan menggoreng dan menumbuknya bersama menjadi bubuk kopi yang akan kami bungkus dengan plastik-plastik kecil yang ia beli dari warung. Kakak perempuanku yang akan memasukkan bubuk kopi Rosella itu, sedangkan aku yang menjahit ujung plastik itu dengan cara mendekatkannya ke semungil nyala lampu minyak.

Aku membeli buku-buku tulis sekolahku dari menjual bubuk kopi Rosella yang ditanamnya, pohon-pohon Rosella yang acapkali disinggahi sejumlah kupu-kupu, selain dihinggapi dan diziarahi para kumbang, tentu saja.

Kami terbiasa hidup bersahaja dan memperoleh rizki kami dari Tuhan dengan perantaraan tanaman ciptaan Tuhan yang ditanam dan dirawatnya dengan tekun dan sabar: Rosella, kacang panjang, tomat, labuh, paria, ubi jalar, kacang tanah, dan lain-lain yang kemudian ia jual setelah ia mengunduh dan memanennya. Aku hanya bisa membantunya sepulang sekolah atau ketika hari libur sekolah, meski kadangkala aku absen untuk membantunya dan lebih memilih untuk bermain dan menerbangkan layang-layang, berburu jangkerik, atau berburu para belalang yang kesulitan untuk terbang karena air yang melekat di sayap-sayap mereka dan yang tergenang di hamparan sawah-sawah di kala hujan atau selepas hujan bersama teman-temanku yang sama-sama belajar di sekolah dasar yang sama denganku: Sekolah Dasar Negeri Jeruk Tipis 1 Kragilan, Serang, Banten.

Hidup kami memang seperti kupu-kupu di senjakala yang mengimani kesabaran dan ketabahan sebagai keharusan yang tak terelakkan. Tahukah kau kenapa aku mengumpamakannya dengan kupu-kupu? Aku akan menjawabnya. Kupu-kupu, juga para kumbang, adalah makhluk-makhluk Tuhan yang ikhlas bekerja dan dengan takdir mereka sebagai para pengurai dan penyerbuk kembang dan bunga.

Kehadiran mereka merupakan berkah bagi kami yang mengais rizki dari hidup bertani dan menanam sejumlah tanaman yang buah-buahnya dapat dijual ke orang-orang yang datang ke rumah dan ke kebun kami. Keberadaan mereka adalah siklus alam dan kelahiran bagi kami, para petani.

Mereka, para kupu-kupu dengan sayap-sayap ragam warna di kedua sisi lengan mereka, akan datang tanpa kami undang bila tanaman-tanaman yang kami tanam telah berbunga, entah mereka datang di pagihari atau di senjahari. Memang aku baru menyadarinya di saat aku tak lagi hidup seperti di masa-masa itu, sebuah pemahaman yang memang terlambat. Tetapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak menyadarinya sama-sekali?

Di saat-saat senggang, bila ia tidak sibuk di sawah, dianyamnya daun-daun pandan di pagi hari hingga azan zuhur berkumandang dari sebuah mesjid yang dilantangkan dengan menggunakan speaker bertenaga accu, lalu setelah zuhur dan setelah menyiapkan makan siang bagi anak-anaknya, ia mulai menganyam lagi, dan daun-daun pandan kering yang dianyam dengan jari-jemari tangannya yang cekatan dan sabar itu telah menjelma tikar di saat senja.

Di hari yang lain ia akan mencari kayu-kayu kering yang jatuh dari pohon-pohon sepanjang pinggir jalan atau mematahkannya jika ranting-ranting dan dahan-dahan kering itu masih bertengger di pohon, dan adakalanya ia memotong sejumlah dahan pohon, yang kemudian ia potong-potong dan ia belah untuk dijemur dan dikeringkan. Kayu-kayu kering itu ia gunakan untuk menyalakan dapur bila ia memasak.

Di malam harinya, yang ia lakukan setiap malam selepas sholat magrib, ia akan mengajari anak lelakinya yang kala itu masih berusia lima tahun untuk menyebutkan dan mengeja huruf-huruf hijaiyyah dan membacakan surat-surat pendek dalam Al-Quran kepada anak lelakinya yang masih balita, dan bocah lelaki itu tentu adalah aku.

Sebagai seorang perempuan desa, ia hanya lulus sekolah dasar saja, yang di masanya disebut Sekolah Rakyat (SR). Meskipun ia hidup sederhana dan bersahaja, orang-orang di kampungnya menghormati dan mencintainya, orang-orang kampung tidak akan menghina karena kesederhanaan dan kesahajaannya, karena kakek dari anak-anaknya adalah lelaki terpandang, dan orang kaya yang memiliki sawah terbanyak: Haji Ali.

Ia perempuan yang setia dan akrab bersama pohon-pohon Rosella yang ditanam dan dirawatnya, selain pohon-pohon lainnya yang ia tanam untuk kebutuhan makan sehari-hari keluarganya dan untuk dijual, seperti kangkung, tomat, kacang dan jenis tumbuh-tumbuhan sayur lainnya.

Setelah itu, selepas ia sholat isya, ia akan berdoa, yang terdengar seperti keluhan yang samar, seperti seseorang yang mengadu kepada malam yang sunyi, basah, dan senyap. Kesabaran dan ketabahan yang dimilikinya pastilah karena cintanya kepada anak-anaknya, selain rasa tanggungjawabnya sebagai seorang ibu.

Di hari itu ia hanya menyediakan sambal, nasi, dan sayur saja, tanpa tempe dan ikan asin seperti biasanya. Ia berkata kepada anak-anaknya bahwa tak ada lagi uang untuk membeli kebutuhan makan mereka, dan karena sejumlah tanaman yang ditanam dan dirawatnya belum waktunya untuk dipanen, dan karena itu tak ada yang bisa dijual.

Tapi, barangkali, bagi orang-orang desa yang terbiasa hidup sederhana dan bersahaja itu, sayur berkuah banyak, nasi, dan sambal saja sudah cukup bagi mereka sekedar untuk menghilangkan rasa lapar.

Anak lelakinya yang telah bersekolah di sekolah menengah pertama tampak kecewa ketika mendengar apa yang ia ucapkan, karena si anak lelakinya itu semula hendak meminta uang kepadanya untuk membeli buku bagi keperluan sekolahnya, sekedar buku catatan, di saat buku-buku catatan sekolah anak lelakinya itu memang sudah penuh dengan catatan-catatan pelajaran sekolahnya.

“Tunggulah sampai kakakmu mendapat gaji pertamanya sebagai karyawan,” demikian ia menghibur si anak lelakinya itu, “tinggal beberapa hari lagi kakakmu akan mendapat gaji pertamanya.”

Memang ia mengandalkan anak lelaki tertuanya yang telah bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik kertas yang baru beroperasi untuk membantunya menghidup anak-anaknya yang masih kanak-kanak dan yang sudah bersekolah di sekolah menengah pertama itu.

Haruslah kuakui, memang, hasil penjualan dari sejumlah tanaman yang ditanam dan dirawatnya tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah semua anak-anaknya, seperti untuk membeli buku-buku paket dan buku mata pelajaran wajib, setelah kebutuhan untuk makan sehari-hari, dan karena itu ia mengandalkan anak lelaki tertuanya yang telah bekerja di sebuah pabrik dengan gaji bulanan yang didapat anak lelaki tertuanya itu.

Namun, yang barangkali haruslah pembaca ketahui, sebelum anak lelakinya lulus sekolah menengah pertamanya dan kemudian bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik kertas itu, ia adalah perempuan yang harus berjuang dengan sabar untuk mempertahankan keluarganya, meski harus menjalani kehidupan yang sederhana dan bersahaja.


Barangkali, dapatlah dikatakan, ia adalah seorang perempuan yang haruslah diistilahkan sebagai ibu dalam segala hal bagi keluarganya yang dicintainya dan dipertahankannya dengan kesabaran dan ketabahan dalam kesederhanaan dan kesahajaan sebagai orang desa, orang yang sudah terbiasa akrab dengan keterbatasan. Ia bagiku, tak ubahnya Kupu-Kupu yang ikhlas menjadi penyerbuk kembang agar menjadi buah. Seperti Kupu-Kupu yang acapkali hinggap dan singgah di pohon-pohon Rosella yang ditanam dan dirawatnya.

Jumat, 08 Februari 2019

Pematang Senjakala (3) oleh Sulaiman Djaya


Dan sebagaimana fiksi seperti yang telah kumaksudkan sebelumnya, kehidupan pun sesungguhnya adalah sebuah fiksi: masa silam. Ketika aku telah menempuh pendidikan sekolah menengah pertama, perubahan tiba-tiba datang dan hadir cukup drastis, yang kelak akan merubah keadaan lingkungan desa kami. Kala itu, mobil-mobil truck besar (kami menyebutnya mobil-mobil losbak) datang beriringan membawa tiang-tiang beton dan kemudian para pekerja menurunkan tiang-tiang beton tersebut di tepi jalan. Sementara itu, para pekerja lainnya sibuk menebangi pohon-pohon besar sepanjang jalan dengan menggunakan gergaji mesin.

Keesokan harinya, mereka pun mulai menancapkan tiang-tiang beton tersebut, dan bersamaan dengan itu pula aku tahu bahwa mereka sedang membangun jaringan listrik di desa-desa, dan orang-orang desa diminta menyetorkan sejumlah uang bila rumah-rumah mereka ingin dialiri listrik.

Itulah masa-masa di tahun 90-an, ketika kehadiran dua infrastruktur telah merubah desa kami dalam banyak hal, secara ekonomi dan budaya, yaitu industri dan jaringan listrik.

Tak lama kemudian, mobil-mobil truck yang mengangkut batu dan aspal pun hadir dan datang beriringan, menurunkan batu-batu dan tong-tong aspal di pinggir jalan, yang disusul kemudian dengan perangkat-perangkat berat lainnya, seperti mobil-mobil slender. Dan segera, mereka pun mulai melakukan pembangunan jalan aspal. Kebetulan salah-seorang mandornya yang orang Bandung dan sejumlah pekerja yang berada di bawah tanggungan dan pengawasannya mengontrak di rumah kami.

Keluarga kami melihat pembangunan jalan aspal dan kehadiran banyak pekerja tersebut sebagai peluang untuk mendapatkan uang, dan akhirnya keluarga kami pun membuka warung makan di rumah kami, sehingga para pekerja (yang juga mengontrak di rumah kami) itu bisa membeli makan mereka sehari-hari dari warung makan kami. Dan hal itu pun ternyata diikuti pula oleh para mandor dan para pekerja lain yang tidak mengontrak di rumah kami.

Ternyata, setelah pembangunan jalan aspal itu selesai, keluarga kami kemudian berjualan nasi bungkus yang dijual kepada para karyawan yang bekerja di pabrik kertas tempat kakakku bekerja. Dan kakakku-lah yang membawa nasi-nasi bungkus tersebut di tempat kerjanya, yang rupanya dijual kepada teman-temannya sesama karyawan di pabrik kertas tersebut, karena menurut mereka masakan keluarga kami lebih enak dan tidak terlalu mahal dibanding mereka harus makan di warung-warung makan di sekitar pabrik tempat mereka bekerja.

Saat itulah, tekhnologi tivi berwarna pun mulai hadir menggantikan tivi hitam putih. Namun, sebelum kehadiran tivi berwarna di desa kami, tentu kami terlebih dulu akrab dengan tivi hitam putih yang menggunakan tenaga ACCU.

Di masa-masa remaja, sebelum listrik hadir di rumah-rumah kami itulah, kami menonton televisi di malam Minggu saja atau di hari Minggu-nya, seperti menonton acara Kameria Ria dan film-film yang ditayangkan setiap malam Minggu yang ditayangkan stasiun atawa kanal Televisi Republik Indonesia alias TVRI, dengan menggunakan tenaga ACCU.

Tenaga ACCU itu pula yang kami gunakan untuk mengumandangkan adzan dengan pengeras suara (speaker), dan jika tenaga ACCU itu habis, kami akan mengisi ulang “energinya” di tempat pengisian umum selama beberapa jam dengan tarif dan bayaran yang telah dintentukan oleh si pemilik pengisian ulang tenaga ACCU tersebut.

Biasanya kami akan kecewa dan merasa kesal ketika pada malam Minggu di stasiun TVRI itu (satu-satunya stasiun televisi yang ada di era itu) menayangkan Laporan Khusus, yang biasanya menayangkan Harmoko dan Moerdiono (yang bicaranya lambat dan terbata-bata) atau menayangkan kegiatan dialog acara kelompencapir yang dipimpin Presiden Soeharto langsung, dan karena itu kami mematikan televisinya untuk sekira satu atau dua jam (karena biasanya acara itu memang lama), dan karena itu kami acapkali terpaksa harus begadang demi untuk menonton acara Kamera Ria dan film Malam Minggu.

Kala itu, hanya dua orang saja yang memiliki tivi hitam putih di kampung kami, dan karenanya di setiap Malam Minggu tersebut harus nonton ramai-ramai dan tak jarang berdesakan satu sama lain di antara kami. Beberapa tahun kemudian, keluarga kami memiliki televisi hitam putih 14 inchi sendiri, dan dapat dikatakan memiliki televisi sendiri merupakan gengsi sosial tersendiri pula bagi si pemiliknya.

Tentu saja saat itu aku belum tahu, atau katakanlah belum atau tidak sadar, bahwa TVRI sejatinya adalah media yang menjadi corong pemerintahan Orde Baru Soeharto, sebab yang penting bagi kami adalah kami bisa menonton acara-acara atau tayangan-tayangan yang kami sukai.

Demi menghemat tenaga ACCU itu, kami hanya menonton acara-acara alias tayangan-tayangan yang kami suka saja, seperti acara-acara di Malam Minggu dan di Hari Minggu, sebagaimana yang telah disebutkan.

Dari stasiun TVRI di masa-masa itulah kami tahu kisah-kisah suku Indian Geronimo dan Apache, film-film koboy seperti Django, atau penyanyi-penyanyi Indonesia yang populer di masa-masa itu. Itulah jaman di mana yang ngetrend kala itu adalah film-film koboy, petinju Elias Pical, Mohammad Ali, dan Mike Tyson, drama seri Oshin, dan tentu saja film-film Indonesia di era itu.

Dan kini barangkali perlu kembali ditanyakan: Apa bahagia itu? Adakah ia sama dengan keriangan dan kegembiraan? Kapan dan di mana kebahagiaan atau rasa bahagia dapat ditemukan, dijumpai dan dirasakan? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kutanyakan di dalam hati ketika aku dewasa itu, barangkali ketika aku harus menembus waktu melalui mesin waktu yang bernama ingatan dan kenangan untuk ‘mengunjungi’ kembali masa kanak-kanak. Ketika aku hanya tahu bermain dan sesekali mematuhi perintah ibuku.

Sewaktu masih kanak-kanak, beberapa hal yang kami sukai adalah mencari jangkerik, menerbangkan layang-layang, dan berburu belalang. Namun, dari beberapa hal yang kami sukai itu, berburu belalang-lah yang paling kami sukai. Kami melakukannya dengan riang, berlarian di bentangan-bentangan dan hamparan-hamparan pematang.

Biasanya kami berburu belalang di waktu-waktu masim hujan, di mana adakalanya kami berburu dalam guyur hujan dan adakalanya dalam keadaan gerimis kecil selepas hujan, dengan menggunakan batang-batang songler di tangan kami sebagai pemukul bagi para belalang yang berusaha terbang, dan tentu saja mereka kemudian jatuh ke genangan air di pematang-pematang sawah.

Tentu saja belalang-belalang itu ada yang kecil, ada yang sedang ukurannya, dan ada yang besar, selain tentu juga ada ragam jenis belalang.

Biasanya kami memburu mereka saat mereka terjebak hujan di sawah-sawah, di mana mereka kesulitan untuk terbang, dan kalau pun mereka berusaha terbang, kami akan segera memukul mereka dengan batang-batang songler kami.

Saat mereka mengapung dan terkapar di atas genangan air di sawah-sawah itulah kami akan mengambil mereka dan memasukkan mereka ke wadah-wadah kami yang telah kami ikatkan di pinggang atau di celana pendek kami.

Adakalanya kami melakukannya di pagihari, sianghari, atau di sorehari, tergantung kapan hujan itu sendiri turun. Itu kami lakukan ketika kami masih duduk di kelas 3 hingga kelas 5 sekolah dasar kami, yang kebetulan berada di samping desa kami.

Bila kami sudah merasa cukup banyak mendapatkan atau memburu mereka, kami menyerahkannya kepada ibu kami untuk digoreng atau dimasak, yang adakalanya kami makan sebagai lauk makan kami.

Sementara itu di sore hari, bila aku tak sedang bersama teman-temanku, aku kembali duduk mengerjakan tugasku meunggui tanaman. Ketika kuarahakan mataku ke sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah, ada capung-capung selepas hujan, juga riap sejumlah kupu-kupu yang adakalanya terbang dan adakalanya singgah di kelopak bunga.

Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkanku tentang kegembiraan. Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan. Seakan-akan mereka asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca di mana aku duduk dalam pelukannya di bawah bentangan langit mahaluas dan tak berbatas.

Di sisi lain, di barisan pohon-pohon, aku bisa mendengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan, dingin yang meresap pada bulu-bulu mereka. Tentulah di saat-saat seperti itu matahari sudah enggan menampakkan diri.

Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu. Dalam cuaca seperti itu sebenarnya aku tak hanya dapat memandangi capung-capung yang yang kuumpamakan sebagai para peri mungil, sesekali juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang.


Dan ketika aku menulis otobiografiku ini, aku tergoda untuk membayangkan getaran-getaran sayap-sayap mereka yang tipis itu adalah kiasan dari kematian yang menyamar sebagai keindahan dan kelembutan. Aku tergoda untuk mengandaikan mereka adalah maut yang bermain-main itu sendiri. Aku akan menyebut capung-capung itu sebagai peri-peri kecil yang tengah mencandai kematian, sosok kematian yang memang tidak terlihat oleh mata telanjang dan hanya bisa dipahami oleh keintiman bathin.

Selasa, 05 Februari 2019

Pematang Senjakala (2) oleh Sulaiman Djaya


Masa kanak-kanak dan masa remaja barangkali adalah masa-masa keluguan dan kesahajaan lelaki. Atau bahkan kenakalannya. Kupandangi lampu-lampu sebuah pabrik kertas, yang karena tampak berkerlap-kerlip dan berkerumun, lebih mirip sebuah kota kecil yang tak pernah tertidur. Dan memang sudah hampir tengah malam ketika pintu ruang bacaku masih terbuka. Juga, meski cukup jauh, suara-suara mesin pabrik kertas itu seolah datang dari setapak pematang di belakang rumah.

Tak terasa, aku sudah bertahun-tahun hidup di dunia yang tak lagi sama seperti ketika aku masih kanak-kanak dan remaja. Memang, sesuatu acapkali telah berubah secara pelan-pelan ketika kita tak sedang memikirkannya, lagi-lagi ini pandangan moralisku ketika kini menjadi lelaki dewasa, atau ketika kita, entah sengaja atau tidak sengaja, tak menyadarinya.

Sementara, malam tetap lengang seperti biasanya, tak ada bising atau keriuhan selain suara-suara katak dan serangga. Namun, yang penting untuk diketahui, ketika aku masih kanak-kanak, tempat yang kini menjadi kawasan pabrik kertas itu adalah sejumlah rawa-rawa dan hutan belukar yang menjadi rumah bagi berbagai jenis ular dan binatang-binatang lainnya.

Di tempat itu pula, dulu sering kulihat gerombolan-gerombolan bermacam-macam burung dan unggas yang singgah atau kembali terbang, dan sebuah kisah tentang perempuan yang malang, yang kisahnya mirip film-film drama yang mengisahkan sebuah kisah dari masa silam yang meski tak terlampau silam, tapi menyimpan sejumlah peristiwa aneh.

Aku baru terbangun dari tidur sebelum aku membuka pintu dan memandangi lampu-lampu pabrik kertas itu, dan karenanya aku sengaja menahan dingin angin selepas hujan. Sedangkan di antara atau di sekitar lintasan-lintasan pematang dan hamparan sawah-sawah, gelap terasa kental dengan kebisuannya yang menyerupai kiasan maut yang tengah terlelap karena cuaca lembab.

Ingatanku tentang masa silam, muncul begitu saja ketika kupandangi barisan angka-angka pada kalender yang terpampang dan berdiri di atas meja bacaku, di antara beberapa buku, jurnal dan majalah yang terhampar dengan tenang, juga seperti kematian dan masa silam. Masa-masa yang bagiku seperti lorong-lorong keheningan yang panjang.

Tetapi kini, sungai telah memiliki dinding-dinding batu dan pohon-pohon rindang sepanjang jalan telah digantikan barisan tiang-tiang beton, bersamaan dengan hadirnya pabrik kertas dengan dua cerobong asap raksasanya yang mengepulkan asap ke udara.

Namun, meski bagaimana pun, sebelum pabrik kertas itu dapat hadir dengan megah seperti sekarang ini, ada sebuah cerita tentang Nyi Randa, seperti yang telah kukatakan, yang kemudian menjadi nama tempat yang kini telah digantikan pabrik kertas itu, yaitu Tegal Nyi Randa.

Ketika pabrik kertas mulai dibangun di tegal itu, orang-orang bercerita tentang sepohon besar yang berdiri kokoh kembali keesokan harinya setelah dirobohkan. Pohon besar itulah yang oleh orang-orang dipercaya sebagai jelmaan Nyi Randa bertahun-tahun kemudian setelah ia melarikan diri ke rawa-rawa dan gugusan hutan belukar ketika seorang jawara membunuh suaminya tak lama setelah dilangsungkan resepsi pernikahan Nyi Randa dan suaminya yang terbunuh itu. Sebab, setelah kejadian itu, seperti cerita orang-orang di sekitar sungai Ciujung, Nyi Randa tak lagi ditemukan.

Mendapati pohon besar yang telah dirobohkan dengan menggunakan alat berat itu berdiri kokoh kembali keesokan harinya, pihak perusahaan pun merobohkan lagi pohon besar itu. Tetapi hasilnya tetap sama, pohon besar itu kembali berdiri seperti semula.

Kejadian itu pun segera menyebar luas di masyarakat, dan memunculkan dua pendapat: pihak perusahaan tetap ngotot untuk melenyapkan pohon tersebut, sementara sebagian masyarakat menginginkan agar pohon besar tetap ada di tempatnya seperti telah bertahun-tahun ada. Butuh waktu berhari-hari bagi pihak perusahaan untuk mewujudkan keinginan mereka sebelum akhirnya mereka berhasil membayar para dukun dan beberapa orang untuk melenyapkan pohon besar tersebut dengan bayaran yang cukup besar bagi orang-orang yang tak memiliki pekerjaan resmi.

Hanya saja ceritanya tak cuma sampai di situ. Beberapa hari setelah pohon besar itu berhasil dilenyapkan, pihak perusahaan dikagetkan dengan banyaknya kehadiran ular-ular yang datang tiba-tiba entah dari mana ke setiap sudut dan tempat di kawasan pabrik kertas yang sedang dibangun itu, hingga beberapa pekerja pun meninggal karena serangan ular-ular tersebut. Sementara, di waktu malam, para pekerja seolah selalu mendengar suara seorang perempuan tengah bersenandung dan beberapa pekerja terjatuh dari konstruksi bangunan karena efek teror nyanyian gaib tersebut.

Dan seperti pada kejadian-kejadian sebelumnya, orang-orang pun mempercayai bahwa perempuan yang selalu bersenandung di waktu malam itu adalah Nyi Randa yang tengah merana dan merasakan kesepian karena telah terusir untuk kedua kalinya. Aku jadi teringat kembali tentang kisah Nyi Randa itu ketika kupandangi lampu-lampu pabrik kertas, yang dulunya adalah rawa-rawa dan habitat para unggas, burung-burung, dan binatang-binatang Tuhan lainnya.

Sejumlah burung-burung dan para unggas, yang ketika terbang melintasi cakrawala pagi atau senja, membuatku membayangkan diri ingin seperti mereka yang dapat pergi dan terbang kapan saja.

Mungkin seperti itu pula riwayatku sendiri. Selain terserak dalam ingatan dan kenangan yang tak lagi utuh, riwayat usiaku juga terekam dalam foto-foto, dan sama-sama tak lebih sejumlah fragmen sebagaimana ingatan dan kenangan yang hanya dapat kuangankan. Sebuah foto yang kupandangi seakan mengajakku kembali untuk menyusuri jejalan setapak sungai di bawah barisan pohon-pohon rindang yang mirip sebuah terowongan kota-kota metropolitan sekarang ini. Jejalan setapak sepanjang sungai yang sebenarnya hanya bisa kukhayalkan. Dan diriku yang kuingat-ingat itu pun sebenarnya tak lebih orang lain yang telah tak ada. Sedangkan dorongan khayalan itu sendiri adalah perasaan cacat dan tak lengkap dalam diriku sebagai lelaki: Ali Sumadinata, atau mungkin dalam diri Anda. Itulah yang lazim disebut sebagai ironi dan dilema Narcissus: “permainan kehilangan dan menemukan”.

Dari segi budaya massa, tahun 70-an bisa dibilang sebagai eranya The Beatles dan Rock N Roll, ketika generasi muda mengenakan busana yang lebar di ujung kakinya dan ketat di bagian paha mereka. Sebuah masa yang bukan milikku, dan karena itu tak banyak yang bisa kuketahui di tahun-tahun 70-an, selain mereka-reka, dan itulah yang kulakukan, ketika membuka album foto-foto keluarga, yang sebagian besar sudah kusam dan sudah tak lagi mencerminkan jepretan pertama. Namun di dalam hati, diam-diam aku merasa kagum dan berterimakasih kepada fotografi, yang meski aku lahir di pedesaan, keluargaku bisa dikatakan sadar dokumentasi.

Dalam keadaan seperti itu, aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri di ruangan tempatku menulis dan membaca ketika memandangi foto-foto keluarga dan membaca majalah-majalah di tahun-tahun 70-an dan 80-an yang kudapatkan dari paman dan sepupuku dari pihak almarhumah ibuku.

Dalam foto-foto itu, aku adalah antara lain seorang bocah yang baru bisa merangkak dan seorang siswa kelas satu sekolah dasar dengan kondisi punggung yang masih tegak, tidak seperti sekarang ini yang mudah lelah dan merasa sakit bila tidak bersandar. Bersamaan dengan itu, aku tiba-tiba tergoda untuk membayangkan dan mengingat-ingat malam-malam di desa di tahun-tahun 80-an yang masih menggunakan lampu-lampu minyak. Aku tergoda untuk kembali membayangkan dan mengingat-ingat keheningan malam yang begitu panjang, sepanjang jalan dan sungai, sepanjang pohon-pohon rimbun nan rindang, di mana suara-suara serangga dalam kegelapan selepas hujan semakin menambah keheningan.

Rasa ingin membayangkan kembali masa silam itu justru tersulut di saat-saat aku memandangi foto-foto yang tersimpan di album keluarga, di saat-saat aku membaca majalah-majalah era 70-an dan 80-an, yang di saat tidak menceritakan semuanya, tapi pada saat yang sama menyimpan banyak hal, yaitu ingatan dan kenangan.

Kemudian aku seolah mendapatkan suatu kesan bahwa sebuah gambar, ternyata, sama-sama bisa bercerita banyak hal sebagaimana satu buku sejarah, atau bahkan bisa lebih banyak bercerita ketimbang satu buku sejarah, justru karena ia rentan dan selalu memiliki kemungkinan untuk ditafsirkan. Seperti halnya sebuah komposisi musik yang ingin selalu Anda dengarkan, karena ada sesuatu yang ingin Anda ceritakan dengannya, meski untuk Anda sendiri. Dan sebuah foto bercerita banyak kepada Anda sekaligus tetap menyimpan dan menyembunyikan yang lainnya, seperti juga bagiku.

Seperti itulah, sebuah foto yang kupandangi sanggup membuatku tergoda untuk mengingat-ingat sejumlah kenangan yang menyenangkan dan yang menyedihkan. Memancing rasa sentimentilku untuk membayangkan masa silam yang telah tak ada. Rasa sentimentil yang tersulut begitu saja ketika aku merasa bosan atau jenuh dengan apa yang tengah kulakukan dalam kesendirian.

Mungkin, pada saat-saat itu, Anda tak perlu membaca kembali catatan harian Anda, itu pun bila Anda punya catatan harian. Atau ketika Anda ingin merenungi sejenak perjalanan hidup Anda, mungkin cukup memandangi foto-foto dalam album fotografi milik Anda.

Sementara bagiku sendiri, ketika memandangi foto-foto di album keluarga, seperti yang telah kukatakan itu, aku tiba-tiba membayangkan kembali masa-masa ketika malam terasa begitu panjang dan hujan membuat keheningan terasa semakin kental di pedesaan, di saat aku hanya bertemankan selampu minyak di meja belajar. Katakanlah, sebuah foto atau sebuah gambar bisu tentang diri Anda, justru yang seakan-akan sanggup menghentikan dan menyandra masa lalu untuk siap menghadirkannya kembali ke masa sekarang di mana Anda hidup dan memandanginya.

Pada kasus tersebut, sebuah foto menjadi intim dan berarti bukan karena sebuah foto baru jadi atau baru dicetak, tetapi karena ia sudah tersimpan lama dan sekaligus telah menyimpan tahun-tahun yang pernah Anda jalani dalam hidup, tahun-tahun yang dalam keadaan tertentu dalam hidup Anda mungkin terasa belum jauh dan serasa baru beberapa waktu saja. Dan utamanya untuk kasusku sendiri, foto-foto di album keluarga itu tak menerakan tanggal dan tahun kapan foto itu diambil dan dibuat oleh si juru fotoya, hingga aku mesti mereka-reka sendiri tentang masa dan waktu pembuatan dan pencetakannya.

Karena itu, bila aku boleh menyimpulkan, sebuah foto bisa mengatakan sesuatu yang tak bisa dilakukan atau diceritakan oleh lembar-lembar halaman catatan harian. Contohnya adalah wajah-wajah yang sedih atau riang dalam sebuah foto atau gambar, tetap saja memancarkan keunikannya sendiri yang berbeda-beda pada setiap orang atau wajah, pada setiap moment atau kondisi-kondisi tertentu.

Bersama sebuah foto, ingatan yang memang sebenarnya hanya angan-angan kita, diberi kesempatan untuk memuaskan apa yang ingin direka dan digambarnya kembali. Meski pada saat yang sama ia hanya bisa mengembarai kegelapan dan khayalan-khayalannya sendiri. Tetapi, mungkin karena hal itu pula, rasa senang senantiasa direkonstruksi, di saat Anda ingin mengingat-ingat kembali kejadian dan peristiwa yang pernah ada atau yang melatarbelakangi keberadaan foto itu sendiri, di saat foto itu sendiri sebenarnya sudah terbebas dari peristiwa atau kejadian yang pernah Anda alami atau yang pernah Anda rasakan.

Persis seperti itulah, dengan dan bersama sebuah foto, apa yang kulakukan adalah mengarang kembali sejarah dan perjalanan hidupku. Anggaplah sebuah foto tak ubahnya satu puisi singkat yang bisa menceritakan banyak hal sekaligus menyamarkannya pada saat bersamaan. Fungsi figuratifnya telah membuatnya menjadi kecil sekaligus longgar dan terbuka untuk selalu ditafsirkan.

Namun, di atas semua yang telah kukatakan itu, ada juga mungkin sesuatu yang lain. Sebutlah ketika Anda memandangi foto diri Anda, terutama diri Anda di suatu masa yang telah berlalu bertahun-tahun, ada sesekali perasaan bahwa Anda tengah memandangi orang lain, disadari atau tidak disadari. Dan pada saat itu pula, Anda pun tengah mengagumi diri Anda yang lain, seperti ketika Anda memandangi diri Anda di cermin, di mana sebuah cermin berfungsi sebagai pemantul sekaligus pemisah (pemecah) diri Anda. Hanya saja sebuah foto diri Anda di masa silam mengajak untuk kembali menemukan diri Anda, dan itulah yang bisa kita sebut sebagai ingatan yang disandera sekaligus diceritakan oleh sebuah foto yang telah lama tersimpan.

Ingatan dan sebuah foto paling pribadi milik Anda, sebagaimana sebuah puisi romantis yang bukan lagi milik penyairnya, telah memiliki kehidupannya sendiri, kehidupan yang telah berpisah sekaligus masih dibagi dengan diri Anda, atau katakanlah, merebut figur Anda demi keberadaan dirinya sendiri. Karena itu, yang Anda lakukan tak lebih mengarang kembali ketika Anda ingin memasuki ingatan, atau ketika Anda mengingat-ingat kejadian yang telah berlalu bertahun-tahun. Meski pada kadar yang paling sentimentil, Anda merasa seakan-akan waktu tak beranjak, apa yang lazim disebut sebagai daya-tarik kesedihan dan keriangan sesaat.

Hingga bisa dikatakan, sebuah foto, sebagaimana sebuah cermin, menjadi ada karena bukan hanya mampu menampilkan citra Anda, tetapi lebih dari itu, ia mampu menunjukkan dan menghadirkan “orang lain”, orang lain yang anehnya terus-menerus Anda identifikasi sebagai diri Anda. Dalam kajian historiografi, contohnya, sebuah foto telah mampu menghadirkan kembali kejadian-kejadian atau pun peristiwa-peristiwa di masa lalu yang sebenarnya sudah tidak ada.

Sementara itu, bagiku sendiri, sebuah foto yang kupandangi seakan mengajakku kembali untuk menyusuri jejalan setapak sungai di bawah barisan pohon-pohon rindang yang mirip sebuah terowongan kota-kota metropolitan sekarang ini. Jejalan setapak sepanjang sungai yang sebenarnya hanya bisa kukhayalkan. Dan diriku yang kuingat-ingat itu pun sebenarnya tak lebih orang lain yang telah tak ada. Sedangkan dorongan khayalan itu sendiri adalah perasaan cacat dan tak lengkap dalam diriku sendiri, atau mungkin dalam diri Anda. Itulah yang lazim disebut sebagai ironi dan dilema Narcissus: “permainan kehilangan dan menemukan”.

Pada konteks seperti itu, nilai makna dan arti sebuah foto terletak pada kemampuannya untuk membangkitkan sentimentalitas personal. Ketika detil dan ketaklengkapan telah membebaskan dirinya untuk ditafsirkan olehku atau oleh Anda. Ketika ia membiarkan dirinya untuk terus direkonstruksi sejauh menyangkut kejadian dan latarbelakang yang menyediakan peluang bagi ingatan untuk melakukan tugasnya dalam pengembaraan-pengembaraan permainan kehilangan dan menemukan.

Kita juga sebenarnya sudah begitu tahu, dari sudut historiografis, fotografi telah menjalankan fungsi artifak dan hiorieglif, situs dan prasasti, meski yang diceritakan kepada kita lebih merupakan pecahan, potongan, dan kepingan kejadian, yang dari itu, kita sendiri yang mesti merangkai keutuhan dan kelengkapannya. Di sini dikatakan, misalnya, detil-detil sebuah foto akan mampu memberikan materi untuk upaya rekonstruksi kejadian dan pemahaman peristiwa, meski sebenarnya tak pernah berhasil menemukan keutuhan.

Sebagai contoh lainnya misalnya dikatakan, dari kualitas warna dan cahaya, kita bisa mereka-reka apakah sebuah foto yang kita pandangi dibuat dan diambil pada waktu pagihari, sianghari, sorehari, ataukah malamhari. Sementara itu, detil-detil material dan situasi sebuah tempat yang tersimpan dan tertangkap sebuah foto akan juga mengatakan kepada kita tentang situasi sebuah jaman, trend yang sedang berlaku, atau juga situasi sosial-budaya yang bisa dicontohkan dengan materi dan situasi busana, arsitektur tempat, produk-produk industri-ekonomi, dan lain sebagainya. Sesuatu yang dulu orang-orang purba gambarkan kepada kita melalui ukiran, lukisan, simbol-simbol, dan rumus-rumus seperti yang dicontohkan dengan baik oleh hieroglif orang-orang Mesir purba, yang adalah juga para seniman grafis yang cakap secara matematis dan estetis.

Tetapi, karena ketaklengkapannya itu, dan ini pun diakui oleh para arkeolog dan sejarawan, sebuah prasasti, hieroglif, atau pun fotografi, hanya memberikan kepingan cerita, bukan keseluruhan peristiwa atau pun kejadian historis yang padu dan lengkap. Pada celah itulah dibutuhkan interpretasi alias penafsiran dan angan-angan sang arkeolog atau pun sang sejarawan, atau apa yang aku sendiri akan menyebutnya sebagai upaya “mengarang kembali” peristiwa dan kejadian. Hingga karena demikian, historiografi sekalipun tak pernah terbebas dari angan-angan, justru karena setiap fakta dan bukti historiografis pada akhirnya mesti ditafsirkan, di saat yang hadir kepada kita hanya pecahan dan kepingan, bukan peristiwa atau kejadian yang utuh. Ia ada sebagai sesuatu yang cacat dan tak lengkap.

Tepat pada saat itulah, Anda hanya berusaha mengangankan dan mengarang kembali kejadian atau pun latarbelakang sebuah foto yang Anda pandangi atau yang tengah Anda selidiki, di saat figur Anda yang ada dalam foto tersebut telah menjadi orang lain yang milik masa lalu. Di saat milik Anda yang sesungguhnya hanyalah angan-angan itu sendiri. Dan karena itu, semakin tak lengkap sebuah foto, semakin kreatif pula angan-angan Anda untuk mengarang kembali sebuah peristiwa atau kejadian yang dapat membuat sebuah foto berarti bagi Anda, di saat Anda sendiri hanya bisa mengangankan kembali gambar-gambar buram ingatan. Seperti itulah kisah hidupku yang kutulis dalam otbiografiku ini.


Dan seperti itu pulalah historiografi, sebagaimana dipahami Homerus, Virgilius, dan Plutarch, tak sekadar dokumentasi prosaik, tetapi sebuah deskripsi yang hidup, yang karenanya Homerus dan Virgilius menuliskannya dalam bentuk teater puitis melalui media puisi, di mana ingatan menjadi demikian hidup karena dituliskan dan digambarkan secara teatrikal. Sebab itu tidak berlebihan, ketika Shakespeare mengaku diri lebih banyak belajar tentang sejarah dari puisi-puisi dan drama-drama Yunani, atau dari epik-epik lainnya. Dan aku pun telah banyak menyalin fiksi riwayat hidupku menjadi fiksi yang lain.