Label

Kamis, 25 Desember 2014

Emily Dickinson dan Puisinya


Oleh Nurel Javissyarqi

Tak Pernah Kulihat Padang
Puisi Emily Dickinson

Tak pernah kulihat padang,
Tak pernah kulihat lautan,
Namun kukenal pucuk gelinggang
Dan tahu makna gelombang.

Tak pernah kusapa Tuhan,
Maupun berkunjung ke surga
Namun tempatnya kudapat pastikan,
Seakan tertera di peta.

Emily Elizabeth Dickinson (10 Des 1830 – 15 Mei 1886) dikenal Emily Dickinson, penyair Amerika berpendidikan sekolah menengah yang mengutamakan ajaran Kristen. Bapaknya bendahara sekolah menengah Amherst. Lima tahun mencampuri hidup bermasyarakat di Amherst. Di usia 23, bersama bapaknya ke Washington menghadiri sidang Kongres.

Percintaannya tidak membuahkan bahagia yang menyebabkan balik ke Amherst dan menetap di sana. Mencari hiburan dengan menggubah sajak-sajak hingga menjadi salah seorang pelopor dari penyair-penyair abad 20. Sajak-sajaknya menunjukkan sifat sederhana dalam ucapan, keluar dari menuang hati membongkar intisari peristiwa. Sampai menjulangnya terkemuka di dunia kesusastraan Amerika. Himpunan sajak-sajaknya pertama terbit tahun 1890 (dari buku Puisi Dunia, julid II, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1953).

Percintaan tak berujung bahagia serupa kebocoran lapisan ozon menghisap sumber mata air bathin, mengeringkan ladang jiwa, embun pun malas membukakan mata terindah. Seperti ketinggian tanjung karang kesadaran, terik matahari menyengat, gelombang laut sampai ke kaki secepatnya menjelma garam, kepiting terbakar sebelum diserang bala pasukan semut berduyun-duyun dari idep mata Emily.

Dipilihnya hidup sederhana hingga terpantul dalam sajak-sajaknya, selepas kerontangnya sukma, putus asa lenyap tak tersisa, harapannya hanya mengeja mimpi entah dimengerti terperih. Atau padang rumput diserang musim kemarau terlupa rasanya air hujan, kaki-kaki gembalaan. Kesederhanaan seimbang menerima keadaan, menginsyafi mimpi selain dirinya merajut artian hayati, bunga berwarna-warni semerbak di hati mengikuti senyum belia tenangkan segala pedih.

Di Amherst, Emily berketetapan hati mengubah sajak-sajak kalbunya sebagai nyanyian tersisa, memaklumatkan alam rasa menyetubuhi semesta bumi, jiwanya disayat-sayat sembilu, kekasih menampik sayang cinta kesucian. Dikuburnya dalam-dalam menjelma niatan bulat; selamanya kasih tak ternoda, meski getir pilu melebihi sambaran petir merontokkan daun purba. Emily selalu melagukan dalam dendang pahit kesendirian, sunyi suwong tanpa penggali hati kayungyung.

Tatkala insan menandaskan segala sesuatu berteguh bathin melafalkan puja, hujan tak terkira datang tiba-tiba hadirkan dirinya ternama. Memperinding bulu-bulu silam, sebunga kumis kucing menusuk tebalan daging mengoyak isi jantung buyarkan teka-teki. Melantak keharuman menyengat hidung masuki tenggorokan, bibir-bibir mengering yang dulunya mencibir tanpa salam.

Kini izinkan kumulai menafsirkan puisinya, semoga berkenan dalam nafas-nafasku kadang tak teratur bergoyangan, umpama pepohonan rindang diterpa badai hujan kesiangan: Tatkala kalbu Emily berkeping-keping kecewa, menafikan segala pandang pula degup luaran. Tersebab dalamnya tengah saksikan panorama melebihi ketelanjangan, kesaksian melampaui dirasakan. Atau bukan menampik tetapi keunggulan menolaknya, semisal lubernya air dalam gelas penuh terisi menerus.

Luapan rasa membuntu telinga, selain yang bergemuruh menggejolak dalam jiwa. Serasa bahasa alam betapa mengesankan tak mampu mewakili, sentuhan melebihi pucuk gelombang tajamnya ombak, sebilah karang meruncing kelembutan pusaran. Ada keleluasaan santun mencipta pelangi di mata, deburan mengganas memantul ribuan makna. Tiada yang hendak diraih pun dipasang, ketika kehendak berdamai setelah tanak peperangan. Sudah jenak pilu, tiada sejenak pun menuruti selain kalbu dalam kesatuan setubuh.

Kefahaman Emily menantang yang pernah dirasai, perasaan bertumpuk-tumpuk setandan pisang matang. Barang siapa mengupas kehati-hatian peroleh kegenapan, ketenangan di atas kekecewaan, kesantausaan berwajah tentram bukan dari kekalahan. Pula betapa misteriusnya tuhan tak membuat penasaran; hati tertekan menelisik menyusup seperti akar-akar menujah tanah kedalaman, menghisap air mata air sumber kehidupan. Betapa lembut perasaan Emily mengkilat sebenang sutra dari ulat tak sempat muksa menjelma kekupu.

Namun benang-benangnya bercahaya memancarkan sinar terang, ditarik laba-laba yang bertapa dalam goa renungan. Meskipun rapuh, senandungnya terngiang-ngiang di telinga mereka.

Serupa tafsiran ini, mempurna bathin terjajah atau ketenangan dari penindasan suara-suara membising petaka. Saat gelisah, jangan bertanya pula membuka lembaran peta, sebab itu tiada guna. Olehnya tenangkan dulu sebelum melangkah menyapa. Emily, ketabahan mempererat ruh kata-kata tak membeletat sia-sia pun berbelok arah tiada makna. Kesabaran mendiami sunyi sebatu kelang ditetesi air, lama-lama cekung pantulkan bunyi mengalung, bertanda adanya penunggu yang memikirkan sesuatu. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar