Label

Kamis, 01 Mei 2014

Keberpihakan Romo Mangun Pada Kaum Miskin




KONTEKS  YANG MELATARBELAKANGI, DAN GAMBARAN KAUM MISKIN DALAM BALADA BECAK KARYA Y.B. MANGUNWIJAYA

Oleh B. Rahmanto (Dibacakan dalam diskusi  “Novel-Novel Romo Mangun: Sastra Hati Nurani” yang diselenggarakan oleh kerja sama Harian Kompas dan Dinamika Edukasi Dasar,
Surakarta, Rabu ,13 Maret 2013)

1.      Pendahuluan

Dalam rangka diskusi Forum Mangunwijaya VIII dengan topik   “Novel-Novel Romo Mangun: Sastra Hati Nurani” oleh panitia saya diminta membicarakan keberpihakan Y.B. Mangunwijaya terhadap anak-anak, perempuan, dan  kaum miskin; konteks seperti apa yang melatarbelakangi opsi dan obsesinya; serta bagaimana gambaran Mangunwijaya terhadap manusia marjinal itu. Bagi saya, topik ini sangat menarik, tetapi terlalu luas untuk dibicarakan dalam diskusi yang terbatas waktunya. Dalam buku saya Mangunwijaya, Karya dan Dunianya (2001), keberpihakan pada rakyat kecil sudah saya bicarakan dalam bab 5 ketika saya membicarakan cerpen-cerpen Mangunwijaya yang dikumpulkan dalam Rumah Bambu (2000). Melalui cerpen-cerpen seperti  “Lampu Warisan” (Juli 1980), “Sungai Batu” (Agustus 1980), “Colt Kemarau” (Agustus 1980), “Cat Kaleng” (September 1980), “Hadiah Abang” (September 1980), “Malam Basah” (September 1980), dan “Rumah Bambu” (September 1980), terungkap berbagai masalah yang dialami sehari-hari oleh golongan masyarakat bawah yang berada di pinggiran atau dipinggirkan, seperti tukang becak, pedagang barang bekas, pelacur, sopir colt, pencari batu-batu di kali, petani gurem tak bersawah, dan anak jalanan yang gembel.

Sehubungan dengan itu, saya ingin menawar dengan hanya membicarakan keberpihakan Mangunwijaya pada kaum miskin, konteks yang melatarbelakanginya, serta bagaimana Mangunwijaya menggambarkan kaum  marjinal itu. Agar tidak terjadi pengulangan, saya ingin membatasi keberpihakan Romo Mangun terhadap orang-orang miskin dalam novelet Balada Becak (1985). Berangkat dari novelet Balada Becak atau Sebuah Riwayat Melodi Yus-Riri (selanjutnya disingkat BB), tulisan sederhana ini mencoba menggapai konteks seperti apa yang melatarbelakangi opsi dan obsesinya; serta ingin mendeskripsikan bagaimana Mangunwijaya menggambarkan keberpihakannya  terhadap kaum miskin yang ada dalam novelet tersebut.

Agar pembicaraan ini agak runtut, saya ingin mengawalinya dengan memaparkan sinopsis novelet BB; kemudian meminjam teori sastra baru yang muncul dan berkembang dua dekade terakhir abad ke-20 yang dikenal dengan pendekatan New Historicism (Historisme Baru) yang dipelopori oleh Stephen Greenblatt, yang saya anggap dapat melancarkan jalan untuk masuk ke dalam konteks seperti apa yang melatarbelakangi opsi dan obsesinya; dan diakhiri dengan menunjukkan bagaimana gambaran keberpihakan Mangunwijaya terhadap kaum miskin yang ada dalam novelet tersebut.

2.      Sinopsis Novelet Balada Becak

Membaca novelet ini saya seolah bertemu kembali dengan Romo Mangun di pondoknya yang terletak di pinggir Kali Code itu. Di sela-sela suara riak-riak kecil aliran air Kali Code, saya seperti terbius mendengar suara Romo Mangun menuturkan Balada Becak secara lisan. Kadang pelan-pelan, datar, lalu mecucu penuh ironi, kemudian mengakak, meninggi, dan kembali datar lagi seperti berikut ini:

“… Nah lagi/, coba lihat itu/, Saudara//. Itu/, itu bukti lagi/ tentang jiwa bergaya ningrat/. Sekaligus/ prosa yang puisi/, mekanika/ eksakta ketat/, sekaligus seni tari yang bebas kreatip//. Ya/, datanglah/, itu dia/ yang setiap pagi saya kagumi/, lelaki desa dengan punggung/, dada/, perut perunggu/, telanjang/ teruji matahari/, bercelana kastup hitam veteran/ sampai lutut//. Memikul dua keranjang berat/ penuh pisang ke pasar//. Luar biasa bukan?// A masterpiece/ of noble elegance! //Tsj!// Akuilah/, akuilah/, apa ada macam dia/ di panggung ballet Moskwa/ atau New York yang tersohor itu?// Atau/ di Taman Ismail Marzuki pun?// Cara dia berjalan/, cepat/ tetapi seperti terkendali komputer musik elektronik/, ah/ lihat itu/, tubuh bergoyang luwes/, berirama/, tangan aksi/ bergaya seperti The Sexy Sisters /sekaligus jenaka/, meriangkan hati bila kita terundung frustrasi!// Cit-ciyeet/, coba rasakan/ bunyi pikulan di punggungnya yang berotot/ kenyal/ gempal/ dan kompak/ beserta seluruh tubuh atasnya/ yang berkilau/ berkeringat/, dan …/ pasti berbau sedap itu/, cit-ciyeet/, cit-cit- ciyeeet …”// (hlm. 7).

Asyik bukan? Bagi saya, novelet ini jangan hanya sekadar dibaca dalam hati, tapi dibacakan! Ya dibacakan! Novelet ini jika dibacakan dengan rima, irama, dan tone yang tepat, akan terasa hidup. Pelan-pelan akan mengalir apa saja yang dirasakan pengarangnya ketika itu, sehingga tak terasa pula akan tertangkap maksud dan tujuannya sekaligus keberpihakannya.

Novelet BB dikemas dalam 7 (tujuh) bagian.  

Bagian satu (hlm. 7-34) menceritakan lelaki muda lulusan SMA bernama Yusuf (dipanggil Yus) yang sehari-harinya disibukkan dengan melamun dan mengkhayal, lantaran gagal melanjutkan kuliah karena tiadanya biaya. Akibat kemiskinan, itulah biang keroknya. Untuk sementara, Yus ditampung Rahmat (kakaknya), membantu bekerja di bengkelnya sebagai tukang las. Selain bekerja di bengkel kakaknya, Yus sering diminta mengantarkan gori milik Bu Dullah dengan naik becak.

Yus, yang boleh disebut sebagai tokoh utama novelet ini, di sela-sela mengelas, khayalannya terbang bersama Lilian, mahasiswi Jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada, teman Yus di SMA dulu.Ia suka pada gadis itu. Tapi, keadaan yang membuat hatinyanya menciut. Yus tukang las, bukan mahasiswa, sedang Lilian mahasiswi jurusan arsitektur. UGM lagi. Akibatnya, mengkhayal adalah pelampiasan logis bagi keinginan yang tak kesampaian. Perjumpaannya kembali dengan Lilian pun dibuat dramatis. Saat itu Yus sedang istirahat melamun di becaknya di tengah gerbang di depan gedung perkuliahan Jurusan Teknik Arsitektur UGM. Dari dalam kampus nampak Lilian naik sepeda kumbang. Terdengar celoteh dan canda ria sekelompok mahasiswa-mahasiswi yang pulang kuliah. Lilian nampak melambai-lambaikan tangannya kepada teman-temannya. Saking asyiknya,  Lilian tak menampak ada becak parkir agak di tengah gerbang kampus. Maka, sesaat kemudian… grobyak, sepeda kumbang Lilian tersungkur menabrak becak Yus. Tubuh Lilian langsung masuk dalam pelukan Bang Becak. Selebornya rusak parah (hlm. 13). Astaga, ternyata kecelakaan yang menggembirakan. Yus ketemu Lilian. Tak ada pertengkaran. Yus kemudian bertanggung jawab mengelas selebor sepeda kumbang Lilian dengan senang. Dan sejak itu pulalah bayangan Lilian tak mau lepas dari benak Yus.

Sementara itu, Riri, anak gadis Bu Dullah si pedagang gori, selalu ikut Yus mengantar gori dengan membonceng di selebor belakang. Meski malu-malu, diam-diam ternyata Riri menaruh hati pada Yus. Sementara Yus masih ogah-ogahan. Dengan Yus sebagai pengayuh becak, mereka bertiga (Bu Dullah yang bawel, bertubuh gemuk, tapi singsat itu, suka naik di atas gori-gori) melintasi jalan-jalan di pinggiran kota Yogyakarta ke tempat yang dituju seperti dapat dilihat dalam cover novelet BB goresan Mangunwijaya yang apik ini.

Peristiwa lucu pun sering hadir dalam momen ini. Gori ditumpuk tinggi di dalam becak, menggunung melebihi ukuran; akibatnya sebelum gori-gori itu diikat, runtuh berhamburan menggelinding ke mana-mana. Yus pun suka iseng menyepak gori kecil yang menggelinding ke arahnya. Celakanya itu gori yang disepak Yus, melesat bak peluru berduri dan jatuh di antara kernet truk yang sedang bergurau dengan perempuan penjual jamu galian. Si kernet dengan sewot langsung menyepak balik ke arah Riri yang berdiri dekat becak. Riri sempat mengelak, dan buk, gori kecil itu menghantam tubuh gemuk Bu Dullah. Karuan saja ia meledak marah ke arah Yus. Yus membuat sembah sebagai tanda mohon damai. Bu Dul jengkel berulah meniru-niru gaya sembah pula. Lalu meledaklah sorak sorai anak-anak yang diikuti tanda sembah pula. Akan tetapi, tak lama kemudian, Yus, Riri, Bu Dullah dan gori-gorinya meluncur kembali dengan anggun di jalan raya. Beberapa saat kemudian, Yus nampaknya sedang apes. Dalam situasi seperti itu, gadis yang selalu mengobsesi lamunannya, mendadak muncul … Karuan saja Yus kelimpungan. Yus berlindung di balik tubuh Bu Dullah, tetapi tokh keburu Lilian melihatnya terlebih dulu. Lilian justru meninggali senyum menawan pada Yus.

Sementara itu, teman-teman sebengkel Yus tahu, kalau Riri menyukai Yus. Sedang Yus pura-pura tidak tahu. Ia masih tetap melamunkan Lilian. Lamunan demi lamunan terus menguasai pikiran Yus setelah Bu Dullah dan Riri masuk pasar. Dalam khayalannya, Yus menjadi orang-orang ternama dan kaya. Sedang Lilian, dalam khayalannya itu,  jatuh hati pada Yus tanpa ragu. Dan ujung dari lamunan itu, becaknya terperosok di  ke dalam selokan bersemak di muka bengkel abangnya. Alamaaak! (Hlm. 34).

Bagian dua (hlm. 35-39) mengisahkan Yus menjenguk Pak Kario (ayahnya) yang terbaring sakit dirawat Fifi (Fitri) istri Rahmat, kakaknya. Pak Kario mengeluhkan kemelaratannya sehingga tidak mampu menyekolahkan anaknya lebih lanjut. Tak lama kemudian Yus pamit pada ayahnya untuk menjemput Bu Dullah dan Riri dengan becaknya. Di tengah jalan mereka bertiga diganggu oleh deru sepeda motor gerombolan pengebut yang nyaris menggaet Bu Dullah. Untunglah datang polisi Polantas yang melabrak, mengejar gerombolan tadi. Ternyata sesampainya di rumah, gerombolan pengebut kembali menggoda Riri. Riri menangis ketakutan. Yus, teman-teman bengkelnya dan semua pemuda kampung keluar mengepung pengebut sialan itu. Merasa kalah banyak jumlahnya, gembong pengebut mengajak teman-temannya putar sepeda motor, ngacir pergi.

Bagian tiga (hlm. 40-46) menceritakan ronda malam di desa Yus dan Riri yang terletak di pinggir kota. Malam itu Riri kelimpungan merindukan Yus dan teman-temannya yang main gitar di Gardu Ronda yang terletak di depan rumah Bu Dullah. Riri tidur menelungkup, diomeli ibunya. Bu Dullah tak setuju jika Riri menyenangi Yus yang hanya tukang las, sementara si Jamin anak Pak Lurah Pelemdukuh lebih bisa diharapkan. Tapi Riri tak mau. Ia tetap merindukan Yus. Terjadi tarik-menarik antara anak dan ibu. Bu Dullah yang dulu bernama Kasanah anak tunggal lurah desa, akhirnya mengalah. Bu Dullah tak mengingkari, ketika masih dipanggil Kasanah ia pernah tergila-gila dan jatuh cinta serta nekad kawin lari dengan pemain ketoprak yang mementaskan lakon Damarwulan-Menakjingga. Bu Dul berlinang-linang matanya mengenangkan peristiwa itu. Dan Riri kencang dirangkulnya.

Bagian empat (hlm. 47-51) mengulang rutinitas becak penuh gori dengan Bu Dul, Riri dan becak Yus menggelinding tenang menuju kota. Di tengah jalan kembali becak Yus ketemu Lilian. Lilian menanyakan selebornya. Terjadilah dialog antara mereka berdua yang menyebabkan Riri sewot. Dialog ini sangat menarik untuk dikutip

 “Thank you Miss! Good bye Miss Shelei Bohr!” Lilian tertawa geli, melambai dan pergi.
Riri, melirik agak cemburu pada Yusuf, “Temanmu sekarang kok tambah cantik ya.”
“Ooooh, lebih cantik Bu Dullah.”

Bu Dul melabrak, “Apa kau bilang? Satu kali lagi, omong apa?” Yusuf pura-pura naif, “Gori-gorinya Bu Dul kok besar-besar.” Yusuf dipukul Bu Dul. “Seandainya kau bukan anak Pak Kario, sudah saya gudeg kau!” (hlm. 48-49)

 Bagian empat ini ditutup dengan peristiwa yang sedih. Sekembalinya mengantar gori, Yus ketemu lagi dengan Jauhari mahasiswa pengamen bergitar yang meminta tolong untuk menyelipkan surat di rumah nomor 10. Belum sempat menyanggupi, kembali menderu-deru gerombolan pengebut. Becak ditabrak ramai-ramai dan terguling, ringsek. Roda belakangnya menjadi angka delapan. Yus terlempar, tapi Jauhari tertabrak berdarah-darah, dan akhirnya meninggal di rumah sakit. Yus mendapat  warisan gitar.

Bagian lima (hlm. 52-56) menceritakan Pak Haji yang memesan kap untuk mobil kolt-nya pada bengkel Rahmat. Yos masih asyik memoles selebor kendaraan Lilian sambil melamunkan bangsal agung resepsi kenegaraan. Tampak Ibu Dirjen Deparlu bernama Riri, Menteri Gori dan Gudeg Bu Dullah, kawan-kawan Yus sekampung sebagai jenderal, laksmana, dan diplomat, Pak Polantas menjadi marsekal menjaga sekuriti. Kepala Negara ternyata ayah Yusuf Pak Kariosentono, Panglima Besar dijabat Rahmat. Mereka sedang menyambut kedatangan Sri Ratu Lilian Sarsaparilla. Dan Yus, ternyata menjadi komponis kesayangan bernama Mister Profesor Yusuf Marsudi. Yus memberi hormat pada Sri Ratu, mengambil gitarnya melantunkan orkes simfoni TVRI. Setelah itu Yus berjabat tangan dengan Sri Ratu. Riri penuh kecemburuan. Dan Lilian Sarsaparilla memandang Yus penuh pertanyaan … tahu-tahu Yus tersadar mendengar pertanyaan Lilian apakah selebornya sudah selesai diperbaiki. Yus mengangguk. Hanya sebentar pertemuan itu, dan … rrrrrang … sepeda kumbang Lilian cepat menghilang meninggalkan Yus yang terpana.

Bagian enam (hlm. 57-59) mengisahkan Yus seorang diri kerja lembur di bengkel abangnya. Saat itu pukul dua malam, datang sebuah kolt yang dinaiki dua orang. Pembawa kolt itu meminta Yus untuk mengelas pedal rem kendaraannya yang patah tanpa dicopot. Yus curiga. Sebab jika permintaan itu diturut, artinya pedal rem dilas tanpa dicopot, akan sangat berbahaya. Bisa menyebabkan kebakaran mesin. Apalagi tingkah kedua orang itu mencurigakan. Yus ternyata berhasil mengelabui mereka walaupun di bawah todongan pistol. Kolt itu ternyata milik Haji Tauhid. Berkat kecerdikan Yus, kesigapan kakaknya, dibantu orang-orang kampung, perampokan itu bisa digagalkan, meskipun harus dibayar dengan luka-luka tembak di badan Yus.

Bagian tujuh (hlm. 60-64) memuat akhir kisahan pendek novelet ini. Sepulang dari pasar Riri dan Bu Dullah membawa tremos besar yang berisi es-krim yang dipakainya sebagai hadiah kepada Yus sang “pahlawan” yang terbaring di amben dengan tangan terbebat. Muncul pula Pak Haji Tauhid yang menyatakan terimakasihnya kepada Yus sambil memberikan bungkusan yang diterimakan pada Riri untuk Yus, karena tangan kanan Yusuf dalam perban, “Dik Rahmat, saksikan. Ini baru tahap pertama. Katanya butuh modal, bukan. Ini tanpa bunga dan modal juga tidak perlu dikembalikan. Ini grent, ya grent itu nama internasionalnya. Tetapi menurut ukuran desa harap disebut biasa saja: sekadar tan­da terima kasih. Yah, ini baru Pelita I. Nanti kalau perlu masih dapat Pelita II Pelita III, begitu menurut cara nasional.” (hlm. 61). Kisahan happy ending ini berakhir dengan meriah karena Bu Dullah, keluarga Yus, dan bahkan Pak Haji Tauhid bersama-sama merestui hubungan Riri dan Yus.

3.      Konteks yang Melatarbelakangi Opsi dan Obsesinya

Dewasa ini, anggapan bahwa karya sastra hanyalah hasil khayalan pengarangnya saja, perlu ditolak. Tidak sesederhana itu. Demikian juga anggapan bahwa karya sastra hanyalah tiruan kenyataan (Plato, Aristoteles), atau karya fiksi yang bergerak dalam sebuah dunia imaginatif (Wellek & Warren, 1971), sebuah dunia rekaan, dunia lain, atau sebuah dunia alternatif (van Luxemburgh, dkk.1984), yang dipelajari secara terpisah dari fakta-fakta lainnya seperti ekonomi, politik, agama, dan kebudayaan adalah pendapat yang menyesatkan.  Dalam dua dekade terakhir abad ke-20, telah muncul paradigma baru pendekatan New Historicism (Historisisme Baru) yang dipelopori oleh Stephen Greenblatt. Stephen Greenblatt mendobrak kecenderungan kajian tekstual yang dipandangnya sebagai bersifat ahistoris yang hanya melihat sastra sebagai wilayah estetis yang otonom yang dipisahkan dari aspek-aspek yang dianggap berada di luar karya tersebut. Dalam tulisannya yang berjudul “The Touch of the Real”, Stephen Greenblatt (2005: 6-7) menegaskan bahwa dunia yang digambarkan dalam karya sastra bukanlah sebuah dunia alternatif melainkan sebuah cara mengintensifkan dunia tunggal yang kita huni ini. Dalam menganalisis karya sastra Stephen Greenblatt menekankan dimensi politis-ideologis produk-produk budaya. Artinya, jika kita akan membaca Balada Becak karya Mangunwijaya, New Historicism menyarankan agar teks-teks sastra dan teks-teks nonsastra dipilih menurut pilihan yang didasarkan pada tema wacana yang akan dikembangkan.

Oleh karena itu, membaca novel-novel dan cerpen-cerpen karya Mangunwijaya, jika kita ingin menangkap apa yang sebenarnya ingin dikemukakannya, mutlak diperlukan membaca juga esai-esai Mangunwijaya seperti Putung-Putung Roro Mendut(1978), Sastra dan Religiositas (1982), Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa (1987), Putri Duyung yang Mendamba (1987), Esai-Esai Orang Republik (1987), Tumbal (1994), Gerundelan Orang-Orang Republik (1995), Politik Hati Nurani (1997), Menuju Indonesia Serba Baru (1998), Menjadi Generasi Pasca-Indonesia: Kegelisahan Y.B.Mangunwijaya (1999), dan sebagainya.

Munculnya novel Burung-Burung Manyar dan Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa misalnya, Putung-Putung Roro Mendut(1978), Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa (1987), Putri Duyung yang Mendamba (1987), Esai-Esai Orang Republik (1987), Tumbal (1994), Gerundelan Orang-Orang Republik (1995), perlu dibaca dengan serius. Tentu saja, perlu pula membaca bagaimana proses kreatifnya. Menurut Mangunwijaya, proses terjadinya Burung-Burung Manyar dan novel-novelnya yang lain, kebanyakan meminta waktu relatif banyak melalui jalan coba-dan-sesat. Burung-Burung Manyar semula dimaksudkan hanya sebagai sebentuk novel untuk “mengabadikan” kota keluarganya, Magelang, dengan latar belakang Perang Ke­merdekaan, khususnya medan laga Magelang-Ambarawa. Novel itu terdorong oleh kejengkelannya mengenai pemalsuan-pemalsuan dan pemitosan peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak sehat. Mangun ingin mengimbau kawan-kawan sebangsa untuk merenungkan kembali pertanyaan dasar kehidupan; dan khususnya bertanya kembali maksud esensi Revolusi 1945 itu. Teto dan Larasati, si dia yang gagal dan dia yang berhasil, si dia yang ikut musuh dan dia yang memihak diri kita, Kurawa dan Pendawa, Kama dan Ratih, dan sebagainya, benarkah mereka saling berlawanan? Apakah definisi musuh? Pengkhianat? Pejabat bupati Setankopor yang pejuang gerilya RI ternyata lebih pengkhianat dari Teto yang bertekad menyelamatkan negara dari kerugian sekian milyar per tahun akibat ulah suatu multinational corporation. Apakah sikap Ibu Marice yang melacurkan diri kepada koman­dan Kenpeitai suatu kebusukan atau kebajikan? Dan Revolusi 1945 itu sendiri, apakah benar pihak “kita” selalu baik dan “me­reka” selalu musuh yang jahat? (dalam Pamusuk, 1985: 80). Begitulah Mangunwijaya memberondong. Dan kita akan memperoleh masukan lain melalui esai-esainya yang dulu bertebaran di Kompas seperti:  Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa (1987), Putri Duyung yang Mendamba (1987), Esai-Esai Orang Republik (1987), Tumbal (1994), dan Gerundelan Orang-Orang Republik (1995).

Terkait dengan itu, jangan pula lupa, bahwa karya sastra sebagai simbol verbal, objeknya adalah realitas. Realitas itu dapat berwujud realitas sosial masa kini ataupun realitas yang berupa peristiwa sejarah. Apabila realitas itu berupa peristiwa sejarah seperti dalam novel Burung-Burung Manyar, Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa dan Trilogi Roro Mendut, sebenarnya mengandung maksud untuk (1) menafsirkan realitas sejarah ke dalam bahasa imajiner dengan maksud memahami peristiwa sejarah menurut kemampuan/ interpretasi pengarang sendiri, atau (2) menjadi sarana pengarang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapannya tentang suatu peristiwa sejarah dan dapat dipakai pengarang untuk menolak atau mendukung suatu tafsiran peristiwa sejarah yang sudah mapan. (Lukacs, 1974: 45; lihat juga Kuntowidjojo, 1987). Jadi pembaca tak perlu heran Rara Mendut dalam Trilogi Rara Mendut bukan bunuh diri tetapi dibunuh oleh penguasa; atau Arok-Dedes-nya Pramudya Ananta Toer sangat berbeda dengan Ken Arok dan Ken Dedes dalam sejarah Singosari.

Lalu bagaimana dengan novelet BB? Novelet BB dapat dikategorisasikan sebagai novelet yang bersumber pada peristiwa realitas sosial masa kini. Seperti halnya prosa liris Pengakuan Pariyem karya almarhum Linus Suryadi yang menafsirkan tokoh Pariyem yang terjebak dalam belantara kepriayian Ngayogyakarta; lewat novelet BB Mangunwijaya menafsirkan realitas sosial masa kini dengan tokoh tukang becak berusia muda di tengah belantara urban kota Yogyakarta di masa orde baru yang militeristis dan mendewakan teknologi. Perihak teknologi, dengan sangat tajam Mangunwijaya menulis artikel berjudul “Salam” dalam serangkaian catatan perjalanan dari jantung Pulau Jawa ke berbagai penjuru dunia dalam buku Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa (1987: 3), bahwa teknologi dan industri modern saat ini bukan lagi salah satu bengkel, melainkan imperium magnum, yang sering lebih kuat kuasa daripada agama dan negara. Mobil bukan hanya berarti baja dan mesin, melainkan dunia karet, aspal dan minyak bumi, beton, kapal, pelabuhan, bank, asuransi, pengendalian riset nuklir juga, dan … manipulasi bermilyar-milyar. Bahkan merupakan sesuatu yang sering takut kita omongkan, tetapi toh sekali saat harap diketahui khalayak ramai … kontrol terhadap universitas, kabinet-kabinet dan parlemen negara mana pun, ideologi negara, mental dan moral pembesar, sikap wanita, pembangkangan angkatan remaja dan manipulasi anak.

Untuk membuktikan keberpihakan Romo Mangun terhadap orang miskin, perlu pula dibaca pula Romo Mangun di Mata Para Sahabat (1999), sebuah buku yang diterbitkan setelah Romo Mangun meninggal, yang berisi kesaksian hampir lima puluh orang, mulai dari Presiden Habibie, para menteri, jendral, uskup, ilmuwan, politisi, rohaniwan, wartawan, dan lain-lain. Presiden Habibie menyebutnya sebagai kawan sejati, pejuang yang memberi perhatian khusus kepada umat manusia pada umumnya, khususnya bangsanya, lebih khusus lagi orang-orang yang menderita, yang membutuhkan perhatian. KH Abdul Muhaimin mengatakan Romo Mangun selalu bersuara keras dalam membela kaum miskin. Meutia Hatta melihatnya Mangun sebagai pelanduk yang mencoba menggali permasalahan massa kini dengan melihat ke masa lalu, dan selalu memperjuangkan rakyat kecil. Mgr. F.X. Prajasuta, MSF, uskup Banjarmasin mengatakan di tengah-tengah masyarakat yang umumnya berorientasi pada harta, prestasi, kursi, gengsi dan popularitas, hidup Romo Mangun yang berorientasi pada mutu hidup menjadi sangat bermakna. Orientasinya ini nampak antara lain pada kepeduliannya terhadap orang-orang kecil yang hidupnya dalam keadaan tidak manusiawi. Th. Sumartana mengakui dengan jujur bahwa Romo Mangun memang konsisten berada dalam posisi selalu membela mereka yang kecil. Dan masih banyak lagi.

Sementara itu, teks-teks sastra lain yang sezaman dan sejenis dengan novelet BB dapat dilacak pada karya-karya drama Arifin C. Noer misalnya. Tahun 1969 Arifin mementaskan karyanya yang berjudul  Mega-Mega,  dan setahun kemudian Kapai-Kapai. Kedua lakon itu berbicara tentang orang-orang yang terpinggirkan dan papa. Akan tetapi, di dalam kehidupan yang papa, masih selalu ada harapan, yang datangnya dari kekuasaan yang di atas (Tuhan). Dalam Mega-Mega, harapan datang lewat mimpi-mimpi Koyal, sedangkan dalam Kapai-Kapai harapan akan datang lewat cermin tipu daya Emak yang selalu datang jika Abu putus asa. Boleh jadi, karena tahun 70-an wawasan estetika sastra Indonesia (baik novel, cerpen,puisi, maupun drama) berkembang ke arah nonkonvensional, Mangunwijaya yang kreatif pun mencobanya melalui novelet BB dan Durga Umayi. Maka tak terlalu berlebihan jika Cara Ella Bouwman (1999: 350) berpendapat bahwa Balada Becak adalah karya satiris, sangat memikat, kocak, dan lain daripada yang lain. Menurutnya, novelet BB lebih dekat dengan novel Durga Umayi ketimbang Burung-Burung Manyar dan Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa. Untuk membuktikan semua itu tentu masih dibutuhkan penelitian yang suntuk.

4.      Gambaran Manusia Marjinal dalam Balada Becak

Tokoh-tokoh dalam BB yang dapat dikategorisasikan sebagai manusia marginal antara lain: Yusuf, Rahmat, pekerja-pekerja di bengkel las, anak-anak kecil di sekitar bengkel, pedagang gori (Bu Dullah) dan pembantu-pembantunya, pemuda-pemuda pengangguran, dan mahasiswa akademi musik yang miskin. Tak hanya Yusuf atau Yus yang dideskripsikan Mangun dengan apik, tetapi juga Bu Dullah, Pak polisi, dan para peronda di kampung. Dari hasil pembacaan saya atas novelet BB yang belum suntuk dan bertolak dari konsep pendekatan sastra New Historicism , ternyata keberpihakan Mangunwijaya kepada mereka bukan asal berpihak, tetapi menunjukkan kemungkinan penyebabnya serta bagaimana Mangunwijaya menyikapinya, sangat sinkron dengan esai-esainya (lihat antara lain Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa) dan  tanggapan orang lain terhadapnya (Romo Mangun di Mata Para Sahabat).

Begitu novelet ini dibuka, latar kisahan yang dipaparkannya langsung mengindikasikan keberpihakan sang pengarang terhadap tokoh dan lakuan yang dimainkannya. Biasanya, seorang pengarang melukiskan latar ceritanya secara netral, tetapi Mangunwijaya dengan gaya berbahasanya yang khas, langsung memihak ketika menuturkan secara implisit kota mana yang memiliki universitas favorit: … Ya, mana lagi, Yogyakarta tentu saja (hlm. 7). Dan ketika melukiskan keramaian lalu lintas kota favorit itu, Mangun pun menaruh perhatian besar terhadap keberadaan andhong, kendaraan favoritnya karena ada alasannya, “… lihat! (…) andhong. Perhatikan! (…) dengan disain dinamis progresip tetapi jelas terkena pengaruh si Belanda jenis yang kikir dulu.(…) Roda empat! Jadi gengsilah, tepatnya bercitra ningrat, ya ningrat. Walaupun cuma desa ping­giran kota, tetapi ningrat bukan? (Hlm.7)

Dan tatkala melukiskan bagaimana tongkrongan lelaki desa, Mangun pun terang-terangan memihak, bahkan memujanya sebagai lebih hebat postur tubuhnya ketimbang pemain ballet di panggung ballet Moskwa atau New York, bahkan di Taman Ismail Marzuki.

Ya, datanglah itu dia yang setiap pagi saya kagumi, lelaki desa dengan punggung dada perut perunggu, telanjang teruji matahari, bercelana kastup hitam veteran sampai lutut. Memikul dua keranjang berat penuh pisang ke pasar. Luar biasa bukan? A masterpiece of noble elegance! Tsj! Akuilah, akuilah apa ada macam dia di panggung ballet Moskwa atau New York yang tersohor itu? Atau di Taman Ismail Marzuki pun? Cara dia berjalan cepat tetapi seperti terkendali komputer musik elektronik, ah lihat itu, tubuh bergoyang luwes berirama, tangan aksi bergaya seperti The Sexy Sisters sekaligus jenaka meriangkan hati bila kita terundung frustrasi! Cit-ciyeet, coba rasakan bunyi pikulan di punggungnya yang berotot kenyal gempal dan kompak beserta seluruh tubuh atasnya yang berkilau berkeringat dan pasti berbau sedap itu cit-ciyeet, cit-cit- ciyeeet; perpaduan keluwesan seni ningrat dengan efisiensi ekonomi enerji yang relevan untuk negara berkembang yang sedang membangun. Setuju bukan? Jangan tertawa! Ini bukan omong balon. Atau lebih tepat, tertawalah bahagia, karena kita masih memiliki penjaga-penjaga kebudayaan pribumi seperti dia yang pantas dibanggakan (hlm. 7-8).

Atau ini

Cit-cit-ciyeet! Indah luwes dipandang memang tubuh-tubuh petani kita. Siapa bilang tubuh lelaki tidak bisa indah selain gagah? Minggir sedikit, dia lewat. Nah, betul ‘kan, bau tubuh dia harum, bukan? Keharuman lelaki lain dari keharuman wanita. Itu kita harus tahu. Jangan percaya pada iklan-iklan zaman sekarang. Itu semua multi-national-corporation! Tetapi sang petani kita ini, dia authentical personal corporation; mulia, agung, bertanggung jawab. Tidak miskin petani itu, siapa bilang. Dia kaya. Tetapi kekayaan harap jangan cuma dihitung dengan uang. Otot-ototnya, kilauan tubuhnya, kesehatannya, jiwa jujurnya, mutu koreografi tari luwes penuh irama cara ia memikul itu, bahkan capingnya yang berkecurut bidang lengkung matematika Einstein, tidak ada dari semua itu yang diasuransi, tetapi assurance yang tercitra dari dia, kepastian, keyakinan, ah ya, keningratan yang berjiwa kedaulatan rakyat, nah itulah itulah! Ah, lebih tepat: kedaulatan rakyat yang berjiwa ningrat, ya itulah, itulah!(hlm. 8-9)

Lalu bagaimana ia menggambarkan priayi pendatang di kota Yogyakarta? Bukan Mangunwijaya jika tak meledek. Jiwa ningrat yang sering disatusamakan dengan mental priayi itu, anak keturunannya sungguh menyedihkan, tidak mau bekerja kasar sedikit pun. Maunya jadi pegawai atau priayi.Mengira kalau sudah berijazah SMP atau SMA sama dengan calon-calon pemim­pin rakyat.  Tetapi Mangunwijaya tak menyalahkan mereka. Bukan kesalahan mereka, bukan kesalahan Saudara, bukan kesalahan saya, bukan kesalahan siapa pun, tetapi kesalahan kita semua (hlm. 9). Mangun menunjuk banyaknya salah tafsir tentang arti kemajuan dan industrialisasi ditambah status anggota PBB, itulah biang keroknya (Baca dan bandingkan lebih jauh dengan Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa).

Bagaimana Yus tokoh utama novelet BB ini dilukiskan oleh Mangunwijaya? Kita ikuti saja terlebih dulu kutipan ini

Nah itu, lihat tidak, pemuda yang berjalan seperti kuda andong yang belum emansipasi itu! Rambutnya penuh paselin mengkilau, mempesona memang, dan muka serta sosoknya bolehlah sebagai modal jadi peragawan iklan mobil sedan atau merk bolpoin. Tetapi, ya, sama sajalah! Oh, anak baik dia. Kukenal keluarganya, semua. Habis, tetangga dekat. Tetapi ya itulah tadi, salah tapsir. Terus terang saja, sudah lama seorang pengarang lokal punya niat ingin menyusun novel dengan pemuda itu sebagai tokoh. Entahlah, novel perjuangan Perang Kemerdekaan atau pa­ling sedikit yang mengarah ke pendidikan patriotisme generasi penerus demi pembangunan atau macam itulah. Tetapi masih ragu-ragu pengarang itu, disuruh jadi pemeran apa pemuda itu. Semangatnya, ya semangatnya itulah yang belum ada pada pemuda itu.(Hlm. 9-10)
(…)
Si Yusuf itu begitu, lingkunganlah yang salah. Lebih tepat, kita semualah yang salah. Ya, betul, sekarang Yusuf sementara ikut abangnya. Daripada menganggur. Sebetulnya trampil dia, tangannya seperti Rahmat, api serta besi seperti boneka saja ditangannya, yang bisa dimain-mainkan se­perti apa saja. Cuma dia masih belum lepas dari dunia khayalan­nya. Itulah, sayang, (hlm. 11).

Yusuf yang dipanggil Yus ini anak tukang becak bernama Kariosentono. Ibunya sudah tiada. Hanya lulusan SMA. Mau lanjut tak ada biaya. Akhirnya lontang-lantung. Untuk mengisi waktu agar tak terperosok kepada lamunan demi lamunan, Rahmat memberinya pekerjaan sebagai tukang las. Akan tetapi,  hari-harinya ternyata tetap saja dipenuhi khayalannya disela-sela pekerjaan mengelas, membakar, menyambung besi. Apalagi setelah berjumpa dengan Lilian bekas teman SMA-nya yang cantik, gelegak khayalannya makin menjadi-jadi. Tetapi Mangunwijaya tetap membela tokoh utamanya walaupun Yus bertingkah seperti itu. Ucapnya, “… dia masih belum lepas dari dunia khayalannya. Itulah … “ Pembelaan yang logis bukan? Dan untuk membuktikan bahwa anak Kariosentono yang melarat itu tak semuanya bertingkah seperti Yus jika sudah mapan, dipaparkannya Rahmat pemilik bengkel yang sukses (bahkan dalam memperebutkan Fitri istrinya yang cantik itu) seperti kutipan berikut ini.

       Ya, Rahmat tukang las, tetapi tukang yang bagaimana, nah ini perlu dicatat. Dia ahli, percayalah. Rapi ca­ranya ia mengelas, halus tetapi kuat dan ekonomik sekali. Betul. Mulai dari titik nol dia berangkat. Kelas satu STM dia sudah beli tang dan drei. Kelas dua, sudah punya tanggem cukup besar. Kelas tiga, tamat, sudah lengkap mesin lasnya. Kompresor dia beli dengan kredit Pak Haji Tauhid, itu rumahnya nomor dua dari ujung sana.
       (…)
      Laku sekali bengkel si Rahmat itu. Apalagi istrinya cantik … nah, nah, itulah, itulah. Mana ada sopir atau kernet tidak akan tertarik. Lalu mobil tidak rusak dibikin rusak, singgah di bengkel Rahmat. Apa boleh buat, itulah dunia. Tetapi jangan salah tapsir tentang ah siapa nama istri Rahmat itu … eh, sebentar, ah ya, Fitri. Jelas Fitri namanya. Tidak bisa lain. Fitri tidak berlagak tidak memancing. Bukan salahnya dia cantik. Tetapi ker­ja keras dia tidak segan, jangan kira. Sudah dipinang anak dosen, tetapi dia memilih Rahmat. Betul! Dosen ‘kan ayahnya. Biar cuma pemegang bengkel, tetapi bukan bengkel ayahnya. Maklumlah, ayah Rahmat cuma pilot becak .. nah itulah! Persis! (hlm. 10-11)

Yang menarik adalah bagaimana Mangunwijaya mendeskripsikan lamunan-lamunan Yus pada saat ia mengantarkan gori-gori bersama Bu Dullah dan Riris dengan becaknya, sementara itu ia kelimpungan membayang-bayangkan peristiwa-peristiwa asyik-masyuknya dengan Lilian gadis pujaannya. Lamunan pertama adalah peristiwa besarlamunan Yus menghadiri upacara besar pemberian hadiah luar biasa di lapangan universitas kepada juara Sayembara Nasional Teknologi Tepat untuk Bangsa Indonesia. Bapak Rektor (ternyata abangnya sendiri, Rahmat), beserta seluruh Senat Maha­guru (adalah rekan-rekan Yusuf sebengkel dan sekampung), sedangkan para tamu undangan dan mahasiswa (orang-orang tetangga sekampung). Lilian selaku penata acara, mengumumkan bahwa juara pertama adalah Yusuf Kariosentono, mahasiswa honorer te­ladan Fakultas Bengkelogi. Yus masuk dengan mengendarai forklift besar dengan di atasnya setumpuk gori yang dimahkotai Bu Dullah yang melambai-lambai kepada hadirin. Forklift menarik kereta bayi dengan Riri di dalamnya. Lilian mengelu-elukan sang Pahlawan. Persis di muka Lilian,Yus mempersi­lakan Lilian duduk di sampingnya. Lilian bahagia, merangkul sang kekasih, lalu ikut duduk di kursi sopir di bawah jepretan wartawan-wartawan dalam dan luar negeri. Riri jengkel melempari Yusuf, Lilian, wartawan-wartawan dan para mahaguru dengan cuilan-cuilan gori. Menyusul upacara penyerahan tanda bintang kehormatan dari Bapak Menteri, yang ternyata … Pak Haji Tauhid. Yus disemati bintang tetapi berjoget kesakitan karena peniti bintang menusuk dadanya. Bergemuruhlah sorak-sorai barisan anak-anak, yang ternyata adalah anak-anak sekampung yang menolong mendorong becak tadi. Acara selanjutnya dirayakan dengan parade Angkatan Darat, Laut, Udara dan Polisi. Disusul oleh Barisan Prajurit Keraton Mataram yang antik, dengan mars musik serta gayanya yang khas pribumi, anggun tetapi jenaka. Barisan formal ditutup oleh kejutan Semar-Gareng-Petruk-Bagong dan satu kompi pelawak-pelawak wanita, kaum Cangik dan Limbuk, yang mengawali karnaval rakyat penuh gelora spontan yang me­nyegarkan hati seperti di Rio de Janeiro (hlm. 20-21). Parodi tersebut di atas jelas ke mana maksudnya. Pemerintah Indonesia saat itu gemar mengadakan sayembara teknologi tepat guna sampai tingkat pusat. Universitas pun dilibatkan, dan siapa pemenangnya pun sangat mungkin untuk digilirkan menjadi semacam arisan.

Selain melamun, sepulang mengantar gori Yos juga bertemu dengan pengamen muda yang ternyata mahasiswa akademi musik. (Mangunwijaya pun tak melupakan komunitas musik jalanan ini). Yos mengantar mereka tanpa bayaran. Di tengah perjalanan itulah muncul dialog dan nyanyian yang sarat dengan kritikan kontekstual masa itu (hlm. 26-27).

“Kalau kami sial, barangkali tahun muka kami bergelar DR juga.”
“Lalu ke mana?”
“Ah, transmigrasi masih bisa juga.”
“Atau cari janda yang kaya lagi muda. Adik tahu alamat janda kaya?”
“Tahu.”
“Mana alamatnya?”
“Ya, di becak ini.”
 “Heh?”
“Itu tadi juragan gori saya tadi.”
 “Uwooo!”
“Janda juga manusia. Jangan dijadikan ejekan. Mereka sering lebih arif dan lebih manusia karena lebih banyak makan garam pahit. Dan menderita.”
“Uah! Kok hebat Anda. Ahli filsafat. Dari mana?”
“Kemarin malam mendengar itu di sandiwara radio.”
 “Uwooo!”
 “Kami punya nyanyian tentang janda yang penuh hikmah.”  

Dan langsung kedua mahasiswa pengamen tadi bernyanyi:  

“O Janda muda yang kaya, nomor teleponmu berapa? Beta mah’siswa yang sedang tenggelam, menganga hari depan yang duh-aduh suram.”
“Saya janda kaya lagi muda, harta karunku tiada terkira. Maka aku butuh makhluk penjaga, anjing Herder yang cendekia.”
“Aduh Mak! Mak! Mak! Betapa sengsara, mah’siswa tanpa kertas Bank Indonesia.”
“O Janda muda melarat, mana kau punya alamat? Beta mah’siswa yang sedang tenggelam menganga hari depan yang duh-aduh suram.”
“Saya janda muda tapi miskin. Jualanku tempe dan tahu asin. Maka aku butuh pemikul bambu ‘ntuk mengangkut daganganku.”

 “Aduh Mak! Mak! Betapa sengsara mah’siswa tanpa kertas Bank Indonesia.”
“Ya sudah, aku menyerah. Jadi tani jadi tukang, asal jujur berhati riang, pasti jumpalah dara indah.”
 “Lihat Mak! Mak! Anakmu gembira Kini menantu Dirut Bank Indonesia.”

Dan akhirnya, yang paling mengasyikan adalah penggambaran epidose Bu Dullah-Riri-Yus-Lilian dan Pak Polisi lalu lintas. Riri diam-diam menyenangi Yus. Riri suka membonceng di selebor belakang becak yang dikemudikan Yus, sedangkan di bak becak menggunung gori yang ditongkrongi Bu Dullah di atasnya. Walau sangat dekat tubuh Riri dan Yus, tetapi khayalan Yus justru nglambrang mengejar ke mana sepeda kumbang Lilian meluncur. Itulah misteri cinta.

Bagi saya, penggambaran gerak polah Bu Dullah amatlah lengkap dan sangat masuk akal. Bu Dullah berasal dari kelas priayi kampung. Ketika remaja ia bernama Kasanah putri tunggal pak lurah. Ia kepencut pemain Damarwulan, kawin lari sehingga melahirkan Riri. Tak dikisahkan bagaimana Bu Dullah sampai menjanda. Yang kita tahu ia telah menjadi pedagang gori yang tiap pagi diantar Yus ke pasar. Sebagai kelas pedagang (Mangunwijaya menjulukinya sebagai panglima gori), tak menghiraukan protes pembantu-pembantunya lantaran gori terus ditumpuk sebanyak-banyaknya (apalagi kalau bukan demi ongkos sekecil-kecilnya), meski akibatnya gori berhumbalangan ke mana-mana sehingga membuat anak-anak kampung mengakak kesenangan (hlm. 15). Dan ia kembali memerintahkan agar gori ditata lagi. Lalu pembantu-pembantunya mengangkatnya untuk menaiki gunung gorinya, dan duduk di puncaknya seperti patung Dwarapala di tengah komentar macam-macam. Ia tak ambil pusing komentar seluruh dunia. Yang penting, efisien (hlm. 16).

Bu Dullah, perempuan pedagang gori kelas teri ini, dilukiskan Mangun bukan hanya efektif efisien dalam menjalankan usahanya, tetapi juga pandai berkomunikasi dengan birokrat yang mungkin bisa merugikannya jika ia tidak pandai. Hal ini nampak ketika Yus yang sableng itu, teledor dalam mengemudikan becaknya. Yus saat itu sedang asyik membayangkan kebahagiaannya bersama Lilian sehingga ia tidak melihat lampu lalulintas sudah menyala merah, tetapi becak terus melaju. Karuan saja Pak Polantas meniup peluit dengan sengit ke arah becak Yus. Mereka harus menghadap Pak Polantas yang berwajah Gatutkaca dengan kumisnya yang tebal seram. (Lalu meluncurlah penilaian terhadap polah tingkah alat negara yang satu ini khas tipikal Mangunwijaya). Pak Polantas yang berkumis Gatotkaca itu justru lucu karena agak tolol. Dengan wajah sok wibawa ia memandang sebentar kepada Yusuf, lalu beralih  ke arah Riri. Astaga, wajah Mas Polantas tadi dalam fantasi Riri tiba-tiba menjadi topeng bancak-dhoyok. Riri tak dapat menahan tawanya. Topeng fantasi Riri semakin lucu sampai Riri tertawa tak ketulungan. Ibunya bersungut-sungut. Tetapi tiba-tiba Bu Dullah terbuka matanya. Pak Polantas ini jelas salah satu kemenakannya. Berte­riaklah sang saudagar gori penuh gembira.

“O Allaaaah! Kan ini si Samsi. Hei … ketemu lagiii! Kau jadi jenderal ya sekarang. Ah, sudah lama tak jumpa. Bagaimana ka­bar sang adinda istri? (Sang Gatutkaca tampak sama sekali tidak senang disapa begitu kelewat akrab di tengah jalan, apa lagi dalam situasi fungsionaris Penegak Hukum. Ia sangat khawatir mengenai gengsinya.) He-e lho Riri, ini kemenakan kita, anaknya Mbok Mungkir, ah itu lho penjual pecel yang selalu memalsu bayem dengan kangkung itu lho! Jembatan Code pas pal listrik yang sudah sejak zaman Adam setengah roboh tak pernah diperbaiki lagi, ingat tidak. Ah, ya memang, dulu masih menggembala ker­bau, kan gitu ya Si. Di Bong Cina Terban, hayo akuilah! Sungguh mukjijat, sekarang sudah jadi Gatutkaca begini, jenderal apa kolonel Si? Ah ya beginilah Riik, dunia berputar kayak dremolen Stambul (Mas Polantas sedih sia-sia berikhtiar agar wanita bawel itu berhenti omong). Dulu si Samsi ini kan … hihihiii aduh perutku kaku hihihiii-aaahihaa, masih telanjang cuma pakai sabuk thok dan aduh-aduh hihiahaaa perutku-perutku, burung­nya masih merdeka dan berdaulat, hiyahaaahii, gimana Si, kok diam saja. Eh, eh … kau masih bujangan atau sudah ganti lagi istrimu yang ketujuh? O dunia, o dunia!” (hlm. 21-22).

Itulah taktik namanya. Biarpun sang Gatotkaca kebingungan, Bu Dullah terus nyerocos. Ketika ada jip patroli lewat, Gatotkaca malang itu dipanggil masuk dalam jip. Dan pada saat itu pula Yus menggenjot becaknya dengan didorong Riri sekuat tenaga, dan dengan luwes pula Riri meloncat pada selebor belakang. Mereka selamat sampai restoran gudeg langganan Bu Dul.

Deskripsi sang Gatotkaca yang agaknya terpikat wajah Riri pun diulang kembali sore harinya. Kali ini untuk menunjukkan kekuasaan dan kehebatannya, ia bak pahlawan, mengejar gerombolan sepeda motor yang mau mengganggu perjalanan Yus, Bu Dullah dan Riri. Tapi naas, kembali dialami Pak Polantas yang grusa-grusu tanpa perhitungan matang itu. Ketaktulusan akan selalu mengalami nasib yang tak menguntungkan dalam kisahan Mangunwijaya.

Mas Polantas Gatutkaca tadi pagi! Bukan main senyumnya memamerkan serangkaian gigi yang jayawijaya, beberapa di antaranya terlapis emas. Ia berhenti di muka becak, berkecak pinggang jual tampang. Bu Dul datang melambai-lambai dan mereka omong-omong sebentar, tetapi ya begitulah begitulah, Riri tak dapat lagi mengendalikan bayangan-bayangan topeng dan tawanya. Tiba-tiba datang menderu-deru se­gerombolan pemuda pengebut yang nyaris menggaet Bu Dullah. Bu Dul marah-marah menyuruh Mas Polantas mengejar anak-anak berandal itu. Sekaranglah saatnya sang Gatutkaca dapat me­nunjukkan kebolehannya sebagai pengayom rakyatnya. Demonstratip ia menyalakan mesin dan dengan penuh gaya hebat ia meloncat di atas sepeda motornya mengejargerombolan tadi. Tetapi baru berjalan kira-kira 10 meter, sepeda motornya macet. Jengkelia turun. Ternyata soal sepele bensinnya habis. Sialan! Babi Bun­tung! Kunyuk Konyol! Bangsat Bongkot! Apa boleh buat. Becak dan penumpang-penumpangnya tenang meneruskan perjalanan pulang. Naik pitam sang Gatutkaca menendang ban muka, sam­pai dia kesakitan sendiri. (Hlm. 37)

5.      Penutup

Demikianlah beberapa contoh kutipan dalam novelet BB tentang bagaimana Mangunwijaya mendeskripsikan keberpihakannya terhadap kaum marginal. Melalui novel-novelnya yang lain, karya-karya sejenis dan sezaman, esai-esainya, bahkan coretan gambarnya, akan terdeteksi dan terlacak apa opsi dan obsesi seorang pengarang terhadap tokoh-tokoh serta bagaimana ia bersikap terhadap tokoh-tokoh dalam karyanya tersebut.

Daftar Pustaka 

Eneste, Pamusuk. 1986. Mengapa & Bagaimana Saya Mengarang. Jakarta: Gunung Agung.
Greenblatt, Stephen, 2005. “The Touch of the Real” in The Greenblatt Reader Stephen Greenblatt. (Edited by Michael Payne). Malden, MA: Blackwell Publishing.
Horton, John and Baumeister, Andrea T. 1996. “Literature, philosophy and political theory” dalam Literature and the Political Imagination. London: Routledge.
Kuntowidjojo. 1987. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Lukacs, George. 1974. The Historical Novel. London: Merlin Press.
Mangunwijaya, Y.B. 1985. Balada Becak atau Sebuah Riwayat Melodi Yus-Riri. Jakarta: Balai Pustaka.
—————— —– . 1987. Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti Pers.
Priyanahadi, Y.B. 1999. Romo Mangun di Mata Para Sahabat. Yogyakarta: Kanisius.
Rahmanto, B. 2001. Y.B. Mangunwijaya: Karya dan Dunianya. Jakarta: Grasindo.
Sindhunata (editor).1999. Menjadi Generasi Pasca-Indonesia Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya. Yogyakarta: Kanisius.
Van Luxemburg, J. dkk. 1984. Pengantar Ilmu Sastra (terj. Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1971. Theory of Literature. New York: A Harvest Book Harcourt, Brace & World, Inc.

Pringwulung, Sabtu siang 9 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar