Label

Sabtu, 03 Januari 2015

Mimpi Bocah dan Cahaya Bintang

Young Charles Dickens by Daniel Maclise (1839) 

Oleh Charles Dickens

ADA seorang bocah lelaki, dan ia berperangai baik, dan ia suka merenung. Ia memiliki adik perempuan yang setiap hari menemaninya. Mereka berdua sering merasa penasaran. Mereka penasaran pada keindahan bunga-bunga; mereka penasaran pada langit yang tinggi dan biru; mereka penasaran pada air yang jernih dan dalam; mereka penasaran pada Tuhan yang telah menciptakan dunia ini begitu indah.

Mereka pernah berandai-andai dalam percakapan mereka: Misalkan semua anak di muka bumi ini mati, apakah bunga-bunga dan air dan langit akan berduka? Keduanya percaya bahwa mereka akan bersedih. Sebab, kata mereka, setiap tunas adalah adalah anak-anak bunga, dan pancuran kecil yang berkejaran riang menuruni lereng bukit adalah anak-anak air, dan bintik-bintik kecil yang bermain petak umpet di langit adalah anak-anak bintang. Mereka semua pasti akan sangat bersedih jika menyaksikan kawan mereka, anak-anak manusia, tidak ada lagi.

Ada satu bintang paling terang di langit, yang selalu muncul lebih dulu dibandingkan yang lain-lain, di dekat menara gereja, di atas kuburan. Ia besar dan indah dan setiap malam kedua anak itu melihatnya, mereka berdiri bergandengan tangan di tepi jendela. Siapa pun yang lebih dulu melihatnya, ia akan berteriak, “Aku melihat bintang itu!” Dan sering mereka berteriak bersamaan. Maka, mereka menjadi sahabat bintang itu. Sebelum tidur, mereka selalu melihat bintang itu sekali lagi, untuk menyampaikan selamat tidur. Dan sesaat sebelum mereka terlelap, mereka biasa mengatakan, “Tuhan memberkati bintang itu.”

Si anak perempuan terjatuh suatu hari dan menjadi sangat lemah sehingga ia tidak bisa lagi berdiri di tepi jendela ketika malam datang. Saudaranya berdiri sendirian, memandang sedih ke luar jendela, dan ketika ia melihat bintang itu ia akan berlari menemui adiknya yang terbaring pucat di tempat tidur, “Aku melihat bintang itu!” Dan adiknya tersenyum lemah dan mengatakan dengan suara lirih, “Tuhan memberkati kakakku dan bintang itu.”

Selanjutnya, anak lelaki itu memandang ke luar sendirian dan tak ada lagi wajah pucat yang berbaring di tempat tidur. Semua berlangsung begitu cepat. Sebuah kuburan kecil, yang sebelumnya tak ada, kini membujur di antara kuburan-kuburan lain. Dan ketika bintang itu muncul dengan cahaya terangnya, si anak lelaki memandanginya dengan mata berair.

Cahaya bintang itu terang sekali dan tampak seperti jalur cahaya yang merentang dari bumi ke langit. Ketika anak itu tidur sendirian di ranjangnya, ia memimpikan bintang tersebut. Ia bermimpi bahwa serombongan orang sedang dibawa oleh malaikat melintasi sebuah jalur cahaya. Dan bintang itu kemudian terbuka, sehingga tampak olehnya sebuah dunia yang bersinar terang. Ada banyak malaikat di sana, sedang menyambut orang-orang yang datang bersama malaikat yang membimbing mereka.

Mata para malaikat yang sedang menunggu ini berbinar menyaksikan orang-orang yang datang menuju bintang. Beberapa dari mereka tak sabar dan segera keluar dari barisan. Mereka memeluk orang-orang itu dan memberikan ciuman yang lembut dan kemudian menggandeng mereka menyusuri jalan-jalan cahaya. Di tempat tidurnya, si bocah kecil menangis terharu melihat kebahagiaan mereka.

Namun ada banyak malaikat yang tidak pergi berjalan-jalan menemani orang-orang, dan ia kenal salah satunya. Ialah si wajah pucat yang pernah terbaring lemah di tempat tidur; kini ia tampak agung dan bercahaya. Adiknya kini menjadi malaikat penyambut, berdiri di dekat pintu masuk, dan menanyakan kepada pemimpin rombongan:

“Apakah saudaraku datang?”

Yang ditanya menjawab, “Tidak.”

Lalu malaikat kecil itu mendengar teriakan seorang bocah, “Aku di sini, Adikku. Bawa aku.” Ia menoleh; bocah lelaki itu mengulurkan tangan ke arahnya. Si gadis malaikat memandang dengan matanya yang bercahaya. Malam itu cahaya bintang menyinari kamar dan si bocah lelaki memandangi cahaya yang masuk ke kamar dengan air matanya

Sejak itu dan seterusnya si bocah memandangi bintang seolah ia memandangi rumah yang kelak akan ia kunjungi, jika tiba waktunya. Dan ia merasa bahwa ia bukan hanya makhluk bumi, tetapi makhluk bintang juga. Adiknya sudah lebih dulu ke sana.

Seorang bayi lelaki kemudian lahir dan menjadi saudaranya. Bayi itu kecil sekali dan belum bisa bicara. Ia menggeliat dan jatuh dari tempat tidur dan mati.

Sekali lagi si bocah lelaki memimpikan bintang yang terbuka, dan sekumpulan malaikat di sana, dan rombongan orang-orang, dan para malaikat penyambut dengan mata berbinar menerangi wajah orang-orang yang datang.

Adik perempuannya menanyakan kepada pemimpin rombongan:

“Apakah saudaraku datang?”

Yang ditanya menjawb, “Bukan yang itu, tapi yang lain.”

Saat bocah lelaki itu melihat adik malaikatnya memeluk adik bayinya, ia berteriak, “Aku di sini, Adikku! Bawa aku.” Adiknya menoleh ke arahnya dan tersenyum dan bintang yang paling indah memancarkan cahaya terang.

Ia lalu tumbuh menjadi pemuda, dan ia sedang sibuk dengan buku-bukunya ketika seorang pelayan tua datang kepadanya dan mengatakan:

“Ibumu meninggal. Ia sempat mendoakanmu dan berharap agar putra terkasihnya selalu diberkahi.”

Sekali lagi ia melihat bintang pada malam hari, dan para malaikat. Adiknya bertanya kepada pemimpin rombongan:

“Apakah saudaraku datang?”

“Ibumu,” jawab yang ditanya.

Pecah tangis bahagia seluruh penghuni bintang, sebab si ibu dipertemukan kembali dengan dua anaknya. Pemuda itu mengulurkan tangannya dan  berteriak, “Ibu, Adik-adikku, aku di sini. Bawa aku.” Dan mereka menjawab, “Tidak sekarang.” Dan bintang bersinar.

Pemuda itu tumbuh menjadi lelaki dewasa berambut kelabu, dan ia sedang duduk di kursinya dekat perapian. Murung sekali ia. Wajahnya basah oleh air mata dan bintang itu sekali lagi terbuka.

Adiknya bertanya kepada pemimpin rombongan:

“Apakah saudaraku datang?”

“Tidak, tapi anak gadisnya,” jawab yang ditanya.

Dan lelaki tua itu memandangi anak gadis yang baru saja meninggalkannya. Anaknya kini telah menjadi makhluk surgawi, disambut oleh tiga makhluk surgawi lainnya. “Kepala anak gadisku rebah di dada adik perempuanku, dan tangannya merangkul leher ibuku, dan di kakinya ada bayi yang dulu, dan aku tak tahan lagi berpisah darinya.”

Dan bintang memancarkan cahayanya.

Maka bocah lelaki itu kini menjadi lelaki tua, dan kulit wajahnya yang dulu mulus kini keriput, dan langkah-langkah kakinya lambat dan goyah, dan punggungnya bongkok. Suatu malam saat ia berbaring di tempat tidur dikelilingi anak-anaknya, ia berteriak, seperti yang pernah ia lakukan bertahun-tahun lalu:

“Aku melihat bintang itu!”

Anak-anaknya merasakan sebuah isyarat.

Dan lelaki tua itu berkata, “Usiaku tanggal satu-satu. Dan aku ingin berada di bintang itu sejak kecil. Dan, ya Tuhan, sekarang aku bersyukur kepadaMu bahwa akhirnya ia terbuka untukku dan aku bisa bertemu dengan orang-orang terkasih yang menunggu kedatanganku.”

Dan bintang bersinar kuburnya. 

Sumber: A Child’s Dream of A Star, karya Charles Dickens. Diterjemahkan oleh A.S. Laksana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar