Label

Minggu, 02 Agustus 2015

Tiga Puisi di Indo Pos




Puisi-puisi Sulaiman Djaya


KITA SEPERTI KATA

Kita selalu kesulitan untuk mengemukakan kata yang tepat
saat ingin berbicara, dan karenanya puisi ada.

Kita juga seringkali ingin berdamai dengan keindahan
dan karenanya kita ingin menyimak nada dalam bahasa.

Kita sesekali ingin akrab dengan burung-burung yang berlesatan
ketika merasa bosan dan kesepian di dalam rumah,

memandang langit selepas hujan –seakan kita ingin tinggal di sana.
Sesungguhnya kita selalu ingin menggambar dunia

Dengan kata-kata yang ada di dalam diri kita. Kau menulis
dan membaca apa yang juga kutulis dan kubaca

dengan dan dari kata-kata yang sama, meski menghasilkan gambar
dan dunia yang berbeda –dan karenanya keindahan pun ada.

Engkau menulis dan bicara tentang cinta dan kesepian,
aku pun demikian. Kita tinggal di rumah yang sama

dengan pintu-pintu dan jendela-jendela lembab dan lengang
namun usia kita tak pernah sama ketika memahaminya.

(2005)

BILA AKU MATI

Sudah lama tak ada tamu di pintuku:
padahal aku telah menyalakan malam.

Bintang-bintang di langit
seperti kota-kota yang sepi

dan betapa jauh dari bumi.
Adakah di sana

kelak tempatku?
Saatku mati

dan lupa kepada puisi.
Sungguh aku

selalu rindu kematian
bila sunyi tak lagi bisa kupadamkan.

Membayangkan waktu seperti rusa-rusa
di hutan-hutan senja

yang ditinggalkan gerimis
dan matahari.

Ketika sabana dan lereng-lereng lembab
dikepung gaib cakrawala.

Tak ada hasratku untuk bertanya
di mana surga berada

apalagi memikirkan dunia mana
yang pertama ada dan terjaga.

Dan barangkali langit
akan jadi rumahku nanti.

(2015)


FILSAFAT

Kita seperti mainan kanak-kanak
di papan catur. Tapi kita sepenuhnya bebas
dan tak ada yang mengendalikan.

Kita merasa berada di dunia dan berkuasa
ketika bermimpi. Berharap
dan sesekali tertawa

karena suatu kebahagiaan dan kegembiraan
tanpa sebab. Kita menangis
ketika orang yang kita cintai

tak lagi punya alasan
untuk menyayangi kita yang kesepian.
Kadang-kadang kita jatuh dan bahkan terpuruk

meski bukan karena serangan sepasukan musuh.
Tapi seringkali kita juga menyukai lupa
bahwa anugerah hidup tak hadir begitu saja.

Kadang kita juga seringkali membenci
sesuatu yang tak kita miliki
dan terus berusaha meyakinkan diri

ketika diterjang bosan dan putus-asa.
Kadang kita menimbang-nimbang
dunia seperti apa gerangan

yang ingin kita miliki dan kita kuasai
dan kalau bisa, kadang harus,
tanpa kekurangan sama-sekali.

Namun di atas segalanya, sekali lagi,
seperti apa pun kita adanya
kita masih bisa memulai lagi permainan kita.

(2015)

Sumber: Harian Indo Pos, 2 Agustus 2015 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar