Label

Senin, 17 Maret 2014

Mundo Nuevo, Jejak CCF di Amerika Latin


Oleh Ronny Agustinus
 

Belakangan ini, para budayawan sepuh Indonesia sedang ramai dimintai pertanggungjawaban sejarah oleh generasi muda mengenai “peran” mereka dalam tragedi 1965. “Peran” yang dimaksud di sini secara khusus merujuk pada keterlibatan mereka dalam proyek-proyek kebudayaan antikomunis yang disokong oleh Congress for Cultural Freedom (CCF), sebuah operasi terselubung (covert action) Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat. CCF adalah tangan penggerak operasi global AS di bidang kebudayaan untuk meluaskan dominasi ekonomi-politik liberal mereka.

Bahwa CCF adalah operasi CIA bukanlah isapan jempol belaka. Fakta ini sudah dibongkar jauh-jauh hari sejak April 1966; pertama oleh reportase Tom Wicker di New York Times, dan kedua oleh reportase majalah Ramparts melalui redakturnya, Warren Hinckle. Barangsiapa menyangsikan “kualitas” reportase-reportase tersebut, perlu dicatat bahwa Ramparts dianugerahi George Polk Memorial Award for Excellence in Journalism atas kerja investigatifnya itu. Berpuluh tahun kemudian, dengan meneliti arsip-arsip yang telah dideklasifikasi, Frances Stonor Saunders merinci keterkaitan CIA-CCF dalam buku Who Paid the Piper? CIA and the Cultural Cold War (1999).

Mengutip kalimat pembukaan Saunders dalam bukunya: “Selama puncak Perang Dingin, pemerintah AS menyediakan sumber daya yang sangat besar untuk program rahasia propaganda kebudayaan [...] Program ini dikelola dengan sangat rahasia oleh tangan spionase Amerika, CIA. Di pusat aksi ini terdapat Congress for Cultural Freedom yang dijalankan oleh agen CIA Michael Josselson [...] Semasa puncaknya, Congress for Cultural Freedom punya kantor di 35 negara, mempekerjakan lusinan personil, menerbitkan lebih dari 20 majalah bergengsi, menggelar pameran-pameran seni rupa, memiliki layanan kantor berita, menyelenggarakan konferensi-konferensi internasional papan atas, dan menganugerahi para musisi dan seniman dengan penghargaan-penghargaan dan pertunjukan publik.” Tujuannya: “Menjauhkan kaum intelegensia dari Marxisme menuju pandangan yang lebih akomodatif terhadap ‘cara Amerika’.”[1][1]

Fakta-fakta inilah, yang meskipun sudah diketahui umum, rupanya tetap tak hendak diakui oleh para penulis dan intelektual Indonesia yang terlibat. Operator CCF untuk Asia, Ivan Kats, yang menjalin hubungan dekat dengan para intelektual Indonesia untuk menggarap kerja CCF di sini, dibela oleh Goenawan Mohamad dengan dibilang “tak tahu” soal hubungan CCF dengan CIA dan “terkejut” saat membaca laporan New York Times karena “tak menyangka”.[2][2] Almarhum Mochtar Lubis menyangkal keras kaitan itu, sementara Taufiq Ismail mengaku “tertegun” setelah mengetahuinya.[3][3]

Para pembela mereka juga kerap mengungkapkan dalih yang kira-kira berbunyi demikian, "CIA kan bukan intel Melayu. Kerjanya sangat rapi. Operasinya saja covert action. Maka sangat wajar dan bisa dimaklumi kalau orang-orang CCF maupun para penulis yang bekerjasama dengan mereka tidak tahu menahu bahwa mereka bekerjasama dengan CIA."

Argumen itu mungkin betul. Tapi yang jadi masalah di sini: adakah tindakan etis yang dilakukan oleh para penulis  dan budayawan itu setelah fakta keterkaitan CCF-CIA dibongkar oleh reportase New York Times dan Ramparts pada 1966? Kita bisa menengok ke Amerika Latin untuk mencari pembandingnya.

Jelas, di mata AS saat itu, Amerika Latin sebagaimana Asia Tenggara adalah wilayah prioritas yang harus disterilkan dari pengaruh komunis. AS punya banyak alasan untuk merasa waswas. Tahun Baru 1959 dibuka dengan kaburnya diktator boneka AS dari Kuba, Fulgencio Batista, akibat ditumbangkan oleh pasukan gerilya Fidel Castro. Revolusi Kuba dan kemenangan Castro punya dampak luar biasa pada kesadaran geo-politik subbenua itu. Negara-negara Amerika Selatan mulai melihat dirinya sebagai satu kesatuan politik yang mengalami rute historis serupa dan tumbuhlah rasa sebagai “satu Amerika Latin.” Dari pengalaman gerilya itu pula Che Guevara menuliskan teorinya yang terkenal, teori foco, yaitu bahwa garda depan pasukan bersenjata bisa menyulut gerakan-gerakan revolusioner sejenis di sepenjuru Amerika Latin.

Untuk menangkal pengaruh Revolusi Kuba (dan dengan demikian ide-ide Marxis) di bidang pemikiran dan kebudayaan, sekretariat CCF di Paris merasa perlu menerbitkan sebuah majalah baru untuk menggantikan majalah CCF di Amerika Latin sebelumnya, Cuadernos del Congreso por la Libertad de la Cultura (disingkat Cuadernos). Cuadernos terbit triwulanan sejak Maret 1953 dan sukses membangun jaringan di beberapa negara dari Cile hingga Uruguay.[4][4] Namun pasca Revolusi Kuba 1959, Cuadernos dirasa sudah terlampau kuno. Kalangan pembacanya terpusat pada generasi yang menggelorakan semangat Republikan dalam Perang Saudara Spanyol, dan tidak mampu masuk ke segmen pembaca lebih muda yang menjadikan Revolusi Kuba sebagai kiblatnya. Pada 1963 Cuadernos disudahi, dan dari kantor CCF yang sama di Paris digodok sebuah majalah baru bernama Mundo Nuevo (Dunia Baru).

Di bawah keredaksian Emir Rodríguez Monegal, kritikus sastra asal Uruguay yang bisa kita sebut sebagai “Ivan Katsnya Amerika Latin”, Mundo Nuevo dibuat menjadi lebih “sastrawi” dibanding Cuadernos. Dengan semboyan “una revista de diálogo” (atau “majalah dialog”), ia juga menyatakan diri “apolitis” atau tidak memihak satu pandangan politik tertentu. Klaim ketidakberpihakan ini terasa janggal menurut kritikus Jean Franco, karena jelas-jelas “Mundo Nuevo dimaksudkan untuk menandingi pengaruh Revolusi Kuba pada imajinasi para penulis muda serta pengaruh jurnal kebudayaan Kuba Casa de las Américas [yang] merayakan perjuangan pembebasan negara-negara Dunia Ketiga, gerakan Black Power di AS, perjuangan gerilya, dan tradisi anti-imperialisme Amerika Latin.”[5][5]

Di sini kita bisa melihat jelas perbedaan ideologis Mundo Nuevo di bawah Rodríguez Monegal dengan Casa de las Américas di bawah kepemimpinan Haydée Santamaría. Apabila Casa de las Américas berusaha membentuk “geografi kultural baru” dengan menempatkan Amerika Latin dalam konteks perjuangan pembebasan nasional negara-negara Dunia Ketiga, Mundo Nuevo berusaha menempatkan Amerika Latin ke dalam “akar universal”-nya di Eropa. Mirip sekali dengan proyek “humanisme universal” di Indonesia dengan klaim universalisme dan ketidakberpihakannya. Apabila Haydée Santamaría mengkritik para penulis Amerika Latin yang tinggal di Eropa, Rodríguez Monegal justru mengklaim bahwa para penulis besar Amerika Latin adalah yang tinggal di luar negeri. Perbedaan cara pandang ini juga kentara jelas saat dua jurnal yang mereka kelola membahas topik yang sama, misalnya peringatan 100 tahun kelahiran penyair Nikaragua Ruben Darío. Apabila Mundo Nuevo menempatkan pencapaian Darío dalam jajaran modernisme tinggi, setara dengan para penyair Eropa seperti Stéphane Mallarmé atau Rainer Maria Rilke, Casa de las Américas melihat Darío sebagai prototipe gerilyawan Kuba yang siap menghadapi imperialisme AS.[6][6]

Atas prinsip itu jugalah (“menempatkan kebudayaan Amerika Latin dalam konteks yang internasional sekaligus aktual,” sebagaimana disebutkan dalam editorial edisi perdananya), Mundo Nuevo memilih berkantor pusat di Paris. Tentunya ada juga kebutuhan praktis terkait pembiayaan dari CCF yang bermarkas di kota yang sama[7][7] serta koordinasi dengan jurnal-jurnal lain terbitan CCF. Mundo Nuevo dicetak 5.000-6.000 eks dan diedarkan di seluruh negara Amerika Latin serta sedikit di AS dan Eropa. Tak pelak lagi ia adalah bagian dari apa yang oleh Sekretaris Eksekutif CCF sekaligus agen CIA Michael Josselson disebut sebagai “grande famille (keluarga besar) majalah-majalah antikomunis.” Artikel-artikel Mundo Nuevo diterjemahkan dan dimuat di pelbagai jurnal terbitan CCF lainnya, sebagaimana Mundo Nuevo juga berhak menerbitkan terjemahan artikel-artikel dari “keluarga besar majalah antikomunis” lainnya yang dibiayai CCF.[8][8]

Dengan misinya yang kosmopolit dan kontemporer, serta peluang untuk diterjemahkan ke bahasa-bahasa selain Spanyol, Rodríguez Monegal berhasil menarik banyak penulis Amerika Latin dari pelbagai kecondongan politik untuk bekerja sama atau mengirimkan karyanya ke Mundo Nuevo. Tersebutlah nama-nama yang sedang naik daun seperti Carlos Fuentes, José Donoso, Augusto Roa Bastos, Guillermo Cabrera Infante, Octavio Paz, Gustavo Sainz, Gabriel García Márquez, Mario Vargas Llosa, dan Julio Cortázar—nama-nama yang nantinya menjadi nama-nama besar dan mendunia dalam apa yang disebut sebagai “boom” sastra Amerika Latin. Maka dalam satu hal, Mundo Nuevo punya peran “mempromosikan” terlebih dahulu para penulis ini kepada pembaca Eropa sebelum “boom” sastra sungguh-sungguh terjadi.[9][9] Petikan karya-karya yang kini menjadi “kanon” sastra Amerika Latin era boom terlebih dulu terbit di Mundo Nuevo sebelum terbit utuh sebagai novel (misalnya potongan Cien años de soledad karya García Márquez, Cambio de piel karya Carlos Fuentes, dan Tres tristes tigres karya Guillermo Cabrera Infante). Rodríguez Monegal bahkan mengajak García Márquez menjadi kontributor tetap Mundo Nuevo dengan tawaran upah AS$400 sebulan.



Sebelum García Márquez sempat memberi jawaban atas tawaran itu, kehebohan keburu pecah akibat terbitnya reportase The New York Times dan Ramparts. Artikel-artikel di kedua media itu diterjemahkan ke bahasa Spanyol dan dicetak ulang di koran Uruguay Marcha serta Casa de las Américas, musuh bebuyutan Mundo Nuevo. Sebagian di antara para penulis di atas mengambil sikap melancarkan kecaman terbuka atas akal-akalan Mundo Nuevo. Perlu dicatat di sini bahwa Mario Vargas Llosa dan Julio Cortázar sejak awal bersikap skeptis terhadap proyek ini dan paling enggan berkontribusi. Sedangkan Cabrera Infrante tak merasa bermasalah dengan afiliasi CIA karena ia sendiri bentrok dengan rezim Castro dan memutuskan eksil dari Kuba. Sementara bagi para penulis yang secara jelas menyatakan haluan politik kirinya, seperti García Márquez yang berteman karib dengan Fidel Castro, dikuaknya fakta ini benar-benar membuatnya merasa “dikadali” (“cornudos”). Ia dan Roa Bastos menyesali kontribusinya dan menyatakan takkan pernah berhubungan lagi dengan Mundo Nuevo, sebagaimana terbaca dari suratnya kepada Rodríguez Monegal:

“Percayalah bahwa saya tidak punya syak wasangka terhadap mata-mata di dunia nyata. Saat Anda mengajak saya bekerja di Mundo Nuevo, banyak kawan yang selera humor politiknya lebih rendah dari saya mengingatkan tentang kecurigaan umum bahwa CCF menjalin hubungan luar nikah dengan CIA Amerika Serikat [...] Singkat kata, saya yakin cerita soal mata-mata ini tak terlukiskan selama kita semua dengan jujur tahu permainan apa yang tengah kita mainkan. Tapi sekarang sepertinya CCF sendiri tidak tahu permainan mereka, dan dengan keterlaluan ini sudah melewati batas-batas humor dan memasuki ranah sastra fantasi yang tak terduga dan menggelincirkan. Atas situasi ini, Tuan Direktur, tentu tidak mengejutkan apabila Anda yang paling pertama paham bahwa saya tidak akan bekerjasama lagi dengan Mundo Nuevo, yang telah menutup-nutupi kaitannya dengan organisasi yang telah membawa saya dan banyak kawan lain ke dalam situasi dikadali ini.”[7][10]

Rodríguez Monegal sendiri membantah kaitan dengan CIA tersebut dan tetap bersikeras menyatakan Mundo Nuevo independen. Dalam penjelasannya kepada pembaca di edisi Mei 1967, ia tekankan bahwa Mundo Nuevo “bukanlah organ pemerintahan atau partai manapun, kelompok atau sekte apapun, kecondongan religius atau politik apapun, melainkan sebuah jurnal yang disunting semata-mata seturut keputusan redakturnya yang merupakan satu-satunya pihak yang bertanggungjawab dalam memilih materi yang diterbitkan.”[7][11]

Mungkinkah Rodríguez Monegal sebenarnya juga tidak tahu kaitan CCF-CIA sebagaimana Ivan Kats dibilang tidak tahu? Beberapa bukti menyatakan sebaliknya, terutama surat-surat Rodríguez Monegal sendiri ke para petinggi CCF termasuk Michael Josselson, Pierre Emmanuel, dan Shepard Stone pasca pecahnya skandal. Dalam surat-suratnya ke Josselson dan Stone, Rodríguez Monegal mendesak agar skema pembiayaan Mundo Nuevo diambil alih oleh Ford Foundation dan agar Ford Foundation menyebarluaskan pernyataan pers bahwa Mundo Nuevo memang telah didanainya sejak awal.[7][12] Rodríguez Monegal berharap pernyataan pers ini bisa membantah kaitan antara jurnalnya dengan CCF-CIA. Ia berharap bisa mengubah karangan ini menjadi kenyataan! “Il faudra convertir cette fiction en réalité,” demikian tulisnya dalam surat kepada Pierre Emmanuel di CCF (Emmanuel ini seorang penyair Perancis dan pengurus CCF yang –kebetulan—sempat diperkenalkan kepada Goenawan Mohamad oleh Ivan Kats di kantor CCF, Paris, meski konon tak lebih dari 30 menit).[7][13]

Permohonan Rodríguez Monegal dikabulkan: Ford Fundation mengambil alih skema pembiayaan Mundo Nuevo, tapi tanpa pernyataan pers yang diharap-harapkannya itu. Pada 1968 Rodríguez Monegal mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Mundo Nuevo dan hingga wafatnya terus bersikeras bahwa jurnalnya hanya pernah didanai oleh Ford Foundation dan tak pernah oleh CCF. Kantor Mundo Nuevo dipindah ke Buenos Aires dan arah jurnal itu bergeser lebih ke ilmu sosial daripada sastra. Kualitasnya secara umum jauh menurun akibat sedikitnya penulis yang masih mau menjadi kontributornya. Ford Foundation memberi tenggat pembiayaan sampai tahun 1971 dan mengharapkan Mundo Nuevo bisa mandiri secara finansial sesudahnya. Karena tidak sanggup, akhirnya majalah itu pun tutup pada tahun tersebut.

Dari sini kita bisa melihat, para budayawan sepuh Indonesia ternyata juga memilih cara Rodríguez Monegal untuk terus membantah kaitan antara CCF-CIA dengan proyek-proyek kebudayaan yang mereka lakukan sekitar 1965 dan sesudahnya, sekalipun bukti-bukti menyatakan sebaliknya. Pasca skandal terkuak, agen-agen CIA di dalam CCF mundur. CCF dibubarkan dan berganti nama menjadi International Association for Cultural Freedom (ICAF), tapi proyek ICAF berjalan terus. Tak satu pun dari budayawan tadi yang melakukan kecaman publik atas kerja CCF di Indonesia, tapi juga tak ada satu pun yang berani berterus terang menyatakan persetujuan –sebagaimana Cabrera Infante—atas keterlibatan CIA dalam ketegangan politik di Indonesia masa-masa itu. Yang ada hanya penyangkalan. Dan ini lagi-lagi menguatkan sinyalemen Frances Stonor Saunders bahwa kerja propaganda budaya ini memang harus menyangkal keberadaannya sendiri (“a central feature of this programme was to advance the claim that it did not exist.”)[7][14] Maka janganlah terlalu berharap akan adanya pertanggungjawaban sejarah dalam waktu dekat, karena memang sepertinya sudah menjadi “tugas” sang budayawan untuk terus menyangkalnya.



[7][1] Francis Stonor Saunders, Who Paid the Piper? CIA and the Cultural Cold War (London: Granta, 1999), hlm. 1.
[7][2] Goenawan Mohamad, “Jawaban untuk Martin: Bagian Pertama,” 10 Desember 2013.
[7][3] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2013), hlm. 92.
[7][5] Jean Franco, The Decline and Fall of the Lettered City: Latin America in the Cold War (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 2002), hlm. 45. Buku yang mengupas secara mendalam Mundo Nuevo sebagai kepanjangan tangan politik kebudayaan CCF dan imperialisme AS adalah karya María Eugenia Mudrovcic, Mundo Nuevo: Cultura y Guerra Fría en la década del 60 (Buenos Aires: Beatriz Viterbo, 1997).
[7][6] Lihat Russell St. Clair Cobb, “Our Men in Paris? Mundo Nuevo, the Cuban Revolution, and the Politics of Cultural Freedom,” disertasi di University of Texas, Austin, Agustus 2007, hlm. 3-4.
[7][7] Mundo Nuevo dikelola di bawah manajemen Instituto Latinoamericano de Relaciones Internacionales (ILARI), yang juga menerbitkan tiga majalah lainnya yakni Aportes, Cadernos Brasileiros, dan Temas. Pada 1966 ILARI menerima dana AS$260.000 dari CCF, dan anggaran terbesarnya (sejumlah AS$80.000) diperuntukkan buat Mundo Nuevo. ILARI sendiri didirikan langsung oleh Michael Josselson sebagai organisasi proxy dengan akta legal organisasi di Swiss. ILARI kemudian mewarisi semua kantor, peralatan, dan personalia CCF di Argentina, Brasil, Cile, Peru, Uruguay, membuka kantor-kantor baru di Paraguay dan Bolivia, serta menutup kantor yang sudah ada di Meksiko dan Kolombia. Lihat Mudrovcic, op.cit., hlm. 25.
[7][8] Cobb, op. cit., hlm. 28.
[7][9] Dalam memoarnya mengenai masa-masa ini, José Donoso menyebut Mundo Nuevo-lah yang paling bertanggungjawab atas “boom” sastra Amerika Latin (“boom” di sini berarti lonjakan karya sastra Amerika Latin yang diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri). Lihat José Donoso, Historia personal del “boom” (Barcelona: Editorial Anagrama, 1972).

Sabtu, 01 Maret 2014

Miryam dari Magdala



Ia dikenal sebagai Maria Magdalena yang berarti Maria dari Magdala, salah satu kota di pantai barat Danau Galilea. Alkitab hanya sedikit menceritakan tentang perempuan ini. Ia disebut sebagai seorang perempuan yang dibebaskan Yesus Kristus dari tujuh roh jahat. Ia menjadi salah satu perempuan yang membantu pelayanan Yesus dari Galilea dengan kekayaan yang ia miliki. Ia mengikuti Yesus yang dipanggilnya Rabuni (artinya Guru) dalam perjalanan menuju Yerusalem dan tercatat sebagai salah satu perempuan yang hadir di Bukit Golgota ketika Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan. Injil Yohanes menyaksikannya sebagai orang pertama yang menjadi saksi mata kebangkitan Yesus di pagi Paskah.

Ia dipuja dan disalahpami. Pernah ia diidentikkan dengan pelacur yang nyaris dirajam batu karena tertangkap basah sedang berzina. Ia disamakan dengan perempuan berdosa tanpa nama yang mengurapi kaki Yesus di rumah Simon. Ia dicampuradukkan dengan Maria dari Betania yang juga mengurapi kaki Yesus di rumahnya sendiri. Ia juga disebut-sebut menjadi istri Yesus seperti yang digembar-gemborkan penulis Dan Brown. Tapi tidak ada bukti pendukung yang membuatnya menjadi salah satu dari ketiga perempuan itu. Alkitab justru memberi bayangan tentang seorang perempuan yang telah meninggalkan masa mudanya, seorang perempuan yang menjadi salah satu pemimpin perempuan karena senioritasnya.  

Dari materi yang minimalis ini ditambah berbagai referensi mengenai Maria Magdalena yang telah ditulis dan diterbitkan, Angela Hunt, pengarang Kristen pemenang Christy-Award, meramu sebuah novel yang diberi tajuk Magdalene, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Arie Saptaji dengan judul Miryam dari Magdala.

Dari Magdala, dikisahkan Miryam adalah istri dari seorang nelayan bernama Yaakov dan ibu dari dua anak laki-laki, Avram yang telah menikah dengan Rachel dan sedang menanti kelahiran anak sulungnya dan Binyamin, yang masih bayi. Ia bekerja sebagai penjual kain cantik dengan andalan sutra yang berkilau-kilau kirmizi pada terang tertentu dan ungu pada waktu lain.

Miryam dari Magdala hidup pada waktu Eretz-Yisrael berada dalam penjajahan Romawi, bangsa goyim, yang tidak percaya pada HaShem –Allah Avraham, Yitzhak, dan Yaakov. Bangsa Ibrani sedang berada dalam masa penantian Mesias yang mereka harapkan bisa membebaskan mereka dari cengkeraman Romawi.

Suatu hari pasukan Romawi melewati Magdala dengan tujuan Kaisarea, kota yang dibangun Herodes Agung sebagai penghormatan bagi kaisar Romawi. Di sana mereka akan bertemu dan bekerja di bawah kepemimpinan penguasa Yudea bernama Pontius Pilatus. Secara terang-terangan Avram, anak Miryam yang sulung, menghina seorang prajurit Romawi bernama Gaius Cabilenus dengan cara meludahi sang prajurit. Akibat tindakan gegabahnya, kecuali Miryam, seisi rumahnya tewas dibantai. Miryam sedang berada di tempat penginapan prajurit Romawi menjual sutra andalannya. Ia tidak menyangka nyawanya sendiri menjadi pembayar kain cantiknya.

Setelah kehilangan keluarga yang ia cintai, Miryam pergi ke Tiberias, kota yang dibangun Herodes Antipas di atas tanah pemakaman. Antipas adalah penguasa Galilea, Magdala berada dalam kekuasaannya, maka kepadanya Miryam ingin menghadap untuk meminta keadilan diberlakukan. Bukan keadilan yang ia dapat di Tiberias, tapi tujuh roh jahat yang mengendalikan dirinya. Ia menjadi perempuan gila yang berkeliaran di pemakaman di luar Magdala.

Pertemuannya dengan Yeshua (Yesus) yang singgah di Magdala membuat Miryam bebas dari cengkeraman tujuh roh jahat. Ia pun memutuskan menjual sisa hartanya dan mengikuti Yeshua. Ketika mendengar ajaran Yeshua tentang Kerajaan Allah, timbul harapan dalam hati Miryam bahwa kerajaan itu akhirnya akan datang untuk mengalahkan Romawi dan penguasa seperti Herodes. Yeshua sedang mempersiapkan perlawanan terhadap penjajah dan kemampuannya menghidupkan orang mati seperti Lazarus akan mendukung aksinya. Namun, yang terjadi, Yeshua mati karena disalibkan di Golgota. Lama setelah Yeshua akhirnya bangkit, Miryam baru menyadari tujuan sebenarnya Yeshua hidup di dunia: bukan untuk membebaskan bangsa Ibrani dari penjajahan Romawi, tapi untuk menebus dosa-dosa manusia, termasuk dirinya.

Hidup dalam persekutuan orang yang percaya kepada Yeshua ternyata tidak memadamkan dendam kesumat Miryam atas musnahnya keluarganya di Magdala. Ajaran Yeshua tidak otomatis membuat dirinya mengampuni orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya. Gaius Cabilenus dan Attivus Aurelius adalah dua prajurit Romawi yang harus membayar harga dari penderitaanya dengan nyawa mereka. Hingga sekali lagi, Miryam memohon dari Tuhannya untuk menghapuskan dosa yang ia lakukan dan siap menerima akibatnya.

Miryam dari Magdala adalah sebuah karya gemilang tentang Maria Magdalena yang bahkan lebih Alkitabiah dari sejumput kisah Maria yang ditampilkan Mel Gibson dalam film fenomenal, The Passion of The Christ. Angela Hunt mengangkat Miryam dari lembar minimalis Alkitab, mempertahankan identitasnya sebagai perempuan yang tidak muda lagi, dan mengembangkannya ke dalam konflik memesona yang hanya bisa muncul dari imajinasi seorang pengarang hebat.

Sebagai novel bergenre novel historis, sudah selayaknya Angela Hunt memunculkan nama-nama yang tidak pernah muncul dalam Alkitab dan dalam sejarah untuk memperkuat ceritanya. Oleh sebab itu, Angela Hunt melahirkan nama-nama yang akan memegang peranan penting dalam novel: Atticus Aurelius, Flavius Gemellus, Gaius Cabilenus, Quintus, Cyrilla, dan Hadassah. Nama-nama ini berbaur dengan nama-nama terkenal sepert Pontius Pilatus, Claudia Procula, Simon Petrus (Kefas), Herodes Antipas, Kleopas, John Mark dan ibunya yang juga bernama Miryam, dan tentu saja Barabas, pembunuh yang terpilih untuk dibebaskan dibandingkan Yeshua. Tak terlupakan, Angela Hunt memilih Susana, salah satu perempuan yang mendukung pelayanan Yeshua menjadi istri Simon Petrus. Semua, sesuai dengan peran yang telah ditetapkan untuk menghadirkan sebuah novel yang akan meninggalkan kesan mendalam dalam hati pembaca, terutama bagi yang beragama Kristen.

Secara keseluruhan novel ini indah dan masuk akal. Tidak ada bagian yang ditambahkan untuk menimbulkan lanturan yang menjemukan. Semua bagian bak keping-keping mozaik yang menyatu dengan sempurna. Pengalaman sebagai pengarang dengan buku yang terjual hampir sebanyak 3 juta eksemplar di seluruh dunia membuatnya dengan luwes membawa masuk berbagai tokoh ke dalam plot yang benar-benar telah dirancang dengan brilian. Miryam Magdalena masuk ke dalam plot sebagai narator orang pertama yang berkisah sesuai pengalaman hidupnya yang dicampur dengan kesaksian orang-orang yang ia kenal. Atticus Aurelius mengembangkan bagian terbanyak sisi fiktif novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Banyak bagian kehidupan Yeshua yang tidak tergali, tapi tidak menjadi kelemahan novel ini.

Angela Hunt memang hanya memusatkan ceritanya pada kehidupan Miryam dari Magdala, sehingga Yeshua bukanlah titik sentral dari novel ini. Hanya, bukan berarti kehadiran Yeshua tidak penting. Ia adalah fokus kehidupan Miryam setelah keluarganya musnah dan hidupnya diubahkan. Ia adalah sumber pengharapan Miryam. Ia memiliki pengaruh yang tak terlupakan dari sebuah rahasia yang dibawa pergi oleh salah satu prajurit Romawi dari puing-puing rumah terbakar di Magdala.

Dalam novel ini, tampaknya kesalahpaman adalah warna paling dominan. Kesalahpahaman yang biasa timbul dari dalam kelemahan manusia. Seperti Miryam dari Magdala yang banyak disalahpahami, Miryam juga salah paham dengan apa yang terjadi pada malam rumahnya di Magdala dibakar prajurit Romawi –yang menggiringnya pada kehancuran, ia juga salah paham dengan rencana dan tujuan kehadiran Yeshua di dunia sehingga sempat merasa kecewa. Namun, saat kebenaran datang, semua kesalahpahaman itu terkikis.

Kain sutra yang berasal dari belanga pencelupan Miryam dari Magdala menjadi penghubung masa lalu yang sukar dilupakan Miryam dan masa kini yang menyakitkan. Setelah dirampas darinya di Magdala, kain sutra itu telah berpindah tangan hingga terpilih untuk dikenakan Yeshua pada saat diolok-olok sebagai raja oleh prajurit Romawi. Kain yang sama akan kembali kepada Miryam menjelang ia menutup mata, untuk selama-lamanya. Tak pelak lagi, kain sutra itu menjadi simbol dari penderitaan: penderitaan Yeshua dan para pengikutnya ketika dunia bangkit melawan mereka.

Rupanya ide kain sutra yang beralih dari merah kirmizi menjadi ungu bergantung pada cahaya yang menimpanya diambil Angela Hunt dari yang tertulis dalam Matius 27:28 dan Markus 15:17. Walau perbedaannya tidak terlihat dalam Alkitab bahasa Indonesia, dalam berbagai versi Alkitab bahasa Inggris disebutkan bahwa dalam Matius 27:28 jubah yang dikenakan pada Yesus berwarna merah kirmizi (scarlet) sedangkan dalam Markus 15: 17 disebut berwarna ungu (purple). [Jody]