Label

Senin, 19 September 2016

Gelandangan



oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Kabar Banten, 07 Juni 2010)

Saat saya pertamakali melihatnya, ia selalu tersenyum pada setiap orang yang turun dari angkutan umum yang saya tumpangi ketika saya berangkat menuju studio tempat saya biasa On Air setiap malam Rabu untuk materi Seni dan Gaya Hidup yang pemandunya tak lain adalah teman saya sendiri.


Semula, saya menganggapnya sebagai pengalaman yang biasa saja. Katakanlah pengalaman dan kenyataan hidup yang seringkali terjadi ketika saya hidup di kota-kota di Indonesia. 

Saat itu, ia sebenarnya tak hanya tersenyum-senyum sendiri yang adakalanya diselingi tawanya yang samar. Ia juga bergerak-gerak atau lebih tepatnya bergoyang-goyang ke samping kiri dan kanan mirip seorang bocah perempuan yang sedang belajar bernyanyi dengan malu-malu. Hanya saja saya tak lagi memikirkannya ketika angkutan umum yang saya tumpangi kembali melaju. Sebab yang sebenarnya adalah karena pikiran saya sibuk mematangkan materi seputar Minat Baca dan Gaya Hidup Remaja Kota, sebuah materi yang sebenarnya membuat saya cukup terbebani dan menguras pikiran, terlebih karena sejauh pengalaman saya remaja-remaja di kota kecil tidak mencerminkan remaja-remaja yang mau menyisihkan uang jajan mereka untuk membeli buku-buku bacaan di luar buku wajib mereka di sekolah. 

Sesampainya di studio tempat biasa saya On Air, saya berdiskusi terlebih dahulu dengan teman saya yang sekaligus pemandu saya seputar tema yang akan kami udarakan malam itu. Tak saya sangka, teman saya berpendapat bahwa alangkah lebih baiknya bila tema yang akan diangkat disisipi dengan muatan yang dapat membangkitkan minat remaja pada kenyataan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya sering mereka jumpai. Kontan saja pikiran saya tertuju pada perempuan gelandangan yang saya lihat dalam perjalanan menuju studio yang telah saya katakan itu. 

Setelah obrolan singkat kami itu kami pun memasuki studio dan langsung melenturkan tema dan materinya menjadi “Menjumpai Keseharian”. Kami tak menyangka, selama kami On Air malam itu, ada puluhan pemirsa yang menelepon untuk bertanya dan menyumbangkan pendapat mereka. Maka jadilah On Air malam itu sebagai On Air yang menempati rating paling tinggi dibanding sebelum-sebelumnya. Dan tentu saja kami pun merasa bahagia dan senang. 

Di hari Selasa sore minggu berikutnya saya kembali berangkat untuk kembali On Air dengan materi yang berbeda. Dalam perjalanan saya di hari Selasa yang untuk kesekian kalinya itu saya tak melihat perempuan gelandangan yang telah saya lihat sebelumnya. 

Saya pun mulai bertanya-tanya ke mana gerangan si perempuan gelandangan itu sekarang? Di dalam angkutan umum yang saya tumpangi hari itu saya mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan ia berada. Tapi sepanjang perjalanan itu saya tak melihatnya.


Pada kesempatan On Air untuk yang kesekian kalinya itu, saya memutuskan untuk menginap di ruang rekaman yang bersebelahan dengan ruang studio. Mungkin karena malam itu saya terlampau lelah untuk melakukan perjalanan pulang setelah saya ngobrol dengan salah satu penyiar perempuan yang minta ditemani sampai tiba gilirannya On Air pada jam dua belas malam. Meski selepas jam sebelas malam itu saya sebenarnya sudah merasakan kantuk akibat kelelahan. 

Keesokan harinya saya pun berangkat pulang pada jam sembilan pagi setelah sarapan nasi uduk dan menghabiskan segelas Cappuccino. Juga tentu saja, menghisap sebatang rokok kretek kesukaanku. 

Saat saya telah masuk angkutan umum, awalnya saya duduk tenang saja di dalam angkutan umum yang saya tumpangi. Tapi karena macet yang cukup lama dan membuat tubuh saya gerah, saya pun ingin mengetahui penyebab kemacetan. Dan ketika saya menanyakannya pada si sopir, si sopir menjawabnya bahwa ada kecelakaan beberapa ratus meter di depan.


“Oh, begitu,” ujar saya. 

Setengah jam kemudian angkutan umum mulai melaju. Begitulah selanjutnya. Di hari Selasa berikutnya lagi saya pun kembali berangkat menuju studio seperti sebelum-sebelumnya. Lagi-lagi saya tak melihat si perempuan gelandangan di tempat pertamakali saya melihatnya. Tapi beberapa ratus meter kemudian saya melihatnya tengah bersandar di sepohon besar pinggir jalan. Kali ini gaun dekil yang dikenakannya terlihat berubah dan sangat berbeda. Lengan kiri gaun yang dikenakannya kali ini robek dan bagian yang menutup dadanya sedikit terbuka hingga menampakkan sebagian dadanya. 

Dan yang membuat saya penasaran dan bertanya-tanya adalah ketika tangan kanannya seolah tengah meraba-raba dan meremas-remas bagian tubuhnya yang berada di bawah perutnya dan di ujung dua pahanya. 

Melihat hal tersebut saya pun mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan yang dialaminya.


“Mungkinkah ia telah diperkosa?” Tanya saya dalam hati. Karena ketika itu ia seperti tengah menahan kesakitan di saat ia menyandarkan kepalanya dan mendongakkan wajahnya ke atas, mirip seseorang yang tengah berdoa kepada langit yang ditatapinya.

“Jika benar ia telah diperkosa, terkutulah orang yang telah memperkosanya,” bathin saya. 

Tanpa saya sadari sepanjang perjalanan itu pikiran saya sibuk menerka-nerka kejadian apa yang menimpanya.


“Ah, mungkin saja ia lapar,” saya menduga-duga dalam hati.

“Atau mungkin juga hanya merasakan kesakitan, tapi bukan karena diperkosa,” saya terus membathin.

Namun, lamunan saya berhenti ketika si sopir mengingatkan saya bahwa saya telah sampai di tempat yang saya minta padanya untuk berhenti jika telah sampai. Dan tentu saja seperti biasanya, malam itu kami kembali On Air, dan saya pun kembali menginap di studio sambil menemani seorang penyiar perempuan yang biasa dipanggil Mbak Mela. 

Selama Mbak Mela On Air malam itu saya menemaninya sembari membaca koran-koran yang telah saya bawa ke studio dari tempatnya. Di sela-sela iklan siaran saya pun mulai meminta pendapat Mbak Mela bagaimana bila seorang perempuan gelandangan diperkosa. Saat itu saya ingin tahu perasaan dan empati Mbak Mela sebagai sesama perempuan. 

“Misalkan, ini hanya seandainya lho!,” papar Mbak Mela, “Misalkan yang diperkosa itu adalah saya, tentu saya akan mengalami trauma,” lanjutnya.


“Meski yang diperkosa itu perempuan gila alias perempuan tak normal?”, tanya saya.

“Saya pikir itu tak akan ada bedanya sepanjang ia memiliki perasaan seperti halnya saya,” lanjut Mbak Mela.

“Kalau boleh tahu, kenapa kau menanyakan hal itu?”, tanya Mbak Mela.

“Bukan apa-apa sih”, kilah saya, “Hanya saja saya melihat seorang gelandangan yang saya pikir telah mengalami perkosaan ketika saya dalam perjalanan menuju ke sini”, papar saya,

“Maksudnya kamu melihatnya diperkosa?”, tanya Mbak Mela.

“Tidak juga sih”, jawab saya, “Saya hanya mengambil kesimpulan dari ekspresi wajahnya dan kondisi tubuhnya juga pakaiannya ketika saya melihat dirinya yang meraba-raba bagian tubuhnya yang berada di bawah perutnya dan di ujung kedua pahanya dengan tangan kanannya, sementara ia mendongakkan wajahnya ke atas”, lanjut saya.

“Mungkin saja ia diperkosa, tapi mungkin saja hal lain yang menimpanya”, ujar Mbak Mela, “Sebab bisa jadi kesimpulan kamu itu keliru di saat kamu tak melihatnya diperkosa, apalagi kecendrungan orang adalah membenarkan anggapannya sendiri, tapi saya percaya kamu tidak seperti itu.” 

Saya tak melanjutkan perbincangan itu karena khawatir mengganggu tugas Mbak Mela untuk siaran, dan saya pun kembali membaca koran yang bertumpuk di hadapan saya, di meja studio malam itu. 

Setelah Mbak Mela selesai siaran, saya langsung menuju sofa ruang tamu dan membaringkan tubuh saya hingga tertidur tanpa saya sadari.


Keesokan harinya saya pun berangkat pulang. Pagi itu saya tak lagi memikirkan keingintahuan saya pada apa yang menimpa si perempuan gelandangan yang sempat membuat saya gelisah itu. Mungkin karena saya terpengaruh oleh pendapat Mbak Mela. 

Tapi di pagi itu saya menyimak perbincangan, lebih tepatnya cerita sopir angkutan umum yang tengah saya tumpangi kepada temannya yang sama-sama duduk di depan bersama si sopir. Si sopir itu bercerita bahwa ia hampir saja menabrak perempuan gelandangan di hari yang sama ketika saya melihatnya untuk yang kedua kalinya itu. Untung saja, cerita si sopir, ia hanya menyerempetnya ketika ia hendak melaju setelah menurunkan beberapa penumpang.



Saya hanya bisa tersenyum ketika mendengar cerita si sopir, atau lebih tepatnya saya berusaha untuk tidak tertawa agar tidak dituduh gila oleh sesama penumpang. 

Ilustrasi: Lukisan karya seniman realis Iran, Iman Maleki.